Showing posts with label Jamie Lee Curtis. Show all posts
Showing posts with label Jamie Lee Curtis. Show all posts

Saturday, January 5, 2019

Ini Lho The Fog (1980)

Jika Halloween adalah bagaimana John Carpenter membawa sebuah urban legend kedalam dunia nyata, maka The Fog adalah urban legend itu sendiri. Dibuka dengan adegan seorang laki-laki renta (John Houseman) menceritakan kisah angker di depan api unggun ihwal kabut misterius yang menenggelamkan sebuah kapal, film ini mengajak penonton menyaksikan teror ketika kisah tersebut menjadi kenyataan. Carpenter tidak banyak berbasa-basi disini. Tidak menyerupai Halloween yang menghabiskan paruh pertamanya untuk pembangunan teror secara perlahan, The Fog langsung tancap gas sehabis adegan pembuka tadi selesai. Tengah malam yang biasanya damai di kota kecil berjulukan Antonio Bay mendadak dipenuhi bencana misterius. Kita tahu semua barang yang bergerak dan pecah dengan sendirinya yaitu perbuatan para hantu, meski kita akan bertanya-tanya untuk apa hantu mencabut pompa bensin atau menyalakan alarm mobil. Jangan harap Carpenter maupun Debra Hill selaku penulis naskah bakal menjawab itu.

Jika bicara soal cerita, The Fog memang bukan merupakan horror yang cerdas. Kita alhasil tahu bahwa semua teror itu hadir alasannya masa kemudian kelam yang dimiliki Antonio Bay. Karena itu para hantu berusia 100 tahun tersebut harus membunuh enam orang untuk melampiaskan dendam mereka. Keenam nyawa harus diambil dalam rentang waktu satu jam, antara pukul 12 hingga 1 malam, alasannya pada jam itulah keenam konspirator yang juga pendiri Antonio Bay berkumpul untuk merencanakan sebuah tindakan kejam. Kaprikornus bisa ditebak para hantu berniat menghabisi enam orang keturunan konspirator tersebut bukan? Disitulah naskah Carpenter dan Hill tampak kebingungan. Di satu momen khususnya yang melibatkan huruf Father Malone (Hal Holbrook) tampaknya memang itu tujuannya. Tapi di momen lain para hantu tampak menyerang siapapun secara acak. Tapi pada adegan pembuka mereka hanya mejatuhkan barang di sebuah supermarket tanpa membunuh seorang laki-laki yang ada disana. 
Pada alhasil itu yaitu lubang yang diciptakan memang hanya untuk memberi kesempatan pada filmnya menebar teror selama mungkin, termasuk adegan ketika sebuah papan kayu tiba-tiba terbakar atau mayit yang mendadak hidup kembali hanya untuk memberikan pesan menggelikan. Tapi disaat sebuah film horror bisa menghadirkan kengerian, tidak peduli seburuk apapun kualitas naskah maupun aspek lainnya maka itu yaitu horror yang baik. Carpenter menciptakan film horror yang tidak murahan disini. Kengerian dihadirkan lewat pembangunan atmosfer, bukan scare jump penuh imbas bunyi memekakkan. Scare jump muncul hanya pada saat-saat tertentu yang memang membutuhkan kehadirannya, dan tanpa dentuman musik yang berlebihan. Hasilnya pun efektif. Teror sudah dibangun dari awal dan tak pernah berhenti. Tapi itu bukan berarti filmnya terburu-buru. Karena berpusat pada membangun suasana, The Fog sendiri terasa menyerupai kabut yang menyeruak perlahan tapi secara niscaya menyelimuti seisi kota. 

Ketegangan merambati penonton, bukan menggedor mereka tiba-tiba. Alhasil kita tidak akan merasa lelah dan filmnya pun tidak pernah kehabisan materi bakar. Film ini tidak berusaha mengejutkan penonton, namun bermain-main dengan antisipasi kita. Penonton diajak melihat eksklusif (khususnya pada klimaks) bagaimana kabut secara perlahan menyelimuti seisi Antonio Bay. Kita tahu kalau pada alhasil kabut telah menutupi seluruh kota, maka ancaman bakal mencapai puncaknya. Rasanya pun mencekam, alasannya meski tidak diajak berada eksklusif disana, penonton bagai melihat eksklusif dari balik kaca. Kecemasan semakin memuncak ketika kita sadar bahwa kita hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apapun. Perasaan tidak berdaya melihat para huruf yang juga tidak berdaya itu mengakibatkan klimaksnya begitu efektif. Seperti di lebih banyak didominasi filmnya, Carpenter juga menjadi komposer musik film ini. Hasilnya pun luar biasa. Film-film klasiknya termasuk Halloween dan The Fog kerap menghadirkan sebuah scoring klasik yang tepat mewakili suasana filmnya. Cobalah mendengarkan scoring film ini sambil menutup mata, maka suasana mencekam alasannya perasaan bakal hadirnya hal misterius yang mengancam sontak bakal kita rasakan. 
Walaupun bernaskah buruk, The Fog punya kelebihan yang jarang dimiliki horror kebanyakan, yaitu huruf yang anggun dan gampang menarik simpati. Karena fokusnya bukan hanya teror terhadap salah satu tokoh melainkan seisi kota, maka film ini membagi fokusnya pada beberapa karakter. Kesemuanya menerima porsi yang cukup berimbang. Interaksi yang hadir diantara mereka pun bukan sekedar pengisi durasi yang membosankan, melainkan dinamika hidup antara sosok-sosok "nyata". Nick Castle (Tom Atkins) dan Elizabeth (Jamie Lee Curtis) yaitu pasangan yang tidak hingga mengganggu tone film ini dengan kisah cinta mereka, meski patut disayangkan huruf Elizabeth tidak mewadahi Jamie Lee Curtis untuk tampil habis-habisan layaknya di Halloween. Kathy Williams (Janet Leigh) dan Sandy (Nancy Loomis) yaitu dua huruf bertolak belakang yang menunjukkan dinamika menarik. Kathy yaitu bos yang ceriwis tapi tidak annoying sedangkan Sandy yaitu ajun yang ketus dan bisa menciptakan ucapan "Yes mam" menyerupai "screw you". 

Tapi yang paling mencuri perhatian yaitu Stevie Wayne (Adrienne Barbeau) sang penyiar radio. Bermodalkan bunyi Adrienne Barbeau, huruf Stevie jadi begitu esensial bagi film ini. Diawal kita mengenalnya sebagai tipikal penyiar radio perempuan dengan bunyi menggoda. Tapi seiring film berjalan, kiprahnya bermetamorfosis bumbu ketegangan. Ibarat pertandingan sepak bola, Stevie yaitu komentator yang menarasikan tiap bencana dan menciptakan pertandingan bertambah seru. Stevie pun semakin menerima simpati dari saya ketika ia mengambil tugas heroik dengan bertahan di mercusuar guna menunjukkan gosip ihwal pergerakan kabut meski hal itu membahayakan keselamatannya. Klimaksnya yang terbagi dalam dua lokasi pun menerima laba dari hal tersebut. Adegan di Gereja memang punya skala lebih besar, tapi meski hanya sendirian dan berada di satu lokasi, kejar-kejaran antara Stevie dengan para hantu (atau zombie?) terasa sama bahkan lebih menegangkan. 


Friday, December 28, 2018

Ini Lho The Fog (1980)

Jika Halloween adalah bagaimana John Carpenter membawa sebuah urban legend kedalam dunia nyata, maka The Fog adalah urban legend itu sendiri. Dibuka dengan adegan seorang laki-laki renta (John Houseman) menceritakan kisah angker di depan api unggun ihwal kabut misterius yang menenggelamkan sebuah kapal, film ini mengajak penonton menyaksikan teror ketika kisah tersebut menjadi kenyataan. Carpenter tidak banyak berbasa-basi disini. Tidak menyerupai Halloween yang menghabiskan paruh pertamanya untuk pembangunan teror secara perlahan, The Fog langsung tancap gas sehabis adegan pembuka tadi selesai. Tengah malam yang biasanya damai di kota kecil berjulukan Antonio Bay mendadak dipenuhi bencana misterius. Kita tahu semua barang yang bergerak dan pecah dengan sendirinya yaitu perbuatan para hantu, meski kita akan bertanya-tanya untuk apa hantu mencabut pompa bensin atau menyalakan alarm mobil. Jangan harap Carpenter maupun Debra Hill selaku penulis naskah bakal menjawab itu.

Jika bicara soal cerita, The Fog memang bukan merupakan horror yang cerdas. Kita alhasil tahu bahwa semua teror itu hadir alasannya masa kemudian kelam yang dimiliki Antonio Bay. Karena itu para hantu berusia 100 tahun tersebut harus membunuh enam orang untuk melampiaskan dendam mereka. Keenam nyawa harus diambil dalam rentang waktu satu jam, antara pukul 12 hingga 1 malam, alasannya pada jam itulah keenam konspirator yang juga pendiri Antonio Bay berkumpul untuk merencanakan sebuah tindakan kejam. Kaprikornus bisa ditebak para hantu berniat menghabisi enam orang keturunan konspirator tersebut bukan? Disitulah naskah Carpenter dan Hill tampak kebingungan. Di satu momen khususnya yang melibatkan huruf Father Malone (Hal Holbrook) tampaknya memang itu tujuannya. Tapi di momen lain para hantu tampak menyerang siapapun secara acak. Tapi pada adegan pembuka mereka hanya mejatuhkan barang di sebuah supermarket tanpa membunuh seorang laki-laki yang ada disana. 
Pada alhasil itu yaitu lubang yang diciptakan memang hanya untuk memberi kesempatan pada filmnya menebar teror selama mungkin, termasuk adegan ketika sebuah papan kayu tiba-tiba terbakar atau mayit yang mendadak hidup kembali hanya untuk memberikan pesan menggelikan. Tapi disaat sebuah film horror bisa menghadirkan kengerian, tidak peduli seburuk apapun kualitas naskah maupun aspek lainnya maka itu yaitu horror yang baik. Carpenter menciptakan film horror yang tidak murahan disini. Kengerian dihadirkan lewat pembangunan atmosfer, bukan scare jump penuh imbas bunyi memekakkan. Scare jump muncul hanya pada saat-saat tertentu yang memang membutuhkan kehadirannya, dan tanpa dentuman musik yang berlebihan. Hasilnya pun efektif. Teror sudah dibangun dari awal dan tak pernah berhenti. Tapi itu bukan berarti filmnya terburu-buru. Karena berpusat pada membangun suasana, The Fog sendiri terasa menyerupai kabut yang menyeruak perlahan tapi secara niscaya menyelimuti seisi kota. 

Ketegangan merambati penonton, bukan menggedor mereka tiba-tiba. Alhasil kita tidak akan merasa lelah dan filmnya pun tidak pernah kehabisan materi bakar. Film ini tidak berusaha mengejutkan penonton, namun bermain-main dengan antisipasi kita. Penonton diajak melihat eksklusif (khususnya pada klimaks) bagaimana kabut secara perlahan menyelimuti seisi Antonio Bay. Kita tahu kalau pada alhasil kabut telah menutupi seluruh kota, maka ancaman bakal mencapai puncaknya. Rasanya pun mencekam, alasannya meski tidak diajak berada eksklusif disana, penonton bagai melihat eksklusif dari balik kaca. Kecemasan semakin memuncak ketika kita sadar bahwa kita hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apapun. Perasaan tidak berdaya melihat para huruf yang juga tidak berdaya itu mengakibatkan klimaksnya begitu efektif. Seperti di lebih banyak didominasi filmnya, Carpenter juga menjadi komposer musik film ini. Hasilnya pun luar biasa. Film-film klasiknya termasuk Halloween dan The Fog kerap menghadirkan sebuah scoring klasik yang tepat mewakili suasana filmnya. Cobalah mendengarkan scoring film ini sambil menutup mata, maka suasana mencekam alasannya perasaan bakal hadirnya hal misterius yang mengancam sontak bakal kita rasakan. 
Walaupun bernaskah buruk, The Fog punya kelebihan yang jarang dimiliki horror kebanyakan, yaitu huruf yang anggun dan gampang menarik simpati. Karena fokusnya bukan hanya teror terhadap salah satu tokoh melainkan seisi kota, maka film ini membagi fokusnya pada beberapa karakter. Kesemuanya menerima porsi yang cukup berimbang. Interaksi yang hadir diantara mereka pun bukan sekedar pengisi durasi yang membosankan, melainkan dinamika hidup antara sosok-sosok "nyata". Nick Castle (Tom Atkins) dan Elizabeth (Jamie Lee Curtis) yaitu pasangan yang tidak hingga mengganggu tone film ini dengan kisah cinta mereka, meski patut disayangkan huruf Elizabeth tidak mewadahi Jamie Lee Curtis untuk tampil habis-habisan layaknya di Halloween. Kathy Williams (Janet Leigh) dan Sandy (Nancy Loomis) yaitu dua huruf bertolak belakang yang menunjukkan dinamika menarik. Kathy yaitu bos yang ceriwis tapi tidak annoying sedangkan Sandy yaitu ajun yang ketus dan bisa menciptakan ucapan "Yes mam" menyerupai "screw you". 

Tapi yang paling mencuri perhatian yaitu Stevie Wayne (Adrienne Barbeau) sang penyiar radio. Bermodalkan bunyi Adrienne Barbeau, huruf Stevie jadi begitu esensial bagi film ini. Diawal kita mengenalnya sebagai tipikal penyiar radio perempuan dengan bunyi menggoda. Tapi seiring film berjalan, kiprahnya bermetamorfosis bumbu ketegangan. Ibarat pertandingan sepak bola, Stevie yaitu komentator yang menarasikan tiap bencana dan menciptakan pertandingan bertambah seru. Stevie pun semakin menerima simpati dari saya ketika ia mengambil tugas heroik dengan bertahan di mercusuar guna menunjukkan gosip ihwal pergerakan kabut meski hal itu membahayakan keselamatannya. Klimaksnya yang terbagi dalam dua lokasi pun menerima laba dari hal tersebut. Adegan di Gereja memang punya skala lebih besar, tapi meski hanya sendirian dan berada di satu lokasi, kejar-kejaran antara Stevie dengan para hantu (atau zombie?) terasa sama bahkan lebih menegangkan. 


Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Halloween (2018)

Begini hasilnya ketika sekuel dibentuk oleh sineas handal sekaligus pengemar sejati. Tidak mengindahkan installment selain film orisinalnya terang keputusan berani, sebab, selain elemen-elemen buruk, rumit, sekaligus memalukan (Druid, Busta Rhymes, sampah nuklir buatan Rob Zombie), Halloween II (1981, salah satu sekuel slasher terunik) dan Halloween H20: 20 Years Later (1998, salah satu sekuel slasher terbaik) pun turut terhapus. Pada akhirnya, terbukti keberanian itu merupakan langkah penghormatan terbaik bagi karakter-karakternya, menjadikannya film terbaik Halloween semenjak karya John Carpenter 40 tahun lalu.

Apa yang David Gordon Green (George Washington, Pineapple Express, Joe), Danny McBride (Your Highness) dan Jeff Fradley ingin capai melalui naskah yang mereka tulis bukan (cuma) memberi Michael Myers panggung pembantaian, tapi juga kelanjutan natural yang layak bagi dongeng Laurie Strode (Jamie Lee Curtis), sembari mengubah modus operandi franchise ini (keluarga), dari alasan membunuh atau kehilangan nyawa, menjadi alasan untuk bertahan hidup.
Mengenyahkan Halloween II berarti tidak lagi menganggap Laurie sebagai saudari Michael, sehingga alasan sang boogeyman alias The Shape mengejar si mantan pengasuh anak kembali ambigu. Kita pun kembali pada ucapan Dr. Loomis (tidak ada stock footage mendiang Donald Pleasence, sebatas gambar di buku dan penyebutan nama) dahulu, bahwa Michael ialah manifestasi iblis. Sesederhana itu. Tidak ada gangguan psikologis, tidak ada alasan pasti.

Dan Green, yang turut menempati bangku sutradra, menekankan itu semenjak adegan pembuka mengerikan ketika dua jurnalis, Dana (Rhian Rees) dan Aaron (Jefferson Hall), mengonfrontasi Michael di rumah sakit jiwa. Begitu mereka mengeluarkan topeng Michael, atmosfer seketika berubah. Pasien lain bertingkah manic, anjing menggonggong, seolah sosok iblis tak kasat mata bangkit dari tidur panjangnya. Lalu filmnya melompat ke kredit pembuka, dilengkapi gambar labu klasik khas Halloween dan lagu tema ikonik ciptaan Carpenter. Teruntuk para penggemar, momen ini saja sudah cukup memancing sorak sorai.

Laurie sendiri digambarkan tidak jauh berbeda dibanding Michael. Label “gila” disematkan masyarakat. Mengidap PTSD, hidup dalam ketakutan jikalau suatu hari Michal bakal kembali, Laurie menghabiskan 40 tahun terakhir menyulap rumahnya menjadi benteng, berlatih teknik membela diri termasuk memakai senjata. Apabila Michael dikurung oleh pemerintah, Laurie mengurung dirinya sendiri.

Ketakutan Laurie memaksanya mengalami 2 kegagalan ijab kabul plus kehilangan sang puteri, Karen (Judy Greer), yang menghabiskan masa kecilnya berlatih dan membuat perangkap, sementara cucunya, Allyson (Andi Matichak) berusaha meyakinkan orang tuanya untuk tetap menjalin komunikasi dengan sang nenek. Karen menganggap ketakutan Laurie berlebihan. Terlihat demikian selama 4 dekade terakhir, hingga bus yang para pasien termasuk Michael mengalami kecelakaan, dan ia kembali menebar teror bagi warga Haddonfield di malam Halloween.

Pasca tahun-tahun penuh sekuel jelek yang terus membawa franchise-nya bertransformasi dari slasher medioker, slasher dengan unsur supranatural hingga slasher remaja, Green membawa Halloween kembali ke akarnya. Diterapkannya gaya serupa Carpenter, di mana teror berasal dari atmosfer yang mencengkeram perlahan, menahan pembantaian hingga nyaris separuh jalan, walau harus diakui, terkadang Green kehilangan pegangan sehingga beberapa sekuen berakhir draggy.

Tapi Green sadar betul, bahwa sepenuhnya meniadakan sadisme sanggup membuat penonton masa sekarang kebosanan. Alhasil, begitu Michael mengekan topengnya lagi (topeng terbaik semenjak 2 film pertama), badan tanpa nyawa pribadi bertumpuk. Dibandingkan karya Carpenter, jumlah janjkematian serta kebrutalan digandakan, tetapi lebih banyak didominasi terjadi di balik layar semoga atmosfer yang hendak dibangun urung terdistraksi oleh gore. Hebatnya, Green bisa membuat banyak creative kills tanpa menunjukkan peristiwanya. Caranya ialah menawarkan mayat-mayat yang Michael tinggalkan, sehingga nuansa sadisme tetap terasa. Bahkan kali ini Michael tidak segan menghabisi seorang bocah.

Green memahami Halloween luar-dalam, dan itu terlihat. Contohnya, ia mematuhi “aturan” yang Rob Zombie langgar: menampilkan Michael tanpa topeng. Di film ini, sebelum topeng dikenakan, kita hanya melihat punggung, kaki, atau kepala. Ketika menampakkan seluruh badan atau wajah pun, kamera menangkapnya dari jauh, di luar fokus, atau dalam kondisi bergerak cepat. Cerdik pula cara Green memainkan visual cues khas Halloween: badan yang menghilang, sudut gelap ruangan, lemari. Bukan atas nama nostalgia semata, semuanya jadi penggalan pengembangan karakter, termasuk penukaran tugas “pemburu” dan “yang diburu”. Laurie bukan sekedar korban tak berdaya, namun aktif mengejar Michael. Jamie Lee Curtis mengerahkan segala kemampuannya sebagai heroine dengan fisik kokoh namun remuk dan ringkih secara mental.

Third act-nya termasuk salah satu yang terbaik di antara jajaran slasher. Ingin rasanya menjerit kegirangan menyaksikan pertarungan terakhir yang turut bertindak selaku konklusi luar biasa memuaskan terhadap segala konflik keluarga di antara tiga generasi Strode, pasca set-up berpengaruh nan panjang. “Happy Halloween, Michael!”.