Showing posts with label Zendaya. Show all posts
Showing posts with label Zendaya. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Spider-Man: Homecoming (2017)

Melahirkan inkarnasi layar lebar ketiga sang insan laba-laba, Spider-Man: Homecoming mengemban satu tugas: menjadi berbeda. Jika versi Sam Raimi mengusung dongeng kepahlawanan berasaskan petuah "with great power comes great responsibility", sementara The Amazing Spider-Man tentang percintaan remaja, maka Homecoming membawa penonton mundur lebih jauh kala Peter Parker (Tom Holland) masih pelajar 15 tahun dengan responsibility berupa mewakili sekolahnya dalam lomba decathlon dan hobi merangkai lego Death Star bersama sahabatnya, Ned (Jacob Batalon). Di sisi lain Bibi May (Marisa Tomei) yaitu perempuan paruh baya menawan idola para laki-laki di Queens.

Sebagai pembeda lain yakni statusnya yang bukan origin movie. Asal kekuatan Peter dituturkan melalui percakapan singkat tanpa deskripsi detail. Civil War telah memberi warta dasar yang kita perlu tahu, sehingga film pun dibuka oleh perkenalan bagi Adrian Toomes (Michael Keaton). Rasa dendam kepada Tony Stark (Robert Downey Jr.) mendorong laki-laki pekerja biasa ini berkembang menjadi penjahat super berjulukan Vulture. Bersama anak buahnya, ia mencuri bermacam-macam teknologi sisa pertempuran Avengers, memodifikasi, kemudian menjualnya. Adegan pembuka ini meletakkan watu pijakan, menjelaskan bahwa dia bukan megalomania dengan hasrat menguasai dunia. Murni seseorang yang ingin menyambung hidup. Disokong akting lunatic Michael Keaton yang sanggup mengintimidasi lewat seringai belaka, kita menerima salah satu villain terbaik MCU yang dilengkapi penokohan dalam plus screen presence kuat.
Homecoming memang berusaha sekuat tenaga mengemas abjad beserta konfliknya serupa dunia nyata. Contoh lainnya Peter. Pasca mendapatkan kostum canggih dari Tony, ia terjebak problema cukup umur yang berhasrat mengambarkan diri pula mencuri hati gadis pujaannya, Liz (Laura Harrier). Baginya, mengejar penjahat yaitu acara menyenangkan, hingga aksinya justru kerap memancing kekacauan, mulai halaman rusak hingga mengancam nyawa ratusan orang di laut. Memperkenalkan Peter di tengah proses berguru menuju kematangan, membawa Homecoming menyentuh ranah dra-medi bernuansa coming-of-age. 

Marvel dikenal akan kebolehan memadukan kisah superhero dengan genre lain, kesannya tak mengejutkan kala DNA film cukup umur ala John Hughes (The Breakfast Club, Ferris Bueller's Day Off) mengalir deras di sini. Bahkan suatu adegan merupakan homage bagi salah satu karyanya. Dan layaknya remaja, semua ihwal bersenang-senang. Baik sewaktu menangkap pencuri sepeda atau meringkus perampok ATM, Spidey yang ramah nan gemar bicara selalu hadir, melahirkan versi layar lebar Spider-Man terbaik yang mewakili image "friendly neighborhood". Pun itu didukung performa Tom Holland. Sisi nerd Peter ditampilkan sempurna melalui penuturan kecanggungan yang sanggup diterima pula gampang dipercaya tak ubahnya orang kebanyakan. He's a likeable guy that looks ecstatic at almost everything and stuttered in a stressful situation. Bertatapan dengan si pujaan hati misalnya.
Naskah yang digarap oleh enam penulis turut memanfaatkan tiap sisi kehidupan cukup umur untuk menyuntikkan bobot dalam spectacle aksi di mana selalu ada motivasi atau latar mengarah ke sana. Ketika momen di Washington jadi perjuangan Peter berjuang demi pujaan hati, set-piece di atas kapal ferry menggambarkan puncak gejolak teen angst soal pergulatan pembuktian kapasitas. Barulah pada klimaks, pembuktian Peter menemui hasilnya. Di luar aspek remaja, naskahnya tidak ketinggalan menampilkan beberapa kejutan penambah keseruan, entah yang substansial membangun alur atau bumbu penyedap seputar keberlanjutan franchise dan tie-in terkait MCU secara lebih luas. 

Sayang komedinya tak semulus itu. Berusaha menyesuaikan dengan nuansa film remaja, baris leluconnya urung punya "daya bunuh" maksimal. Keinginan memberi tekstur lain dibanding installment MCU biasanya membawa keenam penulis terjebak keklisean humor teen movie. Hilang keunikan humor Marvel, digantikan perjuangan melucu yang dipaksakan hadir sesering mungkin hingga mendistraksi narasi utama. Begitu film usai, bentuk lawakan macam kegagalan Spidey menemukan daerah mengaitkan jaring  which is Marvel kind of comedy  justru lebih memorable. Tapi Zendaya jadi penyelamat, bersenjatakan gaya deadpan membawakan celetukan-celetukan pedas menggelitik.

Fokus pada eksplorasi kehidupan cukup umur mau tidak mau mengurangi kuantitas aksi. Meski menyimpan motivasi, bicara tensi, formasi agresi Homecoming adalah yang terlemah semenjak Thor: The Dark World (worst movie in MCU by far). Penyebabnya terkait visi Jon Watts yang terserang penyakit banyak mantan sutradara indie yang beralih menggarap blockbuster. Adegan aksinya yaitu medioker minim kreativitas juga intensitas yang diperparah titik puncak malas (juga kesalahan naskah) yang bergulir terlampau cepat. Sebagai kulminasi proses Peter, third act-nya tak mengatakan puncak heroisme yang semestinya merupakan resolusi. Walau kekurangan terkait action dan komedi menjauhkan Spider-Man: Homecoming dari kegembiraan luar biasa khas MCU, setidaknya tujuan menghidupkan lagi karakternya lewat versi berbeda telah terpenuhi. 

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Smallfoot (2018)

Saya tidak mengira bahwa Smallfoot, animasi semua umur yang disesuaikan dari buku Yeti Tracks karya Sergio Pablos yang mengimajinasikan kondisi di mana yeti melihat insan sebagaimana kita melihat mereka, merupakan tontonan tegas dan berani dalam menyindir orang-orang yang mengikuti kepercayaan—atau sebut saja agama—mereka secara buta. Bukan satir mendalam, lantaran akibatnya elemen tersebut sebatas diletakkan sebagai latar awal, tapi tetap saja, sungguh langkah berani yang mengejutkan.

Para yeti percaya bahwa mereka: a) tinggal di gunung mengapung yang disangga di atas punggung mamut raaksasa, b) lahir dari pantat yak raksasa nan agung, c) perlu membunyikan gong tiap pagi semoga siput bercahaya (yang kita sebut “matahari”) sanggup terbit. Semua fakta-fakta itu tertulis di batu-batu, yang berfungsi layaknya Bibel bagi yeti. Mereka percaya kerikil tak pernah salah tanpa mengecek kebenarannya sendiri. Sebab mirip di dunia kita, mewaspadai kerikil atau menginginkan klarifikasi lebih akan menciptakan seseorang dikutuk dan diasingkan oleh masyarakat.

Migo (Channing Tatum) merupakan putera penabuh gong yang setia menuruti hukum kerikil dan bercita-cita melanjutkan profesi sang ayah. Pun serupa kebanyakan penduduk desa, Migo yakin bila smallfoot alias insan tidak eksis. Mengapa? Pastinya lantaran itulah yang dikatakan batu. Sampai suatu hari sebuah pesawat terjatuh dan Migo melihat seorang manusia. Tentu warga desa tak mempercayainya, mirip halnya takkan ada yang percaya apabila kalian mengaku telah melihat yeti.

Migo akibatnya diasingkan lantaran menantang kebenaran yang dominan publik yakini. Sampai organisasi rahasia—yang nampak kolam perkumpulan penggila teori konspirasi—bernama S.E.S. (Smallfoot Evidentiary Society) yang diketuai oleh Meechee (Zendaya), puteri Thorp (Common) sang penjaga batu, mengajak Migo bergabung guna menandakan eksistensi smallfoot. Migo bersedia, kemudian nekat menuruni gunung terapung untuk menemukan fakta bahwa di bawah, terdapat peradaban lain yang dihuni manusia.

Dari sini, filmnya bergerak melintasi babak kedua dengan mengikuti formula petualangan ramah keluarga, meninggalkan kritik sosialnya di belakang, sebelum menyentuhnya lagi jelang akhir. Humornya pun beralih dari satir tajam menuju slapstick, yang berkat pengarahan solid sutradara Karey Kirkpatrick (Over the Hedge, Imagine That), berhasil memproduksi tawa. Satu kejadian tampil paling menonjol, yaitu sewaktu Migo bersusah payah menyeberangi jembatan gantung, yang elemen-elemennya seolah diambil dari textbook The Road Runner Show yang populer lucu, berlebihan, juga kreatif. Bahkan sebelumnya Migo sempat melayang memakai mesin jet pesawat Wile E. Coyote dengan roketnya.

Tapi hiburan paling enak dihadirkan sekuen musikalnya. Wonderful Life yang dibawakan Zendaya mengajak penonton mengarungi perjalanan indah nan magis melintasi semesta, sedangkan nomor rap Let it Lie dari Common menyuntikkan nuansa segar dan unik sembari membawa pesan besar lengan berkuasa yang turut berfungsi selaku eksposisi cerita.

Para yeti berguru lebih mengenai insan ketika Migo membawa Percy (James Corden), mantan presenter televisi tenar yang berharap salah satu videonya viral semoga kondisi keuangannya membaik. Ahasil, pertemuan dengan yeti menyerupai tambang emas baginya, meski di dikala bersamaan juga sebuah ujian terhadap sisi kemanusiaan (dan integritas) milik Percy. Seiring interaksi kedua spesies, kita pun mempelajari  bahwa mereka sejatinya serupa, menganggap satu sama lain sebagai monster. Satu lagi pesan penting dan relevan mengenai tendensi kebencian terhadap sesuatu atau seseorang yang (terlihat) berbeda.

Ikatan antara insan dan yeti sayangnya tidak pernah terasa cukup kuat. Berbeda degan karakternya, Smallfoot gagal mendobrak batasan bahasa guna menjalin hubungan pertemanan yang kuat. Konflik personal kedua pihak juga terasa bangun sendiri tanpa benar-benar saling melengkapi. Migo dan Percy, selaku protagonis yang mewakili sisi yeti dan manusia, tak pernah menyebarkan interaksi emosional, sehingga imbas rasa yang dimunculkan konklusinya tidak setinggi yang diharapkan.

Monday, November 5, 2018

Ini Lho The Greatest Showman (2017)

Silahkan buka Google, kemudian ketik "Ringling Bros. and Barnum & Bailey Circus" di kolom pencarian gambar. Anda akan melihat penari dan badut menggunakan kostum aneka warna, hewan-hewan melaksanakan atraksi, panggung dengan tata artistik meriah. Sirkus itu berhenti beroperasi semenjak 21 Mei 2017. Film debut sutradara Michael Gracey ini coba menghidupkan kemegahan serupa di layar lebar, melempar penonton ke 146 tahun kemudian dikala P. T. Barnum mendirikan Ringling Bros. and Barnum & Bailey Circus yang juga disebut "The Greatest Show on Earth". 

Daripada otentitas, pertunjukan Barnum (diperankan Hugh Jackman lewat karisma tanpa tanding) mengedepankan keajaiban semoga publik terperangah, terpukau, tertawa. "Penontonmu tampak lebih senang begitu keluar daripada dikala masuk", demikian ungkap Phillip Carlyle (Zac Efron), penulis naskah teater yang kelak jadi partner Barnum. Festive and fun entertainment. Itu tujuannya, tak peduli meski sedikit trik perlu diterapkan: menyumpal perut laki-laki tergemuk dengan bantal, memakaikan egrang di kaki laki-laki tertinggi. Bukan sepenuhnya penipuan, hanya melebih-lebihkan atas nama hiburan.
The Greatest Showman mengusung tujuan yang sama, sehingga musikal yaitu pilihan tepat, lantaran biopic formulaik takkan sanggup mewakili pesta pora di panggung Barnum. Untuk mencapai tujuannya, Pasek & Paul menulis lagu-lagu bertempo menghentak, riuh oleh instrumen serta gemuruh vokal para cast. Film ini menyadari potensi menjadi hiburan meriah, membuatnya berusaha keras (selalu) mengejar kemeriahan itu semenjak The Greatest Show selaku nomor pembuka berkumandang, ketimbang memilah menurut ketepatan emosi. Deretan lagu yang bagai versi overproduced dari Fall Out Boy yang sukar dibedakan satu sama lain pun dipoles terlalu mulus di studio, berujung melucuti emosi orisinil aktor. 

Tidak sanggup dipungkiri tata dekorasi yang melukiskan semarak sirkus di puncak popularitasnya mengundang decak kagum. Sinematografi isyarat Seamus McGarvey (Atonement, The Avengers) punya imaji lebih dari cukup guna merealisasikan pertunjukan visioner P. T. Barnum. Jajaran pemain juga penuh totalitas menangani kompleksitas tiap koreografi. Zendaya sebagai Anne, seniman trapeze, mudah menciptakan jatuh hati, sementara Lettie Lutz si Wanita Berjenggot mengajak kita bersorak mendukung seruannya. Namun bayangkan menonton La La Land yang seluruhnya terdiri atas momen epilog. Fenomenal, namun sihirnya tak bekerja maksimal bila disajikan terus menerus. 
This Is Me dan Rewrite the Stars merupakan nomor musikal paling berhasil, lantaran mengandung lebih dari sekedar kemegahan: melawan segregasi dan ungkapan cinta. Adegan Barnum dan sang istri, Charity (Michelle Williams) turut bicara soal cinta, tetapi purnama di langit serta tarian Williams menembus lembar-lembar seprai putih tidak seintim maupun seromantis pertukaran rasa Anne dan Phillip. Anne melayang lincah di langit-langit, seolah ingin terbang meninggalkan Phillip, namun tatapannya sulit lepas dari sang laki-laki kulit putih terpandang. Sedangkan Phillip terus berjuang menggapai cintanya. 

Naskah karya Jenny Bicks dan Bill Condon mungkin tidak memberi ruang guna meresapi jatuh-bangun kehidupan Barnum yang penuh gejolak pula kontroversi, tapi cukup untuk menciptakan penonton sebatas memahami. Dia mengumpulkan orang-orang terpinggirkan, menyediakan mereka kesempatan disorot layaknya bintang, lantaran ia sendiri dipandang sebelah mata. Dia berjuang lantaran enggan melihat puteri-puteri kesayangannya sengsara menyerupai dirinya dahulu, meski hal ini menyeret Barnum pada sisi gelap kesuksesannya. Barnum menyuguhkan hiburan, mengajak penonton tertawa, lantaran lelah mendapati keseharian yang terkekang oleh kesuraman.