Showing posts with label Justin Theroux. Show all posts
Showing posts with label Justin Theroux. Show all posts

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho The Spy Who Dumped Me (2018)

The Spy Who Dumped Me yakni 2 hal: 1) Film dengan bahan sangat lemah sehingga sepenuhnya bergantung pada penampilan cast, dan 2) Aktris dengan bakat luar biasa sehingga bisa mengangkat kualitas film, melaksanakan yang terbaik supaya filmnya sanggup bekerja  di bahan terlemah sekalipun. Sambutlah Kate McKinnon, salah satu anggota terlucu Saturday Night Live (SNL) masa sekarang yang masih mencari breakthrough movie pasca reboot Ghostbusters (2016) remuk di pasaran. McKinnon amat memikat, bisa jadi anda terkekeh hanya sebab melihat ekspresinya, bahkan dalam lawakan yang tidak lucu.

McKinnon memerankan Morgan (nama belakangnya bakal jadi amunisi humor nantinya), perempuan dengan sikap eksentrik yang juga sahabat Audrey (Mila Kunis), yang dalam buddy comedy ini berperan sebagai “si normal”. Dialah gadis yang dicampakkan oleh seorang mata-mata, yakni distributor CIA berjulukan Drew (Justin Theroux), yang suatu hari mendadak hilang dari kehidupan Audrey. Drew kembali bersama serombongan pembunuh, juga jajaran MI6, yang semuanya mengincar flash drive yang disembunyikan Drew. Bisa ditebak, flash drive itu jatuh ke tangan Audrey, dan membawanya bersama Morgan terlibat kucing-kucingan berskala internasional, sebagaimana James Bond selalu lakukan.

Tentu flash drive itu sebatas MacGuffin dengan satu-satunya fungsi yaitu membawa kedua tokoh utama menuju petualangan gila di bermacam-macam lokasi. Penulis naskahnya, Susanna Fogel (juga sebagai sutradara) dan David Iserson pun tak berusaha menyamarkan tugas tersebut. Kita hanya tahu, isi flash drive tersebut sanggup membobol jaringan internet di seluruh dunia lewat “pintu belakang”. Cara pastinya, pembuatnya, serta segala detail lain seutuhnya dikesampingkan. Terpenting, Audrey dan Morgan tak boleh membiarkannya jatuh ke tangan musuh, biar alurnya sendiri bisa terus bergerak menuju tempat-tempat berikutnya. Apa yang terjadi sesudah datang di destinasi tidak penting, bukan mustahil, sepanjang petualangan, anda akan melupakan eksistensi flash drive itu.

Menu utama petualangannya yakni kebodohan. Hampir semua tokoh film ini punya kebodohan. Dari distributor CIA yang selalu membanggakan status sebagai alumni Harvard, hingga si pembunuh berdarah hirau taacuh yang (nyaris) selalu tanpa lisan turut memperoleh porsi humor. Tapi materinya lemah, takkan memberi imbas walau sekedar sebersit senyum andai tidak ada McKinnon yang memberi dorongan daya. Serupa komedian-komedian terbaik di luar sana, McKinnon tahu bagaimana menimbulkan tiap penggalan dirinya aset kelucuan, kemudian mengerahkan segalanya, mulai mata, senyum, hingga gerakan-gerakan eksentrik sebagai perempuan yang bersikap kolam cuma didasari intuisi gila. Saya pun yakin jika beberapa momen terbaik merupkan hasil dari improvisasinya. Sementara Kunis cukup sukses mengimbangi biar tak karam di balik pesona lawan mainnya.

Bahkan sesudah mendapatkan injeksi energi dari McKinnon, pula chemistry solidnya bersama Kunis, The Spy Who Dumped Me hanya berhenti di taraf “layak tonton”. Filmnya malah lupa melucu kala mengeksekusi porsi aksi, yang secara mengejutkan tampil brutal dan kental kekerasan. Pria yang terlontar dari sepeda motor, perempuan paruh baya yang tangannya tertusuk pisau dapur, menjadi beberapa teladan perjuangan Susanna Fogel (Life Partners) menandakan bahwa komedi-aksi dengan perempuan selaku pemeran utama tidak kalah “gahar” dibanding yang menampilkan pemeran pria. Sedikit berlawanan dengan tujuan membuat hiburan ringan, keberhasilan penyutradaraan Fogel merangkai agresi high octane membuatnya tak lagi jadi masalah.

Tingkat kekerasan itu sejatinya sudah cukup menghadirkan pesan subtil, tapi Fogel dan Iserson bagai kurang puas jika belum berpesan melalui alurnya. Audrey digambarkan tidak pernah menuntaskan apa pun yang ia mulai. Apa tepatnya? Kita tak pernah melihat Audrey enggan menuntaskan sesuatu. She even finished so many lives with her gun and driving skil. Sedangkan Morgan terganggu atas cap “aneh” yang disematkan padanya dan ingin menandakan anggapan itu keliru. Tapi The Spy Who Dumped Me terang memanfaatkan, mengeksploitasi abnormalitas itu, sengaja menjadikannya seabsurd mungkin. Film ini rupanya juga bermuka dua, menyerupai beberapa tokohnya yang menyimpan identitas diam-diam guna melangsungkan pengkhianatan. Begitu usai, lebih banyak didominasi kontennya akan terlupakan kecuali McKinnon yang sepadan dengan harga tiketnya.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho The Lego Ninjago Movie (2017)

Ninja itu keren, begitu pun mecha. Ketika Lego, yang notabene juga digemari menggabungkan keduanya, garansi kesuksesan terperinci didapat. Melahirkan lebih dari 100 set serta tujuh ekspresi dominan penayangan serial televisi Lego Ninjago: Masters of Spinjitzu adalah bukti nyata. Bicara sisi komersial, pembiasaan layar lebar selaku installment ketiga seri film lego ini rasanya bakal bernasib serupa. Sedangkan soal kualitas, baik The Lego Movie maupun The Lego Batman Movie sama-sama berkelas, khususnya berkat humor yang cerdas memainkan kata, menyelipkan budaya populer, hingga banyolan meta. Digawangi oleh tiga sutradara plus enam penulis naskah, The Lego Ninjago Movie berusaha keras menjiplak pencapaian para pendahulunya.

Itu yang nampak semenjak menit pertama, ketika menampilkan insan sungguhan dalam wujud pemilik toko benda antik (Jackie Chan) yang menceritakan kisah kepahlawanan Lloyd Garmadon (Dave Franco) pada seorang bocah. Kecuali memberi panggung bagi Chan serta menyiratkan keterlibatan seekor kucing, substansi adegan pembuka ini layak dipertanyakan. Setelah memasuki dunia animasi, kemeriahan eksklusif menyambut kala mecha milik keenam ninja, Lloyd, Kai (Michael Pena), Jay (Kumail Nanjiani), Nya (Abbi Jacobson), Cole (Fred Armisen) dan Zane (Zach Woods) bertempur melawan pasukan Lord Garmadon (Justin Theroux). 
Kekacauan dan keabsurdan serupa tapi tanpa daya setara. Bukan semata persoalan sudah familiar  The Lego Batman Movie tetap segar  melainkan alasannya keenam penulis menyalin mentah-mentah formula kesuksesan film sebelumnya, melemparkan sebanyak mungkin tumpuan budaya terkenal hingga permainan kata sambil berharap ada yang kena sasaran. Hasilnya inkonsisten. Sesekali ada kelakar pintar, walau lebih banyak bahan medioker, klise, nan predictable misal ungkapan "it's a smash!" dari Cole ketika mecha miliknya yang dimotori turntable menghancurkan musuh. Pendekatan "quantity over quality" untuk balutan komedi meniadakan pesona The Lego Ninjago Movie.

Visualnya masih memanjakan mata, termasuk desain mecha yang menarik hati untuk merogoh kocek dalam-dalam guna mengoleksinya. Sayangnya kreativitas segenap tim sutradara beserta penulis naskah menyikapi huruf dan setting yang tersusun atas setumpuk lego hanya sebatas hal dasar menyerupai memasang kaki Garmadon ke kepala Master Wu (Jackie Chan). Sisanya, untuk kali pertama dalam franchise-nya, gelimang lego-lego dibiarkan tersia-sia, sebatas hiasan warna-warni. Imajinasi terliar justru muncul ketika kucing orisinil menghancurkan kota akhir terpancing sinar laser. Momen lucu sekaligus absurd yang jarang terulang.
Porsi drama tetap mengandung pesan, kali ini seputar jati diri dan kekerabatan ayah-anak. Kental akan tumpuan Star Wars mengenai seorang anak bertarung menumpas kejahatan sang ayah yang melibatkan ajun yang terputus, dinamika Lloyd-Garmadon mencapai titik unik begitu dipaksa bekerja sama, mengesampingkan ego sambil menyambung ulang ikatan antara keduanya. Namun tatkala Garmadon dengan segala rasa gundah akan kiprah sebagai ayah memberi twist menarik, tidak demikian pada Lloyd yang sulit mencuri hati. Apalagi di antara riuh rendah kekacauan aksinya, The Lego Ninjago Movie kurang menyisihkan waktu menangani kompleksitas persoalan si protagonis.

Tapi Lloyd lebih beruntung daripada kelima rekannya, di mana kecuali ragam bentuk mecha keren, mereka nampak serupa satu sama lain. Zane si robot cukup menonjol tindak-tanduknya, namun bicara kepribadian, kelimanya sulit dibedakan, sekedar tampil di sentra petualangan tanpa melaksanakan hal berarti. Apabila The Lego Batman Movie merupakan versi alternatif atau parodi bagi Batman, The Lego Ninjago Movie adalah hal yang sama untuk ninja. Demikian semestinya, hingga film berakhir, dan para ninja lebih banyak mengandalkan mecha ketimbang ilmu bela diri khasnya. Jurus Spinjitzu yang melibatkan elemen alam masing-masing pun sekedar sekilas mengisi di penghujung durasi tanpa kesan.