Showing posts with label Johnny Depp. Show all posts
Showing posts with label Johnny Depp. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Pirates Of The Caribbean: Salazar's Revenge (2017)

Berbarengan dengan Jack Sparrow yang ditelan Kraken pada simpulan Dead Man's Chest, daya pikat Pirates of the Caribbean turut lenyap, kolam ikut terbenam di Davy Jones' Locker. Ketika At World's End merupakan petualangan terlalu panjang yang melucuti pesona tokoh-tokohnya, On Stranger Tides menjadi installment yang demikian gampang terlupakan. Namun franchise ini mesti berlanjut. Selain didorong terus meningkatnya pendapatan tiap seri, sang bintang utama, Johnny Depp butuh kendaraan solid pasca rentetan film gagal, image buruk akhir perkara kekerasan terhadap Amber Heard, serta kesulitan finansial yang perlahan mendera lantaran gaya hidup super glamor yang konon memakan biaya $2 juta tiap bulan.

Melanjutkan tren film-film sebelumnya, Salazar's Revenge (berjudul Dead Men Tell No Tales untuk peredaran di Amerika Utara) menyertakan mitologi yang telah dikenal masyarakat, yakni segitiga Bermuda (disebut Devil's Triangle di sini) dan Trisula Poseidon. Alkisah, Kapten pasukan angkatan maritim Spanyol berjulukan Armando Salazar (Javier Bardem) terjebak di Devil's Triangle akibat perbuatan Jack Sparrow. Bersama para awak kapalnya, Salazar pun dikutuk menjadi hantu, menanti ketika balas dendam tiba. Demi melawan Salazar, Jack, dibantu oleh Henry Turner (Brenton Thwaites) yang ingin membebaskan sang ayah, Will Turner (Orlando Bloom) dari kutukan Flying Dutchman dan Carina Smyth (Kaya Scodelario), jago astronomi yang dituduh penyihir.
Salazar's Revenge diniati sebagai awal petualangan gres berisi darah baru, di mana Henry dan Carina ditugaskan mengikuti jejak Will dan Elizabeth (Keira Knightley). Namun sejatinya poros dongeng berkutat di formula familiar. Tidak peduli apa bentuk harta buruan, petualangan berlangsung serupa, seolah ada ketakutan kalau menghilangkan satu saja unsur, kutukan bakal menghampiri. Terlihat pada naskah Jeff Nathanson yang walau tak banyak menambah sub-plot dan menjaga alur dari kesan penuh sesak macam film ketiga, masih mengikutsertakan angkatan maritim dalam kiprah kurang penting. Momen epilog titik puncak yang dimaksudkan menambah bobot emosi urung berdampak, alasannya ialah di tahap ini penonton tahu, baik maut atau kutukan sanggup diakali melalui bermacam-macam cara. Pun post-credit scene yang meski berpotensi memuaskan penggemar atas siratan kembalinya tokoh lama, mengambarkan franchise ini enggan berlayar jauh, menentukan berputar di lautan yang sama.

Setelah 14 tahun, tentu Jack Sparrow sudah menyatu, muncul bagai naluri dalam diri Johnny Depp. Namun daripada performa alamiah, penonton justru disuguhi penampilan sang pemain film yang terlihat tanpa tenaga, entah dipengaruhi usianya yang tak lagi muda (53 tahun) atau Depp memang sudah malas dan kembali semata-mata demi bayaran besar. Hilang gerak lincah sampai tindak tanduk tak terduga sang kapten. Di film kelimanya, Jack Sparrow sekedar hiasan yang ada hanya lantaran merupakan maskot franchise. Depp justru mengesankan tatkala beberapa menit tampil sebagai Jack versi muda yang lebih tenang, menebar pesona melalui senyum penuh percaya diri. 
Saat Brenton Thwaites kekurangan karisma, Kaya Scodelario meniupkan semangat memberontak sebagaimana Keira Knightley dahulu menghidupkan seorang perempuan besar lengan berkuasa pendobrak tradisi. Geoffrey Rush sebagai Barbossa tidak segila dulu yang mana bukan kekeliruan sang aktor, melainkan tuntutan naskah. Barbossa tanpa teriakan "You bloomin' cockroaches!" memang kurang lengkap. Untungnya Bardem (disempurnakan balutan CGI tepat guna) menyajikan penampilan mengerikan sebagai Salazar, hantu kejam yang enteng melaksanakan pembantaian, juga intimidatif kala berbicara. Setiap kata terucap dari lisan makhluk kegelapan ini, secercah cahaya menyinari filmnya, memberi kekuatan. 

Kursi penyutradaraan ditempati duet Joachim Rønning dan Espen Sandberg (Kon-Tiki), meramaikan jumlah sineas independen yang berkesempatan menggarap blockbuster. Beberapa set-piece "kelas menengah" digarap baik, sebutlah pencurian brankas (atau bank) yang menyerupai Fast Five versi masa lampau, di mana kendaraan beroda empat glamor digantikan barisan kuda. Adegan sewaktu Jack terjebak dalam guillotine berputar pun seru sekaligus sanggup mengocok perut. Dua rujukan sequence tersebut  seperti lebih banyak didominasi adegan agresi terbaik Pirates of the Caribbean  dikemas bagai wahana taman hiburan: atraktif, menyenangkan, imajinatif. Sementara sisanya (termasuk klimaks) memperlihatkan kesulitan keduanya menangani agresi berbasis CGI. Gubahan musik Geoff Zanelli efektif membangun tensi (pula catchy), tapi Rønning dan Sandberg bak kebingungan menyusun gelaran agresi yang hilang arah di tengah terjangan topan imbas visual.


Ralat: Jack Sparrow muda bukan diperankan oleh Johnny Depp, tapi Anthony De La Torre.

Wednesday, November 28, 2018

Ini Lho Fantastic Beasts: The Crimes Of Grindelwald (2018)

Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald yakni film yang harus disaksikan dalam format 4DX3D. Format ini memaksimalkan pendekatan David Yates—yang termasuk film ini, telah menyutradarai enam installment terakhir Wizarding World—terhadap sekuen aksi, di mana ia menghancurkan banyak sekali lokasi, entah lewat ilmu sihir atau amukan monster, menggerakkan kamera secara cepat, menampilkan kekacauan yang akan menciptakan penonton memegang erat bangku biar tak terjatuh. Sementara 3D-nya, walau tak mempunyai kedalaman seberapa, dihiasi beberapa imbas pop-up.

Apa balasannya jikalau film ini ditonton di format biasa? Anda akan karam dalam perjuangan J. K. Rowling memuaskan penggemar seri Harry Potter menggunakan gugusan fan service penuh rujukan atau tokoh usang yang muncul acak tanpa urgensi, hanya biar para penggemar berujar “Whoaa ini kan si itu....”. Rowling tahu jikalau banyak dari mereka terobsesi akan keterkaitan tak terduga, memutuskan mengabulkan impian tersebut hampir di tiap kesempatan, hingga menciptakan naskah tulisannya terasa kolam fan fiction.

Berjudul The Crimes of Grindelwald, dan benar, sang “penyihir hitam” memang melaksanakan kejahatan-kejahatan, tapi sulit menampik kesan bahwa judulnya dipilih lantaran terdengar keren dan supaya Grindelwald (baca: Johnny Depp) jadi jualan utama. Tapi bukan masalah. Kelemahan fatal Rowling dalam bertutur bukan disebabkan tidak mengakibatkan kejahatan Grindelwald sebagai fokus, melainkan ketiadaan fokus.

The Crimes of Grindelwald dibuka oleh keberhasilan upaya Grindelwald kabur dari penjara berkat pengkhianatan seorang anggota kementrian sihir. Tentu saja pengkhianatan, identitas rahasia, hingga kepetangan ganda merupakan kejutan andalan Rowling, yang di titik ini tak lagi mengejutkan. Tapi jangan khawatir. Sang penulis menemukan cara baru, yang jauh lebih konyol (we’ll get there later).

Bagi si titular character, film ini mengisahkan prosesnya mengumpulkan pengikut sebanyak mungkin, namun sasaran utamanya yakni Credence (Ezra Miller), antagonis film pertama yang rupanya bisa bertahan hidup, dan sekarang berada di sebuah kelompok sirkus bersama Nagini (Claudia Kim). Keduanya mengarungi perjalanann dengan tujuan menemukan siapa Credence sebenarnya, siapa orang tuanya, dan dari mana ia berasal.  Di paragraf ini saja aku sudah membahas dua subplot, dan belum menyentuh kisah si protagonis, Newt Scamander (Eddie Redmayne).

Newt ditugasi Dumbledore (Jude Law) meringkus Grindelwald, dan sekali lagi bertemu Jacob Kowalski (Dan Fogler), yang mengikuti Newt demi memenangkan lagi hati Queenie (Alison Sudol), yang kecewa jawaban keengganan Jacob segera mengucap kesepakatan suci, kemudian menentukan mengunjungi kakaknya, Tina (Katherine Waterston), yang mana hatinya pun coba dimenangkan kembali oleh Newt. Tina sendiri tengah patah hati sehabis melihat isu palsu soal pertunangan Newt dengan Leta Lestrange (Zoë Kravitz). Oh Tuhan, begitu banyak cerita. Kalau alasan kemarahan Tina terdengar kolam sinetron, tunggu dulu. Anda belum melihat apa-apa.

Jajaran cast tampil baik. Sekali lagi Fogler bukan saja pengundang tawa, pula sumber hati. Konklusi film pertama mengharukan berkatnya, dan Rowling ingin memunculkan dampak serupa namun gagal. Fogler berbuat sebisanya, tapi emosi senantiasa hampa, alasannya yakni naskahnya urung menyuguhkan motivasi meyakinkan bagi keputusan salah satu karakternya (Anda akan tahu huruf yang mana). Sedangkan Jude Law tepat memerankan Dumbledore, selain berkat kemiripan wajah dengan Michael Gambon (tanpa uban, rambut panjang, dan jenggot lebat), ia menciptakan aku percaya sedang melihat sosok penyihir terkuat di masa jayanya.

Lain halnya Depp. Dipandang dari segi karakterisasi, Voldemort bukan villain luar biasa, tapi pendekatan over-the-top Ralph Fiennnes menjadikannya antagonis menghibur. Sementara Depp mencoba interpretasi lebih serius, kejam, tenang, yang justru menciptakan Grindelwald membosankan, tak jauh beda dibanding lebih banyak didominasi antagonis generik film-film blockbuster Hollywood. Eddie Redmayne sebagai Newt dengan mata lembut yang jarang menatap lawan bicaranya yakni protagonis likeable, namun ketidakfokusan naskah menghalangi penonton mencintanya lebih jauh. Newt hanya satu bidak di sebuah papan catur besar nan ramai yang di atasnya cuma terdiri atas bidak-bidak.

Rowling punya setumpuk inspirasi yang cocok dituangkan dalam novel 700 halaman, namun bagi film berdurasi 134 menit, kisahnya bergerak liar tanpa kesan kesatuan. Pada beberapa poin, The Crimes of Grindelwald bagai midseason serial televisi yang meletakkan cabang-cabang narasi dan belum sempat menautkannya satu sama lain, sebelum ditutup oleh konklusi berbumbu kejutan khas opera sabun murahan. Saya takkan terkejut bila kelak terungkap jikalau rumah produksi di balik film ini yakni Sinemart dan Ezra Miller merupakan Glenn Alinskie yang menyamar.

Cara Rowling bertutur menawarkan ketidaksiapan menulis naskah film. Rowling bergantung pada tuturan verbal, menyuruh karakternya bicara terlalu banyak, yang malah menciptakan alurnya kolam benang kusut. The Crimes of Grindelwald yakni bentuk penceritaan amburadul. Jadi, sebagaimana Nolan menyarankan IMAX 70mm untuk Dunkirk, aku merekomendasikan 4DX3D, atau setidaknya 4DX guna menyamarkan kelemahan narasi. Aksi-aksi serunya bakal membuai, khususnya amukan Zouwu si kucing berukuran gajah dari Cina. Walau lagi-lagi, Rowling perlu memperbaiki penulisan klimaks, yang semenjak masa Harry Potter, selalu lebih berpengaruh di pembangunan ketimbang payoff. Klimaks ciptaan Rowling acap kali bukan “puncak”, melainkan sekedar satu lagi agresi yang bahkan bukan spectacle terbesar di sepanjang cerita.

Dan bukankah serupa tajuknya, seri ini mestinya mengeksplorasi mitologi Fantastic Beasts? Mengapa makhluk-makhluk asing tersebut hanya mempunyai kegunaan mengeskalasi agresi atau senjata komedi namun punya efek minim pada plot? Entahlah. Alurnya tiba dari penulis yang menyebut mitologi “Naga” berasal dari Indonesia. So, yeah.....

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Murder On The Orient Express (2017)

Versi gres Murder on the Orient Express terbentur fakta bahwa banyak pecinta film telah paham seluk beluk misteri pembiasaan novel berjudul sama karya Agatha Christie tersebut. Motif, trik, hingga twist mengenai identitas pelaku sudah diketahui. Mengubah berarti mengambil resiko merusak esensi. Penyesuaian yang dilakukan pun bertujuan menggapai pangsa pasar penonton kasual berusia muda, khususnya yang awam akan sumber materinya. Pemakaian abjad bergaya nyala neon plus lagu Believer milik Imagine Dragons pada trailer membuktikannya. Di hasil akhir, peningkatan kuantitas dan kualitas dampak visual serta selipan agresi mengusung tujuan serupa. Apakah modernisasi di atas ikut menguatkan poin substansif?

Hercule Poirot (Kenneth Branagh) pun dimodifikasi. Sesekali masih bertingkah jenaka dan punya keyakinan diri selangit, Poirot bukan lagi jenius tanpa cela. Selain mempunyai OCD yang menjelaskan kepekaan analisisnya, ia menawarkan kerapuhan laki-laki yang kehilangan cinta, simpel terprovokasi, kerap keliru melempar hipotesis, pula terjebak dilema moralitas. Atas nama perbedaan, naskah Michael Green (Logan, Blade Runner 2049) berambisi tak hanya memaparkan masalah pembunuhan, juga drama mengenai sisi problematik tokoh utama. Bahkan tersimpan perilaku anti-rasisme tatkala novel maupun dongeng pendek Agatha Christie sering mengandung nada rasisme. 
Dasar ceritanya sama, menyoroti pembunuhan terhadap pebisnis berjulukan Samuel Ratchett (Johnny Depp) yang terjadi kala kereta Orient Express tengah melaju. Seiring salju longsor yang memaksa kereta berhenti, Poirot harus menemukan pelaku di antara para tersangka dari bermacam-macam latar belakang. Kunci bangunan intensitas terletak pada proses interogasi yang (seharusnya) jadi sarana penonton terlibat dalam investigasi, ikut menebak makna di balik pertanyaan Poirot, mengaitkannya dengan balasan penumpang serta banyak sekali sebaran petunjuk. Sayangnya, di sini naskah Green, juga penyutradaraan Branagh tampak kerepotan. 

Interogasi tampil sambil kemudian hingga penggalian informasi terasa dangkal. Dialog goresan pena Green sekedar pembiasaan hambar, sementara Branagh kurang cakap menyulut ketegangan berbasis tukar barang kalimat. Nampak dikala dua adegan bernuansa agresi dibubuhkan selaku amunisi tambahan jika penonton bosan mendengar 114 menit penuh pembicaraan. Bahkan momen pengungkapan fakta mengejutkan di tamat bakal seutuhnya gagal menghentak andai tak dibantu iringan Never Foget, musik melankolis nan indah gubahan Patrick Doyle. Namun tidak tertutup kemungkinan, bagi penonton yang sama sekali awam, pemeriksaan Murder on the Orient Express mampu mencengkeram meski sedikit melelahkan.
Seperti sempat disinggung, Murder on the Orient Express memberi porsi lebih untuk eksplorasi karakter Poirot. Keputusan ini menyuntikkan dinamika gres di mana si "detektif terhebat di dunia" tak hanya memecahkan kasus, juga mengalami proses berguru dari pemegang prinsip bahwa hanya ada benar-salah jadi memahami ranah ambigu abu-abu di antaranya. Alhasil, para tersangka yang harusnya mempunyai dinamika hasil penokohan berwarna tersisih, sebatas perhiasan dengan kepribadian ala kadarnya sekaligus minim peluang bersinar. Uniknya, berbeda dibanding versi Lumet, Ratchett diberi porsi ekstra khususnya di paruh awal, kemungkinan demi memanfaatkan nama besar Depp.

Sulit dipungkiri, melihat jajaran bintang film kelas wahid membuatkan layar, saling bertukar argumen tetap menyenangkan disimak. Depp penuh kharisma, untungnya tanpa gaya eksentrik yang sekarang membosankan, Michelle Pfeiffer dengan tatapan serta tutur kata menusuk namun berkelas, energi Daisy Ridley, wibawa Judi Dench, hingga Penelope Cruz yang mengatur kata-kata atas nama religiusitas. Biar begitu, kegagalan membuat karakter utuh membatasi pesona mereka, menyisakan Poirot sebagai satu-satunya tokoh berdimensi. Branagh dan kumis antiknya kolam mengandung magnet, sanggup menyandingkan aspek quirky jenaka Poirot bersama sisi bermasalah dirinya.