Showing posts with label Lewis Pullman. Show all posts
Showing posts with label Lewis Pullman. Show all posts

Saturday, December 1, 2018

Ini Lho The Strangers: Prey At Night (2018)


Di luar beberapa kesunyian serta shot mencekam yang memanfaatkan ruang gelap, The Strangers (2008) tak ubahnya prank berkepanjangan selama 107 menit. Tanpa plot, tanpa penggalian karakter, tanpa insiden signifikan. Satu dekade berselang, Bryan Bertino selaku sutradara sekaligus penulis skenario film pertama, telah terlibat di lima film lain dalam banyak sekali kapasitas. Artinya, banyak hal telah dipelajari, mulai teknik penulisan, hingga realisasi terhadap kapasitas diri, sehingga ia pun menyerahkan tampuk penyutradaraan kepada orang lain yang lebih kompeten.

Johannes Roberts (The Other Side of the Door, 47 Meters Down) sekarang memegang kendali, mengarahkan naskah yang Bertino buat bersama Ben Ketai. Dibanding Bertino, Roberts tahu film-film apa yang sempurna dijadikan acuan sambil memberi tribute yang lantaran ditempatkan secara pas, bisa menguatkan estetika film ketimbang sekedar penghormatan kosong. John Carpenter yaitu panutannya. Maka tidak heran dikala musik berbasis denting piano creepy ala musik tema Halloween (1978) yang ikonik itu membuka The Strangers: Prey at Night, sekuel dengan skala serta kualitas yang melebihi pendahulunya.
Skala membesar artinya jumlah tokoh bertambah. Bukan cuma sepasang kekasih suram yang tengah bertengkar, tapi empat orang anggota keluarga: Mike (Martin Henderson) sang ayah, Cindy (Christina Hendricks) sang ibu, Luke (Lewis Pullman) sang anak laki-laki, dan Kinsey (Bailee Madison), sang anak wanita sekaligus sumber problem yang selalu memberontak pula bersikap ketus. Kenakalan Kinsey membuatnya dikirim ke sekolah asrama. Sebelum ia pergi, mereka berempat memutuskan berlibur guna menghabiskan waktu bersama sebagai keluarga. Tidak ada yang menyadari kebersamaan itu jadi yang terakhir kali ketika tiga orang gila bertopeng melancarkan aksinya.

Pada film pertama, dengan hanya dua tokoh utama, kita tahu secara umum dikuasai teror takkan berujung banjir darah apalagi kematian, mengakibatkan jalannya durasi membosankan. Di sini, kita tahu bakal ada yang meregang nyawa. Tinggal problem kapan dan bagaimana. Ini bukti peningkatan kapasitas Bertino menyusun naskah, meski di waktu bersamaan, ia terjebak dalam keklisean horor berupa kebodohan abjad yang dipaksakan hadir demi memperpanjang konflik. Sempat dua kali para protagonis berpeluang menghabisi dua dari tiga antagonis. Tinggal menarik pelatuk, tapi disebabkan alasan tak masuk akal, tindakan logis itu urung dilakukan.
Kebodohan tersebut sempat menurunkan minat saya. Kenapa saya harus mempedulikan karakternya bila filmnya urung memberi mereka harapan? Bukan lantaran antagonis yang sukar dibunuh, melainkan protagonis yang bagai enggan selamat. Untungnya, sehabis melewati beberapa kematian yang disajikan secara “jinak” pun minim kreativitas untuk ukuran slasher (tusuk sana-sini), keinginan mulai dimunculkan. Third act-nya menebus segala ketumpulan di awal, dengan adegan “pergulatan kolam renang” selaku titik balik, alasannya yaitu dari situ peluang tokohnya keluar hidup-hidup mulai terasa.

Sebagai penggemar Carpenter yang piawai menempatkan Michael Myers di area nihil cahaya, belakang layar mengintip sebelum tiba-tiba menyergap, Roberts bisa merangkai ketegangan menggunakan teknik serupa. Bahkan jump scare paling mengejutkan nan menakutkan film ini melibatkan sudut gelap (petunjuk: we’re just started). Bukan cuma Carpenter. Referensi terkait horor kurun kemudian tumpah ruah di titik puncak yang amat menyenangkan. Mobil terbakar ala Christine (1983), adegan epilog The Texas Chainsaw Massacre (1974), dan tentunya lagu-lagu 80an ibarat Making Love Out of Nothing at All dan I Think We’re Alone Now yang sempat digunakan oleh Mother’s Day, satu lagi horor dari medio 80an. The Strangers: Prey at Night bisa mengungguli film pertama lantaran keberhasilannya menambal kekurangan-kekurangan fatal pendahulunya.

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Bad Times At The El Royale (2018)

Banyak film bermasalah jawaban menyebabkan “kebetulan” sebagai jalan pintas malas. Karakter-karakter kebetulan bertemu, terlibat problem yang dipicu serta diakhiri oleh kebetulan. Tapi melalui Bad Times at the El Royale, Drew Goddard (The Cabin in the Woods) selaku sutradara merangkap penulis naskah, justru sengaja memainkan kondisi tersebut. Bagaimana jikalau kebetulan (atau nasib sial) membawa sekelompok orang yang masing-masing menyimpan intensi rahasia, saling bersilangan jalan di ketika yang kurang tepat? As the title suggests, what a bad time indeed at the El Royale.

El Royale merupakan hotel yang terletak di perbatasan, di mana sebelah sisi berada di California, sementara sisi lainnya di Nevada (terinspirasi Cal Neva Resort & Casino). Empat tamu: Seymour Sullivan (Jon Hamm) si salesman rasis, Daniel Flynn (Jeff Bridges) si Pendeta Katolik, Darlene Sweet (Cynthia Erivo) si penyanyi  berbakat, dan gadis hippie berjulukan Emily (Dakota Johnson); plus seorang karyawan hotel berjulukan Miles Miller (Lewis Pullman). Mereka menyimpan niatan terselubung juga masa kemudian kelam, yang satu demi satu terungkap di antara title cards bertuliskan nomor kamar daerah masing-masing tokoh menginap (atau nama atau lokasi bagi tokoh tanpa kamar).

Kisahnya mulai menyusuri arah tak terduga tatkala diam-diam El Royale terbongkar, yang alhasil turut membongkar diam-diam karakternya. Saya takkan menyebut diam-diam ibarat apa (trailer-nya telah membongkar beberapa poin), namun satu hal yang dapat saya beri tahu, bahwa titik balik alurnya ditandai momen pembuktian Goddard terkait kapasitas penyutradaraannya. Momen tersebut berupa single take melibatkan mise-en-scène memikat yang mengatakan situasi dalam 2 ruangan terpisah, disusun dengan intensitas ketat, sinematografi memukau garapan Seamus McGarvey (Atonement, The Avengers, Nocturnal Animals) di mana pemakaian pantulan cermin jadi highlight, pula cerdiknya pemakaian musik Goddard. Bicara soal musik, pilihan lagu-lagu Goddard plus iringan scoring gubahan Michael Giacchino (Up, Spider-Man: Homecoming, War for the Planet of the Apes) bakal membuatmu tanpa sadar menghentakkan kaki, terhipnotis oleh alunan musik dari periode 1950-1960an.

Tapi Bad Times at the El Royale bukan sebatas gaya. Beberapa penonton mungkin bakal menganggapnya sekedar sajian Tarantino-esque berdurasi sama panjang (141 menit) namun dengan obrolan kalah tajam untuk menjaga atensi penonton mengarungi perjalanan nyaris 2,5 jam. Tidak sepenuhnya keliru. Durasinya dapat saja dipangkas, meski sejatinya, perjalanan panjang itu memang harga yang harus dibayar dalam upaya menghadirkan kekayaan penokohan. Dan sungguh harga yang setimpal.

Pemakaian flashback menghasilkan kejelasan pemahaman bagi motivasi tiap individu, sekaligus memberi mereka karakterisasi unik yang saling berlainan. Bahkan tugas kecil juga mempunyai pengaruh, misalnya Buddy Sunday (Xavier Dolan) si produser musik, yang berfungsi membangun kecurigaan serta ketidaknyamanan Darlene kepada pria, khususnya laki-laki pemilik kuasa dan pemegang otoritas. Elemen tersebut mempunyai kegunaan pula membuat pertarungan psikologis di paruh akhir, yang menghantarkan Bad Times at the El Royale menuju konklusi.

Selama 141 menit, Goddard senantiasa punya cara mempertahankan antusiasme penonton. Misalnya ketika muncul flashback di tengah klimaks, yang otomatis memangkas intensitas, sebelum Goddard berhasil membawanya kembali dengan memberi salah satu aksara momen paling badass sepanjang film. Pun menyaksikan jajaran penampilnya saling mengolah tugas terasa amat menyenangkan. Bridges ibarat biasa menjadi laki-laki renta bersuara growly yang lelah oleh kehidupan; Erivo sebagai penyanyi bersuara emas yang sulit mempercayai dunia; Johnson si perempuan tangguh yang tak segan memberantas semua penghalang; Hamm sang mesin kharisma; dan Chris Hemsworth sebagai Billy Lee, pemimpin cult kejam sarat pesona yang gemar memamerkan perut six pack guna memikat para pengikut wanitanya.

Kejutan terbesar dalam Bad Times at the El Royale ialah keberadaan alegori keagamaan. Sejak kemunculan pertama Billy Lee yang terlihat kolam kedatangan sesosok messiah, sampai bagaimana filmnya memasang perspetif mengenai Tuhan yang tidak mengenal Pendeta palsu atau Nabi palsu. Hanya ada insan baik dan buruk, dan Tuhan akan dengan bahagia hati mengulurkan tunjangan bagi sisi baik, meski tunjangan itu hadir melalui jalan yang misterius.