Showing posts with label Fero Walandouw. Show all posts
Showing posts with label Fero Walandouw. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Ananta (2018)

Mengadaptasi Ananta Prahadi buatan Risa Saraswati yang merupakan satu-satunya novel roman sang penulis, Ananta berpotensi memaparkan kisah indah ihwal kebaikan dalam hidup, mengenai laki-laki yang menaruh hati pada seorang wanita, bukan (cuma) lantaran parasnya, pun melalui karyanya, di mana sisi terdalam sekaligus ungkapan rasa paling jujur perempuan itu tertuang. Kisah yang murni nan indah, andai konklusinya tidak terjerembab ke kubangan dramatisasi klise dan tak perlu menjelang akhir, yang juga upaya penggampangan guna menutup cerita. Ganti Fero Walandouw dengan Dimas Anggara, pindahkan lokasi ke luar negeri, maka anda akan mendapatkan produksi MD Pictures rasa Screenplay.

Adegan pembukanya membawa kita ke dalam kelas daerah Tania (Michelle Ziudith) berada. Kelas itu terasa asing. Siswa dan seorang guru seni yang diperankan Astrid Tiar memenuhi ruangan, tapi saya tidak merasa dikelilingi manusia. Mereka yaitu karikatur. Ibu guru yang mencela murid panjang lebar di tengah jam pelajaran, Tania si jago lukis yang dipandang aneh,  menutup diri, tapi sanggup tiba-tiba melontarkan ungkapan bernada sinis kala guru tengah menjelaskan. Sama halnya dengan sang titular character, Ananta Prahadi (Fero Walandouw), bocah kampung polos yang berusaha keras berteman dekat dengan Tania meski selalu mendapatkan perlakuan sinis.
Fero membawakan kiprahnya dengan mengikuti formula akting cukup umur kampung yang senantiasa bersikap sopan dengan postur badan sedikit membungkuk dan senyum yang kolam takkan sirna. Sementara Michelle Ziudith, berpegang teguh pada buku pedoman “How to Act Like Michelle Ziudith”, lancar menjalani tangisan demi tangisan, juga bentakan demi bentakan. Tania memang lebih identik dengan tangisan serta bentakan ketimbang talenta melukisnya, lantaran filmnya sendiri, meski punya tokoh utama seorang seniman “pemain warna”, urung memanfaatkannya demi membuat bangunan visual menarik. Belum lagi, menengok lukisan Tania, walau menarik, rasanya bukan hasil karya yang bakal membuat kurator asal Yogyakarta terbuai, kemudian mengatakan festival tunggal.

Ananta memang problematik, sampai masuk fase pertengahan tatkala naskah Alim Sudio (Ayat-Ayat Cinta 2, Surga Yang Tak Dirindukan 2) mulai menaburkan bumbu komedi. Selain efektif memancing tawa, komedinya membuat rentetan kekurangan di atas sanggup diterima, lantaran kesan karikatur untuk sebuah aksara lebih sempurna mengisi suguhan komedik daripada dramatik. Pun berkatnya, Asri Welas sebagai Bik Eha, pembantu Tania, berkesempatan unjuk gigi mencuri perhatian di tiap adegan yang melibatkannya. Kemudian hadirlah sang kurator asal Yogyakarta, Pierre (Nino Fernandez), yang memancing saya berprasangka jelek jika Anata bakal melangkah menuju konflik standar cinta segitiga. Untung saya keliru.
Kebersamaan Ananta-Tania-Pierre justru memunculkan titik non-komedik terbaik filmnya, sewaktu Ananta menampilkan sebuah bentuk kebahagiaan sederhana: duduk di bawah cahaya matahari yang bersinar seterang senyum penuh kedamaian ketiga karakternya. Keputusan sutradara Rizki Balki (A: Aku, Benci, dan Cinta) menekankan pada kehangatan suasana terbukti tepat. Saat itu Tania membawa Pierre dan Ananta mengunjungi ruang fantasinya, sambil ditemani musik gubahan Joseph S. Djafar (London Love Story, The Perfect Husband) yang memancarkan imaji serupa. Musiknya membuat saya seolah diajak mengunjungi dunia dongeng walau sekilas. Bermodalkan karismanya, Nino Fernandez tampil meyakinkan sebagai laki-laki yang menyikapi dengan tenang khayalan liar Tania, seolah segalanya penggalan dari rutinitas yang selalu Pierre hadapi.

Sampai datanglah twist ganda yang seketika merobohkan pondasi kisah, secepat kilat menyeret Ananta ke titik nadir. Melodrama kita punya dua senjata andalan pencipta nuansa dramatis mengharu biru, yaitu korelasi diam-diam antar aksara yang dipenuhi kebetulan serta eksploitasi kondisi medis. Tidak tanggung-tanggung, Ananta meleburkan kedua senjata tersebut. Pasca konklusi terungkap, motivasi Ananta bergeser, dari kebaikan hati yang nrimo lantaran kasih sayang, menjadi kebaikan yang terjadi lantaran faktor eksternal ditambah ketiadaan pilihan bagi karakternya. Ananta ditutup secara mengecewakan, dan saya masih menantikan momen Anjasmara menerima film anggun sesudah memutuskan kembali ke layar lebar.

Ini Lho Kuntilanak (2018)

Dalam horor, momen ketika kamera dan/atau abjad bergerak lambat menghampiri sumber bunyi atau bayangan misterius atau apa pun yang takkan didekati insan normal di dunia nyata, berfungsi memupuk ketegangan dan antisipasi. Sebagai ganti tempo lambat itu, mesti disiapkan penebusan, di mana jump scare kerap jadi primadona. Apabila gagal memberi penebusan setimpal, penonton hanya akan ditinggalkan bersama rasa bosan, yang makin melelahkan jikalau kegagalan terjadi berulang kali, kemudian berkembang jadi kekesalan sewaktu kuantitasnya melebihi batas normal. Sutradara Rizal Mantovani (trilogi Kuntilanak, Jelangkung, Bayi Gaib: Bayi Tumbal, Bayi Mati) dan tim memahami poin di atas, sehingga Kuntilanak sedikit lebih baik dari rentetan horor anyir belakangan, meski kalau melihat judul-judul pembanding, “sedikit lebih baik” bukan prestasi membanggakan.

Lima anak penghuni panti asuhan, Dinda (Sandrinna M Skornicki), Kresna (Andryan Bima), Ambar (Ciara Nadine Brosnan), Panji (Adlu Fahrezy), dan Miko (Ali Fikry) harus berpisah sejenak dengan ibu didik mereka, Donna (Nena Rosier) yang mesti bepergian ke Amerika selama 3 minggu. Sebagai pengganti, Lydia (Aurelie Moeremans) diminta menjaga mereka. Jangan berharap Lydia maupun kekasihnya, Glenn (Fero Walandouw), si pembaca program horor di televisi—yang bertanggung jawab membawa cermin terkutuk daerah kuntilanak bersemayam ke panti asuhan—mendapat porsi banyak. Kuntilanak memang berpusat pada tokoh anak, layaknya IT (2017) atau karya-karya klasik Steven Spielberg.

Cermin penebar teror tersebut berasal dari sebuah rumah berjulukan “rumah kuntilanak”, yang dipercaya ditinggali sesosok kuntilanak yang menyebabkan hilangnya seorang bocah 4 bulan lalu. 4 bulan yang bagaikan 4 tahun melihat kondisi rumah yang bahkan telah diselimuti akar-akar besar entah dari mana. Tentu rumah ini terbengkalai, walau fakta itu terasa membingungkan ketika pemilik lamanya tiba-tiba muncul memergoki kelima protagonis kita yang tengah masuk guna menandakan keberadaan kuntilanak. Kebingungan lain: siapa hantu-hantu selain kuntilanak yang rutin mengganggu belum dewasa itu tiap malam? Misalnya Hantu Penari yang muncul di tengah upaya Rizal memberi homage bagi Poltergeist. Wujud serta modus operandinya terang berbeda dibanding kuntilanak yang mitologinya diperkenalkan ke penonton.

Beberapa momen jump scares sanggup dikemas cukup solid oleh Rizal dengan segelintir di antaranya mempunyai daya kejut tidak mengecewakan berkat timing tidak terduga. Kebanyakan berujung datar, tanpa penebusan setimpal sebaimana telah dibahas di awal tulisan, tapi setidaknya kita sanggup melihat bahwa Rizal bukan sineas horor malas yang asal melemparkan hantu sedekat mungkin ke layar. Sayangnya, tatkala film versi usang yang dibintangi Julie Estelle dahulu memperkenalkan penonton akan desain kuntilanak dengan rasa fantasi, di sini sang titular ghost tampak medioker, kurang mengerikan, gampang dilupakan. Pernyataan yang disebut terakhir sanggup didebat, alasannya yaitu paling tidak saya bakal selalu mengingat kuntilanak di sini sebagai “hantu perempuan berjidat lebar itu”.

Alim Sudio (Guru Ngaji, Ananta, Ayat-Ayat Cinta 2) selaku penulis naskah mungkin urung membangun pondasi dongeng kokoh. Misterinya tak meninggalkan ingin tau dan antusiasme, unsur drama keluarganya berlangsung hambar. Tapi berkatnya, Kuntilanak bukanlah satu lagi horor yang tersusun atas fragmen-fragmen jump scare overdosis yang digabungkan paksa. Ada jembatan berbentuk perjuangan memantapkan kekerabatan antara bocah-bocah panti asuhan melalui sederet humor yang lebih efekif memancing tawa ketimbang jump scare-nya dalam memancing kengerian, khususnya celetukan-celetukan “semaunya” dari Ciara Nadine Brosnan selaku bintang film Ambar si bungsu, walau keputusan Rizal menyelipkan imbas bunyi plus musik konyol khas sinetron tiap humor tersaji terasa mengganggu. Ini bukan Tukang Ojek Pengkolan.

Ada kepolosan menggelitik dalam celetukan Ambar, berbeda dengan di banyak kesempatan ketika naskahnya memaksa belum dewasa ini bicara, menjelaskan mitologi kuntilanak bagai orang dewasa. Klimaksnya (baca: penebusan terhadap keseluruhan film) juga terganggu duduk masalah serupa. Bermaksud menghadirkan kekacauan menyenangkan, kilmaks film ini justru berakhir sebagai kekacauan murni jawaban percakapan-percakapan—atau tepatnya teriakan-teriakan—tak perlu yang dilontarkan para protagonis selaku penjelas verbal bagi seluruh hal yang tengah terjadi. Tidak, kalimat yang terlontar dari lisan belum dewasa tidak semestinya kaku dan membosankan. Sebaliknya, acap kali menarik, tak terduga, absurd, menggelitik, pastinya lebih menghibur dari (film) ini.