Showing posts with label Adhitya Mulya. Show all posts
Showing posts with label Adhitya Mulya. Show all posts

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Belok Kanan Barcelona (2018)

(Review ini mengandung SPOILER)
Belum ada film yang bisa membawa saya dalam hubungan cinta/benci menyerupai Belok Kanan Barcelona. Saya mengasihi caranya menuturkan betapa cinta sanggup mendorong seseorang berkorban meski harus menembus batas jarak dan waktu. Saya mengasihi caranya mendefinisikan “cinta sejati” sebagai seseorang yang selalu ada di samping pujaan hatinya tanpa memaksa balik dicintai. Saya pun mengasihi masing-masing huruf utamanya. Namun saya membenci ketika narasinya mulai terjun ke kepingan agama bahkan terkesan offensive di beberapa titik.

Mengadaptasi novel Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona karya Adhitya Mulya, Ninit Yunita, Alaya Setya, dan Iman Hidayat, filmnya mengisahkan persahabatan Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Yusuf (Deva Mahenra), dan Farah (Anggika Bolsterli) yang sekarang tinggal terpisah di empat negara berbeda. Francis yaitu pianis pemenang Grammy pertama asal Indonesia yang sekarang menetap di Los Angeles, Retno mengejar impiannya menjadi chef di Copenhagen, Yusuf mulai mendulang sukses di perusahaan di Cape Town, sedangkan Farah bekerja sebagai arsitek di Vietnam. Undangan janji nikah Francis dengan Inez (Millane Fernandez) di Barcelona memberi mereka alasan untuk bertemu lagi, walau satu sama lain tak mengetahui intensi tersebut.

Semua bermula dari masa SMA, tatkala persahabatan keempatnya mulai bersemi, demikian pula cinta. Francis menyukai Retno pun sebaliknya, Farah yang jadi kawasan curhat Retno juga tertarik pada Francis, sementara Yusuf, si “penyedia bahu” bagi kesedihan Farah, turut rahasia memendam rasa kepadanya. Apabila banyak film kita memposisikan kelulusan Sekolah Menengan Atas selaku pembuka, Belok Kanan Barcelona menempatkannya di tengah, sehabis terlebih dulu membawa penonton mengarungi flashback yang menyoroti dinamika empat tokoh utama semasa SMA, memantapkan pondasi huruf beserta persahabatan mereka. Naskah yang disusun Adhitya Mulya (Jomblo, Shy Shy Cat) apik dalam mempresentasikan manis sekaligus pahitnya mengasihi mitra sendiri, ketika pengungkapan perasaan kolam haram hukumnya demi menjaga kelanggengan pertemanan.

Departemen akting merupakan elemen terkuat filmnya. Morgan kharismatik menyerupai biasa sehingga gampang mendapatkan dikala Francis disukai dua gadis anggun walau detail penokohannya tak seberapa digali (baca: ia terkenal lantaran ganteng dan keren). Mikha mencurahkan emosi yang cukup meyakinkan untuk menjadkan ini performa terbaik sepanjang karirnya, tatkala Deva hasilnya memperoleh bahan yang pas guna memfasilitasi bakat komediknya. Tapi magnet terbesar berasal dari Anggika melalui formasi lisan gila dan ketiadaan urat aib dalam berlagak konyol termasuk merangkak di aspal, Farah merupakan tugas yang bakal membuka lapang jalannya meraih status bintang kelas satu.

Sampai sini, Belok Kanan Barcelona bisa jadi salah satu film Indonesia terbaik 2018. Tontonan yang konsisten memberi tawa dalam pengalaman menonton menyenangkan. Penyutradaraan Guntur Soeharjanto (99 Cahaya di Langit Eropa, Ayat-Ayat Cinta 2) pun cukup efektif membuat adegan emosional dikala melukiskan momen “crack-and-heal” suatu persahabatan.  Berbeda dibanding caranya menangani 2 film 99 Cahaya di Langit Eropa, latar luar negeri urung dieksploitasi sebagai lokasi basuh mata belaka, melainkan panggung pembuktian bahwa kekuatan cinta bisa mendorong seseorang melintasi dunia.

Mengesankan, sampai elemen religi menggedor masuk, yang awalnya dipicu perbedaan iman Francis dan Retno. Saya suka sebaris kalimat ucapan ayah Retno (Cok Simbara) yang kurang lebih berbunyi, “Apa kau tega membuat Francis harus menentukan antara kau (Retno) atau Tuhannya?”. Itu cara lembut untuk berkata “Jangan memacari orang berbeda agama”. Saya tak menyalahkan perspektif tersebut, alasannya kenyataannya, hal itu sulit dijalani di Indonesia. (Spoiler starts here) Saya pun tak mempermasalahkan konklusi sewaktu Francis hasilnya memeluk Islam. Apa pun alasannya (sebatas untuk menikah atau memang iman personal), itu cara paling kondusif semoga bisa menghabiskan hidup bersama.

Masalah mencuat dikala Belok Kanan Barcelona melukiskan orang Islam sebagai pemeluk agama luar biasa taat yang enggan berpindah iman demi janji nikah dan bersedia solat di tengah padang pasir, tetapi sebaliknya, Pastor dan Suster di tengah situasi mengancam kala mesin pesawat yang ditumpang meledak, malah bertingkah konyol, saling menyatakan cinta, merengek alih-alih memanjatkan doa, sehabis sepanjang perjalanan diperlihatkan sebagai orang-orang menyebalkan yang tak mempedulikan sekitarnya. Apabila cuma memunculkan salah satu (Muslim luar biasa taat atau mengolok-olok Pastor sebagai bahan komedi), tidak jadi masalah. Namun ketika dihadirkan bersamaan, secara otomatis tercipta komparasi jomplang yang begitu mengganggu. Sengaja atau tidak, hal itu menandakan ketidakpekaan para pembuatnya.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Jomblo (2017)

Jomblo versi 2017 punya niat mengenalkan nama besar pembiasaan novel berjudul sama buatan Adhitya Mulya pada generasi masa sekarang sembari tetap merangkul penggemar lama, salah satunya dengan mempertahankan Hanung Bramantyo di dingklik penyutradaraan. Masalahnya, remake ini kolam lupa alasan film aslinya disukai. Jomblo versi 2006 mewakili liku hidup remaja, khususnya mahasiswa yang diisi keliaran menyenangkan, dari menghisap ganja, mencoba seks, hingga merebut pacar sahabat. Poin terakhir dipertahankan, tapi secara keseluruhan lebih "jinak" (tentu empat protagonis bukan lagi perokok berat), hanya tertarik menertawakan kebodohan tingkah para jomblo mencari cinta.

Untuk sedikit melihat citra perbandingan dua versi, mari tengok lagu tema masing-masing. Versi usang mempunyai BDG 19 OKT dengan petikan lirik "Segala yang kuberi, tak pernah berarti, berat terasa, habiskan darahku, menusuk tulangku, yang lelah" yaitu nomor rock seputar curahan hati. Sedangkan remake-nya ditemani Jomblo dengan hook pada bab "Masih betah jadi jomblo, Since Grow, Sampai kapan jadi jomblo, Since Grow" selaku hip hop nuansa modern yang lebih lugas dan playful. Intinya, didorong menyasar para milenial, Jomblo berusaha tampil (lebih) ringan yang sayangnya berujung simplifikasi kosong.
Empat tokoh utamanya masih sama, Agus (Ge Pamungkas) yang berambisi mengakhiri masa jomblo kala bertemu sahabat lamanya, Rita (Natasha Rizky), Bimo (Arie Kriting) yang menembak semua wanita, Doni (Richard Kyle) si playboy ganteng, dan Olip (Deva Mahenra) yang takut berkenalan dengan Asri (Aurelie Moeremans). Dari luar, kepribadian pula permasalahan tetap sama. Bedanya, walau konflik meninggi hingga mengancam jalannya persahabatan, kali ini sulit merasa terikat alasannya jarangnya momen kebersamaan. Benar mereka sempat nongkrong di kampus tetangga atau berlibur ke pantai bersama, tapi semua belum cukup berpengaruh menggambarkan ikatan pertemanan. 

Agar peduli, penonton butuh keintiman, sebagaimana kala Bimo-nya Dennis Adhiswara tersenyum pilu sambil dipeluk tiga sahabatnya. Tanpanya, Jomblo begitu hampa rasa, tidak peduli berapa banyak air mata tumpah maupun seberapa keras pukulan Deva Mahenra ke pipi Richard Kyle dikala perselisihan memanas. Pun keputusan mempertahankan konklusi bittersweet turut nihil dampak. Satu-satunya perubahan positif dari naskah garapan Adhitya Mulya dan Ifan Ismail yaitu mengakibatkan Olip bukan lagi creepy stalker, melainkan laki-laki pemalu yang diakibatkan tekanan untuk selalu berhasil dari latarnya sebagai anak tentara. 
Sisi komedi tampil selaku penyelamat melalui sentuhan humor menghibur yang sesekali terjun ke ranah absurditas. Tapi pemfokusan terhadap komedi turut membawa imbas negatif, yakni aksara utama yang sebatas karikatur ketimbang insan nyata. Contohnya Ge Pamungkas. Meski andal memainkan kekonyolan berlebihan, tapi kekonyolan itu pula yang mendorong Agus menjadi sosok komikal nan artificial belaka. Toh itu belum seberapa dibanding Richard Kyle yang bagaikan robot berperut six pack dengan pengucapan kalimat carut-marut. Deva tampil meyakinkan, sehingga patut disayangkan filmnya terlampau menyoroti Agus dan mengesampingkan Olip, padahal dialah tokoh paling kompleks.

Demi menyulut nostalgia, homage diselipkan, pun beberapa komponen film sebelumnya dipertahankan walau banyak di antaranya terkesan asal tempel. Misalnya penokohan Bimo, sebagai orang Papua yang lahir di Jogja. Mengapa tidak sekalian mengubahnya secara menyeluruh? Pilihan ini nihil substansi, tidak digunakan sebagai sumber humor, tidak pula disinggung lagi di kemudian waktu. Jomblo begitu berhasrat menjadi berbeda hingga kehilangan semangat aslinya, tetapi ingin juga mencuri perhatian penggemar usang tanpa memahami sisi yang mereka kagumi atau aspek mana yang perlu disertakan. Dalam usahanya merenggut atensi cukup umur milenial, Jomblo rupanya serupa sederet dari mereka yang mengalami krisis identitas.