Showing posts with label Joel Edgerton. Show all posts
Showing posts with label Joel Edgerton. Show all posts

Sunday, December 2, 2018

Ini Lho It Comes At Night (2017)

Arthouse horror, hipster horror, atau menyerupai disebut Steve Rose dari The Guardian, post-horror (apalah arti istilah?) semakin mencuat belakangan ini. Judul-judul macam The Witch dan Under the Skin bisa tergolong spesies tersebut, di mana tempo lambat, mengutamakan atmosfer, bahaya tak kasat mata daripada jump scare, cerita metaforikal, ialah beberapa kriteria penyusun. It Comes at Night buatan Trey Edward Shults (Krisha) pun serupa, berusaha memancing ketakutan dari alam pikiran alih-alih indera penglihatan. Pendekatan yang membelah opini kritikus dan penonton biasa, mengacu pada perbandingan skor Rotten Tomatoes (88%) dan Cinemascore (D). 

Sebagaimana komedi tergantung selera humor, efektivitas horor tidak terlepas dari apa yang masing-masing penonton takuti. Pengalaman sampai aspek kultural berperan besar. Contohnya, meski sama-sama found footage, keranda mayit di Keramat jauh lebih mencengkeram dibanding selimut terbang Paranormal Activity, alasannya ialah itu termasuk kepercayaan gaib kampung saya. Dalam kasus It Comes at Night, Shults menjadikannya lahan katarsis pasca sang ayah meninggal, yang selain membawa duka, mendorong kontemplasi soal janjkematian itu sendiri, bahwa hidup itu fana, dan rasa takut terhadapnya menjadikan imbas domino berupa kecemasan, ketidakpercayaan, menutup diri, paranoia, lalu kehilangan hati. 
Bagi Shults semua itu menyeramkan, dan tokoh-tokohnya, keluarga kecil yang berisi Paul sang ayah (Joel Edgerton dengan jenggot awut-awutan serta tatapan pilu, sanggup dipercaya sebagai representasi sisi suram manusia), Sarah sang ibu (Carmen Ejogo), serta si putera tunggal yang masih remaja, Travis (Kelvin Harrison Jr.), mencicipi hal sama sehabis penyakit misterius mewabah. Skala, penyebab, dan metode penularan tak pernah dijelaskan, pastinya, penyakit ini memaksa Paul menembak mati ayah mertuanya, Bud (David Pendleton) yang terjangkit. Demi keamanan, Paul menyegel seluruh rumah, menciptakan sederet peraturan termasuk pelarangan keluar rumah kecuali terpaksa dan harus mengenakan masker. Sampai suatu malam, seorang laki-laki berjulukan Will (Christopher Abbott) menerobos masuk. 

It Comes at Night didominasi pemandangan Travis berjalan di koridor gelap hanya ditemani lentera selaku perwakilan isi pikiran Shults, atau lebih tepatnya mimpi jelek sang sutradara. Ketakutan, penyesalan, kecemasan, hasrat terpendam, bercampur aduk. Pergerakan lambatnya bagai uji ketahanan bagi penonton, namun tidak draggy, seperlunya, pula didukung fakta durasi film hanya 91 menit. Dan tatkala tiba waktunya intensitas sedikit ditingkatkan, walau minim di kuantitas, tidak dengan kualitas. Di paruh awal, pada proses menuju kedatangan mendadak Will, Shuls menunjukkan pembangunan ketegangan kelas satu, yang kerap dilupakan banyak sineas arthouse horror, mencuatkan potensi jikalau kelak ia beralih ke mainstream horror.
Diawali close-up ke arah lukisan ditemani gemuruh musik atmosferik Brian McOmber. Lalu musik meredup sampai samar, kamera berpindah pelan menyoroti lorong gelap seiring langkah kaki hati-hati Travis yang memasuki kamar sang kakek, sebelum Shuls mengejutkan kita dengan satu-satunya jump scare nyata di film ini yang disusun oleh gambar mengerikan plus imbas bunyi mencekam. Saat jantung penonton tengah terpacu, adegan eksklusif berpindah cepat ke sekuen kehadiran Will, menjaga stabilitas intensitas di titik puncak. Rangkaian adegan tersebut mengatakan pemahaman Shuls akan fase psikis terciptanya ketegangan dan rasa takut, yang sayangnya enggan ia ulangi.

Jangan harap It Comes at Night menjawab segenap pertanyaan anda. Ini ialah film yang berpijak pada asas "good movie equals less explanation" dan "the less the audience know, the scarier". Bukan kekeliruan, hanya saja untuk konteks film ini, ketiadaan tanggapan kerap terjerumus dalam kesan perjuangan rahasia menjadi pretensius berkedok dua asas di atas. Juga kolam pemberi jalan Shuls berbuat semaunya, sebebas mungkin menumpahkan misteri tanpa perlu repot memutar otak mencari jawaban. Misalnya terkait seringnya masker dilepas walau para tokoh takut setengah mati terserang penyakit. Bukankah lebih kondusif jikalau masker terus digunakan selain di sekitar penderita? Dengan menolak menjelaskan detail wabahnya, Shuls terhindar dari kewajiban menjawab lubang tersebut. Still a fascinating labyrinth, though.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho It Comes At Night (2017)

Arthouse horror, hipster horror, atau menyerupai disebut Steve Rose dari The Guardian, post-horror (apalah arti istilah?) semakin mencuat belakangan ini. Judul-judul macam The Witch dan Under the Skin bisa tergolong spesies tersebut, di mana tempo lambat, mengutamakan atmosfer, bahaya tak kasat mata daripada jump scare, cerita metaforikal, ialah beberapa kriteria penyusun. It Comes at Night buatan Trey Edward Shults (Krisha) pun serupa, berusaha memancing ketakutan dari alam pikiran alih-alih indera penglihatan. Pendekatan yang membelah opini kritikus dan penonton biasa, mengacu pada perbandingan skor Rotten Tomatoes (88%) dan Cinemascore (D). 

Sebagaimana komedi tergantung selera humor, efektivitas horor tidak terlepas dari apa yang masing-masing penonton takuti. Pengalaman sampai aspek kultural berperan besar. Contohnya, meski sama-sama found footage, keranda mayit di Keramat jauh lebih mencengkeram dibanding selimut terbang Paranormal Activity, alasannya ialah itu termasuk kepercayaan gaib kampung saya. Dalam kasus It Comes at Night, Shults menjadikannya lahan katarsis pasca sang ayah meninggal, yang selain membawa duka, mendorong kontemplasi soal janjkematian itu sendiri, bahwa hidup itu fana, dan rasa takut terhadapnya menjadikan imbas domino berupa kecemasan, ketidakpercayaan, menutup diri, paranoia, lalu kehilangan hati. 
Bagi Shults semua itu menyeramkan, dan tokoh-tokohnya, keluarga kecil yang berisi Paul sang ayah (Joel Edgerton dengan jenggot awut-awutan serta tatapan pilu, sanggup dipercaya sebagai representasi sisi suram manusia), Sarah sang ibu (Carmen Ejogo), serta si putera tunggal yang masih remaja, Travis (Kelvin Harrison Jr.), mencicipi hal sama sehabis penyakit misterius mewabah. Skala, penyebab, dan metode penularan tak pernah dijelaskan, pastinya, penyakit ini memaksa Paul menembak mati ayah mertuanya, Bud (David Pendleton) yang terjangkit. Demi keamanan, Paul menyegel seluruh rumah, menciptakan sederet peraturan termasuk pelarangan keluar rumah kecuali terpaksa dan harus mengenakan masker. Sampai suatu malam, seorang laki-laki berjulukan Will (Christopher Abbott) menerobos masuk. 

It Comes at Night didominasi pemandangan Travis berjalan di koridor gelap hanya ditemani lentera selaku perwakilan isi pikiran Shults, atau lebih tepatnya mimpi jelek sang sutradara. Ketakutan, penyesalan, kecemasan, hasrat terpendam, bercampur aduk. Pergerakan lambatnya bagai uji ketahanan bagi penonton, namun tidak draggy, seperlunya, pula didukung fakta durasi film hanya 91 menit. Dan tatkala tiba waktunya intensitas sedikit ditingkatkan, walau minim di kuantitas, tidak dengan kualitas. Di paruh awal, pada proses menuju kedatangan mendadak Will, Shuls menunjukkan pembangunan ketegangan kelas satu, yang kerap dilupakan banyak sineas arthouse horror, mencuatkan potensi jikalau kelak ia beralih ke mainstream horror.
Diawali close-up ke arah lukisan ditemani gemuruh musik atmosferik Brian McOmber. Lalu musik meredup sampai samar, kamera berpindah pelan menyoroti lorong gelap seiring langkah kaki hati-hati Travis yang memasuki kamar sang kakek, sebelum Shuls mengejutkan kita dengan satu-satunya jump scare nyata di film ini yang disusun oleh gambar mengerikan plus imbas bunyi mencekam. Saat jantung penonton tengah terpacu, adegan eksklusif berpindah cepat ke sekuen kehadiran Will, menjaga stabilitas intensitas di titik puncak. Rangkaian adegan tersebut mengatakan pemahaman Shuls akan fase psikis terciptanya ketegangan dan rasa takut, yang sayangnya enggan ia ulangi.

Jangan harap It Comes at Night menjawab segenap pertanyaan anda. Ini ialah film yang berpijak pada asas "good movie equals less explanation" dan "the less the audience know, the scarier". Bukan kekeliruan, hanya saja untuk konteks film ini, ketiadaan tanggapan kerap terjerumus dalam kesan perjuangan rahasia menjadi pretensius berkedok dua asas di atas. Juga kolam pemberi jalan Shuls berbuat semaunya, sebebas mungkin menumpahkan misteri tanpa perlu repot memutar otak mencari jawaban. Misalnya terkait seringnya masker dilepas walau para tokoh takut setengah mati terserang penyakit. Bukankah lebih kondusif jikalau masker terus digunakan selain di sekitar penderita? Dengan menolak menjelaskan detail wabahnya, Shuls terhindar dari kewajiban menjawab lubang tersebut. Still a fascinating labyrinth, though.

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Red Sparrow (2018)


Saya merasa berkewajiban menekankan dahulu bahwa film ini nyaris tanpa adegan sabung selama 138 menit durasinya (hampir 2 menit terkena gunting sensor), lantaran saya yakin beberapa penonton bakal mengira Red Sparrow merupakan spionase berbumbu agresi macam Salt atau Atomic Blonde. Cuma tiga kali huruf utamanya terlibat baku hantam, di mana yang terakhir melibatkan banyak sayatan pisau dan cipratan darah. Sesekali pula (mungkin 30 menit sekali), hadir adegan penyiksaan atau pembunuhan brutal yang cukup memberi daya kejut. Sehingga apabila ketiadaan agresi yang diganti permainan pikiran bukan jadi soal, Red Sparrow ialah film untuk anda.

Jennifer Lawrence memerankan Dominika Egorova, penari balet asal Rusia yang terpaksa menjadi mata-mata selaku syarat yang diajukan pamannya, Ivan Dimitrevich Egorov (Matthias Schoenaerts), sebelum ia bersedia membantu menanggung kebutuhan ekonomi Dominika, termasuk biaya pengobatan kaki sang ibu. Egorov ialah salah satu petinggi Dinas Intelijen Asing Rusia (SVR), meski melihat kemiripan wajahnya, saya takkan terkejut kalau suatu hari Schoenaerts akan “naik pangkat” memerankan Vladimir Putin.
“Red Sparrow”. Begitu ia dan rekan-rekannya disebut. Agen diam-diam yang hebat memanipulasi pikiran sasaran menurut pemahaman atas impian fundamental tiap-tiap individu. Lawrence, meski performanya terdistraksi inkonsistensi aksen, punya tatapan serta aura intimidatif yang meyakinkan sebagai mata-mata, bahkan tatkala tengah melakoni momen sensual.  Begitu juga Charlotte Rampling, kepala sekolah daerah para sparrow dilatih yang sanggup dengan gampang menciptakan nyali orang di sekitarnya ciut seketika.

Target utama Dominika adalah, Nate Nash (Joel Edgerton), biro CIA yang di ketika bersamaan juga tengah mencoba menginfiltrasi SVR. Selanjutnya pertarungan pikiran kedua belah pihak mendominasi. Justin Haythe yang menulis naskahnya menurut novel berjudul sama karya Jason Matthews piawai menonjolkan intrik tersebut. Penonton tahu bahwa Dominika maupun Nate mengetahui identitas masing-masing, pun mereka hasilnya sama-sama mengungkapkan jati dirinya. Keduanya seolah selalu bicara jujur, tapi kita tahu faktanya tidak demikian. Siapa yang berbohong? Siapa yang tertipu? Tiap interaksi pun menjadi pergulatan psikis yang mengikat.
Red Sparrow merupakan film pertama sutradara Francis Lawrence pasca menyelesaikan franchise The Hunger Games tiga tahun lalu. Di sini, Lawrence cermat merangkai sensualitas yang bisa menciptakan penonton menahan nafas. Tidak murahan, lantaran kita bisa mencicipi di balik keberanian Dominika menanggalkan pakaian hingga mencengkeram kemaluan si atasan, ada sisi gelap, ada kekejaman disembunyikan. Setiap sensualitas selalu diikuti kematian, darah, atau intensi terselubung, yang dibungkus dalam permainan tempo penuh kesabaran dari Lawrence.

Semakin jauh dari kesan sensualitas murahan ketika sinematografi garapan Jo Wilems senantiasa menyuntikkan gambar-gambar indah bagi filmnya. Willems bisa “mengeksploitasi” formasi setting-properti serta kostum yang kerap didominasi warna merah menyala. Entah mewakili nuansa seksi, keberanian, atau Rusia, pastinya warna-warna mencolok tersebut menyegarkan mata tatkala indera pendengaran kadang terganggu ketika mendengar para pimpinan intelijen Rusia berbicara menggunakan Bahasa Inggris khususnya aksen Jeremy Irons. Anehnya, Bahasa Rusia sendiri acap kali karakternya gunakan di beberapa kesempatan. Well, you know Hollywood.