Showing posts with label Adam Driver. Show all posts
Showing posts with label Adam Driver. Show all posts

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Logan Lucky (2017)

Sekembalinya dari hiatus, Steven Soderbergh menyuguhkan antitesis dari film terlaris sepanjang karirnya, Ocean's Eleven. Masih ihwal perampokan, hanya tanpa kemewahan, teknologi canggih, maupun keeleganan. Daripada ekspertis, karakternya merupakan sekumpulan orang kampung miskin berpakaian lusuh, cenderung bodoh, dengan seorang "ahli teknologi" yang tak dapat membedakan telepon genggam dan rumah, pula bangkit kesiangan di Hari-H. Pun Soderbergh turut mengubah James Bond menjadi kriminal liar. Logan Lucky tampil keren dan mengasyikkan tanpa perlu berusaha keras menjadi keren dan sok asyik.

Dalam naskah buatan Rebecca Blunt  nama samaran Jules Asner, istri sang sutradara  Channing Tatum memerankan Jimmy Logan yang gres saja dipecat dari pekerjaan konstruksi serta terbentur duduk kasus hak latih dengan mantan istrinya, Jo (Katie Holmes). Terhimpit soal ekonomi, Jimmy berencana merampok brankas di sebuah arena balap NASCAR dengan pinjaman kedua adiknya, Clyde (Adam Driver), bartender yang kehilangan tangannya di Irak juga percaya keluarga Logan dikutuk kesialan tak berujung dan Mellie (Riley Keough) si pegawai salon bermulut pedas. Turut direkrut ialah Joe Bang (Daniel Craig) yang tengah mendekam di penjara sebagai penyedia materi peledak. 
Jimmy, selaku otak misi, muncul dengan "10 aturan perampokan" yang terdiri dari "have a plan", "have a back-up plan" hingga "shit happens", membuktikan bahwa ia bukan seorang cerdas, sebagaimana cara filmnya menyusun heist, yang meski didasari perencanaan berlapis, keberhasilannya banyak melibatkan kebetulan dan kebodohan korban. Tapi filmnya memang tak mau berlagak pintar, dibentuk sebagai hiburan semaunya. Jangan lupa, kita sedang menonton film berjudul "Logan Lucky", bukan "Logan Smart" atau "Logan Genius". 

Skenario Blunt (atau Asner) lebih rapi dari kelihatannya, mengandung struktur sangat solid dalam mengaitkan bermacam-macam narasi yang berjalan beriringan. Selain sanksi perampokan, ada kembalinya pemmbalap Dayton White (Sebastian Stan), kontes yang diikuti puteri Jimmy, Sadie (Farrah Mackenzie), hingga kekacauan di penjara, yang berujung saling bertautan seiring penyelidikan oleh distributor FBI, Sarah Grayson (Hilary Swank). Sesekali, balutan komedi berbasis absurditas situasi dan obrolan ala Coen Brothers (tangan palsu yang terhisap mesin penyedot, obrolan mengenai Game of Thrones yang melewati bukunya) ikut meramaikan suasana.
Pasca tiga tahun absen, rupanya Soderbergh sama sekali belum kehilangan sentuhan, menggerakkan alur dengan semangat bersenang-senang penuh energi sembari tetap memperhatikan ketelitian bernarasi. Filmnya liar namun gampang dicerna, urung tersesat dalam alur serta kejutan berlapis miliknya. Mewakili jiwa Logan Lucky, ketimbang mengikuti template musik heist pada umumnya, iringan lagu-lagu country yang lebih renyah dan "mentah", dengan Take Me Home, Country Roads sebagai jiwa inti pun diterapkan, menghasilkan perbedaan sisi estetika yang istimewa. 

Kekuatan Soderbergh dalam hal mengarahkan ensemble cast juga masih terang terpampang, memberi kesempatan bersinar tiap-tiap dari mereka. Tatum dengan aksen Southern-nya, Driver dengan ketertutupan yang canggung, dan Craig selaku pencuri perhatian melalui sisi eksentrik penghilang kekhawatiran kalau James Bond membatasi jangkauan perannya. Bahkan peran-peran kecil yang dilakoni Seth MacFarlane dan Hilary Swank pun urung berlalu tanpa kesan. Nama yang disebut terakhir mencuatkan potensi terkait sekuel menarik walau perolehan Box Office rasanya membunuh cita-cita itu. Tapi bagi Soderberg yang merevolusi sinema independen lewat Sex, Lies, and Videotape, berani membuat ulang Solaris-nya Tarkovsky, dan mengakibatkan Sasha Grey pemain utama di The Gilrfriend Experience, tak ada kemustahilan.

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Star Wars: The Last Jedi (2017)

Lebih dari satu masa lalu Georges Méliès memperkenalkan sinema fiksi-ilmiah lewat A Trip to the Moon, publik sadar bahwa film bisa lebih dari sekedar cerminan keseharian yang mendominasi masa awal perfilman. Film bisa menciptakan terpana melalui petualangan kaya imajinasi, pula memancing segala jenis emosi manusia. Itulah pemicu kesuksesan Star Wars dahulu, ketika George Lucas mengajak penonton menuju galaksi nun jauh di sana, di mana dunia serta isinya tampak asing dan gres tetapi perasaan dan usaha karakternya sama dengan kita. 

Melompat ke 2017, kesan itu masih terjaga. Pertempuran pembuka dahsyat kala pesawat pengebom milik Resistance dimbombardir kapal perang First Order hingga laga babat lightsaber yang koreografinya makin dinamis akan menahan nafas penonton. Sementara tanah berlapis garam merah di Planet Crait daerah titik puncak berlangsung merupakan pola kesejukan fantasi yang dijaga keberlangsungannya oleh visi Rian Johnson (Brick, Looper). Di tangan Johnson, tidak ada agresi selipan. Semua kolam pertunjukan utama penuh kepekaan artistik pun rasa. Seisi bioskop terkesiap ketika kecepatan cahaya yang identik dengan alat melarikan diri digunakan untuk membelah kapal induk raksasa. Teriakan penonton terdengar jelas, alasannya alih-alih musik menggelegar, Johnson menentukan meniadakan suara. 
Deretan peperangan itu ada di luar jangkauan kehidupan nyata, tapi tentu kita pernah disentuh oleh gejolak ambiguitas kebaikan versus keburukan ibarat yang dialami Luke (Mark Hamill), kemudian Rey (Daisy Ridley). Luke menganggap eksistensi Jedi dan pihak-pihak lain yang mengaku berada di "sisi putih" justru bertanggungjawab melahirkan "sisi hitam". Sebaliknya, Rey bersikukuh Jedi diharapkan demi menghentikan tirani First Order. Rey sendiri dihantui setumpuk problem batin, dari mencari identitas orang tuanya, hingga mellawan godaan Kylo Ren (Adam Driver) semoga beralih ke sisi gelap. 

Snoke (Andy Serkis), pimpinan tertinggi First Order yang sekarang tidak muncul sebagai hologram raksasa melainkan duduk di singgasana, dalam ruang berdinding merah yang memberikan puncak pencapaian tata artistik The Last Jedi masih menjadi musuh utama. Resistance, di bawah pimpinan Jenderal Leia Organa (Carrie Fisher) makin tersudut, memaksa Finn (John Boyega), Poe (Oscar Isaac), dan Rose (Kelly Marie Tran) melangsungkan misi rahasia untuk menyabotase pesawat First Order. 
Kisah maupun problematika personal karakternya semakin kompleks, kuantitas pun bertambah. Bahkan sebelum klimaks, fokus alur sempat terbagi di tiga titik, yang berkat kepiawaian Johnson menulis naskah serta menyusun narasi visual, sanggup terjalin rapi sekaligus memberi porsi merata bagi tiap tokoh, baik itu Vice Admiral Holdo (Laura Dern) hingga Rose si mekanik yang awalnya tampil selaku penyegar suasana sebelum diberi porsi dramatik, termasuk obrolan dengan Finn di beranda kasino yang turut menegaskan kapasitas Johnson menulis obrolan penuh makna. 

Banyaknya tokoh dan konflik yaitu penyebab durasinya mencapai 152 menit, yang urung terasa usang berkat dinamika konsisten bersumber kekayaan emosi. Kadar humor termasuk penempatannya tepat, khususnya keputusan jitu memanfaatkan bakat komedik Mark Hamill di beberapa kesempatan. Star Wars kerap menyimpan cinta bagi sosok hewan, tak terkecuali The Last Jedi. Mata jadi media "berbicara", dari menggemaskannya Porg atau Falthiers yang seolah bisa memberikan pilu dan keramahan. Makhluk asing yang sanggup menciptakan penonton percaya mereka mempunyai jiwa. Ini salah satu alasan trilogi aslinya dicintai sedangkan prekuelnya tidak. 
Namun Johnson tidak lupa bahwa The Last Jedi bercerita mengenai peperangan janjkematian melawan penindas kejam. Selain tawa, kita pun dihantam ketegangan tatkala karakternya menghadapi rintangan berat. Berulang kali The Last Jedi merangsek menuju keputusasaan yang seolah tanpa jalan keluar, kemudian melambungkan kita lewat sederet momen pemancing sorak sorai sarat kejutan. Berbagai twist film ini bukan hanya mencoba mengejutkan, menjadi Istimewa alasannya menggambarkan betapa di tengah kekacauan dan pertikaian kompleks, perilaku seseorang sulit diduga. 

Bila The Force Awakens mengetengahkan nostalgia, The Last Jedi menatap masa depan sembari menghormati warisan masa lalu. Kental penghormatan tapi tak lupa mengajak melangkah maju. Pula merupakan surat cinta untuk mendiang Carrie Fisher, di mana sebuah adegan indah nan menyentuh menyatakan bahwa dalam dunia tanpa batas Star Wars, janjkematian nampak tak berdaya di hadapan General Leia Organa. Saya menentukan mengesampingkan beberapa kelemahan kecil dan memberi Star Wars: The Last Jedi nilai tepat sesudah mengajukan pertanyaan "apa lagi yang saya harapakan?"