Showing posts with label Judi Dench. Show all posts
Showing posts with label Judi Dench. Show all posts

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Murder On The Orient Express (2017)

Versi gres Murder on the Orient Express terbentur fakta bahwa banyak pecinta film telah paham seluk beluk misteri pembiasaan novel berjudul sama karya Agatha Christie tersebut. Motif, trik, hingga twist mengenai identitas pelaku sudah diketahui. Mengubah berarti mengambil resiko merusak esensi. Penyesuaian yang dilakukan pun bertujuan menggapai pangsa pasar penonton kasual berusia muda, khususnya yang awam akan sumber materinya. Pemakaian abjad bergaya nyala neon plus lagu Believer milik Imagine Dragons pada trailer membuktikannya. Di hasil akhir, peningkatan kuantitas dan kualitas dampak visual serta selipan agresi mengusung tujuan serupa. Apakah modernisasi di atas ikut menguatkan poin substansif?

Hercule Poirot (Kenneth Branagh) pun dimodifikasi. Sesekali masih bertingkah jenaka dan punya keyakinan diri selangit, Poirot bukan lagi jenius tanpa cela. Selain mempunyai OCD yang menjelaskan kepekaan analisisnya, ia menawarkan kerapuhan laki-laki yang kehilangan cinta, simpel terprovokasi, kerap keliru melempar hipotesis, pula terjebak dilema moralitas. Atas nama perbedaan, naskah Michael Green (Logan, Blade Runner 2049) berambisi tak hanya memaparkan masalah pembunuhan, juga drama mengenai sisi problematik tokoh utama. Bahkan tersimpan perilaku anti-rasisme tatkala novel maupun dongeng pendek Agatha Christie sering mengandung nada rasisme. 
Dasar ceritanya sama, menyoroti pembunuhan terhadap pebisnis berjulukan Samuel Ratchett (Johnny Depp) yang terjadi kala kereta Orient Express tengah melaju. Seiring salju longsor yang memaksa kereta berhenti, Poirot harus menemukan pelaku di antara para tersangka dari bermacam-macam latar belakang. Kunci bangunan intensitas terletak pada proses interogasi yang (seharusnya) jadi sarana penonton terlibat dalam investigasi, ikut menebak makna di balik pertanyaan Poirot, mengaitkannya dengan balasan penumpang serta banyak sekali sebaran petunjuk. Sayangnya, di sini naskah Green, juga penyutradaraan Branagh tampak kerepotan. 

Interogasi tampil sambil kemudian hingga penggalian informasi terasa dangkal. Dialog goresan pena Green sekedar pembiasaan hambar, sementara Branagh kurang cakap menyulut ketegangan berbasis tukar barang kalimat. Nampak dikala dua adegan bernuansa agresi dibubuhkan selaku amunisi tambahan jika penonton bosan mendengar 114 menit penuh pembicaraan. Bahkan momen pengungkapan fakta mengejutkan di tamat bakal seutuhnya gagal menghentak andai tak dibantu iringan Never Foget, musik melankolis nan indah gubahan Patrick Doyle. Namun tidak tertutup kemungkinan, bagi penonton yang sama sekali awam, pemeriksaan Murder on the Orient Express mampu mencengkeram meski sedikit melelahkan.
Seperti sempat disinggung, Murder on the Orient Express memberi porsi lebih untuk eksplorasi karakter Poirot. Keputusan ini menyuntikkan dinamika gres di mana si "detektif terhebat di dunia" tak hanya memecahkan kasus, juga mengalami proses berguru dari pemegang prinsip bahwa hanya ada benar-salah jadi memahami ranah ambigu abu-abu di antaranya. Alhasil, para tersangka yang harusnya mempunyai dinamika hasil penokohan berwarna tersisih, sebatas perhiasan dengan kepribadian ala kadarnya sekaligus minim peluang bersinar. Uniknya, berbeda dibanding versi Lumet, Ratchett diberi porsi ekstra khususnya di paruh awal, kemungkinan demi memanfaatkan nama besar Depp.

Sulit dipungkiri, melihat jajaran bintang film kelas wahid membuatkan layar, saling bertukar argumen tetap menyenangkan disimak. Depp penuh kharisma, untungnya tanpa gaya eksentrik yang sekarang membosankan, Michelle Pfeiffer dengan tatapan serta tutur kata menusuk namun berkelas, energi Daisy Ridley, wibawa Judi Dench, hingga Penelope Cruz yang mengatur kata-kata atas nama religiusitas. Biar begitu, kegagalan membuat karakter utuh membatasi pesona mereka, menyisakan Poirot sebagai satu-satunya tokoh berdimensi. Branagh dan kumis antiknya kolam mengandung magnet, sanggup menyandingkan aspek quirky jenaka Poirot bersama sisi bermasalah dirinya. 

Monday, November 5, 2018

Ini Lho City Of Ghosts / Victoria & Abdul / Marjorie Prime

Anda masih menganggap enteng bahaya ISIS? Saksikan City of Ghosts, dan renungkan betapa Suriah dibentuk kolam neraka oleh organisasi berkedok agama tersebut. Di pecahan dunia lain, Victoria & Abdul yang mengantar Judi Dench meraih nominasi Golden Globe untuk Best Actress - Motion Picture Comedy or Musical, justru merayakan kolonialisme berkedok cerita persahabatan beda kasta, ras, dan agama. Sementara Marjorie Prime memperlihatkan bahwa tidak semua science-fiction memandang artificial intelligence yang makin mendekati insan sebagai suatu ancaman. 

City of Ghosts (2017)
Raqqa Is Being Slaughtered Silently (RBSS). Begitu nama pergerakan citizen journalism yang mewartakan kekejaman ISIS di Raqqa, Suriah, kepada dunia meski nyawa jadi taruhan dan mesti hidup bersembunyi. Nama yang gamblang, menusuk tanpa basa-basi, segamblang footage yang disediakan bagi Matthew Heineman (Cartel Land) guna merangkai dokumenternya. Pembunuhan jadi pertunjukan, kepala insan dipertontonkan, bawah umur dipaksa "berjihad". City of Ghosts mengerikan bukan saja lantaran pemandangan kejam. Horor bergotong-royong hadir di benak kita. Melihat video propaganda kelas Hollywood milik ISIS, timbul pertanyaan, "seberapa besar lengan berkuasa mereka?". Dan ibarat diutarakan satu narasumber, ISIS yaitu gagasan, sanggup tumbuh cepat di mana saja, termasuk Indonesia. City of Ghosts menyadarkan akan fakta itu. Di satu titik, beberapa anggota RBSS mengungsi ke Jerman hanya untuk mendapatkan cemoohan lain dari para anti-imigran, memperluas cakupan film menuju penindasan oleh hegemoni kaum yang merasa superior. Mengingat dominan rekaman berasal dari RBSS, Heineman harus menyesuaikan, sulit berkreasi demi totalitas efek emosi. Pun terbatasnya sumber (ISIS menutup terusan isu Raqqa) serta alasan keamanan cenderung menghadirkan tanya ketimbang jawaban. Seusai menonton, saya menemukan lebih banyak cerita luar biasa di internet. Tapi apakah kegiatan itu bakal terjadi tanpa City of Ghosts? Mungkin tidak. Film ini membuka mata saya. (4/5)

Victoria & Abdul (2017)
Bayangkan film soal masa kolonialisme Hindia Belanda di mana orang Indonesia diminta mempersembahkan penghargaan bagi Wilhelmina, berinisiatif mencium kaki sang Ratu, erat dengannya, menentukan meninggalkan tanah air dan hidup glamor di Kerajaan Belanda. Tidak peduli betapa piawai Stephen Frears (Florence Foster Jenkins, Philomena) merangkai momen jenaka berbentuk olok-olok pada insan haus kuasa, pemujaan Abdul (Ali Fazal) terhadap Ratu Victoria (Judi Dench) yaitu pemandangan mengganggu. Victoria pun menyukai Abdul, bahkan menjadikannya Munshi (Guru) sampai seisi Istana kocar-kacir. Victoria & Abdul punya niat baik menuturkan keberhasilan korban rasisme (Abdul seorang muslim India) menggoyang kenyamanan penguasa, tapi naskah yang dangkal gagal menekankan intensi Abdul selain impian memperbaiki hidup, mengesankan ia hanya social climber biasa. Ada perjuangan memanusiakan Victoria sebagai perempuan bau tanah kesepian sekaligus humanis yang memperjuangkan hak minoritas. Lucu, alasannya yaitu ia yang mengawali nyaris 100 tahun pendudukan Inggris di India. Setidaknya Judi Dench luar biasa melakoni dua sisi Victoria: pimpinan sinis nan intimidatif di depan bawahan, perempuan ramah tapi ringkih yang membutuhkan mitra di depan Abdul. Victoria & Abdul bagai darah biru yang coba merakyat, mengunjungi perkampungan sambil melambaikan tangan dari dalam kendaraan beroda empat mewah. (2/5)

Marjorie Prime (2017)
Di suatu versi masa depan, orang mati sanggup diwujudkan kembali sebagai kecerdasan buatan berbentuk hologram yang disebut "Prime". Marjorie (Lois Smith), perempuan bau tanah penderita demensia menghabiskan hari mengobrol bersama Prime yang mempunyai wajah mendiang suaminya, Walter (Jon Hamm) kala muda. Memori Walter Prime (demikian ia dipanggil) berasal dari isu yang disediakan Marjorie, pula puterinya, Tess (Geena Davis) dan sang suami, Jon (Tim Robbins). Mereka bicara soal kenangan, baik yang indah, maupun yang menjadi indah lantaran ditutupinya fakta-fakta menyedihkan. Mengadaptasi naskah teater berjudul sama, sutradara sekaligus penulis naskah Michael Almereyda menyusun Marjorie Prime dengan pembicaraan lirih selaku perenungan mengenai memori. Almereyda menebar magis melalui formasi dialog, yang bagi karakternya bagai terapi. Marjorie berusaha mengumpulkan keping-keping ingatan yang tersisa sedangkan Tess ingin memperbaiki hubungan dengan ibunya. Para Prime mungkin bukan insan utuh, tapi menolong insan menemukan keutuhan. Ditutup pembicaraan menyihir, Marjorie Prime menampilkan kondisi kala Manusia dan A.I. saling mengisi alih-alih mengancam. (4.5/5)