Showing posts with label Anna Kendrick. Show all posts
Showing posts with label Anna Kendrick. Show all posts

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho A Simple Favor (2018)

Paul Feig (Bridesmaids, Spy) bereksperimen lewat A Simple Favor yang merupakan penyesuaian novel berjudul sama karya Darcey Bell. Alih-alih sepenuhnya merambah “sisi gelap” sebagaimana dijadikan bahan promosi lewat tagline berbunyi “The Darker Side of Paul Feig” dan mengikuti contoh Hitchcockian atau Les Diaboliques (1955)—yang bahkan disebut dalam dialog—sang sutradara, bersama penulis naskah Jessica Sharzer (Nerve), berani menyatukan elemen thriller misteri dengan komedi yang jadi keahliannya. Hasilnya menyenangkan, meski acap kali campur aduk.

Itulah kenapa Anna Kendrick jadi pilihan tepat sebagai Stephanie Smothers, ibu tunggal sekaligus vlogger resep kuliner dan kerajinan. Kendrick, serupa dominan peran-peran sebelumnya, memerankan perempuan muda naif dan canggung, yang kerap membuatnya bertingkah konyol di tengah interaksi sosial. Dan ia bagus. Kendrick, selain tentunya kepiawaian pengadeganan Feig, yakni alasan humornya selalu berhasil, walau kejenakaan A Simple Favor seringkali ada di kawasan yang aneh.

Tapi inilah tujuan Feig. Dia tidak ingin mencengkeram jantung penonton layaknya Alfred Hitchcock, atau menampilkan gurat-gurat kengerian kolam Les Diaboliques. Feig ingin menghibur. Feig ingin kita tertawa, terjaga, terkejut, dan tentunya terpesona sebagaimana Stephanie kala ia pertama bertemu Emily Nelson (Blake Lively) dikala keduanya menjemput putera mereka dari sekolah. Emily yakni perempuan elegan dengan dandanan menawan seolah gres datang dari program peragaan busana di Paris, selaras dengan lantunan musik jazzy garapan Theodore Shapiro, komposer langganan Feig semenjak Spy.

Serupa Kendrick, Lively terang tepat sebagai Emily, yang menciptakan bukan saja Stephanie, tapi juga penonton sulit melepaskan pandangan darinya. Hebatnya, ia pun mulus berkomedi. Kata “brotherfucker” takkan selucu itu jikalau bukan berkatnya.

Kedua tokoh utama kita cepat akrab. Stephanie mengagumi betapa elegan Emily, sebaliknya, sang kepala divisi kekerabatan masyarakat suatu perusahaan mode itu menyukai kelucuan Stephanie. Mungkin Stephanie memberi hiburan bagi Emily, yang kesehariannya hanya ditemani pekerjaan serta suaminya, Sean (Henry Golding), novelis yang telah 10 tahun tak menghasilkan karya baru. Hingga suatu hari, Emily mengajukan sebuah seruan sederhana biar Stephanie menjemput puteranya dari sekolah. Setelahnya, ia menghilang.

“Where’s Emily?” merupakan pertanyaan yang filmnya ingin kita pertanyakan. Asumsi-asumsi bisa dimunculkan, teori-teori berseliweran di kepala, perjuangan menyatukan keping-keping puzzle pun saya lakukan didasari pengalaman menyaksikan film-film misteri bertema serupa. Kemudian filmnya menampar lewat titik balik di pertengahan durasi. Segala teori dan perkiraan tadi pun runtuh.

Saya meyakini, dongeng misteri yang baik bukan bergantung pada tanggapan atau kejutan di akhir, melainkan proses investigasi. Konklusi yang sukar ditebak sebatas bonus. Dan kelebihan A Simple Favor terletak pada caranya mengombang-ambingkan pemikiran penonton. Setiap kita merasa mulai menemukan titik terang, fakta gres yang kontradiktif eksklusif dipresentasikan. Alurnya pun bergerak dinamis begitu Stephanie tetapkan memulai penyelidikan ketimbang berdiam diri dikuasai kebingungan. Di sinilah humornya berperan. Sesekali otak kita dibawa rehat sejenak dari pencarian fakta, untuk menertawakan polah Stephanie (plus jajaran tokoh pendukung) yang selalu menemukan jalan bertingkah konyol.

Sayang, mencapai babak akhir, filmnya keteteran akhir penyakit lawas: obesi terhadap twist. Kejutan demi kejutan yang dominan punya prosedur abstrak dijajarkan terburu-buru, tanpa memberi penonton waktu mencerna fakta yang terungkap sebelumnya. Ditambah lagi, kapasitas Feig menangani momen pengungkapan kejutan dalam misteri belum mumpuni. Mungkin ia enggan “membesar-besarkan” kejutan, namun dampaknya, beberapa titik sebatas hadir sambil lalu. Untunglah A Simple Favor tidak semata menggantungkan garis finish, pula perjalanan mencapai sana. Dan sungguh perjalanan yang menyenangkan.

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Pitch Perfect 3 (2017)

Pitch Perfect 3 ibarat kembalinya sebuah band yang pernah berjaya, namun secara setengah hati, diisi album gres tanpa bahan memadahi, pula tur ala kadarnya yang semata bersifat obligasi. It's all about money with no energy and creaticity. Ironisnya, hal yang seolah-olah dialami The Barden Bellas. Selepas gagal beradaptasi dalam realita selepas universitas, mereka bereuni, mencoba lagi peruntungan di panggung hanya untuk mendapati kejayaan masa kemudian sulit diulangi. Inilah ketika realita (secara kebetulan) mengimitasi karya, sayangnya dalam konteks negatif.

Jajaran cast sama, skenario pun masih dikerjakan oleh Kay Cannon dan Mike White, tapi dingklik sutradara sekarang ditempati Trish Sie. Harapannya, pengalaman menggarap Step Up: All In (2014) menghasilkan sekuen musikal sedap. Namun pesona Bellas lenyap ketika Sie membungkus performa mereka bagai siaran ajang pencarian talenta menyanyi di televisi. Pun kelompok pesaing, Evermoist, grup musik yang terdiri atas empat wanita, ikut melempem. Bergaya serupa rockstar, mereka membawakan pop-rock generik dengan agresi panggung medioker. 
Sepertinya daya kreasi Pitch Perfect yang lima tahun kemudian menimbulkan gelas plastik alat musik keren menguap bersama kesuksesan The Bellas. Beca (Anna Kendrick) yaitu produser bagi lagu basi milik rapper keras kepala, Fat Amy (Rebel Wilson) menganggur sambil sesekali memparodikan Amy Winehouse di tengah kota, sementara anggota lain tidak lebih beruntung. Berniat meraih kejayaan lagi, The Bellas nekat ambil bab pada tur dunia guna mengibur militer Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh United Service Organization (USO). 

Realisasi terhadap realita merupakan tema utama, yang mana lebih cukup umur dibanding kedua pendahulunya. Bagaimana proses The Bellas mencapai titik tersebut? Itu yang semestinya dijawab alih-alih sibuk mengotak-atik unsur sampingan tak perlu. Momen pembukanya mencuatkan pertanyaan: Apa esensi ledakan ala suguhan berkelahi dalam film seputar grup akapela? Pasca konteksnya dipaparkan pun, fungsinya  selain menghabiskan bujet nyaris tiga kali lipat film pertama  tetap jadi pertanyaan. Dan pertemuan Fat Amy dengan ayahnya (John Lithgow) hanya ada untuk membuka jalan menyelipkan adegan bombastis di atas. 
Sebagai film musik dengan konflik kompetisi musik, mestinya intensitas muncul alasannya kompetisi tersebut, perseteruan antar peserta, usaha tokoh utama mencapai tujuan (entah soal mengejar kemenangan atau penerimaan diri), tidak perlu tetek bengek penculikan berbumbu ledakan. That's cheap. Anna Kendrick dan Hailee Steinfeld sebagai Emily masih mempesona di atas panggung, tapi story arc Beca dangkal dan membosankan, sedangkan Emily lebih parah, sebatas penggembira. Fat Amy selaku "sumber derita" bisa memancing tawa, demikian juga absurditas Lilly (Hana Mae Lee), namun Pitch Perfect 3, dengan sekelompok protagonis perempuan berbeda kepribadian dan latar seharusnya lebih berwarna. Sayang, naskahnya kelabakan membagi fokus. 

Pertanyaan terpenting: Apakah Pitch Perfect 3 menyenangkan? Komedinya cukup efektif mengocok perut. Mayoritas nomor musikalnya kurang berkesan, walau tatkala The Bellas membawakan Toxic, sulit rasanya menahan badan ikut bergoyang biarpun sedikit. Ya, dalam film di mana para protagonis disindir sebagai grup karaoke alasannya cuma menyanyikan karya orang lain, cover bagi lagu rilisan awal 2000-an justru jadi yang paling memorable. Pitch Perfect 3 memang reuni setengah hati. The Bellas need another new cups if they want to comeback (again).