Showing posts with label Michelle Williams. Show all posts
Showing posts with label Michelle Williams. Show all posts

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Venom (2018)

Di film ini, Eddie Brock kebingungan ketika kerap mendengar sebuah bunyi yang selalu menyebut “kita”, seolah dia dan bunyi tersebut merupakan satu kesatuan. Tentu bukan, tapi seiring waktu, keduanya mulai selaras, berbeda dibandingkan filmnya yang justru mengidap krisis identitas lebih besar ketimbang sang protagonis. Terkadang Venom ingin menjadi studi huruf serius dibumbui sentuhan body horror (dengan rating PG-13), namun di lain waktu, film garapan sutradara Rubern Fleischer (Zombieland, Gangster Squad) ini yaitu buddy comedy yang aneh.

Unsur buddy comedy memang kesudahannya merupakan poin terbaik film ini, atau tepatnya, satu-satunya hal nyata yang sanggup dibanggakan. Salah satu alasannya, alasannya yaitu sub-genre tersebut cocok dengan sang titular character, alasannya yaitu tidak ibarat banyak miskonsepsi publik, Venom yaitu “pelindung yang mematikan” (silahkan baca komik Venom: Lethal Protector atau Planet of the Symbiotes selaku pandangan gres terbesar filmnya) , bukan pembunuh berantai psikopat yang perlu dibungkus lewat pendekatan brutal, penuh darah, dan rating R.

Kisahnya dibuka melalui perkenalan terhadap Eddie Brock (Tom Hardy), jurnalis idealis yang terlibat masalah, sesudah dalam sebuah wawancara tak bisa menahan diri mengonfrontasi Carlton Drake (Riz Ahmed) wacana belakang layar kelam yang coba dikubur rapat-rapat oleh perusahaan miliknya, Life Foundation. Carlton sendiri menyimapn jadwal belakang layar untuk menyatukan entitas alien berjulukan Symbiote dengan manusia, supaya dia sanggup membuat spesies bibit unggul yang dibutuhkan memberi jalan keluar bagi kondisi Bumi yang tengah sekarat. Eddie mencium aroma mencurigakan, tapi sebelum sempat bertindak, Riz bisa membungkamnya, membuatnya kehilangan pekerjaan, reputasi, juga sang kekasih, Anne Weying (Michelle Williams).

Venom bergerak selama satu jam membangun konflik-konflik di atas, menahan penampakan Symbiote—yang salah satunya berkeliaran mencari inang pasca kabur ketika roket milik Life Foundation jatuh—seminimal mungkin. Jangan harap Venom muncul seutuhnya sebelum 60 menit pertama bergulir, yang mana bukan persoalan andai naskah buatan Jeff Pinkner (The Amazing Spider-Man 2, Jumanji: Welcome to the Jungle), Scott Rosenberg (Armageddon, Spider-Man), dan Kelly Marcel (Saving Mr. Banks, Fifty Shades of Grey) bisa memaparkan perjalanan menarik. Dialognya nihil kreativitas, pula tidak dibarengi elemen dramatik meyakinkan yang memfasilitasi bakat Tom Hardy. Setidaknya dia lebih beruntung daripada Michelle Williams, yang walau menghibur, sanggup digantikan aktris lain tanpa menghadirkan efek besar.

Awalnya Venom tampil serius, tetapi begitu Eddie memperoleh Symbiote-nya sendiri, filmnya berpindah jalur layaknya pengendara kendaraan beroda empat mabuk yang menabrak pembatas jalan sebelum tiba-tiba memutar balik. Eddie mulai bertingkah aneh. Menyulut kekacauan di restoran, berendam di akuarium dan coba memakan lobster hidup. Hardy total berkomitmen dalam melakoni kegilaan Eddie, biarpun tampak jelas, tidak peduli seberapa berbakat sang aktor, komedi bukanlah bakat naturalnya. Hardy seolah masih karam di tengah delusi bahwa dirinya tidak sedang bermain di sebuah film bodoh.

Unsur buddy comedy menguat tatkala Venom mulai berbicara kepada Eddie, dan keduanya terus-menerus terlibat pertengkaran. Inilah bab paling menyenangkan, sewaktu Venom bertransformasi  menjadi buddy comedy gila di mana satu karakternya coba mencegah sang partner memakan kepala orang lain. Terdengar ibarat materi tepat guna mengkreasi tontonan terbelakang tapi menyenangkan, dan akhirnya, beberapa tawa memang sukses dihasilkan, meski lagi-lagi penulisannya belum cukup tajam atau kreatif untuk menjaga supaya humornya mendarat mantap tepat di sasaran.

Penyutradaraan Fleischer tak ketinggalan mengundang masalah. Sulit dipercaya bahwa orang di balik kesuksesan Zombieland (2009) kelabakan menangani komedi ketika dia acap kali melewatkan timing. Fleisher di sini kolam penabuh drum yang sering meleset ketika memukul crash cymbal, bahkan kerap ragu-ragu untuk melakukannya sekuat tenaga. Seolah Fleisher takut filmnya berujung terlalu komikal, dan dari situlah inkonsistensi tone Venom bersumber. Penanganannya akan adegan agresi pun cukup lemah. Symbiote, dengan wujud cair sekaligus gerakan dinamis, terlihat layaknya semburan liar dan acak berkaleng-kaleng cat yang sukar disaksikan alih-alih pertarungan 2 monster raksasa intimidatif berkemampuan unik sebagaimana ingin klimaksnya capai.

Venom kebingungan ingin menjadi apa. Bahkan fase buddy comedy—yang mana yaitu fase terbaik filmnya—tidak begitu solid. Momen wajib subgenre tersebut, kala dua huruf yang memiliki sifat berseberangan kesudahannya bersatu, mengesampingkan ego pribadi, dipaparkan kurang meyakinkan. Venom ingin meyakinkan penonton kalau di antara Eddie dan Venom terjalin persahabatan hangat, namun “perubahan hati” sang monster terjadi mendadak tanpa dasar maupun klarifikasi memadahi. What a mess.

Monday, November 5, 2018

Ini Lho The Greatest Showman (2017)

Silahkan buka Google, kemudian ketik "Ringling Bros. and Barnum & Bailey Circus" di kolom pencarian gambar. Anda akan melihat penari dan badut menggunakan kostum aneka warna, hewan-hewan melaksanakan atraksi, panggung dengan tata artistik meriah. Sirkus itu berhenti beroperasi semenjak 21 Mei 2017. Film debut sutradara Michael Gracey ini coba menghidupkan kemegahan serupa di layar lebar, melempar penonton ke 146 tahun kemudian dikala P. T. Barnum mendirikan Ringling Bros. and Barnum & Bailey Circus yang juga disebut "The Greatest Show on Earth". 

Daripada otentitas, pertunjukan Barnum (diperankan Hugh Jackman lewat karisma tanpa tanding) mengedepankan keajaiban semoga publik terperangah, terpukau, tertawa. "Penontonmu tampak lebih senang begitu keluar daripada dikala masuk", demikian ungkap Phillip Carlyle (Zac Efron), penulis naskah teater yang kelak jadi partner Barnum. Festive and fun entertainment. Itu tujuannya, tak peduli meski sedikit trik perlu diterapkan: menyumpal perut laki-laki tergemuk dengan bantal, memakaikan egrang di kaki laki-laki tertinggi. Bukan sepenuhnya penipuan, hanya melebih-lebihkan atas nama hiburan.
The Greatest Showman mengusung tujuan yang sama, sehingga musikal yaitu pilihan tepat, lantaran biopic formulaik takkan sanggup mewakili pesta pora di panggung Barnum. Untuk mencapai tujuannya, Pasek & Paul menulis lagu-lagu bertempo menghentak, riuh oleh instrumen serta gemuruh vokal para cast. Film ini menyadari potensi menjadi hiburan meriah, membuatnya berusaha keras (selalu) mengejar kemeriahan itu semenjak The Greatest Show selaku nomor pembuka berkumandang, ketimbang memilah menurut ketepatan emosi. Deretan lagu yang bagai versi overproduced dari Fall Out Boy yang sukar dibedakan satu sama lain pun dipoles terlalu mulus di studio, berujung melucuti emosi orisinil aktor. 

Tidak sanggup dipungkiri tata dekorasi yang melukiskan semarak sirkus di puncak popularitasnya mengundang decak kagum. Sinematografi isyarat Seamus McGarvey (Atonement, The Avengers) punya imaji lebih dari cukup guna merealisasikan pertunjukan visioner P. T. Barnum. Jajaran pemain juga penuh totalitas menangani kompleksitas tiap koreografi. Zendaya sebagai Anne, seniman trapeze, mudah menciptakan jatuh hati, sementara Lettie Lutz si Wanita Berjenggot mengajak kita bersorak mendukung seruannya. Namun bayangkan menonton La La Land yang seluruhnya terdiri atas momen epilog. Fenomenal, namun sihirnya tak bekerja maksimal bila disajikan terus menerus. 
This Is Me dan Rewrite the Stars merupakan nomor musikal paling berhasil, lantaran mengandung lebih dari sekedar kemegahan: melawan segregasi dan ungkapan cinta. Adegan Barnum dan sang istri, Charity (Michelle Williams) turut bicara soal cinta, tetapi purnama di langit serta tarian Williams menembus lembar-lembar seprai putih tidak seintim maupun seromantis pertukaran rasa Anne dan Phillip. Anne melayang lincah di langit-langit, seolah ingin terbang meninggalkan Phillip, namun tatapannya sulit lepas dari sang laki-laki kulit putih terpandang. Sedangkan Phillip terus berjuang menggapai cintanya. 

Naskah karya Jenny Bicks dan Bill Condon mungkin tidak memberi ruang guna meresapi jatuh-bangun kehidupan Barnum yang penuh gejolak pula kontroversi, tapi cukup untuk menciptakan penonton sebatas memahami. Dia mengumpulkan orang-orang terpinggirkan, menyediakan mereka kesempatan disorot layaknya bintang, lantaran ia sendiri dipandang sebelah mata. Dia berjuang lantaran enggan melihat puteri-puteri kesayangannya sengsara menyerupai dirinya dahulu, meski hal ini menyeret Barnum pada sisi gelap kesuksesannya. Barnum menyuguhkan hiburan, mengajak penonton tertawa, lantaran lelah mendapati keseharian yang terkekang oleh kesuraman.

Ini Lho All The Money In The World (2017)

J. Paul Getty (Christopher Plummer) tak bergeming, teguh pada keputusannya menolak membayar uang tebusan bagi penculik cucunya, Paul Getty III (Charlie Plummer), meski mendapat tekanan banyak sekali pihak termasuk sang menantu, Gail (Michelle Williams). Sutradara Ridley Scott, kukuh pada keputusan melaksanakan pengambilan gambar ulang demi menendang Kevin Spacey dari film pasca tertimpa kasus pelecehan seksual, meski hanya punya waktu sembilan hari yang bagi banyak orang yakni misi bunuh diri. Baik Getty maupun Scott yakin akan keputusan mereka alasannya menyimpan satu modal penting: pengalaman.

Pengalaman Scott yang telah 40 tahun berkecimpung di industri film, selain nampak dari caranya menangani problem di balik layar, terlihat juga dari hasil di atas layar. All the Money in the World, selaku penyesuaian buku Painfully Rich: The Outrageous Fortunes and Misfortunes of the Heirs of J. Paul Getty karya John Pearson, dikemas lewat ketepatan pacing dan dinamika. Scott menguasai betul dasar-dasar bercerita. Kapan alur harus dibawa berlari, kapan berjalan perlahan, kapan membisu sejenak untuk memberi penonton kesempatan mencerna fakta. 
Semua soal kematangan, yang mana turut dimiliki Plummer, sehingga persiapan mepet tak menghalanginya memberi performa yang bagi banyak pemain drama mungkin memerlukan waktu panjang untuk mendalami peran. Di tangan Plummer, Getty bagai medan magnet besar lengan berkuasa yang menarik segala atensi tatkala mengisi layar. Dialah taipan minyak sukses sekaligus orang terkaya kala itu (1973) yang bersedia menawar selama satu jam untuk mendapat patung murahan dan menjabat tangan sang putera layaknya rekan bisnis sehabis berpisah bertahun-tahun ketimbang memeluk hangat. Beberapa dari penonton (termasuk saya) mungkin akan iseng bertanya dalam hati, “apakah Getty memiliki gudang kawasan ia berenang di bak uang logam?”. 

Sewaktu Paul diculik, dan para penculik meminta tebusan $17 juta, Getty cuma tertawa di hadapan awak media sambil menyatakan enggan membayar. Lalu masuklah Gail yang coba membujuk mertuanya biar mau mengesampingkan keserakahan demi sang cucu. Ketika perjuangan tersebut sia-sia, dibantu oleh Fletcher Chase (Mark Wahlberg) selaku penasihat Getty plus mantan anggota CIA serta kepolisian, Gail coba mencari cara sendiri guna menyelamatkan Paul. Gail menolak hancur. Ketegaran yang malah memancing opini negatif media. Menurut salah satu wartawan, seorang ibu semestinya menangisi nasib putera yang diculik. 
Tapi Gail enggan bersikap sebagaimana ekspektasi umum. Dia melawan ekspektasi dan berani bertindak seorang diri. Keberanian yang terpancar dari tatapan menyengat dan selorohan sinis Williams. Mata sang aktris bicara begitu banyak. Serupa filmnya yang tidak pernah meledak-ledak namun mengikat melalui pemeriksaan dan studi karakter, Williams mengekspresikan setumpuk rasa tanpa luapan besar. Obrolan Gail dengan Fletcher di penghujung film menyiratkan setumpuk interpretasi. Apakah ia mengingkan lelaki itu menetap? Apakah ia belakang layar jatuh cinta? 

Di luar investigasi, intensitas All the Money in the World bersumber dari undangan untuk penonton mempertanyakan intensi Getty sesungguhnya. Benarkah ia sekedar kikir ataukah tengah menjalankan permainan pikiran terselubung? Inilah teka-teki sesungguhnya, yang hadir sambil diselimuti musik megah nan misterius buatan Daniel Pemberton. All the Money in the World merupakan menu yang dikemas menggunakan gaya dasar minim terobosan. Dan Scott begitu menguasai dasar, sehingga film ini tersaji sedemikian solid. Tidak mendobrak batas, tidak pula meninggalkan banyak cacat.  

Ini Lho Wonderstruck (2017)


Metode non-linier yang melompat seketika dari satu titik ke titik lain secara bergantian lebih efektik sekaligus gampang dinikmati dalam medium tulisan. Pada novel misalnya, pace kisah tergantung masing-masing pembaca. Terdapat kebebasan mempercepat atau memperlambat tempo, berhenti sejenak, atau bahkan mengulang untuk mencerna kisahnya. Sebaliknya, film memaksa penonton mengikuti sutradara. Resiko membesar jikalau membicarakan drama yang bertujuan merenggut perasaan. Meleset sedikit saja, peluang menggaet hati bisa hilang. Hal ini dialami Wonderstruck.

Ada dua setting waktu: 1927 dan 1977. Tahun 1927 berkisah wacana Rose (Millicent Simmonds), gadis tuna rungu yang kabur dari “tangan besi” ayahnya demi mencari idolanya, Lillian Mayhew (Julianne Moore), aktris yang karirnya memudar seiring transisi film bisu ke film suara. Sebagai penyesuaian, periode ini pun dikemas kolam film bisu. Todd Haynes (Far from Heaven, Carol) selaku sutradara menghadirkan harmoni imbas bunyi dengan visual yang menarik, mengutamakan kesan artistik ketimbang otentik.
Sedangkan tahun 1977 mempunyai Ben (Oakes Fegley) sebagai tokoh sentral dibalut sinematografi Edward Lachman yang mencerminkan nuansa warna film 70-an ber-setting urban. Pasca kecelakaan yang merenggut pendengarannya, Ben nekat kabur dari rumah sakit untuk mencari sang ayah, sesudah selama ini, mendiang ibunya, Elaine (Michelle Williams) menolak bercerita tentangnya. Rose dan Ben sama-sama tuna rungu, kabur dari rumah dengan tujuan mencari sosok tercinta yang berjarak, serta bermacam-macam kesamaan lain termasuk daerah yang disinggahi di tengah perjalanan. Takdir penuh keajaiban (baca: kebetulan) mengaitkan hidup kedua bocah tersebut.

Butuh waktu sebelum benar-benar bisa dihanyutkan oleh alurnya. Bukan sepenuhnya kesalahan Haynes. Kelemahan justru condong ke arah skenario buatan Brian Selznick, yang juga penulis novel sumber adaptasinya. Selznick mentah-mentah memindahkan gaya tutur novel ke naskah, memunculkan transisi garang antara dua periode. Sebelum benar-benar terikat oleh salah satu kisah, Wonderstruck sudah berlari menuju kisah lain, begitu seterusnya. Sulit berkonsentrasi pada salah satu. Alirannya gres lancar seiring makin jelasnya paralel dua cerita.
Haynes menyebut Wonderstruck sebagai misteri klasik di mana “mengapa” serta “bagaimana” dua kisah saling bertautan jadi daya tarik. Tapi misterinya sendiri kurang mengikat di paruh awal. Filmnya kekurangan alasan kenapa kita perlu peduli dan mau mencari tahu jawabannya. Suratan takdir dua abjad yang terpisah 50 tahun ini tampak bersinggungan. Yeah, so? Itu saja belum cukup menciptakan misterinya menghanyutkan. Barulah memasuki third act, saat jalinan teka-tekinya menampakkan wajah aslinya, intensitas meningkat. Walau alhasil antisipasi tinggi yang dibangun tak sebanding dengan balasan yang ditawarkan, beberapa kejutan hadir mengisi ulang energi Wonderstruck.

Penampilan Millicent Simmonds dan Oakes Fegley cukup solid namun keduanya belum bisa memanggul beban sendirian. Cengkeraman emosi terkuat selalu terjadi ketika Simmons dan Fegley menyebarkan layar dengan orang lain, entah Julianne Moore yang matanya seolah bisa mengungkapkan jutaan kata maupun Michelle Williams yang walau muncul sekilas tetap memperhatikan detail ekspresi dalam berakting. Andai filmnya lebih mengikat di setengah awal perjalanan, babak pamungkas berisi claymation dalam miniatur luar biasa New York bakal dengan gampang memancing kucuran air mata.