Showing posts with label Ana de Armas. Show all posts
Showing posts with label Ana de Armas. Show all posts

Sunday, December 2, 2018

Ini Lho Blade Runner 2049 (2017)

Sekuel dirilis puluhan tahun pasca film orisinil bukan hal asing. Beberapa demi nostalgia, beberapa semata perjuangan frustasi mengais sisa kejayaan untuk pundi-pundi uang, beberapa memang sebuah lanjutan perjalanan yang perlu. Blade Runner 2049 selaku sekuel Blade Runner (1982) yang merupakan penyesuaian novel Do Androids Dream of Electric Sheep? buatan Philip K. Dick sejatinya tanpa urgensi. Tapi melanjutkan rentetan kemenangannya, Denis Villeneuve bisa melahirkan sekuel yang melampaui pendahulunya, setidaknya di mata minoritas macam saya yang kurang mengagumi karya Ridley Scott tersebut.

Blade Runner versi original kental eksplorasi filosofis wacana eksistensi dan kemanusiaan tapi kurang perihal balutan misteri guna menemani tuturan neo-noir tempo lambatnya. Masih ditulis oleh Hampton Francher yang sekarang berduet bersama Michael Green menggantikan David Peoples, Blade Runner 2049 tetap mempertanyakan humanisme yang tersimpan di balik pemeriksaan K (Ryan Gosling), anggota Blade Runner yang bertugas "memensiunkan" replicants. K sendiri juga seorang replicants. Karena menghindari spoiler, saya tidak bisa menjabarkan lengkap, tapi pada dasarnya penyelidikan K mengarah akan belakang layar replicants yang sanggup mengubah dunia, khususnya relasi mereka dengan manusia.
Berlangsung selama 163 menit, naskahnya rutin menyuguhkan misteri berdaya tarik tinggi untuk penonton gali. Kuatnya efek noir yang identik dengan alur rumit di mana penyelidikan bakal bercabang dan fakta disebar dalam bentuk kepingan-kepingan kecil pula urung diungkap secara gamblang memaksa penonton berkonsentrasi penuh. Di sinilah gaya Villenueve berperan penting. Serupa Arrival, tempo lambat digunakan biar tiap momen dan potongan puzzle tertancap di benak penonton, memberi kita waktu mengolah seluruh informasi. Walau di beberapa kesempatan, kelambatan itu berlebihan, mengakibatkan kegiatan sederhana para tokoh kolam berlangsung tanpa ujung.

Pemangkasan durasi sekitar 10-15 menit akan membantu mempertahankan konsistensi intensitas. Setidaknya sinematografi luar biasa Roger Deakins setia menemani. Ditemani tata artistik yang meyakinkan melebur pemandangan tandus wasteland dengan nuansa "low life, high tech" ala cyberpunk, gambar olahan Deakins yaitu masterpiece soal pilihan warna dan permainan cahaya. Ketika kisahnya menyoroti jurang pemisah insan dan replicants, Deakins juga menghadirkan pertentangan antara reruntuhan peradaban maju ibarat di Las Vegas, daerah Rick Deckard (Harrison Ford) bersembunyi yang kental warna Jingga dengan atmosfer futuristik di markas Niander Wallace (Jared Leto) sang produsen replicants
Perpaduan juara sinematografi plus tata artistik tersebut membantu Villeneuve mewujudkan visinya mengemas adegan agresi yang memberi kiprah penting pada lingkungan sekitar. Aksi milik Blade Runner 2049 cenderung artistik ketimbang bombastis, kondisi sekeliling menghipnotis rintangan huruf (ombak di klimaks) atau menghipnotis mood macam hologram Elvis dan Marilyn Monroe yang mengiringi baku hantam K dan Deckard. Momen kedua jadi teladan eksperimen cerdik untuk visual serta suara. Sayangnya departemen musik yang digawangi duo Hans Zimmer-Benjamin Wallfisch tak bisa mengulangi maha karya Vangelis di film pertama walau mempertahankan synth atmosferik sambil diselingi hentakan khas Zimmer. Apalagi dibanding pendahulunya, Blade Runner 2049 menambah kadar bumbu romantika, sehingga scoring jazzy yang intim pun terkadang seksi milik Vangelis terang lebih cocok.

Gosling tepat mewakili tema "mempertanyakan kemanusiaan" filmnya lewat penampilan cuek yang turut memancing ambiguitas K dan replicants pada umumnya. Apakah mereka punya jiwa, sekedar benda tanpa nyawa, atau justru lebih insan dari insan itu sendiri? Ford membawa Deckard menjadi lebih gritty, selaras dengan setumpuk hal yang menimpanya selama 30 tahun, sementara Leto tampil eksentrik sebagaimana baris-baris kalimat filosofis yang diucapkan Wallace. Namun hati terbesar bersumber dari Ana de Armas sebagai Joi, kekasih hologram K yang meski tanpa badan nyata, justru lebih mempunyai rasa ketimbang para manusia. Kalimat "like a real girl" yang dia lontarkan yaitu hal paling menyentuh sepanjang film. Jadi, apakah yang menciptakan kita spesial?

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Overdrive (2017)

Overdrive adalah satu dari sekian banyak tontonan kelas dua yang berusaha mengekor kesuksesan seri Fast & Furious, berharap sebagian sasaran pasar franchise raksasa itu terpengaruhi oleh kemiripan yang ditawarkan. Formulanya memang serupa. Mobil mewah, wanita cantik, agresi abnormal melawan logika, hingga plot soal pencurian yang memaksa tokoh utamanya membentuk sebuah tim. Kebetulan Scott Eastwood sebagai salah satu cast The Fate of the Furious turut ambil bab memerankan Andrew Foster sang protagonis. 

Cerita dalam naskah besutan Michael Brandt dan Derek Haas bersama-sama generik. Andrew bersama adik tirinya, Garett (Feddie Thorp) merupakan dua bersaudara pencuri kendaraan beroda empat yang mesti berurusan dengan cecunguk sekaligus kolektor kendaraan beroda empat antik berjulukan Jacomo Morier (Simon Abkarian) akhir "tanpa sengaja" mencuri koleksi barunya. Keduanya dipaksa mengambil kendaraan beroda empat milik tentangan bisnis Morier, Max Klemp (Clemens Schick) yang konon populer bengis. Intinya hanya itu. Tapi Brandt dan Haas menumpahkan banyak belokan tajam, abjad tambahan, serta sub-konflik, menghasilkan setumpuk kerumitan.

Hampir 10 menit sekali muncul duduk masalah gres yang dibawa oleh tokoh gres pula, mengakibatkan durasi 93 menitnya penuh sesak. Semua didasari perjuangan memberi kompleksitas yang sesungguhnya tak perlu, lantaran sering kali poin plotnya mengundang tanya, "untuk apa?". Tidak jarang keputusan karakternya justru menyulitkan diri sendiri. The kind of stupidity that hide behind unnecessary complexites. Belum lagi, mengikuti semangat film heist, twist beraneka ragam khususnya soal rencana pencurian bakal bergantian muncul ke permukaan. Kejutan yang tidak terduga, bukan lantaran kepintaran naskah mengecoh penonton, melainkan murni bentuk "penipuan" yang tiba-tiba saja terjadi.
Tentu bodoh. Sebodoh rencana Andrew dan kawan-kawan yang tak nampak disusun oleh para mahir di bidangnya. Namun kebodohan tersebut sulit dipungkiri, terasa menyenangkan. We love surprises. Kala Overdrive yang overstuffed ini dikemas penuh kesadaran atas kebodohan miliknya, penonton pun tinggal duduk menikmati sambil mengistirahatkan otak. Dan walau keterbatasan biaya (dan imajinasi) menghalangi kegilaan maksimum menyerupai ilham terbesarnya, Antonio Negret selaku sutradara masih punya visi mencukupi dalam menciptakan brainless action set piece. Duel (literally) kendaraan beroda empat melawan pesawat yaitu tumpuan terbaik.

Beberapa kali Andrew dan Garrett membicarakan ayah mereka. Selain demi menanamkan (secara paksa) drama keluarga, seolah merupakan nod bagi si pemain film utama. Scott Eastwood memang masih karam di balik bayang-bayang sang ayah. Mungkin pesonanya masih amat jauh dibanding Clint, tetapi Scott menampilkan charm memadahi, cukup merepresentasikan sosok pendekar keren sesuai kebutuhan film. Ana de Armas sebagai Stephanie, kekasih Andrew, dan Gaia Wess sebagai Devin si pencopet pun serupa, walau bukan tokoh-tokoh dengan dengan penulisan solid, telah memenuhi kebutuhan filmnya selaku car movie akan aktris berparas cantik. Overdrive is fun. Brainless fun. Just don't expect more

Ini Lho Blade Runner 2049 (2017)

Sekuel dirilis puluhan tahun pasca film orisinil bukan hal asing. Beberapa demi nostalgia, beberapa semata perjuangan frustasi mengais sisa kejayaan untuk pundi-pundi uang, beberapa memang sebuah lanjutan perjalanan yang perlu. Blade Runner 2049 selaku sekuel Blade Runner (1982) yang merupakan penyesuaian novel Do Androids Dream of Electric Sheep? buatan Philip K. Dick sejatinya tanpa urgensi. Tapi melanjutkan rentetan kemenangannya, Denis Villeneuve bisa melahirkan sekuel yang melampaui pendahulunya, setidaknya di mata minoritas macam saya yang kurang mengagumi karya Ridley Scott tersebut.

Blade Runner versi original kental eksplorasi filosofis wacana eksistensi dan kemanusiaan tapi kurang perihal balutan misteri guna menemani tuturan neo-noir tempo lambatnya. Masih ditulis oleh Hampton Francher yang sekarang berduet bersama Michael Green menggantikan David Peoples, Blade Runner 2049 tetap mempertanyakan humanisme yang tersimpan di balik pemeriksaan K (Ryan Gosling), anggota Blade Runner yang bertugas "memensiunkan" replicants. K sendiri juga seorang replicants. Karena menghindari spoiler, saya tidak bisa menjabarkan lengkap, tapi pada dasarnya penyelidikan K mengarah akan belakang layar replicants yang sanggup mengubah dunia, khususnya relasi mereka dengan manusia.
Berlangsung selama 163 menit, naskahnya rutin menyuguhkan misteri berdaya tarik tinggi untuk penonton gali. Kuatnya efek noir yang identik dengan alur rumit di mana penyelidikan bakal bercabang dan fakta disebar dalam bentuk kepingan-kepingan kecil pula urung diungkap secara gamblang memaksa penonton berkonsentrasi penuh. Di sinilah gaya Villenueve berperan penting. Serupa Arrival, tempo lambat digunakan biar tiap momen dan potongan puzzle tertancap di benak penonton, memberi kita waktu mengolah seluruh informasi. Walau di beberapa kesempatan, kelambatan itu berlebihan, mengakibatkan kegiatan sederhana para tokoh kolam berlangsung tanpa ujung.

Pemangkasan durasi sekitar 10-15 menit akan membantu mempertahankan konsistensi intensitas. Setidaknya sinematografi luar biasa Roger Deakins setia menemani. Ditemani tata artistik yang meyakinkan melebur pemandangan tandus wasteland dengan nuansa "low life, high tech" ala cyberpunk, gambar olahan Deakins yaitu masterpiece soal pilihan warna dan permainan cahaya. Ketika kisahnya menyoroti jurang pemisah insan dan replicants, Deakins juga menghadirkan pertentangan antara reruntuhan peradaban maju ibarat di Las Vegas, daerah Rick Deckard (Harrison Ford) bersembunyi yang kental warna Jingga dengan atmosfer futuristik di markas Niander Wallace (Jared Leto) sang produsen replicants
Perpaduan juara sinematografi plus tata artistik tersebut membantu Villeneuve mewujudkan visinya mengemas adegan agresi yang memberi kiprah penting pada lingkungan sekitar. Aksi milik Blade Runner 2049 cenderung artistik ketimbang bombastis, kondisi sekeliling menghipnotis rintangan huruf (ombak di klimaks) atau menghipnotis mood macam hologram Elvis dan Marilyn Monroe yang mengiringi baku hantam K dan Deckard. Momen kedua jadi teladan eksperimen cerdik untuk visual serta suara. Sayangnya departemen musik yang digawangi duo Hans Zimmer-Benjamin Wallfisch tak bisa mengulangi maha karya Vangelis di film pertama walau mempertahankan synth atmosferik sambil diselingi hentakan khas Zimmer. Apalagi dibanding pendahulunya, Blade Runner 2049 menambah kadar bumbu romantika, sehingga scoring jazzy yang intim pun terkadang seksi milik Vangelis terang lebih cocok.

Gosling tepat mewakili tema "mempertanyakan kemanusiaan" filmnya lewat penampilan cuek yang turut memancing ambiguitas K dan replicants pada umumnya. Apakah mereka punya jiwa, sekedar benda tanpa nyawa, atau justru lebih insan dari insan itu sendiri? Ford membawa Deckard menjadi lebih gritty, selaras dengan setumpuk hal yang menimpanya selama 30 tahun, sementara Leto tampil eksentrik sebagaimana baris-baris kalimat filosofis yang diucapkan Wallace. Namun hati terbesar bersumber dari Ana de Armas sebagai Joi, kekasih hologram K yang meski tanpa badan nyata, justru lebih mempunyai rasa ketimbang para manusia. Kalimat "like a real girl" yang dia lontarkan yaitu hal paling menyentuh sepanjang film. Jadi, apakah yang menciptakan kita spesial?