Showing posts with label Alim Sudio. Show all posts
Showing posts with label Alim Sudio. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Ananta (2018)

Mengadaptasi Ananta Prahadi buatan Risa Saraswati yang merupakan satu-satunya novel roman sang penulis, Ananta berpotensi memaparkan kisah indah ihwal kebaikan dalam hidup, mengenai laki-laki yang menaruh hati pada seorang wanita, bukan (cuma) lantaran parasnya, pun melalui karyanya, di mana sisi terdalam sekaligus ungkapan rasa paling jujur perempuan itu tertuang. Kisah yang murni nan indah, andai konklusinya tidak terjerembab ke kubangan dramatisasi klise dan tak perlu menjelang akhir, yang juga upaya penggampangan guna menutup cerita. Ganti Fero Walandouw dengan Dimas Anggara, pindahkan lokasi ke luar negeri, maka anda akan mendapatkan produksi MD Pictures rasa Screenplay.

Adegan pembukanya membawa kita ke dalam kelas daerah Tania (Michelle Ziudith) berada. Kelas itu terasa asing. Siswa dan seorang guru seni yang diperankan Astrid Tiar memenuhi ruangan, tapi saya tidak merasa dikelilingi manusia. Mereka yaitu karikatur. Ibu guru yang mencela murid panjang lebar di tengah jam pelajaran, Tania si jago lukis yang dipandang aneh,  menutup diri, tapi sanggup tiba-tiba melontarkan ungkapan bernada sinis kala guru tengah menjelaskan. Sama halnya dengan sang titular character, Ananta Prahadi (Fero Walandouw), bocah kampung polos yang berusaha keras berteman dekat dengan Tania meski selalu mendapatkan perlakuan sinis.
Fero membawakan kiprahnya dengan mengikuti formula akting cukup umur kampung yang senantiasa bersikap sopan dengan postur badan sedikit membungkuk dan senyum yang kolam takkan sirna. Sementara Michelle Ziudith, berpegang teguh pada buku pedoman “How to Act Like Michelle Ziudith”, lancar menjalani tangisan demi tangisan, juga bentakan demi bentakan. Tania memang lebih identik dengan tangisan serta bentakan ketimbang talenta melukisnya, lantaran filmnya sendiri, meski punya tokoh utama seorang seniman “pemain warna”, urung memanfaatkannya demi membuat bangunan visual menarik. Belum lagi, menengok lukisan Tania, walau menarik, rasanya bukan hasil karya yang bakal membuat kurator asal Yogyakarta terbuai, kemudian mengatakan festival tunggal.

Ananta memang problematik, sampai masuk fase pertengahan tatkala naskah Alim Sudio (Ayat-Ayat Cinta 2, Surga Yang Tak Dirindukan 2) mulai menaburkan bumbu komedi. Selain efektif memancing tawa, komedinya membuat rentetan kekurangan di atas sanggup diterima, lantaran kesan karikatur untuk sebuah aksara lebih sempurna mengisi suguhan komedik daripada dramatik. Pun berkatnya, Asri Welas sebagai Bik Eha, pembantu Tania, berkesempatan unjuk gigi mencuri perhatian di tiap adegan yang melibatkannya. Kemudian hadirlah sang kurator asal Yogyakarta, Pierre (Nino Fernandez), yang memancing saya berprasangka jelek jika Anata bakal melangkah menuju konflik standar cinta segitiga. Untung saya keliru.
Kebersamaan Ananta-Tania-Pierre justru memunculkan titik non-komedik terbaik filmnya, sewaktu Ananta menampilkan sebuah bentuk kebahagiaan sederhana: duduk di bawah cahaya matahari yang bersinar seterang senyum penuh kedamaian ketiga karakternya. Keputusan sutradara Rizki Balki (A: Aku, Benci, dan Cinta) menekankan pada kehangatan suasana terbukti tepat. Saat itu Tania membawa Pierre dan Ananta mengunjungi ruang fantasinya, sambil ditemani musik gubahan Joseph S. Djafar (London Love Story, The Perfect Husband) yang memancarkan imaji serupa. Musiknya membuat saya seolah diajak mengunjungi dunia dongeng walau sekilas. Bermodalkan karismanya, Nino Fernandez tampil meyakinkan sebagai laki-laki yang menyikapi dengan tenang khayalan liar Tania, seolah segalanya penggalan dari rutinitas yang selalu Pierre hadapi.

Sampai datanglah twist ganda yang seketika merobohkan pondasi kisah, secepat kilat menyeret Ananta ke titik nadir. Melodrama kita punya dua senjata andalan pencipta nuansa dramatis mengharu biru, yaitu korelasi diam-diam antar aksara yang dipenuhi kebetulan serta eksploitasi kondisi medis. Tidak tanggung-tanggung, Ananta meleburkan kedua senjata tersebut. Pasca konklusi terungkap, motivasi Ananta bergeser, dari kebaikan hati yang nrimo lantaran kasih sayang, menjadi kebaikan yang terjadi lantaran faktor eksternal ditambah ketiadaan pilihan bagi karakternya. Ananta ditutup secara mengecewakan, dan saya masih menantikan momen Anjasmara menerima film anggun sesudah memutuskan kembali ke layar lebar.

Ini Lho Kuntilanak (2018)

Dalam horor, momen ketika kamera dan/atau abjad bergerak lambat menghampiri sumber bunyi atau bayangan misterius atau apa pun yang takkan didekati insan normal di dunia nyata, berfungsi memupuk ketegangan dan antisipasi. Sebagai ganti tempo lambat itu, mesti disiapkan penebusan, di mana jump scare kerap jadi primadona. Apabila gagal memberi penebusan setimpal, penonton hanya akan ditinggalkan bersama rasa bosan, yang makin melelahkan jikalau kegagalan terjadi berulang kali, kemudian berkembang jadi kekesalan sewaktu kuantitasnya melebihi batas normal. Sutradara Rizal Mantovani (trilogi Kuntilanak, Jelangkung, Bayi Gaib: Bayi Tumbal, Bayi Mati) dan tim memahami poin di atas, sehingga Kuntilanak sedikit lebih baik dari rentetan horor anyir belakangan, meski kalau melihat judul-judul pembanding, “sedikit lebih baik” bukan prestasi membanggakan.

Lima anak penghuni panti asuhan, Dinda (Sandrinna M Skornicki), Kresna (Andryan Bima), Ambar (Ciara Nadine Brosnan), Panji (Adlu Fahrezy), dan Miko (Ali Fikry) harus berpisah sejenak dengan ibu didik mereka, Donna (Nena Rosier) yang mesti bepergian ke Amerika selama 3 minggu. Sebagai pengganti, Lydia (Aurelie Moeremans) diminta menjaga mereka. Jangan berharap Lydia maupun kekasihnya, Glenn (Fero Walandouw), si pembaca program horor di televisi—yang bertanggung jawab membawa cermin terkutuk daerah kuntilanak bersemayam ke panti asuhan—mendapat porsi banyak. Kuntilanak memang berpusat pada tokoh anak, layaknya IT (2017) atau karya-karya klasik Steven Spielberg.

Cermin penebar teror tersebut berasal dari sebuah rumah berjulukan “rumah kuntilanak”, yang dipercaya ditinggali sesosok kuntilanak yang menyebabkan hilangnya seorang bocah 4 bulan lalu. 4 bulan yang bagaikan 4 tahun melihat kondisi rumah yang bahkan telah diselimuti akar-akar besar entah dari mana. Tentu rumah ini terbengkalai, walau fakta itu terasa membingungkan ketika pemilik lamanya tiba-tiba muncul memergoki kelima protagonis kita yang tengah masuk guna menandakan keberadaan kuntilanak. Kebingungan lain: siapa hantu-hantu selain kuntilanak yang rutin mengganggu belum dewasa itu tiap malam? Misalnya Hantu Penari yang muncul di tengah upaya Rizal memberi homage bagi Poltergeist. Wujud serta modus operandinya terang berbeda dibanding kuntilanak yang mitologinya diperkenalkan ke penonton.

Beberapa momen jump scares sanggup dikemas cukup solid oleh Rizal dengan segelintir di antaranya mempunyai daya kejut tidak mengecewakan berkat timing tidak terduga. Kebanyakan berujung datar, tanpa penebusan setimpal sebaimana telah dibahas di awal tulisan, tapi setidaknya kita sanggup melihat bahwa Rizal bukan sineas horor malas yang asal melemparkan hantu sedekat mungkin ke layar. Sayangnya, tatkala film versi usang yang dibintangi Julie Estelle dahulu memperkenalkan penonton akan desain kuntilanak dengan rasa fantasi, di sini sang titular ghost tampak medioker, kurang mengerikan, gampang dilupakan. Pernyataan yang disebut terakhir sanggup didebat, alasannya yaitu paling tidak saya bakal selalu mengingat kuntilanak di sini sebagai “hantu perempuan berjidat lebar itu”.

Alim Sudio (Guru Ngaji, Ananta, Ayat-Ayat Cinta 2) selaku penulis naskah mungkin urung membangun pondasi dongeng kokoh. Misterinya tak meninggalkan ingin tau dan antusiasme, unsur drama keluarganya berlangsung hambar. Tapi berkatnya, Kuntilanak bukanlah satu lagi horor yang tersusun atas fragmen-fragmen jump scare overdosis yang digabungkan paksa. Ada jembatan berbentuk perjuangan memantapkan kekerabatan antara bocah-bocah panti asuhan melalui sederet humor yang lebih efekif memancing tawa ketimbang jump scare-nya dalam memancing kengerian, khususnya celetukan-celetukan “semaunya” dari Ciara Nadine Brosnan selaku bintang film Ambar si bungsu, walau keputusan Rizal menyelipkan imbas bunyi plus musik konyol khas sinetron tiap humor tersaji terasa mengganggu. Ini bukan Tukang Ojek Pengkolan.

Ada kepolosan menggelitik dalam celetukan Ambar, berbeda dengan di banyak kesempatan ketika naskahnya memaksa belum dewasa ini bicara, menjelaskan mitologi kuntilanak bagai orang dewasa. Klimaksnya (baca: penebusan terhadap keseluruhan film) juga terganggu duduk masalah serupa. Bermaksud menghadirkan kekacauan menyenangkan, kilmaks film ini justru berakhir sebagai kekacauan murni jawaban percakapan-percakapan—atau tepatnya teriakan-teriakan—tak perlu yang dilontarkan para protagonis selaku penjelas verbal bagi seluruh hal yang tengah terjadi. Tidak, kalimat yang terlontar dari lisan belum dewasa tidak semestinya kaku dan membosankan. Sebaliknya, acap kali menarik, tak terduga, absurd, menggelitik, pastinya lebih menghibur dari (film) ini.

Ini Lho Dimsum Martabak (2018)

Meniliki judulnya, masuk akal menerka Dimsum Martabak ialah suguhan foodporn penuh pertunjukan masak-memasak dan menyajikan makanan, yang berkat estetikanya, tak cuma menyegarkan mata, juga memancing kucuran air liur. Tapi tidak. Sutradara Andreas Sullivan (Revan & Reina, Sawadikap) enggan mengedepankan itu, atau mungkin telah berusaha, namun alasannya ialah ia dan Fachmi J. Saad (Hongkong Kasarung, Winter in Tokyo) selaku penata kamera kurang mumpuni, sasaran yang dicanangkan urung tercapai. Dimsum dibuat, martabak disajikan, tapi seluk beluk pengolahan hanya terjadi di belakang layar, menciptakan produksi kedua RA Pictures ini belum layak disebut foodporn.

Dimsum Martabak cenderung menyusuri jalur yang dibentangkan formula klasik “Kisah Cinderella”, di mana gadis (atau puteri) miskin bertemu lelaki (atau pangeran) kaya, meski ketimbang kuda putih, sang pangeran sekarang menunggangi truk martabak kuning kemudian Ferrari merah. Walau untuk menyebut Mona yang diperankan Ayu Ting Ting, dengan riasan lengkap apik, bukan norak, yang senantiasa menghiasi wajahnya sebagai “gadis miskin” terasa sulit dipercaya. Tidak peduli ia sekedar pelayan terpercaya di restoran milik Koh Ah Yong (Chew Kin Wah) yang menyajikan dimsum sebagai sajian andalan.

Jika Mona ialah “si dimsum”, maka siapakah “si martabak”? Perkenalkan Soga (Boy William) yang menjual martabak menggunakan truknya bersama Dudi (Muhadkly Acho). Dodi, sebagaimana teladan sidekick yang baik, bisa mencuri perhatian melalui celotehan-celotehan serta tingkah menggelitik, yang jadi motor paruh pertama filmnya, menghadirkan hiburan ringan menyenangkan sebelum dimsum dan martabak bersatu. Pada romansa berbasis “kisah Cinderella” begini, tiga fase patut diperhatikan: 1) Bagaimana kedua protagonis mulai saling terpikat walau ada jurang perbedaan, 2) Bagaimana cinta keduanya menguat, 3) Bagaimana perbedaan tadi menciptakan keduanya ragu bisa terus bersama sebelum dipersatukan kekuatan cinta. Penonton harus dibentuk yakin oleh ketiga fase di atas.

Fase pertama terjadi kala Mona, yang kebetulan di suatu malam mengenakan baju yang lebih bagus dari biasanya, menyeberang jalan dan nyaris tertabrak truk milik Soga yang hanya bisa membisu terpukau, sementara Mona, meski terkejut alasannya ialah nyaris celaka, merespon setenang mungkin, sembari tersenyum memasang lirikan cantik. Tidak mengherankan. Dia ialah gadis yang terbangun pukul 1 dinihari menggunakan riasan lengkap termasuk bulu mata lentik. Dibalut gerak lambat, pertemuan pertama dua sejoli tak bisa “lebih sinetron” dari ini.

Singkat cerita, kecemburuan istri kedua Koh Ah Yong mengakibatkan Mona dipecat, dan alasannya ialah Soga telah terpikat, gampang baginya mendapatkan Mona bekerja di warung martabaknya sebagai perancang sistem. Dalam sebuah adegan yang terang terinspirasi (kalau enggan disebut mengambil) dari The Founder (2016), Mona mengajarkan sistem buatannya di tengah lapangan yang digambari menggunakan kapur. Bedanya dengan film biografi Ray Kroc itu, adegan versi Dimsum Martabak takkan membuatmu terpukau, alasannya ialah ide Mona sekedar common sense ketimbang terobosan jenius, pun pengemasan Andreas gagal menjadikannya momen intens yang melibatkan penonton dalam proses perencanaan.

Rasanya tidak mengejutkan ketika saya menyebut duet Ayu-Boy kekurangan chemistry. Keduanya sebatas pasangan berparas rupawan tanpa jangkauan emosi luas yang diperparah penokohan dangkal dari naskah buatan Alim Sudio (Kuntilanak, Ayat-Ayat Cinta 2). Mona ialah gadis sederhana yang memahami sistem warung makanan, Soga ialah bocah kaya yang menolak meneruskan bisnis ayahnya (Ferry Salim) demi harapan pribadi. Itu saja. Nihil karakterisasi spesifik pemberi daya tarik kala berinteraksi. Memang sulit berharap pada naskah yang dalam dialognya menulis “pesan order” dan “paling terberat”. Walau bukan tak mungkin dua istilah asing itu dikarang sendiri oleh Ayu, sebagai teladan betapa ia masih kerepotan menangani kalimat-kalimat pada debut layar lebarnya.

Konflik puncaknya sederhana, bahkan berjalan datar hasil penyutradaraan Andreas yang kurang piawai membangun dinamika dramatis juga ketidakmampuan naskah menyelipkan permasalahan kompleks yang ditutup oleh resolusi kental penggambangan. Babak balasannya berpindah ke setting berbeda, tapi ketika itu saya sudah kesulitan membuka mata. Ya, ini lebih pantas ditayangkan di televisi, tapi kalau anda tak mengharapkan tontonan bergizi, filmnya masih menjadi hiburan yang layak dengan segala keklisean dan elemen cheesy miliknya. Masalah terbesar bukan terletak di kedangkalan maupun kebodohan cerita, melainkan ketiadaan dinamika. Dimsum Martabak bukan bencana. Cuma santapan membosankan.

Ini Lho Rasuk (2018)

Jamaknya, poster mempunyai kegunaan selaku media promosi untuk menarik penonton, memberi sekilas citra mengenai konten suatu film. Tapi Rasuk, selaku produksi campuran keempat Dee Company bersama MD Pictures mengangkat esensi poster ke tingkatan lebih jauh, yakni memprediksi apa yang penonton rasakan kala menyaksikan filmnya. Jika Shandy Aulia tampak ketakutan tanggapan ditarik sosok-sosok misterius, saya terjerat keburukan demi keburukan Rasuk yang tak butuh waktu usang untuk memancing frustrasi. Tapi film ini patut dirayakan sebagai menerangkan kembalinya Dheeraj Kalwani menuju jati dirinya sebagai KKD yang kita kenal, puja, dan sayangi bersama.

Tentu Gasing Tengkorak (2017) dan Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati Bayi Hidup Lagi Bayi Prematur Bayi Setan (2018) jelek (saya melewatkan Kembang K*nt*l), namun film garapan Ubay Fox (Valentine) ini paling mendekati mahakarya Baginda Yang Termahsyur KK Dheeraj. Adegan yang dikemas sedemikian gila berpadu penyuntingan gambar tak kalah gaib? Ada. Hantu dengan riasan bagai bubur basi? Ada! Andai Rasuk dirilis satu dekade lalu, Alexis Texas, Lexi Belle, atau Sunny Leone mungkin bakal direkrut sebagai cameo, sementara judulnya berubah jadi Kerasukan Arwah Datang Bulan, atau semacamnya.

Rasuk yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Risa Saraswati, dibuka lewat presentasi sinematografi paling anggun sepanjang film, walau konteksnya layak dipertanyakan, dan gres dijawab menjelang akhir, itu pun tetap tak masuk akal. Tapi ini film KKD. Alangkah baiknya demi kesehatan penonton, budi serta daypikir disimpan rapat-rapat. Kala situ Langgir (Shandy Aulia) berada di atas gunung, mengenakan gaun putih anggun tanpa bantalan kaki. Awal yang menjanjikan, sayangnya Rasuk merupakan film cerita, bukan video pre-wedding. Pasca kematian sang ayah, Langgir mulai membenci dunia, alasannya merasa sang ibu menyalahkannya atas insiden itu. Akibatnya, Langgir senantiasa murung, bersikap ketus pada semua orang.

Semua orang kecuali Abimanyu (Miller Khan), laki-laki yang rahasia ia sukai. Di depan Abimanyu, Langgir berubah ceria, atau lebih tepatnya, Shandy Aulia kembali menjadi Tita di Eiffel...I’m In Love. Selain Abimanyu, simpel Langgir bersikap tak menyenangkan di depan orang lain. Dia membentak adik tirinya yang masih balita, menyatakan ketidaksukaan pada keluarganya, yang menurutnya dipenuhi kebencian (meski sejatinya Langgir sendirilah yang penuh rasa benci), pun kesal setengah mati kepada sahabat-sahabatnya. Kenapa? Karena bagi Langgir kehidupan mereka terlampau sempurna. Oh, dan beliau pribadi mengamuk ketika tahu Abimanyu berpacaran dengan salah satu sahabatnya, padahal sedikitpun tidak pernah ia bercerita pada mereka.

Bagaimana dapat menaruh simpati untuk Langgir, yang bukannya tokoh tertindas, melainkan gadis menyebalkan, egois, enggan bersyukur, juga bersikap pahit terhadap seala hal? Bukan berarti huruf lainnya lebih baik. Sambutlah geng “Puteri Sejagat”, empat gadis termasuk Langgir, yang mesti menghadapi lawan luar biasa berat berupa dialog-dialog dalam naskah goresan pena Alim Sudio (Dimsum Martabak, Kuntilanak), yang penuh kalimat tidak natual berisi perpaduan asal gaya kasual dan resmi, yang kolam ditulis seseorang dengan pemahaman minim wacana interaksi insan sehari-hari. Keempat protagonis kita begitu gembira dengan nama “Puteri Sejagat”, sewaktu bertemu perempuan misterius di hutan, hal pertama yang dilakukan ialah berkenalan kemudian berkata, “kami berempat Puteri Sejagat”, ketika seharusnya mereka membaca doa sapu jagat kemudian kabur sejauh mungkin.

Alkisah, “Puteri Sejagat” ingin berlibur ke sebuah villa. Sayang seribu sayang, jembatan yang mesti dilalui putus, dan dengan begitu berani, keempatnya memasuki hutan. Bisa ditebak, mereka pun tersesat. Tapi tenang, setidaknya papan penunjuk jalan sudah menyebut villa tujuan mereka berada di Utara. Masalah timbul ketika jalan bercabang. Kompas sudah mengatakan mana arah Utara, tapi feeling salah satu anggota “Puteri Sejagat” berkata kalau Selatan ialah arah yang tepat. Mana yang alhasil dipilih? Tentu saja Selatan. Percayalah pada kata hatimu. Persetan dengan kompas dan papan kayu. Tahu apa benda-benda mati itu soal arah.

Luar biasa terbelakang para tokoh utama kita, hingga elemen persahabatan ditambah pesan mengenai “semua punya masalah, jangan menerka dirimu paling menderita” terkubur bersama arwah penasaran, yang tiap kali muncul, disertai gebrakan efek bunyi memekakkan telinga. Bahkan tatkala hantu muka bubur busuk tak muncul menyerang “Puteri Sejagat”, indera pendengaran kita terus saja diserang tata bunyi berisik tersebut. Mungkin pembuat filmnya mengira, jikalau volume ditingkatkan ke titik maksimal, penonton bakal tertipu, menerka di layar sedang terjadi sesuatu. Di sebuah kesempatan, Langgir memarahi teman-temannya alasannya berteriak meminta bantuan. “Berisik!”, begitu ucapnya. Wahai Langgir, itu pula yang ingin saya sampaikan pada film ini.

Sekitar 90% dingklik penonton terisi dan nyaris semua terhibur, selalu berteriak ketakutan. Kondisi ini dapat memicu anggapan, “mengapa repot-repot menciptakan film bagus kalau suguhan berkualitas rendah macam ini pun laris keras dan disukai?”. Melalui Rasuk, KKD seolah mengacungkan jari tengah kepada penonton film Indonesia yang peduli dan mengharapkan tontonan berkualitas. Tapi kalau anda tetap penasaran, saya sarankan tiba saja ke bioskop dengan tata bunyi terbaik yang menayangkan film ini. Begitu film dimulai, tidak perlu masuk, cukup duduk di samping studio. Pasang indera pendengaran baik-baik, dan anda tetap dapat mendengar gempuran-gempuran tata suaranya. Tidak perlu menyaksikan gambarnya, toh pembuatnya merasa, teror dalam horor dapat dicapai lewat gelaran musik berisik saja. 

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho A: Aku, Benci, Dan Cinta (2017)


Perbedaan tipis benci dan cinta, gangguan-gangguan mengesalkan yang ternyata bentuk lisan malu-malu atas perasaan suka, tentu kita familiar dengan rupa-rupa gejolak asmara kawula muda semasa Sekolah Menengan Atas di atas. Dalam A: Aku, Benci, dan Cinta, kondisi serupa dialami Anggia (Indah Permatasari) dan Alvaro (Jefri Nichol). Anggia setengah mati membenci Alvaro, pemuda paling terkenal di sekolah sekaligus ketua OSIS dengan Anggia sebagai wakilnya. Baginya Alvaro tak berotak maupun hati, hanya playboy bermodal tampang penggoda belasan cewek naif yang telah menjadi korbannya. Apalagi, Alvaro kerap sengaja memancing amarah Anggia.


Polanya bisa ditebak. Alvaro sejatinya menyimpan cinta, begitu pula Anggia yang balasannya luluh juga. Keduanya hanya terlalu ragu atau gengsi mengakui apalagi mengungkapkan isi hati. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Alvaro menyimpan diam-diam perihal persahabatan dengan Alex (Brandon Salim) dan Athala (Amanda Rawles), bagaimana tiga sahabat itu terpecah akhir cinta segitiga, serta kondisi Athala yang telah beberapa usang koma di rumah sakit. Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Wulanfadi, debut penyutradaraan Rizki Balki ini mengandung setumpuk potensi pembeda jikalau dibandingkan lebih banyak didominasi romansa putih abu-abu. 
Komedinya segar. Dasar inspirasi dari naskah buatan Alim Sudio (Surga Yang Tak Dirindukan 2, Jilbab Traveler, Pesantren Impian) bisa diwujudkan oleh Rizki Balki menjadi serangkaian sempilan momen abstrak hasil imajinasi karakternya, misal ketika Anggia dikuasai rasa aib hingga ingin loncat dari atap sekolah. Didukung pula kebolehan Indah Permatasari memerankan cewek galak cenderung berangasan yang jangankan murka sambil berteriak, bogem mentah pun tidak ragu beliau lemparkan. She could be our future romcom queen. Para pembuatnya sadar betul keunggulan sisi komedik filmnya, menumpahkannya sebanyak mungkin, yang saking efektifnya, kerap mendistraksi aspek dramatik.

A: Aku, Benci, Dan Cinta seolah galau memilih waktu pula cara untuk tampil serius. Bahkan klarifikasi lantaran Athala koma pun berujung kelucuan disengaja yang seharusnya tak perlu ada. Tensi pertikaian mengenai cinta segitiga yang dua kali menimpa Alvaro dan Alex urung mencapai titik maksimal, khususnya lantaran persahabatan yang telah berlangsung usang pun konon demikian solid itu tak pernah terasa meyakinkan. Konflik Alvaro-Alex-Athala dan dongeng Alvaro-Anggia yang balasannya bersinggungan bagai dua gagasan yang saling bertabrakan mencuri fokus tanpa mampu membaur bersinergi. 
Begitu juga paparan percintaan. Walau diberkahi insting humor mumpuni, Rizki Balki kurang cakap merangkai sisi manis romantisme remaja. Lihat ketika Alvaro dan Anggia berduet menyanyikan lagu ciptaan berdua (Alvaro menciptakan melodi dari puisi Anggia). Mixing jernih ala bunyi CD mengundang kesan artificial, menghilangkan ungkapan emosi, melemahkan momentum. Segala interaksi protagonis bakal berlalu tak berbekas andai tiada Indah Permatasari dan Jefri Nichol di jajaran lead. Bersenjatakan jangkauan emosi semakin luas dibandingkan performanya pada Dear Nathan, Jefri makin piawai memainkan sosok berandalan dengan tingkah seenaknya, tapi punya pesona berpengaruh guna menggaet hati baik huruf lain atau penonton. 

A: Aku, Benci, Dan Cinta merupakan komedi romantis masa Sekolah Menengan Atas yang lebih ampuh menggelakkan tawa daripada memancing gejolak rasa manis asmara. Toh cukup mengasyikkan dikonsumsi sebagai hiburan ringan. Di sisi lain turut memberi panggung bagi Indah Permatasari dan Jefri Nichol menunjukkan kapasitas mereka lebih jauh. Setidaknya untuk beberapa waktu ke depan, Jefri Nichol akan kokoh jadi raja film Sekolah Menengan Atas yang selalu memancing jerit histeris penonton remaja. Sementara Indah Permatasari menerangkan bahwa ia perlu menerima pengakuan, layak dipercayakan memikul beban bintang film utama. 

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Chrisye (2017)

Menengok kehidupan sumber inspirasinya, Chrisye bisa terjatuh dalam jurang kesalahan fundamental film biografi, yakni ambisi. Perjuangan mengejar impian, warna-warni industri musik, romantika, sampai pergumulan batin terkait religiusitas, semua mengiringi perjalanan penyanyi legendaris berjulukan orisinil Chrismansyah Rahadi ini. Untungnya, menurut ide serta supervisi istri Chrisye, Damayanti Noor, skenario buatan Alim Sudio pintar memilah poin mana saja yang perlu ditampilkan, mengaitkannya, menghasilkan dongeng utuh yang dihubungkan benang merah berupa "spiritualitas".

Dari sini, penonton berguru bahwa setiap langkah Chrisye (Vino G. Bastian) dituntun oleh iman dari hati. Dia yakin musik merupakan jalan hidup meski harus menentang sang ayah (Ray Sahetapy), pula bahwa Damayanti (Velove Vexia) yakni perempuan terbaik baginya walau dihadapkan perbedaan agama. Bahkan alasan ayahnya memberi restu bermusik didorong mimpi ditegur sosok berpakaian putih. Ditambah beberapa pergolakan batin tokoh pula pemilihan proses rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata sebagai puncak, membuktikan filmnya bertujuan memposisikan kekerabatan insan dan Tuhan selaku pondasi seorang Chrisye. 
Biarpun tidak dalam bentuk konvensional, Chrisye layak disebut film religi, setidaknya kental tekstur spiritual. Film religi yang enggan berceramah, tidak perlu setumpuk istilah keagamaan, semata melukiskan kemelut ruang batin yang menjadikan musik alat komunikasi dengan Sang Pencipta. Itulah mengapa sisi personal Chrisye, termasuk hubungan dengan Damayanti lebih diutamakan, tanpa melupakan sisi karir musiknya. Melalui naskahnya, Alim Sudio bisa mengesankan betapa kehidupan langsung dan karir Chrisye saling bertautan, tidak bisa dipisahkan, berkorelasi satu sama lain sehingga membentuk Chrisye secara utuh. 

Keputusan tersebut tetap mengakibatkan pengaruh negatif tatkala presentasi perjalanan karir Chrisye tersaji serba mendadak. Tiba-tiba beliau telah dikenal publik, tiba-tiba pula namanya melejit, dipandang sebagai sosok legenda musik tanah air. Pun bagi orang yang awam akan kondisi industri musik Indonesia masa itu, kesulitan keuangan Chrisye meskipun albumnya cukup meroket di pasaran akan mengakibatkan tanda tanya. Namun itu harga yang harus, juga layak dibayar demi menjaga fokus. 
Dalam penggarapannya, Rizal Mantovani paham betul bila sudah dibekali dongeng konkret sekaligus gugusan lagu luar biasa. Penggemar Chrisye bakal gampang meneteskan air mata mendengar lantunan klasik sang idola, atau kala kulminasi kekuatan cinta protagonis sewaktu Chrisye meminta Damayanti menemaninya merekam lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata. Rizal enggan berlebihan mendramatisasi, membiarkan balutan rasa kisah aslinya bekerja. Kerap menciptakan video klip, Rizal pun piawai mereka ulang banyak sekali momen ikonik, sebutlah rekaman kegiatan Aneka Ria Safari dan pemotretan sampul album, keduanya untuk nomor Aku Cinta Dia. 

Jajaran pemainnya memikat. Vino membayar lunas perbedaan warna suaranya dengan kebolehan mengolah emosi serta ketepatan memainkan gestur kaku Chrisye, yang uniknya (dibantu tata kostum dan rias), semakin seolah-olah seiring pertambahan usia. Soal permainan emosi, Velove Vexia mencapai tingkat serupa khususnya pada momen keputusan Chrisye memeluk Islam. Performa itu sayangnya diganggu kelamahan tata rias, ketika fase paruh baya Damayanti tak mempunyai perbedaan dengan sosoknya di usia muda. Demikian pula rambut palsu menggelikan yang dikenakan Andi Arsyil Rahman sebagai Erwin Gutawa. Sementara Roby Tremonti memberi penampilan singkat berkesan nan otentik sebagai Jay Subiyakto.

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Ayat-Ayat Cinta 2 (2017)

SPOILER ALERT: Fahri kembali menikah di sekuel ini. Melihat track record karakter yang diperankan Fedi Nuril dalam beberapa film religi, fakta tersebut bukan kejutan. Pertanyaannya, dengan siapa? Karena menyerupai film pertama dikala ia diperebutkan Aisha, Maria, Noura hingga Nurul, Fahri masih laki-laki mulia idola wanita. Sesungguhnya penokohan Fahri memang hanya tersusun atas dua kata: mulia dan idola. Pintar, kaya, dan tampan sanggup disertakan, tapi tetap tidak menambah kedalaman. Fahri begitu sempurna, sisi manusiawinya nyaris lenyap.

Kini beliau tinggal di Edinburgh, Skotlandia, hidup mapan sebagai dosen yang rutin mendapatkan setumpuk hadiah makanan dari penggemar. Tapi hatinya urung tergoda, setia menanti Aisha yang hilang, diduga meninggal di Palestina. Alih-alih dibenamkan kesedihan, Fahri menentukan membantu orang-orang tanpa pandang bulu, dari Nenek Catarina (Dewi Irawan dalam kepiawaian bermain rasa) yang seorang Yahudi hingga Keira (Chelsea Islan) yang menyalahkan umat Islam akhir maut sang ayah. Bisa diduga, kebaikan Fahri layaknya magnet penarik cinta wanita. Hulya (Tatjana Saphira), sepupu Aisha yang hendak menempuh S2, Brenda (Nur Fazura), pengacara yang kerap beliau tolong, Sabina (Dewi Sandra), imigran yang ia pekerjakan, semua jatuh hati. Pun menengok trailer-nya, kita tahu pada satu titik, kebencian Keira berubah jadi permohonan biar dinikahi. 
Ketiadaan cela dalam diri Fahri mengakibatkan Ayat-Ayat Cinta 2 sebatas kumpulan episode yang merekam kebaikan-kebaikannya, menutupi gejolak batin soal upaya mengikhlaskan kepergian Aisha. Ini satu-satunya menandakan Fahri masih manusia. Dia menangis menyadari kesedihan pembentuk kelemahannya. Tapi sebelum beranjak menuju eksplorasi lebih jauh, problem usai pasca obrolan singkat dengan sobat lamanya, Misbah (Arie Untung). Fahri memperoleh pencerahan biar merelakan sang istri, mengikuti kata hati untuk menikah lagi. Mencapai film kedua, rupanya dilema Fahri tetap berkutat seputar menikah atau tidak. 

Bahkan proses mencari keikhlasan itu berakhir sia-sia, lantaran melihat konklusi yang ditawarkan, Fahri justru makin terjebak di masa lalu. Belum lagi ditambah "keajaiban" medis serta keberadaan twist yang terkesan membohongi, paruh akhir Ayat-Ayat Cinta 2 cenderung memancing tawa daripada haru. Setidaknya bagi penonton umum menyerupai saya, alasannya sasaran pasar utama filmnya ialah para akhwat pemuja Fedi Nuril terdengar berteriak histeris sembari berurai air mata. Saya memutuskan menahan tawa demi menghormati mereka, sebagaimana Ayat-Ayat Cinta 2 menghormati kelompok penonton yang punya perbedaan cara pandang. 
Naskah buatan Alim Sudio dan Ifan Ismail mungkin dangkal mengkaji debat soal toleransi dalam Islam, termasuk mengenai perlakuan terhadap perempuan yang dijawab seadanya. Namun jalan pikir film ini tak sesempit asumsi Meski penempatannya kurang mulus, obrolan perihal Pancasila menunjukkan filmnya coba menghargai keragaman. Tidak ada ceramah menggurui, dan itu patut diapresiasi. Tentu terdapat perbedaan ideologi, yang apabila dikeluhkan, saya sama saja dengan para fanatik yang membabi buta membela kepercayaannya. 

Ayat-Ayat Cinta 2 bakal berhasil di pasaran, namun takkan mencapai tingkat fenomena setara film pertama yang dibekali setting perkampungan Kairo plus scoring bernuansa etnik garapan Tya Subiakto dan lagu-lagu ikonik yang dibawakan Rossa. Ditangani Guntur Soeharjanto, kemewahan dan kemegahan dipentingkan, menciptakan filmnya nampak terlalu menyerupai suguhan religi berlokasi luar negeri kebanyakan, sebutlah 99 Cahaya Di Langit Eropa yang juga karya Guntur. Suguhan religi berlokasi luar negeri dengan tokoh-tokoh Eropa atau Timur Tengah berwajah Indonesia dan fasih bicara Bahasa Indonesia.