Showing posts with label Muhammad Yusuf. Show all posts
Showing posts with label Muhammad Yusuf. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho The Curse (2017)

Horor kita terlalu mengandalkan jump scare. Terkesan menggeneralisasi, tapi anggapan itu tidak sepenuhnya keliru. Setiap tahun, film yang tidak mengageti dengan penampakan berisik setan lima menit sekali bisa dihitung jari. Apa daya, masyarakat kita gandrung akan gaya tersebut. Buktinya Danur mampu mengumpulkan hampir 2,7 juta penonton, menjadikannya horor lokal terlaris sepanjang masa. Di antara segelintir sineas horor dalam negeri, Muhammad Yusuf (Kemasukan Setan, Misterius, Angker) termasuk paling potensial melahirkan kengerian hakiki. Sehingga sulit dipercaya saat The Curse  dengan segala cita-cita tinggi yang dibebankan padanya  justru amat melelahkan disimak, kolam mengalami krisis identitas.

Filmnya membawa kita ke Melbourne, Australia tanpa tujuan terang kecuali demi hamparan kawasan rural serta sebuah pohon besar renta nan mengerikan yang sepanjang durasi gemar Yusuh perlihatkan. Saya yakin pemandangan serupa sanggup ditemukan tanpa perlu ke luar negeri. Begitu pula alurnya, mengenai Shelina (Prisia Nasution), seorang pengacara asal Indonesia yang bekerja di law firm setempat dan tengah menangani kasus pembantaian. Shelina yang tengah menjalani proses perceraian mulai didatangi hantu di rumahnya. Secara bergantian, filmnya menyoroti penyelidikan Shelina di siang hari dan teror mistis di malam hari. 
The Curse bagai hendak menggandakan pencapaian low budget horror macam Under the Shadow, The Witch sampai The Babadook. Judul-judul itu mencengkeram lewat atmosfer sambil sesekali melempar penampakan yang terasa efektif lantaran dipakai seperlunya. Studi huruf pun disertakan semoga atensi penonton tetap terjaga dalam pergerakan alur lambatnya. Seperti di Kemasukan Setan, Muhammad Yusuf menerapkan contoh serupa, hanya saja kali ini ia kolam terjebak di antara keinginan menciptakan slow-burning horror dan menuruti usul pasar melalui seabrek jump scare. Alhasil tercipta krisis identitas. 

Film ini setipe Danur. Hantu menampakkan sosoknya terlalu sering. Bedanya sela-sela teror dijejali adegan lambat dan shot statis berisi pemandangan. Dua formula berlawanan itu tidak sinkron. Terlebih tempo pengadeganan Yusuf tak substansial membangun atmosfer, asal lambat, menyeret, pula pretensius, termasuk ketika sinematografi Satya Ginong (penata kamera langganan Yusuf) lebih mementingkan gambar artsy ketimbang suasana mencekam. Serta merta melambatkan (bahkan meniadakan) gerak kamera dan menggunakan gambar ber-tone "dingin" tidak berbanding lurus dengan atmosferik. Pemilihan sudut hingga pemanfaatan lingkungan wajib pula diperhatikan. 
Dua jump scare cukup efektif memancing kejut, adalah kemunculan pertama dan terakhir. Penampakan pertama disebabkan kesan "tiba-tiba" sehabis rangkaian kesunyian, pun yang terakhir, tatkala kita mengira semua telah berakhir, urung menduga filmnya masih menyimpan satu kejutan. Sisanya medioker. Untuk apa static shot dan gerak kamera perlahan pemancing observasi penonton akan tiap sudut ruangan, jikalau ujungnya teror dihukum menggunakan perpindahan adegan mendadak? Lagi-lagi, itu dua jenis formula berlawanan dan tidak selaras. Menggabungkannya secara paksa menghasilkan trik murahan yang terasa menipu. 

Bicara soal menipu, rupanya jalinan ceritanya pun demikian. Persoalan langsung Shelina alih-alih menghasilkan studi psikis huruf justru dilupakan seutuhnya. Begitu pula kasus yang ia tangani, tak lebih dari pengecoh sebelum kisahnya beralih ke kasus lain yang melibatkan Leann (Shareefa Daanish). Konsep menarik wacana roh pembawa pesan pun tidak lagi penting ketika kehadiran mereka sekedar berfungsi menakut-nakuti. Semakin parah di babak konklusi sewaktu Yusuf memberi penjelasan out-of-nowhere mengenai asal para hantu sekaligus membangun ambiguitas wacana kemampuan Shelina (kemungkinan untuk bahan sekuel). Ambiguitas yang gagal memancing minat mencari tahu lebih lanjut lantaran sepanjang durasi kemampuan Shelina itu sebatas tempelan.

Prisia Nasution berusaha sekuat tenaga memberi nyawa lewat aktingnya, pun Shareefa Daanish walau porsi kemunculannya lebih sedikit. Namun performa keduanya dirusak oleh penulisan obrolan klise menggelikan. Tengok ketika Shelina membahas pemindahan persidangan kliennya ke Indonesia yang terdengar bagai obrolan orang awam ketimbang pengacara kelas atas. Atau tiap kalimat dari Leann yang menyerupai diambil dari FTV percintaan remaja. Kualitas jelek ADR (Automated dialogue replacement), menciptakan obrolan terdengar kurang natural, jadinya emosi yang seharusnya ada urung tersalurkan maksimal, melemahkan akting Prisia dan Shareefa. Emosi lewat ekspresi kuat, tetapi tidak dari tuturan verbal. 

Wednesday, November 28, 2018

Ini Lho Tujuh Bidadari (2018)

Film buruk kadang sanggup tampil menyenangkan, entah sebagai guilty pleasure atau tontonan so-bad-it’s-good. Lain dongeng dengan film membosankan, yang takkan menarik ditonton—untuk kemudian dievaluasi—ulang. Tapi itu masih belum ada apa-apanya dibandingkan film buruk sekaligus membosankan. Tujuh Bidadari yaitu salah satunya, dan membuat saya bertanya-tanya, “Ada apa dengan Muhammad Yusuf?”.

Sejak 2013 hingga 2015, Yusuf rutin meluncurkan horor tiap tahun, yang seluruhnya, meski jauh dari sempurna, punya kualitas memuaskan. Kemasukan Setan (2013), Angker (2014), dan Misterius (2015) menunjukan kapasitasnya memanfaatkan kesederhanaan guna membuat teror. Bukan tumpukan jump scare, melainkan kengerian hakiki. Lalu The Curse (2017) mengubah segalanya, dan sekarang Yusuf resmi melahirkan dua horor buruk yang membosankan secara beruntun (belum termasuk drama-romantis Bluebell yang tayang April lalu).

Saya sudah menerima firasat buruk kala filmnya dibuka oleh title card berupa keterangan bahwa Tujuh Bidadari melaksanakan pengambilan gambar pribadi di Aradale Lunatic Asylum yang terletak di Ararat, Australia. Seolah kualitas sebuah film otomatis bertambah bila dibentuk di lokasi aslinya. Judulnya sendiri merujuk pada nama grup band daerah ketujuh tokoh utama film ini tergabung (bukan, bukan 7 Icons), yang sedang melangsungkan proses pembuatan video klip di Australia. Sebuah tantangan besar bagi naskahnya untuk membuat penonton ingat, apalagi peduli terhadap aksara sebanyak itu.

Bagaimana cara filmnya menyiasati itu? Tujuh Bidadari meminta tiap karater menyebut nama beserta posisi mereka di grup band satu per satu, dan itu dilakukan dua kali (wawancara dan rekaman vlog), alih-alih memberi mereka penokohan solid. Anehnya, bukan itu saja hal yang diulangi secara tidak perlu. Di Australia, Tujuh Bidadari (selanjutnya disebut “7B”) bertemu penyanyi lokal berjulukan Mark (William D McLennan), yang mengajak mereka mengunjungi Aradale. Mark menyebut bahwa 10 ribu orang tewas di sana. 7B pun terkejut. Keesokan hari, dalam perjalanan menuju Aradale, Mark menyampaikan hal serupa, dan 7B kembali terkejut.

Masih ada contoh-contoh lain, menyerupai dongeng Mark bahwa sang kakek dahulu merupakan karyawan Aradale. Saya tak tahu apa yang terjadi di belakang layar. Tapi saya berasumsi, ini akhir kurangnya koordinasi dan/atau pemahaman menyeluruh dalam proses menulis dan/atau menulis ulang, yang dilakukan keempat penulis naskahnya: Muhammad Yusuf, Konfir Kabo (produser direktur The Curse), King Javed (Angker), Resika Tikoalu (produser The Curse juga Tujuh Bidadari). Entahlah.

Setelah berkeliling sejenak di rumah sakit, Mark meninggalkan 7B di sebuah ruangan dengan alasan mengambil minum. Tapi, alasannya yaitu bermacam-macam alasan, masing-masing anggota 7B mulai meninggalkan ruangan, dan balasannya tewas satu demi satu. Tersimpan pandangan gres menarik di sini, berupa penggabungan slasher yang menekankan atmosfer ketimbang gore, dengan horor supranatural. Masalahnya, tempo lambat yang diterapkan Yusuf nihil intensitas maupun kengerian. Sebagaimana The Curse, sang sutradara hanya melambatkan penuturan, dan itu berbeda dengan membangun atmosfer, yang mana perlu memperhatikan camerawork, mise-en-scène, musik, dan lain-lain.

Pun kita tahu bila sosok yang menghabisi 7B tidaklah menyeramkan, dan sekalinya sosok itu melancarkan serangan, aksinya terjadi off-screen, di mana kita leih sering cuma melihat cipratan darah atau mendengar dampak bunyi tusukan. Artinya, baik penantian atau payoff-nya tak memberi apa pun kecuali rasa bosan. Sulit pula mempedulikan ketujuh gadis itu tatkala para aktris urung memberi performa meyakinkan, antara kurang bernyawa, atau sebaliknya, cringey dan berlebihan. Hanya Dara Warganegara sebagai Stella yang menarik disimak, itu pun alasannya yaitu ia kebagian porsi kesurupan.

Sesekali, Tujuh Bidadari bersedia memperlihatkan sadisme cukup eksplisit, yang sanggup sedikit memudarkan kebosanan, walau lubang-lubang aspek teknis sanggup ditemukan di sana-sini. Misalnya satu mayit yang tewas dipenggal, namun kita masih sanggup melihat terang leher dan kepala yang terpasang utuh di tubuh. Tapi saya tidak mengkritisi kurang beraninya Tujuh Bidadari mengumbar kebrutalan. Itu pilihan yang Yusuf beserta timnya ambil, dan sayangnya, pilihan itu gagal dimaksimalkan.

Masalah lain dipicu begitu berantakannya naskah dalam menangani elemen supranatural. Mengapa harus 7B yang diincar? Mengapa Stella sangat menyerupai Shu Yin si penyihir? Mengapa Shu Yin memerlukan tunjangan insan biasa bila ia sendiri sanggup dengan simpel menghabisi nyawa korban memakai ilmu gaibnya? Ketika rangkaian pertanyaan masih berseliweran, Tujuh Bidadari mendadak berakhir sesudah memaksakan diri memberikan latar belakang soal bencana 100 tahun lalu. Seolah para penulis kebingungan memilih kapan, di mana, dan bagaimana mereka mesti menempatkan eksposisi tersebut, kemudian memutuskan menaruhnya sembarang tempat. Setidaknya saya suka riasan sederhana untuk hantu Shu Yin yang didominasi warna putih dengan sedikit corak merah di wajah.