Showing posts with label Katherine Waterston. Show all posts
Showing posts with label Katherine Waterston. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Alien: Covenant (2017)

Alien: Covenant eksis semata-mata lantaran dua alasan, yaitu Ridley Scott ingin mengoreksi jalur yang ditempuh Prometheus dan menghalangi realisasi Alien 5 milik Neill Blomkamp. Mungkin Scott khawatir apabila terus menciptakan Alien dengan fokus bukan pada Xenomorph sementara Blomkamp sukses, tahtanya sebagai "Granddaddy of Alien franchise" bakal terusik oleh sang darah muda. Tapi rupanya bakat berbicara. Walau didorong niat demikian, nyatanya Covenant merupakan mimpi jelek yang mumpuni mengumbar teror, menjadikannya installment paling brutal walau masih teramat jauh dari status "terbaik". 

Tahun 2104 alias 11 tahun pasca Prometheus, pesawat koloni Covenant tengah mengarungi angkasa guna menuju planet gres untuk didiami manusia. Sampai sebuah kejadian simpulan hidup ditambah penerimaan transmisi yang ditengarai berasal dari planet layak huni terdekat menciptakan mereka menentukan mengubah arah. Setibanya di sana, sanggup ditebak teror mematikan telah menunggu di samping kembalinya David (Michael Fassbender), android selaku survivor dari misi Prometheus. Namun jangan harap tensi eksklusif meninggi, lantaran sesudah first act cukup mencekam, Covenant melambat, menghabiskan 30 menit pertama menyoroti perdebatan kru dilanjutkan pencarian mereka atas sumber transmisi di atas.
Penuturan lambat ini urung dibarengi nuansa atmosferik seperti Alien atau misteri pengundang tanya serupa Prometheus. Obrolan di pesawat atau perjalanan di hutan mendominasi tanpa disokong penokohan solid. Ketika Fassbender sebagai David dan Walter, dua android beda jenis sekaligus kepribadian (apparently they have one) tampil memikat memisahkan dua sosok serupa tapi tak sama dengan mulus, sisa tokoh tak ubahnya onggokan daging tidak bernyawa yang ada hanya untuk dibantai. Talenta Danny McBride, James Franco, sampai Demian Bichir tersia-sia, sedangkan Katherine Waterston kekurangan keperkasaan sebagai action heroine. 

Mayoritas tokoh utama berstatus pasangan. Harapannya, timbul rasa iba dan imbas emosional bagi menonton mendapati mereka terancam. Walau memberi sedikit bobot, penokohan lemah minim daya tarik meniadakan imbas yang diinginkan. Setidaknya ada poin positif. Deretan tokohnya tidak sebodoh ilmuwan-ilmuwan Prometheus. Benar tingkah kolot sempat ditunjukkan khususnya di awal teror Xenomorph, namun sanggup dimaklumi mengingat ketika itu mereka dikuasai ketakutan luar biasa. Ketakutan yang sanggup dipercaya, alasannya yaitu kita pun mencicipi hal serupa berkat kapasitas Ridley Scott menyulut ketegangan memakai shaky cam dan dengung alarm di koridor sempit pesawat, serupa Alien dahulu.
Untungnya sesudah babak awal melelahkan, film ini total menggelontorkan tensi. Aksi masif berhiaskan CGI meyakinkan jadi bukti kematangan Scott menyusun spectacle tanpa bujet berlebihan ("hanya" $111 juta, jauh dibanding banyak blockbuster yang mencapai di atas $200 juta). Satu-satunya kekurangan yakni terlampau pendeknya klimaks. Soal parade horor, Scott meminimalisir jump scare, berkonsentrasi pada gore serta gambar-gambar layaknya mimpi buruk. Di sini puncak Covenant, tatkala Scott mengekspresikan kegilaan, menghabisi tokoh-tokoh forgettable-nya sebrutal mungkin, menumpahkan isi perut, memotong penggalan tubuh, membanjiri lantai dengan darah. Bahkan koneksi terhadap Prometheus pun diungkap secara twisted pun disturbing.

Bicara perihal kaitan dengan installment sebelumnya, Covenant berguna menjawab segelintir pertanyaan semisal soal wujud evolusi Xenomorph yang berubah-ubah. Diberikan pula "jembatan" antara cikal bakal sang alien di Prometheus dengan sosok yang kita kenal baik selama ini. Beberapa fakta ini akan lebih diapresiasi penggemar franchise-nya, namun takkan besar lengan berkuasa bagi penonton awam. Sederet poin menyiratkan perjuangan mengesampingkan plot thread milik Prometheus. Konsep "pencipta dan ciptaannya" masih disinggung, tapi menilik cliffhanger di akhir, rasanya alih-alih meluaskan lingkup membahas asal muasal insan dan Engineer, babak berikutnya cenderung kembali ke akar, menautkan seri prekuel dengan original. Dan sebagaimana Alien pula, Scott coba bermain-main melalui seksualitas tersirat berupa "oral" antar kembar bersaudara" Fassbender. 

Wednesday, November 28, 2018

Ini Lho Fantastic Beasts: The Crimes Of Grindelwald (2018)

Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald yakni film yang harus disaksikan dalam format 4DX3D. Format ini memaksimalkan pendekatan David Yates—yang termasuk film ini, telah menyutradarai enam installment terakhir Wizarding World—terhadap sekuen aksi, di mana ia menghancurkan banyak sekali lokasi, entah lewat ilmu sihir atau amukan monster, menggerakkan kamera secara cepat, menampilkan kekacauan yang akan menciptakan penonton memegang erat bangku biar tak terjatuh. Sementara 3D-nya, walau tak mempunyai kedalaman seberapa, dihiasi beberapa imbas pop-up.

Apa balasannya jikalau film ini ditonton di format biasa? Anda akan karam dalam perjuangan J. K. Rowling memuaskan penggemar seri Harry Potter menggunakan gugusan fan service penuh rujukan atau tokoh usang yang muncul acak tanpa urgensi, hanya biar para penggemar berujar “Whoaa ini kan si itu....”. Rowling tahu jikalau banyak dari mereka terobsesi akan keterkaitan tak terduga, memutuskan mengabulkan impian tersebut hampir di tiap kesempatan, hingga menciptakan naskah tulisannya terasa kolam fan fiction.

Berjudul The Crimes of Grindelwald, dan benar, sang “penyihir hitam” memang melaksanakan kejahatan-kejahatan, tapi sulit menampik kesan bahwa judulnya dipilih lantaran terdengar keren dan supaya Grindelwald (baca: Johnny Depp) jadi jualan utama. Tapi bukan masalah. Kelemahan fatal Rowling dalam bertutur bukan disebabkan tidak mengakibatkan kejahatan Grindelwald sebagai fokus, melainkan ketiadaan fokus.

The Crimes of Grindelwald dibuka oleh keberhasilan upaya Grindelwald kabur dari penjara berkat pengkhianatan seorang anggota kementrian sihir. Tentu saja pengkhianatan, identitas rahasia, hingga kepetangan ganda merupakan kejutan andalan Rowling, yang di titik ini tak lagi mengejutkan. Tapi jangan khawatir. Sang penulis menemukan cara baru, yang jauh lebih konyol (we’ll get there later).

Bagi si titular character, film ini mengisahkan prosesnya mengumpulkan pengikut sebanyak mungkin, namun sasaran utamanya yakni Credence (Ezra Miller), antagonis film pertama yang rupanya bisa bertahan hidup, dan sekarang berada di sebuah kelompok sirkus bersama Nagini (Claudia Kim). Keduanya mengarungi perjalanann dengan tujuan menemukan siapa Credence sebenarnya, siapa orang tuanya, dan dari mana ia berasal.  Di paragraf ini saja aku sudah membahas dua subplot, dan belum menyentuh kisah si protagonis, Newt Scamander (Eddie Redmayne).

Newt ditugasi Dumbledore (Jude Law) meringkus Grindelwald, dan sekali lagi bertemu Jacob Kowalski (Dan Fogler), yang mengikuti Newt demi memenangkan lagi hati Queenie (Alison Sudol), yang kecewa jawaban keengganan Jacob segera mengucap kesepakatan suci, kemudian menentukan mengunjungi kakaknya, Tina (Katherine Waterston), yang mana hatinya pun coba dimenangkan kembali oleh Newt. Tina sendiri tengah patah hati sehabis melihat isu palsu soal pertunangan Newt dengan Leta Lestrange (Zoë Kravitz). Oh Tuhan, begitu banyak cerita. Kalau alasan kemarahan Tina terdengar kolam sinetron, tunggu dulu. Anda belum melihat apa-apa.

Jajaran cast tampil baik. Sekali lagi Fogler bukan saja pengundang tawa, pula sumber hati. Konklusi film pertama mengharukan berkatnya, dan Rowling ingin memunculkan dampak serupa namun gagal. Fogler berbuat sebisanya, tapi emosi senantiasa hampa, alasannya yakni naskahnya urung menyuguhkan motivasi meyakinkan bagi keputusan salah satu karakternya (Anda akan tahu huruf yang mana). Sedangkan Jude Law tepat memerankan Dumbledore, selain berkat kemiripan wajah dengan Michael Gambon (tanpa uban, rambut panjang, dan jenggot lebat), ia menciptakan aku percaya sedang melihat sosok penyihir terkuat di masa jayanya.

Lain halnya Depp. Dipandang dari segi karakterisasi, Voldemort bukan villain luar biasa, tapi pendekatan over-the-top Ralph Fiennnes menjadikannya antagonis menghibur. Sementara Depp mencoba interpretasi lebih serius, kejam, tenang, yang justru menciptakan Grindelwald membosankan, tak jauh beda dibanding lebih banyak didominasi antagonis generik film-film blockbuster Hollywood. Eddie Redmayne sebagai Newt dengan mata lembut yang jarang menatap lawan bicaranya yakni protagonis likeable, namun ketidakfokusan naskah menghalangi penonton mencintanya lebih jauh. Newt hanya satu bidak di sebuah papan catur besar nan ramai yang di atasnya cuma terdiri atas bidak-bidak.

Rowling punya setumpuk inspirasi yang cocok dituangkan dalam novel 700 halaman, namun bagi film berdurasi 134 menit, kisahnya bergerak liar tanpa kesan kesatuan. Pada beberapa poin, The Crimes of Grindelwald bagai midseason serial televisi yang meletakkan cabang-cabang narasi dan belum sempat menautkannya satu sama lain, sebelum ditutup oleh konklusi berbumbu kejutan khas opera sabun murahan. Saya takkan terkejut bila kelak terungkap jikalau rumah produksi di balik film ini yakni Sinemart dan Ezra Miller merupakan Glenn Alinskie yang menyamar.

Cara Rowling bertutur menawarkan ketidaksiapan menulis naskah film. Rowling bergantung pada tuturan verbal, menyuruh karakternya bicara terlalu banyak, yang malah menciptakan alurnya kolam benang kusut. The Crimes of Grindelwald yakni bentuk penceritaan amburadul. Jadi, sebagaimana Nolan menyarankan IMAX 70mm untuk Dunkirk, aku merekomendasikan 4DX3D, atau setidaknya 4DX guna menyamarkan kelemahan narasi. Aksi-aksi serunya bakal membuai, khususnya amukan Zouwu si kucing berukuran gajah dari Cina. Walau lagi-lagi, Rowling perlu memperbaiki penulisan klimaks, yang semenjak masa Harry Potter, selalu lebih berpengaruh di pembangunan ketimbang payoff. Klimaks ciptaan Rowling acap kali bukan “puncak”, melainkan sekedar satu lagi agresi yang bahkan bukan spectacle terbesar di sepanjang cerita.

Dan bukankah serupa tajuknya, seri ini mestinya mengeksplorasi mitologi Fantastic Beasts? Mengapa makhluk-makhluk asing tersebut hanya mempunyai kegunaan mengeskalasi agresi atau senjata komedi namun punya efek minim pada plot? Entahlah. Alurnya tiba dari penulis yang menyebut mitologi “Naga” berasal dari Indonesia. So, yeah.....