Showing posts with label Ewan McGregor. Show all posts
Showing posts with label Ewan McGregor. Show all posts

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Christopher Robin (2018)

Bahkan sebelum Christopher Robin memaparkan permasalahannya, dikala gres mencapai sekuen pembuka berupa hari perpisahan Christopher dengan teman-temannya para penghuni Hundred Acre Wood, mata saya sudah basah. Karena saya, dan kemungkinan banyak penonton remaja lain, mengamini ketika Christopher berkata, “I’ve cracked”. Ditekan oleh apa yang sering disebut “realita”, yang pelan tapi niscaya melucuti kebahagiaan kita. Momen pembuka itu menghadirkan haru lantaran mengembalikan ingatan saya akan hari-hari kemudian yang lebih sederhana namun bahagia, tatkala tawa jadi barang yang murah harganya.

Beberapa ulasan menuding film ini melaksanakan simplifikasi terhadap problematika dunia nyata, ada juga yang menyebutnya mengatakan solusi tidak sehat lantaran mengajak penonton berlindung di bawah memori masa kecil ketimbang bangkit tegak menghadapi segala masalah. Yes, I’ve cracked indeed. Tapi saya bersyukur tidak jatuh sedalam penulis ulasan-ulasan di atas yang terlanjur dikuasai pil pahit kehidupan. Dan Christopher Robin kolam pengingat semoga tak terjerumus ke lubang serupa.

Walau benar bahwa film ini sederhana. Ditulis oleh Alex Ross Perry (Queen of Earth, Nostalgia), Tom McCarthy (Up, Spotlight), dan Allison Schroeder (Hidden Figures) yang terinspirasi dari buku Winnie-the-Pooh karya A. A. Milne dan E. H. Shepard, yang juga menginspirasi terciptanya seri animasi produksi Disney, naskahnya setia mengikuti formula film keluarga khususnya soal hubungan berjarak ayah dan anak. Tentu perlu diingat bahwa petualangan Pooh dan kawan-kawan memang selalu sederhana, lantaran kisahnya menelusuri masa kanak-kanak, di mana logika kaku serta kompleksitas pikir belum mengalahkan kekayaan imajinasi.

Bagi Christopher Robin (Ewan McGregor), logika dan kerumitan sekarang merupakan masakan sehari-hari. Gemblengan sekolah asrama sampai terjun ke medan perang membentuk referensi pikir Christopher dewasa, yang telah menikahi Evelyn (Hayley Atwell), dan mempunyai seorang puteri berjulukan Madeline (Bronte Carmichael). Kesibukan Christopher menghadirkan jarang antara ia dan Madeline, yang sebentar lagi bakal mengikuti jejaknya bersekolah di asrama, meski si gadis sendiri tak menginginkannya. Ditambah tekanan di kantor, makin runyam gejolak di hati Christopher. Sampai Pooh (Jim Cummings) tiba berkunjung.

Christopher belum (atau menolak?) menyadari bahwa ia membutuhkan Pooh. Pikirannya berisi hal-hal yang (dia kira) dibutuhkan untuk menggapai kebahagiaan, daripada hal-hal yang sebenarnya ia inginkan, yang dapat mempersembahkan kebahagiaan dikala itu juga. Tapi film ini memastikan Christopher masih punya hati. Orientasinya pekerjaan, tapi ketika si atasan, Giles Winslow Jr. (Mark Gatiss), menyuruhnya memecat sejumlah karyawan demi penghematan, nuraninya menolak. Pun dikala Pooh meminta pertolongan mencari teman-temannya yang hilang, meski dikejar deadline, Christopher balasannya bersedia. Kesediaan yang membawanya menuju rangkaian petualangan, termasuk pertarungan melawan Heffalumps, monster berwujud gajah yang memangsa rasa bahagia. Sejatinya Christopher lah Heffalumps itu. Dia memangsa kebahagiaannya sendiri, dan bukan mustahil, sang puteri.

Bila telah familiar dengan dongeng Winnie the Pooh, atau setidaknya menonton animasi tahun 2011 yang menawan itu, anda tahu mesti berekspektasi apa. Sebuah petualangan make-believe sederhana tetapi sarat imajinasi yang menyenangkan diikuti berkat tingkah tokoh-tokohnya. Dihidupkan oleh CGI bernuansa realisme tanpa perlu kehilangan sentuhan cartoonish, mereka masih gemar (tanpa diniati) melontarkan dagelan udik yang mencapai puncak kelucuan tiap melibatkan permainan kata.

CGI mumpuni memudahkan kita percaya kalau Ewan McGregor, yang punya pesona memadahi selaku tokoh utama di dunia semi-fantasi, benar-benar menggendong Eeyore atau membelai bulu lembut Pooh yang menggemaskan. Melengkapi elemen visualnya yakni sinematografi, yang berkat sensibilitas Matthias Koenigswieser di belakang kamera dalam menangkap cahaya senja maupun ekosistem Hundred Acre Wood, tampil selaras dengan kelihaian sutradara Mark Forster (Finding Neverland, Quantum of Solace, World War Z) menyusun adegan lembut yang ampuh menyentil rasa.

Butuh waktu sampai kisahnya mulai konsisten menampilkan kehangatan serta momen magis, pun perubahan 180 derajat hati Christopher Robin terasa mendadak. Proses untuk mencapai sana sudah cukup panjang, hanya untuk keteteran kala harus menampilkan titik balik yang meyakinkan. Namun Christopher Robin sudah cukup indah sekaligus bermakna, sehingga saya bersedia melupakan kekurangan-kekurangan tersebut. Film ini tidak mengajak menutup mata akan realita, tetapi kalau kita bersedia berkorban guna mengejar keberhasilan dunia nyata, tidak ada salahnya sesekali berkorban meluangkan waktu sejenak, melupakan segalanya, kemudian berbahagia bersama orang-orang tercinta.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho T2 Trainspotting (2017)

Dalam T2 alias Terminator 2: Judgment Day, T-800 kembali ke masa kemudian kemudian diburu oleh T-1000 yang sadis. Sedangkan pada T2 Trainspotting, Mark Renton (Ewan McGregor dengan secuplik seringai yang sama) pulang ke kampung halaman, mengenang masa muda, sebelum dikejar oleh Francis Begbie (Robert Carlyle) si sosiopat yang hendak menuntut balas atas kejadian 20 tahun kemudian (ending Trainspotting) kala Mark membawa kabur 16.000 pound. Rujukan usil judulnya cukup menjelaskan cara sutradara Danny Boyle dan penulis naskah John Hodge menangani pembiasaan lepas dari novel Porno dan Trainspotting karya Irvine Welsh ini, yang serupa film pertama, mau bersenang-senang, menggila di antara kelamnya cerita.

Apabila Darren Aronofsky melalui Requiem for A Dream menekankan peristiwa depresif jawaban adiksi narkoba, Boyle dan Hodge, tanpa melupakan imbas buruknya, menempatkan tokoh-tokohnya selaku pecandu heroin sebagai cuilan hegemoni Brit culture, khususnya di lingkup cowok kelas pekerja. Sikap semaunya, penyalahgunaan obat, ialah keliaran yang dipuja, sebagaimana idola mereka (Iggy Pop, Pulp, Blur) yang senantiasa didengarkan karyanya dan ketika itu menguasai musik dunia. Tapi itu 2 dekade lalu. Jatuhnya gerakan Britpop menandai perubahan jaman. Bagi yang enggan mengikuti perubahan bakal tertinggal, tenggelam, atau menyerupai ungkapan Simon (Jonny Lee Miller yang semakin karismatik), "A tourist in his/her own youth".
Mark ialah turis masa mudanya, pulang ke Edinburgh pasca menjalani hidup "normal" di Amsterdam, yang nyatanya gagal berjalan lancar. Simon bersama kekasihnya, gadis Bulgaria berjulukan Veronika (Anjela Nedyalkova) mencari uang dengan pemerasan. Spud (Ewen Bremmer tepat mencampur kecacatan dan kemurnian hati tokohnya) masih terjebak adiksi, menjauhkannya dari sang putera. Sedangkan Franco gres saja kabur dari penjara 5 tahun sebelum masa eksekusi (25 tahun) berakhir. Singkat cerita, kuartet ini belum berubah. Kesamaan yang pribadi Boyle tegaskan melalui penggunaan Lust for Life milik Iggy Pop di opening layaknya pembukaan film pertama. T2 tak sekedar pribadi menghentak, tapi menghentak dengan rasa sekaligus energi yang penggemar Trainspotting kenal baik.

Walau diawali saling pukul jawaban pengkhianatan Mark 20 tahun lalu, reuni Simon dengannya (kemudian Spud) berujung proposal bisnis membuka rumah pelacuran berkedok sauna. Kebutuhan akan modal besar tentu memaksa ketiganya melaksanakan tindak kriminal demi menghimpun uang. Jika dahulu semata disulut ambisi dan gejolak masa muda, penyebab para protagonis bersedia terjun lagi ke dunia hitam sekarang amat beralasan. Rasa bersalah ditambah kejatuhan ke titik nadir mendorong Mark, pun Spud yang ingin meninggalkan candu supaya sanggup akur dengan mantan kekasih pula anaknya. Simon awalnya hendak membalas perbuatan Mark, namun seiring pertemanan yang kembali terjalin niat itu perlahan kolam memudar. 
Walau "pendewasaan" rasanya bukan istilah tepat, kuartet Edinburgh kita tak lagi seliar dahulu. Sesekali heroin masih mengalir di pembuluh darah, tapi kecuali Spud, itu sekedar atas nama nostalgia. Bagai fosil yang sudah habis masanya, kejahatan dilakukan sebagai perjuangan nekat cenderung frustasi supaya bertahan hidup atau penebusan kesalahan demi menjalin kasih yang putus. Hal kedua merupakan tema besar T2 Trainspotting. Bukan Mark seorang, bahkan Franco yang berkat penampilan meyakinkan Carlyle menjalarkan rasa ngeri pada tiap kemunculan pun bergejolak hatinya mendapati si putera tunggal enggan meneruskan jalan kekerasan miliknya, menentukan menempuh pendidikan administrasi hotel. 

Melalui sekuelnya, Trainspotting tidak lagi berusaha membuat kontroversi, selaras dengan gaya Boyle yang meski bersama sinematografi Anthony Dod Mantle tetap menghadirkan momen sureal plus kesan disorientasi lewat pemakaian dutch angle, bayangan, gerak kamera dinamis, atau warna-warni neon, urung menyertakan kecacatan macam "the worst toilet in Scotland" atau "bayi merayap". Juga konklusi yang menentukan fokus pada rekonsiliasi berbasis nilai moral. Toh T2 Trainspotting masih familiar, entah alasannya banyak acuan film pertama, cameo, lagu-lagu, maupun keseluruhan semangatnya. Adanya perbedaan merupakan cuilan proses perkembangan natural yang wajar, bahkan layak diterima karakternya.