Showing posts with label Tara Basro. Show all posts
Showing posts with label Tara Basro. Show all posts

Thursday, December 13, 2018

Ini Lho Flutter Echoes And Notes Concerning Nature (2015)

Saya menyukai slow cinema. Sajian arthouse lambat yang bagi sebagian orang mungkin terasa membosankan kerap memberi kepuasan hasil dari kontemplasi mendalam sekaligus observasi mendetail. Untuk film Indonesia, "Another Trip to the Moon" karya Ismail Basbeth ialah rujukan tepat dan hingga ketika ini masih menjadi film Indonesia favorit saya untuk tahun 2015. Tapi disaat suatu slow cinema gagal mencapai tujuannya, tak jarang justru kebosanan serta kesan pretensius yang hadir. "Flutter Echoes and Notes Concerning Nature" garapan Amir Pohan ini salah satunya. Selama 90 menit pemutarannya pada event JAFF, saya mendapati banyak penonton yang menguap bahkan bermain handphone entah lantaran bosan atau tak mengerti makna alur film yang tidak linier. Bahkan begitu credit bergulir ada keraguan dari audience untuk memberi applause. Mungkin lantaran memang tak terpuaskan atau tidak yakin film telah usai. Wajar saja, lantaran sepanjang film (pasti) banyak yang tidak yakin filmnya bertutur wacana apa.

Gagasan dalam film ini sebetulnya sederhana saja: kecintaan terhadap alam. Hanya saja cara bernarasi Amir Pohan yang begitu lambat dan sunyi serta alur penuh abstraksi tanpa kejelasan setting waktu bakal menghadirkan kebingungan untuk banyak penonton. Terdapat dua garis besar cerita. Pertama wacana perekam bunyi (Ladya Cheryl) yang berjalan menyusuri alam bebas untuk merekam ambience disana. Hasil rekaman itu ia gunakan untuk "terapi" bagi flora yang ia tanam di rumahnya. Kedua, ialah mengenai empat orang Guerrilla Gardeners (Tara Basro, Ismail Basbeth, Putri Ayudya & Ralmond Karundeng) yang menanam flora di banyak sekali sudut kota yang sudah "tenggelam" oleh beton dan semen. Untuk mengemas dua kisah itu, Amir Pohan bereksperimen dengan berfokus pada audiovisual. Kamera lebih sering menyoroti landscape pemandangan diiringi voice over Ladya Cheryl sedangkan ambience alam menggantikan scoring musik yang biasanya mengiringi suatu film. 
Normally, saya menyukai film semacam ini dan akan menyebutnya tontonan kontemplatif, indah, puitis, dan sebagainya. Tapi "Flutter Echoes and Notes Concerning Nature" tak pernah berhasil mencapai tujuan yang diharapkan. Sebagai tontonan yang mengedepankan olah rasa daripada pergerakan alur, filmnya gagal membawa saya terhanyut kedalam keindahan alam negara agraris yang dimaksudkan. Sinematografi-nya tak pernah memukau untuk film yang ingin mengeksploitasi keindahan visual. Begitu pula imbas bunyi yang bahkan nyaris tak terdengar. Mungkin saja kekurangan audio ini cukup dipengaruhi oleh bunyi AC yang begitu kencang di dalam ruangan, tapi faktanya saya tak mendengar ambience apapun yang sanggup menghipnotis. Disaat dua aspek "unggulan" ini sama sekali tidak unggul, jatuhlah filmnya. Dengan alur lambat nan sunyi (sering penonton hanya disuguhi adegan "artsy" ketika huruf tak "melakukan apapun") juga sisi surealisme, perlu ada poin yang mengikat penonton semoga bersedia menemukan makna lebih dalam. Film ini tak punya poin tersebut, dan saya pun mengalah dalam kebosanan.
Pada sesi Q&A, sempat ada penonton mengutarakan statement bahwa film ini layak diapresiasi lantaran tidak meng-underestimate penontonnya. Saya justru ragu. Apakah filmnya memang tidak menganggap penonton kurang bakir hingga berani mengambil jalur artsy, ataukah filmnya sok pintar. Karena beberapa adegan seolah diselipkan hanya demi memberi absurditas alur. Sebagai rujukan pada adegan pembuka (dan sedikit di tengah) ada subplot yang menyinggung ranah mistis tapi kemudian tak pernah dibahas lagi, sehingga terkesan random. Bukannya tanpa benang merah, lantaran mistis yang disinggung masih berkaitan dengan sisi lain dari alam, tapi dibandingkan momen lain, bab ini terasa out-of-place. Bahkan Amir Pohan sendiri menuturkan bahwa adegan ini diambil dari dokumenter yang tengah ia garap sehingga "tidak etis" jikalau dimasukkan terlalu banyak dalam film ini. Pertanyaannya, "kalau begitu kenapa harus dimasukkan?" Karena toh bab ini tidaklah signifikan. 

Banyak bakat berbakat mengisi jajaran cast, sebut saja Ladya Cheryl, Tara Basro dan Putri Ayudya. Ketiga aktris itu tersia-siakan potensinya. Tara dan Putri dengan kemampuan pendalaman huruf serta kesubtilan emosi yang dimiliki hanya ditugaskan menanam tumbuhan. Sedangkan Ladya Cheryl lebih "beruntung", lisan kedamaiannya sebagai mother nature yang menikmati nyanyian alam memang memberi keindahan. Adegan ketika ia menyiram flora sambil mengajak mereka bicara pun menjadi spotlight film ini. Ya, ketika adegan Ladya Cheryl menyiram flora ialah bab terbaik, pastinya ada yang salah dalam film tersebut. Begitu ingin saya mencintai "Flutter Echoes and Notes Concerning Nature" dengan potensi keindahan kisah puitis serta eksperimen bertuturnya. Sungguh. Tapi apa daya, disaat secara umum dikuasai "senjata utama" tak bekerja dengan baik, filmnya pun hanya berakhir sebagai satu setengah jam yang melelahkan. Punya niatan yang baik dan berbeda dengan film-film lokal lainnya, tapi niat baik dan berbeda saja tidak cukup.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Pengabdi Setan (2017)

Timbul dua pertanyaan sebelum menonton remake dari horor cult rilisan tahun 1980 karya Sisworo Gautama ini. Pertama, apakah bisa menandingi versi aslinya? Kedua, bisakah Joko Anwar, yang selama karirnya dikenal akan keunikan karya memberi pembeda di tengah minat publik terhadap horor lokal yang mulai tumbuh kembali? Jawaban bagi keduanya: bisa. Sebagai penggemar Pengabdi Setan (10 tahun mengejar restu Rapi Films membuat lagi filmnya) serta film genre, Joko tak sekedar mereka ulang, melainkan menyertakan sentuhan personal sembari tetap menghormati sumbernya. 

Sejak awal tanda nyata telah terpampang. Selain tata artistik yang ibarat biasa amat Joko perhatikan, kita tak pribadi diberi teror prematur. Sempat tampak Mawarni (Ayu Laksmi) terbaring sambil merapal sesuatu, namun itu merupakan siratan poin kunci alur dan penegasan tone ketimbang gebrakan buru-buru. Selebihnya pembagian terstruktur mengenai kondisi tiap anggota keluarga: penyakit Mawarni meredupkan karir bernyanyinya kemudian menyulitkan ekonomi keluarga, Rini (Tara Basro) mesti menjaga tiga adik laki-lakinya, Suwono si bapak (Bront Palarae) terpaksa menjual banyak sekali barang untuk hidup, Toni (Endy Arfian) rela mengesampingkan kepentingan pribadi, juga Ian (Adhiyat Abdulkhadir) si bungsu yang bicara menggunakan bahasa isyarat.
Karakter kerap dilupakan sineas horor, padahal kepedulian penonton atas mereka menghipnotis pembangunan tensi. Pula harus diingat, di balik sampul kengeriannya, Pengabdi Setan adalah dongeng kekeluargaan. "Keluarga di atas segalanya" merupakan poros penggerak. Begitu Mawarni meninggal kemudian menebar teror, kengerian berlipat ganda, alasannya yakni alih-alih pertarungan melawan entitas jahat biasa, karakternya dihadapkan pada sosok yang identik dengan kenyamanan, yaitu ibu. Kecerdikan Joko meleburkan sentuhan supernatural horor dengan nilai kekeluargaan menghasilkan rentetan momen mencekam yang turut mengaduk-aduk emosi, sebutlah "adegan sumur" atau keterlibatan dingklik roda ketika klimaks.

Terkait berbaliknya sosok ibu menebar ancaman, inilah kengerian Pengabdi Setan sesungguhnya. Setan bukan hanya menghantui lewat penampakan, namun mempermainkan psikis manusia. Sama halnya bagaimana remake ini memposisikan Ustad (Arswendy Bening Swara) selaku insan biasa, berbeda dibanding film aslinya, yang serupa horor lokal masa itu, menegaskan kekuatan mayoritas ulama atas iblis (selalu diakhiri pembacaan ayat suci yang menutup masalah). Pun tersimpan kritik subtil tapi sangat relevan nan sempurna target bagi pengultusan "pemuka agama" negeri kita berakal balig cukup akal ini.
Soal menakut-nakuti, Joko terang memutar otak semoga tiap momen berbeda satu sama lain. Ketiadaan repetisi membuat jump scare-nya efektif, setidaknya tak melelahkan. Terlebih mayoritas teror tersaji dalam suasana yang familiar, ibarat wudu, bermain view-master, dan pengajian pasca pemakaman. Menarik pula mendapati homage bagi judul-judul klasik, macam Dead Series-nya George Romero untuk membungkus kemunculan para mayit hidup. Ditambah lagi balutan atmosfer tiap lagu Kelam Malam atau lonceng terdengar. Tata riasnya juga patut diacungi jempol, membuat wajah-wajah mengerikan dengan dosis tepat, tidak berlebihan maupun terlampau malas. 

Walau Tara Basro, Bront Palarae, hingga Arswendi Bening Swara semuanya memberi penampilan solid, Nasar Anuz dan Adhiyat Abdulkhadir selaku pelakon cilik paling mencuri perhatian. Aktor cilik dalam film sering menjadi titik lemah lantaran kapasitas akting yang (wajar) belum terasah. Tapi keduanya begitu baik, bertingkah dan bertutur secara meyakinkan, dari mengekspresikan ketakutan hingga menangani celetukan menggelitik yang sesekali menyegarkan suasana tanpa memunculkan problem tone berkat ketepatan pembagian waktu. Bisa mencekam, bisa melucu. Pengabdi Setan memang paket lengkap, termasuk keberadaan detail-detail terselubung yang layaknya karya lain Joko, bisa memancing diskusi menarik. 


NOTE: 
  1. Kalau belum menonton filmnya, jangan buka kolom komentar. Banyak diskusi dengan SPOILER.
  2. Karena jumlah melampaui batas, kolom komentar dibagi menjadi lebih dari satu halaman. Klik "Lebih Baru" atau "Latest" untuk membuka halaman berikutnya.

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Hoax (2018)


Hoax sejatinya telah diputar di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2012, kemudian melanglang buana ke bermacam-macam pameran internasional sepanjang tahun berikutnya. Saat itu judulnya masih Rumah dan Musim Hujan. Enam tahun berselang, jadinya film ini rilis di bioskop komersil tanah air sesudah berganti judul serta beberapa kru termasuk editor dan penata musik. Perubahan yang tampaknya bertujuan supaya filmnya lebih gampang diakses penonton luas. Menurut yang telah menonton versi Rumah dan Musim Hujan (saya belum), Ifa Isfansyah selaku sutradara sekaligus penulis membagi alur menjadi tiga segmen terpisah.

Sementara dalam Hoax gaya narasi interwoven di mana tiap kisah hadir saling bergantian dipakai. Melihat porsi masing-masing karakter, ini keputusan tepat, lantaran kualitas antar segmen kurang berimbang. Ketika pengalaman Adhek (Tara Basro) begitu mencekam, pergolakan Ragil (Vino G Bastian) tampil lemah, miskin eksplorasi, pula tak solutif. Menyatukannya menciptakan ketiga dongeng saling melengkapi, menyokong satu sama lain, meski menjadikan permasalahan gres terkait lompatan tone. Tujuan awal Ifa memang merangkai tiga dongeng dengan warna dan genre berbeda.
Hoax dibuka oleh keceriaan buka puasa sekeluarga berkat permainan yang Bapak (Landung Simatupang) bawa dari Korea. Ifa sendiri pernah bersekolah film di Korea. Seusai buka bersama gres kita dihadapkan pada diam-diam para tokoh. Ragil yang tinggal bersama Bapak menyimpan fakta di balik kealiman yang mengungguli sang bapak yang menganut kejawen. Bapak menonton televisi, Ragil sudah siap berangkat solat. Bapak bermain wayang, Ragil membaca Al Qur’an. Kakaknya, Raga (Tora Sudiro), gemar berganti pacar dan kali ini giliran Sukma (Aulia Sarah) yang dibawa. Persoalan cinta pelik pun telah menanti. Sedangkan Adhek yang tinggal bersama Ibu (Jajang C Noer) mengalami insiden mistis sesampainya di rumah.

“Siapa yang Bohong?”. Demikian tagline film ini. Pertanyaan yang kita sendiri kerap lontarkan di tengah maraknya hoax bertebaran. Ambiguitas informasi mengenai ilmu pengetahuan, info sosial, seksualitas, hingga agama ditampilkan Ifa, menciptakan Hoax terasa relevan bagi kondisi sekarang. Sayang, aneka macam problem di atas belum cukup mencengkeram, terpampang kolam sampul semata tanpa mengindahkan dilema batin maupun ukiran sosial, khususnya terkait Ragil yang permasalahannya terkesan disederhanakan. Sebagai bingkai kondisi masyarakat Indonesia, Hoax cuma bermain di permukaan, tetapi sebagai penjaga tensi, penelusuran akan diam-diam para tokohnya bisa menjaga dinamika.  
Mengambil alih penyuntingan gambar dari Eddie Cahyono dan Greg Arya, Sentot Sahid berpadu dengan penyutradaraan Ifa memainkan intensitas melalui presisi gerak adegan. Banyak momen diakhiri oleh cliffhanger dan kejutan pemancing rasa penasaran. Eksperimen Ifa untuk membedakan pondasi genre tiap segmen pun menghasilkan alur yang acap kali mengecoh ekspektasi. Berbeda dengan Pesantren Impian, di sini Ifa piawai meramu atmosfer menegangkan melalui permainan tempo serta bahasa visual. Sebuah adegan yang mengatakan Ibu sedang solat menjadi puncak intensitas Hoax. Tentu ini tak terlepas dari akting Jajang C Noer. Gestur dan cara bicaranya mengundang kengerian di tengah rumah temaram tatkala identitas jadi hal yang dipertanyakan dan kebenaran nyaris tidak mungkin dipastikan. 

Pemain lain berakting solid sesuai porsi. Khusus untuk Tora, ia mengingatkan kita akan kapasitasnya yang tak terbatas sebagai komedian, pula bisa menjalani lakon serius. Jadi siapa yang bohong? Untungnya Hoax tidak mencoba menjawab gamblang pertanyaan itu, lantaran misteri terbaik yakni yang tidak seutuhnya terungkap. Demikian juga soal situasi remaja ini, bukankah makin sulit menebak siapa penyebar kebohongan, siapa pembawa kebenaran? Ifa menentukan setia terhadap realita tersebut demi menjaga relevansi karyanya di samping sebagai drama-thriller yang hadir menegangkan secara konsisten.