Showing posts with label Anggi Frisca. Show all posts
Showing posts with label Anggi Frisca. Show all posts

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Negeri Kisah (2017)

Bukan masalah gampang mendaki tujuh puncak tertinggi di tujuh pulau/kepulauan besar Indonesia (Seven Summits of Indonesia) sembari membawa seperangkat (tepatnya tujuh buah) kamera, hanya dijalankan oleh tujuh orang termasuk Anggi Frisca selaku sutradara, berusaha mengatakan bentangan alam yang bagi sebagian masyarakat termasuk saya, detailnya masih asing. Banyak nilai-nilai, jerih payah, dan tentunya ambisi, terlibat di sana. Ambisi yang sayangnya, tak sepenuhnya mulus tersalurkan menjadi suatu karya. Sebagai film, Negeri Dongeng pun berujung lebih gampang dihargai ketimbang dikagumi. 

Dimulai dari Kerinci, berakhir di Cartensz, pengambilan gambar tim Aksa7 berlangsung sekitar 2 tahun (2014-2016) dan pastinya menghadirkan setumpuk rintangan. Bahkan pendakian menuju Puncak Jaya saja rasanya sudah memberi cukup modal untuk sebuah film panjang. Pengumpulan biaya yang konon mencapai 55 juta per orang, persiapan termasuk latihan fisik yang mesti ditempuh, kemudian perjalanan berbahaya yang sebagaimana film ini perlihatkan, diisi mendaki permukaan terjal hingga menyeberangi jurang. Ditambah perjalanan menyusuri enam gunung lain, Negeri Dongeng bak upaya menekan paksa bahan berjam-jam menjadi 104 menit.
Separuh awal perjalanan berlangsung buru-buru. Beberapa kasus, sebutlah mengenai sampah plastik atau kisah bocah dengan ADHD sekedar numpang lewat. Anggi bagai merasa ada nilai yang layak dituturkan (dan memang benar adanya), namun urung menelusuri lebih lanjut, memunculkan kesan "dibuang sayang". Fokusnya awut-awutan tanpa arah. Apabila berniat memaparkan nilai kehidupan, seluruh warta hanya sambil lalu. Hendak mengetengahkan sisi survival pun, filmnya lalai mengajak penonton terlibat dalam formasi kesulitan para Aksa7. Tiba-tiba timbul masalah, tiba-tiba pula problem itu selesai.

Di paruh pertama pun, sebagai dokumenter yang berlokasi di alam, departemen visual belum menyajikan gambar-gambar nikmat, seolah masih kesulitan mengikuti keadaan menangani rintangan sambil menciptakan film. Hanya tata musik dengan dominasi suara atmosferik nan misterius karinding (koreksi kalau saya salah) yang sanggup memikat. Barulah mencapai setengah akhir, baik fokus, dinamika, maupun aspek teknis nampak tertata. Bukan tidak mungkin itu dipengaruhi fakta bahwa perjalanan sempat rehat beberapa bulan, memberi waktu bagi tim melaksanakan persiapan matang sekaligus evaluasi.
Anggota Aksa7 sendiri punya potensi mengambil hati. Tawa sempat diproduksi nama-nama menyerupai Teguh Rahmadi dan Rivan Hanggarai lewat tingkah polah keduanya. Bahkan, khusus Teguh, tersimpan bobot lebih ketika beliau sempat mangkir dari pendakian akhir sakit. Namun emosi takkan begitu bergolak alasannya paruh awal yang semestinya sanggup digunakan sebagai perkenalan urung dimanfaatkan. Bahkan ketika kita mulai familiar dengan mereka, muncul distraksi gres berupa bintang tamu yang terdiri dari Medina Kamil, Darius Sinathrya, dan Nadine Chandrawinata (juga merupakan associate producer). Kamera lebih betah mengikuti ketiganya daripada para tokoh utama.

Seperti telah diungkapkan sebelumnya, pendakian menuju Cartensz layak dibentuk satu film tersendiri. Saat itulah fokus mulai terarah terang kepada survival thriller berbumbu nilai kehidupan termasuk persahabatan, tensi meninggi, kualitas visual mencapai puncak pencapaian. Ketegangan dipresentasikan tanpa harus mengurangi kejelasan gambar melalui shaky cam, sedangkan keindahan yang tepat mewakili sebutan "Negeri Dongeng" di bentangan alam Papua ikut menghipnotis. Segmen final tersebut telah cukup mengakibatkan film yang meraih nominasi "Film Dokumenter Panjang Terbaik" pada FFI 2017 ini pantas disaksikan.

Ini Lho The Seen And Unseen (2017)

Mengingat tingginya kepercayaan masyarakat Indonesia akan hal mistis, sudah sepantasnya sineas kita mengeksplorasi fenomena tersebut lebih jauh, bukan sekedar memposisikannya sebagai sumber kengerian. Setelah tahun kemudian Sunya dengan klenik kejawen tampil mewarnai, giliran The Seen and Unseen buatan Kamila Andini yang beberapa waktu kemudian menyabet penghargaan di Tokyo FILMeX International Film Festival dan Asia Pacific Screen Awards mengolah gagasan Sekala-Niskala asal Bali. Pasca realisme di film panjang (The Mirror Never Lies) dan pendek (Sendiri Diana Sendiri, Memoria), Kamila menjamah ranah surealisme, bermain simbol, mengaplikasikan tari, sebagaimana kerap dilakukan sang ayah, Garin Nugroho.

Secara garis besar, Sekala-Niskala merupakan konsep di mana hal kasatmata nan terlihat (Sekala) eksis berdampingan dengan hal mistik tak terlihat (Niskala). Memadukan itu dengan kepercayaan bahwa anak kembar saling menjalin ikatan batin, The Seen and Unseen bicara perihal luapan rindu terhadap sosok terkasih. Ketika Tantra (Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena) terbaring koma di rumah sakit akhir tumor, Tantri (Thaly Titi Kasih), mulai karam dalam imaji kehadiran sang saudara kembar, makan berdua, menari bersama. Pun kala malam bermandinkan sinar bulan tiba, Tantri bersinggungan dengan makhluk-makhluk tak kasat mata di sekitarnya. 
Sisi mistis dalam visi Kamila bukan penggalan dunia lain yang jahat maupun suram, meski abnormalitas misterius masih memancing ngeri menyerupai tampak di beberapa kemunculan rombongan hantu anak kecil yang berguling-guling kolam benih tertiup angin. Daripada teror, Kamila lebih tertarik merangkai keajaiban. Sinematografi Anggi Frisca mendukung tujuan itu melalui malam yang terperinci berkat sinar purnama, sehingga tekstur awan atau sawah dengan padi yang telah meninggi kurang jelas tetap tampak. Itulah panggung bagi Tantri menari indah layaknya memanjatkan doa kepada semesta sambil mengenakan kostum unik (ayam dan monyet) buatan Retno Ratih Damayanti yang memanfaatkan flora seadanya. 
Selalu menyenangkan mengamati performa dua aktor ciliknya, terlebih pada tarian di rumah sakit, ketika bukan saja gerak bertenaga (saling lompat antar kasur yaitu pemandangan intens), ekspresi wajah pun total mereka tunjukkan. Berkatnya, dinamika emosi hingga perjalanan Tantri menuju penerimaan akan realita dapat tersampaikan utuh walau tanpa tuturan verbal. Sementara di ungkapan tersurat, Ayu Laksmi sebagai ibu si kembar menuangkan kehangatan yang mampu mendekap lembut hati penonton. 

Cenderung berupa visualisasi gagasan ketimbang rangkaian dongeng linier, The Seen and Unseen banyak tersusun atas simbol-simbol yang sayangnya terlalu familiar (telur dan padi melambangkan aspek kehidupan), pun penyajiannya repetitif. Pengulangan selaku penegasan itu perlu, tapi berujung melelahkan sewaktu momen-momen dengan metafora serta nuansa setipe ditampilkan terlampau sering. Padahal Kamila Andini telah berhasil mengemas tempo lambat yang efektif, di mana gerak perlahan alur yaitu wujud kesabaran serta sensitivitas alih-alih keputusan pretensius. Layaknya anak ayam yang gres beberapa ketika menetas dari telurnya, petualangan Kamila Andini mengarungi wilayah mistis ini belum sepenuhnya matang, tapi cukup mencuatkan harap sekaligus antisipasi tinggi untuk eksperimen-eksperimen sang sutradara di masa depan. 

Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017