Showing posts with label Anthony McCarten. Show all posts
Showing posts with label Anthony McCarten. Show all posts

Wednesday, November 28, 2018

Ini Lho Bohemian Rhapsody (2018)

Bohemian Rhapsody tampil kolam medley, di mana formasi greatest hits dimainkan sebagian demi mengakomodasi sebanyak mungkin lagu dimainkan dalam keterbatasan waktu. Metode tersebut pasti bisa menghibur, namun takkan terasa lengkap dan penonton bakal berharap lebih dengan ketidakpuasan tertinggal di hati. Karir gemilang Queen, musikalitas mereka, dan tentunya perjalanan hidup sang vokalis, Freddie Mercury, terbukti terlampau besar nan kompleks untuk dituturkan melalui gaya formulaik film biopic.

Di departemen penulisan naskah, Anthony McCarten (The Theory of Everything, Darkest Hour) memahami kata kuncinya, yaitu “keluarga”. Semua relasi interpersonal film ini bermuara ke sana, dari sulitnya Freddie (Rami Malek) mendapat restu sang ayah (Ace Bhatti) yang menganggapnya telah melenceng jauh dari kultur Parsi, romansanya dengan Mary Austin (Lucy Boynton), juga dinamika Queen, yang digambarkan bukan sebatas band, tetapi keluarga. Walau akhirnya, meski kita tak mewaspadai chemistry antara personel perihal pembuatan musik, penggambaran relasi mereka urung nampak berbeda dibanding banyak grup band di luar sana. Artinya, “keluarga” hanya kalimat di atas kertas yang berulang kali diucapkan.

Jelang akhir, terselip pembicaraan mengenai adanya perdebatan soal lagu ciptaan siapa yang disertakan dalam album, lagu siapa yang dipilih jadi single andalan, lagu mana yang menjadi b-side, dan lain-lain, yang kerap terjadi tiap Queen memasuki studio rekaman. Tapi selain saling ejek soal lagu I’m in Love with My Car buatan Roger Taylor (Ben Hardy) sang penggebuk drum, kita tidak pernah menyaksikan konflik di atas secara langsung. Padahal cekcok semacam ini bisa memperkaya substansi film perihal musisi.

Proses musikalnya toh tetap menghibur. Kita diajak menyaksikan Queen bereksperimen dengan bermacam-macam sumber bunyi, mengkreasi komposisi unik Bohemian Rhapsody, membuat We Will Rock You yang terdengar sederhana bila disandingkan dengan lagu titular-nya, diciptakan menurut cita-cita memberi penonton lagu yang sanggup mereka mainkan, namun sejatinya, tetap layak disebut eksperimen (mayoritas cuma tersusun atas hentakan kaki dan tepuk tangan). Di balik kekurangannya, Bohemian Rhapsody sanggup menggambarkan kejeniusan serta kegilaan eksplorasi Queen untuk urusan karya.

Merangkum lebih dari 2 dekade penuh lika-liku, Bohemian Rhapsody menentukan gaya presentasi jumpy, bergerak dari waktu ke waktu, lagu ke lagu, konser ke konser, mengakibatkan filmnya terputus-putus alih-alih naratif utuh yang melaju mulus. Pada titik ini filmnya seolah tersesat, tak tahu ingin memberikan apa, kemudian menentukan pasrah terbawa arus, sebelum mencapai third act, yang mana merupakan fase terbaik Bohemian Rhapsody.

Sekitar 30 menit terakhirnya berhasil mengikat segala cabang plot memakai benang merah berupa “keluarga”, menghadirkan beberapa momen personal perihal Freddie dan orang-orang terkasihnya selaku epilog emosional. Khususnya relasi Freddie-Mary, di mana cinta Freddie terhadap wangsit di balik lagu Love of My Life itu ialah salah satu cinta tanpa syarat paling murni dan indah yang pernah saya saksikan, walau suplemen satu-dua dialog intim pada masa awal relasi mereka bakal lebih menguatkan pondasi dongeng keduanya.

Sementara 15 menit pamungkasnya ialah puncak, di mana Bryan Singer (The Usual Suspects, X-Men, Superman Returns) melaksanakan reka ulang terhadap penampilan Queen di konser amal Live Aid (1985), yang banyak dianggap sebagai salah satu agresi panggung terbaik sepanjang masa. Sekuen ini diambil pada hari pertama produksi, sehingga Singer masih duduk di bangku sutradara sebelum dipecat kemudian digantikan Dexter Fletcher (Eddie the Eagle) pada sepertiga simpulan proses. Singer bisa saja memasang sistem autopilot dan penonton tetap akan terhibur berkat susunan lagu-lagu ibarat Bohemian Rhapsody, Radio Gaga, We Will Rock You, hingga We Are the Champions. Tapi beliau menolak bermalas-malasan.

Dibantu sinematografer langganannya, Newton Thomas Sigel, kamera Singer bergerak dinamis menangkap energi Freddie yang bergerak menyusuri panggung layaknya pemimpin massa dan euforia 72 ribu penonton di stadion Wembley. Tapi satu hal Istimewa dalam sekuen ini adalah, keberhasilannya secara subtil menjelaskan bagaimana Freddie bisa memberi performa luar biasa, walau telah usang ia dan personel Queen lain tak berada di satu panggung, pula kesehatannya makin memburuk jawaban AIDS. Jawabannya sama: keluarga. Konser itu pun makin bermakna. Live Aid jadi momen dikala Freddie mencurahkan segala cintanya, dan keputusan Singer sesekali mengalihkan fokus ke ekspresi orang-orang terdekat sang vokasi di sela-sela konser terbukti menambah bobot emosi.

Tapi tanpa akting Rami Malek, pasti reka ulang Live Aid tidak akan sebaik itu. Secara tampilan fisik, ia mungkin kalah ibarat dibanding Gwilym Lee sebagai Brian May atau Joseph Mazzello sebagai John Deacon, namun aktingnya menutupi itu. Di bawah panggung, Malek mengakibatkan Freddie insan ringkih yang kesepian dan merindukan cinta, juga musisi jenius yang tubuhnya bergetar tiap menyadari bahwa dirinya sedang membuat mahakarya. Tapi ia bukan sosok suci. Malek turut menangkap sisi gelap Freddie sebagai megabintang yang dikuasai ego jawaban kesendirian. Di atas panggung, ia ialah pemimpin flamboyan penuh energi. Malek tepat menampilkan tiap detail kekhasan gerak-gerik Freddie. Malek bukan sekedar meniru. Seolah Freddie sungguh merasuki sang aktor. Mungkin Malek tidak bernyanyi live, tetapi gestur dan ekspresinya (plus tata suara cermat) memudahkan kita mempercayai jikalau ia bisa bernyanyi serupa Freddie Mercury.

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Darkest Hour (2017)

Orasi dalam film sering digunakan selaku alat penyulut emosi, dan Darkest Hour yakni film di mana orasi mendominasi, menjadi pondasi alur. Masuk akal, mengingat karya teranyar Joe Wright (Pride & Prejudice, Atonement, Anna Karenina) ini mengisahkan sosok Winston Churchill (Gary Oldman) yang dikenal sebagai orator handal. Tidak ada yang bisa merangkai kata sebaik dirinya. Setidaknya berdasarkan sang sekretaris, Elizabeth Layton (Lily James). Pernyataan itu sulit disangkal. Suatu dikala Lord Privy Seal menelepon kala Churchill sedang berada di toilet. Responnya menggelitik: “Please tell the Privy Seal that I’m sealed in the privy and I can only deal with one shit at a time”. 

Anthony McCarten menyelipkan humor dalam naskahnya, entah permainan kata menyerupai di atas atau comedy of manners sebagaimana nampak di pertemuan  canggung Churchill dan Raja George VI (Ben Mendelsohn) pasca ia ditunjuk selaku Perdana Menteri menggantikan Neville Chamberlain (Ronald Pickup) di masa Perang Dunia II . Neville mungkin Perdana Menteri yang baik kala damai, namun lain dongeng di tengah peperangan. Churchill dengan kegigihan untuk maju menghadang Nazi pun dipilih, meski banyak pihak mewaspadai kapasitasnya, terlebih pasca Gallipoli yang memakan korban ratusan ribu pasukan Inggris.
Darkest Hour bersedia menyibak kelemahan Churchill. Ketika Viscount Halifax (Stephen Dillane) terang-terangan menyebut bencana Gallipoli diakibatkan keputusan Churchill tepat di depan matanya, terbersit keraguan di respon sang Perdana Menteri, walau ia tetap berkelit menolak disalahkan. Mungkin jauh dalam hati kecilnya, Churchill menyadari telah berbuat salah. Dia bermental baja, pantang menyerah, keras kepala, tapi bukannya tidak mungkin dirobohkan. Mencapai satu titik, Churchill sempat terjerembab ke lubang gelap, ketakutan, meragu, bahkan kehilangan kata-kata yang mana yakni keahliannya.

Churchill terbentur dilema. Terus melawan dengan resiko makin banyak nyawa prajurit melayang, atau oke berdamai yang berarti membuka jalan Nazi makin berkuasa, dan kemungkinan besar melucuti kemerdekaan Inggris. Banyak film membawa kita ke tengah medan perang. Di sana, wajah politikus dan pemegang tampuk kekuasaan selalu sama: orang-orang tanpa hati yang mengirim prajurit untuk mati sedangkan mereka bersembunyi di balik benteng tebal di rumah sendiri. Darkest Hour menyuguhkan perspektif lain, menyoroti yang terjadi di ruang Parlemen, apa yang dilakukan pria-pria berjas selaku pemilik kekuasaan.
Persoalan di balik layar ini bisa mengaduk rasa lewat pidato Churchill yang seolah bisa menggerakkan api usaha rakyat. Wright, dalam salah satu penyutradaraan terbaiknya, menyulap orasi di rapat Parlemen yang remang-remang atau siaran radio di bawah siraman lampu merah jadi momen mencengkeram dada. Musik Dario Marianelli membantu mengangkat emosi sembari tetap menjadi keping estetika yang sanggup dinikmati sendiri, sementara sinematografi Bruno Delbonnel menghadirkan sekuen luar biasa berpengaruh yang kemunculannya tak terduga (petunjuk: melibatkan mata jenazah). Dramatisasi Wright efektif, keputusan menyelipkan adegan fiktif manipulatif sewaktu Churchill menemui rakyat di kereta bawah tanah pun bisa dimaklumi. Bahkan adegan itu yakni poros emosi yang memberi cukup latar belakang terkait keputusan Churchill.

Selain Wright, Gary Oldman turut melaksanakan dramatisasi. Bila anda mendengar rekamannya, orasi Churchill menggugah namun tak sedemikian berapi-api layaknya Oldman. Dampaknya sempurna. Tiap kali ia mulai bertutur, seketika itu pula hati ini menyerupai diremas-remas, terhanyut oleh kecerdikannya menyusun kata sekaligus tersulut berkat semangatnya. Bukan itu saja, Oldman hingga pada tingkat teratas seni peran, di mana ia merasuk begitu dalam, menyatu dengan tokoh yang dimainkan, hingga gestur-gestur kecil macam getaran bibir (beberapa kali ditonjolkan oleh Wright melalui close up) muncul secara alami selaku potongan dirinya. This is a performance so good it makes me cry. Wanita-wanita di sekitar Churchill pun memikat, dari Lily James si sekretaris sampai Kristin Scott Thomas sebagai istri Churchill, Clementine, yang meniupkan sepintas romantisme hangat.