Showing posts with label Tom Cruise. Show all posts
Showing posts with label Tom Cruise. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho The Mummy (2017)

Shared universe sekarang tengah merajalela di Hollywood. Tren satu ini seolah mengambarkan kepercayaan diri pihak studio akan franchise mereka, meski seringkali pula sekedar latah tanpa perencanaan jelas. Diawali oleh Marvel, kini DC/Warner Bros, Transformers, hingga MonsterVerse milik Legendary Pictures yang mengadu Godzilla dengan King Kong turut mengikuti. Di antara semuanya, jalan Universal dalam meluncurkan Dark Universe berisi sekumpulan huruf monster klasik terhitung paling terjal. Berniat memulai semenjak 2014 lewat Dracula Untold, kualitas mengecewakan ditambah pendapatan biasa-biasa saja membatalkan planning tersebut. 

Tiga tahun berselang, kiprah mengawali franchise diemban The Mummy garapan Alex Kurtzman (People Like Us), di mana Tom Cruise berperan sebagai Nick Morton, seorang militer Amerika Serikat yang tengah bertugas di Irak. Ambisi menemukan harta karun terpendam justru mendorong Nick bersama arkeolog berjulukan Jenny (Annabelle Wallis) pada inovasi sarkofagus peninggalan kerajaan Mesir. Tanpa keduanya tahu, di dalamnya terdapat kutukan hasil perjanjian Puteri Ahmanet (diperankan dengan kombinasi tepat antara karisma dan sensualitas milik Sofia Boutella) dengan Seth sang Dewa Kegelapan yang dahulu membuat pertumpahan darah tanggapan perebutan kekuasaan. 
Keseruan, ketegangan, kesenangan. Tiga poin tersebut substansial membangun blockbuster, dan kentara ada perjuangan menyatukan ketiganya. Namun problem timbul kala Kurtzman kurang cakap mengatur tone terlebih soal komedi. Kurtzman tak cendekia memainkan punchline, membiarkan selipan humor di naskah berlalu tanpa penekanan. Contohnya dikala Jenny mengungkapkan bahwa Nick yakni orang baik sebab berkorban menyerahkan satu-satunya parasut pada Jenny, yang kemudian dijawab singkat oleh Nick, "aku kira ada dua parasut". Pengadeganan Kurtzman memancing kebingungan. Apakah itu momen komedik? Ataukah serius yang menyatakan kalau Nick tak sebaik dugaan Jenny? 

Keberadaan Tom Cruise untungnya tidak mengecewakan menolong. Sang pemeran bisa menyeimbangkan penampilan meyakinkan sebagai action hero tangguh dan pembawaan komedik. Bukan kali pertama Cruise memamerkan talenta tersebut, bukan pula yang tergila (masih dipegang Tropic Thunder), tapi melihatnya dihempaskan oleh Sofia Boutella atau mendapatkan tendangan dari Annabelle Wallis tepat di wajah nyatanya luar biasa menghibur. Pun walau urung dimanfaatkan maksimal, fakta bahwa Nick bukan one-man army layaknya banyak huruf Cruise lain, pula sedikit menyentuh ranah antihero di paruh awal, membuatnya menarik. Masih menghabiskan lebih banyak didominasi waktu berlarian (like Tom Cruie always does in his movies), Nick lebih sering tak berdaya menghadapi Ahmanet, setidaknya sebelum klimaks.
Kelemahan terbesar The Mummy terletak pada inkonsistensi terkait tensi. Diawali flashback ke Mesir kuno, daya tarik meningkat kala Ahmanet pertama kali beraksi di dunia modern, mengumpulkan pasukan menggunakan cara yang mengingatkan akan Lifeforce-nya Tobe Hooper. Reference lain bagi horor klasik hadir sewaktu Vail (Jake Johnson) "menghantui" Nick guna mengingatkannya akan teror yang segera menyerang. Situasi abstrak itu dikemas menggelitik, sebagaimana situasi serupa di An American Werewolf in London. Lalu tensi menurun, bahkan mencapai titik nadir sewaktu film berkutat di pertemuan Nick dengan Dr. Henry Jekyll (Russell Crowe). Momen itu berlangsung usang tetapi tanpa injeksi emosi maupun perhiasan informasi. Apa sebetulnya organisasi yang Jekyll pimpin misalnya, tak pernah diungkap. 

The Mummy gemar memancing antisipasi penonton hanya untuk kemudian memberi payoff mengecewakan. Sewaktu Ahmanet bergerak mengerahkan segenap kekuatannya, kita kolam dijanjikan suatu epic finale showdown berisi kehancuran masif London. Namun alih-alih kekacauan berskala besar, titik puncak sekedar diisi pertarungan satu lawan satu ala kadarnya antara Nick melawan Ahmanet. Trio penulis naskah kelas wahid David Koepp (Spider-Man, Panic RoomChristopher McQuarrie (The Usual Suspects, Mission: Impossible - Rogue Nation), dan Dylan Kussman pun bagai terlampau malas merangkai resolusi meyakinkan, menambah kesan antiklimaks pergulatan dua tokohnya. 

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Mission: Impossible - Fallout (2018)

Film aksi, biar menghadirkan ketegangan dan decak kagum bagi penonton, harus sama menyerupai pistol yang ditembakkan jagoannya. Semakin banyak amunisi, semakin besar kemungkinan kena sasaran. Tapi bukan berarti bisa dilakukan asal membabi buta. Aneka sudut maupun taktik mesti dicoba. Fallout, yang masih digawangi Christopher McQuarrie (Jack Reacher, Mission: Impossible – Rogue Nation) sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, membawa bekal banyak amunisi berbentuk formasi set piece aksi, yang masing-masing kolam dibentuk dengan tujuan mengungguli sekuen sebelumnya. And to breathe normally throughout the whole movie, is indeed an impossible mission for the audience.

Formula alur masih serupa. Ethan Hunt (Tom Cruise) harus menghentikan agresi terorisme berskala global (menghancurkan negara, menyebar virus mematikan, menguasai sumber daya, dll.), sementara pemerintah menutup mata dan telinga, bahkan tak jarang berbalik mengejarnya. Pun kali ini, musuh lamanya kembali, yakni Solomon Lane (Sean Harris) yang berhasil Hunt penjarakan di Rogue Nation. Rutinitas ini pasti segera melelahkan disaksikan, tapi Cruise, menginjak usia 56 tahun, masih belum lelah melakoni rutinitas yang menciptakan tiap seri Mission: Impossible berkali-kali lipat lebi seru. Apalagi kalau bukan melaksanakan stunt-nya sendiri.

Cruise terjun bebas dari pesawat yang terbang di ketinggian 9 kilometer, mengendarai sepeda motor dengan kecepatan penuh di tengah keramaian kota, berlari di atap gedung, bergelantungan kemudian mengendarai helikopter. Tentu ada santunan CGI, tapi minimum, sebatas untuk menghapus tali atau alat pengaman lain, kecuali dikala Cruise dan Henry Cavill, yang memerankan August Walker si biro CIA brutal, melompat dari pesawat dan mesti menghadapi langit mendung serta petir CGI. Sayang, polesan yang dibutuhkan menambah intensitas itu justru mengurangi keaslian adegan.

Ya, kekuatan Fallout, dan seri Mission: Impossible setidaknya semenjak Ghost Protocol (2011), yaitu keaslian. Minim layar hijau pembentuk latar palsu, tidak ada pemakaian quick cut berlebihan, dan dengan sungguh-sungguh melaksanakan aksinya, Cruise bisa menampilkan ekspresi (takut, cemas, terkejut, lega) nyata. Sementara McQuarrie dan sinematografer Rob Hardy pun terfasilitasi untuk menaruh kamera di mana pun mereka mau tanpa perlu repot memutar otak supaya penonton tak melihat wajah stuntman (because there wasn’t any). Kamera ditempatkan di benda yang terlibat pribadi dalam aksi, menyerupai motor atau jendela helikopter, menghasilkan sensasi gerakan intens, alasannya yaitu penonton dibentuk seolah berada di tengah-tengah peristiwa.

Terkadang wide angle digunakan selaku establishing shot guna memperlihatkan bahwa lokasi berlangsungnya agresi yaitu nyata, bukan kreasi komputer. Kita tahu di tiap aksi-aksi ajal tersebut, Ethan beserta timnya akan berakhir unggul, tetapi McQuarrie bisa memunculkan kesan, walau hanya sepersekian detik, kalau kali ini, mereka takkan keluar hidup-hidup. Tengok konklusi klimaksnya yang ditutup oleh pemandangan dramatis berupa Tom Cruise bersama cahaya matahari senja.

Plotnya memang urung mengatakan gebrakan baru, namun bukan berarti penulisan McQuarrie malas. Beberapa eksposisi terdengar berbelit, tapi masih memungkinkan diikuti. Dan pastinya, sebagai film soal biro rahasia, yang mana bekerja juga mengandalkan otak alih-alih hanya otot, banyak sekali kejutan yang secara umum dikuasai berasal dari trik-trik berakal protagonis kita pun tersebar, menjadi tikungan demi tikungan yang menjaga film ini bernyawa. Pameran teknologi Fallout tidak sevariatif Ghost Protocol, di mana topeng kembali jadi andalan, tapi McQuarrie, yang paham akan ancaman repetisi, muncul dengan pandangan gres pandai sarat kejutan biar taktik itu tetap segar.  

Satu elemen penting yang Hunt miliki, dan kompatriotnya sesama kepetangan fiktif macam Jason Bourne atau James Bond tidak, yaitu huruf pendukung menarik yang aktif terlibat dalam misi. Interaksi Hunt dan timnya menarik, bukan sebatas selipan penyegar, melainkan pondasi penting franchise ini. Kesan bila mereka telah memahami satu sama lain sehabis melalui serangkaian misi berbahaya amat terasa. Ilsa (Rebecca Ferguson) masih tangguh, Benji (Simon Pegg) tetap ahlinya memancing tawa, dan Luther (Ving Rhames), secara mengejutkan memberi salah satu momen berperasaan yang juga membawa kita sejenak mendekati ruang personal Ethan Hunt.

Cavill dengan kumis tersohor miliknya sayangnya kurang dimaksimalkan. Penokohan sebagai “tukang bersih-bersih” CIA yang tak kenal ampun seketika lenyap begitu beliau terjun ke lapangan. Sejatinya ini bisa dimengerti, alasannya yaitu seramai apa pun jajaran pemainnya, Mission: Impossible merupakan “Film Tom Cruise”. Wajar bila sang aktor, yang turut merangkap produser, enggan karakternya tersaingi, apalagi sehabis melewati serangkaian agresi gila. Lalu apa esensi kumis Cavill? Bisakah kumis itu dibentuk menggunakan CGI layaknya undangan Warner Bros kepada Paramount? Jelas bisa. Hasilnya akan lebih meyakinkan daripada menghapus kumis. Paramount bagai ingin mempermainkan WB, dan berhasil. Sama menyerupai keberhasilan menjaga franchise ini terus hidup selama 22 tahun dan 6 film.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho American Made (2017)

Tom Cruise bermain dalam film berisi sindikat pengedar kokain yang tidak ia tumpas, setumpuk senapan AK-47 yang tidak pernah beliau tembakkan, serta FBI, CIA, DEA, hingga ATF yang satupun bukan tempatnya bekerja. Masih sekeren biasanya, tetapi kali ini Cruise bukan kepetangan atau pahlawan handal. Didasari cerita nyata, Barry Seal ialah sosok yang diperankannya, pilot maskapai penerbangan TWA yang terlibat skandal internasional pada masa pemerintahan Ronald Reagan. American Made, ibarat judulnya memang cuma sanggup terjadi di Negeri Paman Sam, daerah insan mengejar American dream, meraihnya, untuk kemudian kembali kehilangan segalanya.

Setelah cukup usang menyelundupkan narkoba, Seal direkrut oleh Monty Schafer (Domhnall Gleeson) untuk bekerja bagi CIA mengambil foto udara kelompok militan di Amerika Tengah. Menjalankan misi dengan baik, lama-kelamaan tugasnya bertambah, dari mengumpulkan data biro komunis, hingga mengirim suplai senjata bagi Contras, kelompok pemberontak sayap kanan di Nikaragua. Aksi Seal turut diketahui kartel kokain Medellin yang dipimpin nama-nama ibarat Pablo Escobar dan Jorge Ochoa. Mereka memintanya menyelundupkan kokain dari Kolombia ke Amerika. Seal pun mengerjakan misi dari banyak pihak, memberinya laba finansial luar biasa. 
Di tangan Doug Liman (The Bourne Identity, Edge of Tomorrow), American Made menekankan gelaran fiksi daripada akurasi realita, mengetengahkan suguhan kriminalitas berbumbu komedi dipenuhi swagness ketimbang reka ulang presisi soal salah satu sejarah memalukan Amerika Serikat. Dengan kehebatannya sebagai pilot (sanggup menerbangkan pesawat di landasan pendek pula mengecoh DEA), kesediaan menantang ancaman yang menghasilkan banjir uang hingga tiada lagi ruang penyimpanan tersisa, pun istri manis nan seksi (Sarah Wright) yang diajaknya bekerjasama intim di atas pesawat yang tengah mengudara, film ini menyulap Barry Seal jadi sosok super keren dengan agresi keren pula. Punya semua yang diimpikan banyak orang, Barry Seal kolam perwujudan faktual American Dream

Ditemani belokan-belokan dalam naskah buatan Gary Spinelli berupa misi yang tak hanya bertambah namun semakin besar skala dan resikonya, Liman memastikan American Made tampil dinamis, menghibur, sembari menyimpan citra sisi kelam dunia politik dan aturan Amerika. "It's not a felony if you're doing it for the good guys". Kalimat tersebut tepat merangkum inti problematika. Walau mengambil setting kala Reagan, cerita kebobrokan pemerintah dan bagaimana mereka memanfaatkan rakyat sipil demi tujuan politis semaunya kemudian enggan bertanggungjawab nyatanya tetap relevan. Seal dimanfaatkan, namun berbalik memanfaatkan pemerintah, turut mengeruk keuntungan. Itulah mengapa tokohnya gampang disukai. Seal mewakili ambisi manusiawi kita.
Pengadeganan Liman penuh energi dan suasana keglamoran, menjauhkan film dari kesan drama political history membosankan tanpa pernah kehilangan konteks. Walau beberapa pilihan teknis layak dipertanyakan   inkonsistensi tone gambar yang kadang mempunyai unsur vintage kadang modern, shaky cam yang sesekali mengisi tanpa efek signifikan  sang sutradara senantiasa punya jalan menghadirkan hiburan. Semisal rasa bersenang-senang melalui balutan komedi dikala Seal berbaik hati mengulang klarifikasi atas rangkaian kejadian yang tiba silih berganti. Dengan begitu filmnya sanggup menawarkan eksposisi gamblang, menyuapi penonton secara tidak murahan.

Energi tinggi American Made turut bersumber dari performa Tom Cruise yang setia menebar pesona lewat ketenangan dihiasi senyum, seolah yakin segalanya bakal berjalan lancar dan telah terkontrol. He is one of the coolest guy in the world, and this movie perfectly shows us why. Diiringi lagu-lagu bernuansa rock, Cruise beraksi layaknya rockstar dengan penyelundupan demi penyelundupan sebagai panggungnya. Dan sebagaimana album-album rock terbaik yang kita kenal, American Made bergerak penuh semangat mengajak penikmatnya bergembira, tersenyum lebar, merasa diri keren, sembari turut menyelipkan subteks soal permasalahan dunia nyata.