Showing posts with label Andi Rianto. Show all posts
Showing posts with label Andi Rianto. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Ini Lho 22 Menit (2018)

22 Menit membuka dongeng melalui paparan rutinitas pagi hari karakternya. AKBP Ardi (Ario Bayu) beserta kehangatan keluarganya, Firman (Ade Firman Hakim) si polisi kemudian lintas yang mengatur jalanan Thamrin di tengah kegamangan akhir pernikahannya dengan Sinta (Taskya Namya) terancam batal, office boy bernama Anas (Ence Bagus) yang berusaha membantu kakaknya, Hasan (Fanny Fadillah) mencari kerja, juga Mitha (Hana Malasan) yang di sebuah cafe menantikan kedatangan Dessy (Ardina Rasti). Semua berjalan damai, hingga pukul 10:40, terjadi ledakan bom di persimpangan Sarinah.

Lalu layar menampilkan jam digital yang bergerak mundur beberapa menit sebelum tragedi, memindahkan fokus menuju perspektif aksara lain. Rupanya 22 Menit merupakan hyperlink cinema, atau setidaknya, berusaha menjadi itu. Meminjam deksripsi Roger Ebert, hyperlink cinema yaitu tatkala tokoh-tokoh maupun rangkaian insiden terjadi dalam kisah berlainan, namun koneksi atau imbas di antara kisah-kisah itu perlahan diungkap, menyatukan segalanya. Sederhananya, struktur satu ini yakni penyatuan kisah yang (awalnya) terpisah menggunakan satu benang merah.

Terinspirasi peristiwa bom Sarinah pada 14 Januari 2016, hyperlink  sejatinya merupakan bentuk yang tepat, mungkin malah paling efektif untuk menggambarkan bahwa korban yang berasal dari bermacam-macam kalangan, terhubung dalam satu pengalaman kolektif. Bahwa di tengah kekacauan tersebut, ada individu-individu yang menyimpan cerita, atau dalam konteks naskah buatan Husein M. Atmodjo (Parts of the Heart, Midnight Show) dan Gunawan Raharjo (Jingga), sosok tercinta masing-masing. Perspektif itu berpotensi memberi dampak emosional kuat, lantaran terdapat hal spesial, misterius, bahkan “ajaib” seputar pengalaman kolektif yang terwujud melalui kebetulan yang diprakarsai takdir.

Sayang, naskahnya gagal mempresentasikan pengalaman kolektif itu, atau mengusut kegunaan hyperlink cinema, tautan yang mestinya ada justru tiada. Ketimbang merekatkan, sanksi 22 Menit justru kacau nan membuyarkan. Fokus lemah menjadi sebab. Daripada menyoroti tokoh atau lingkup waktu tertentu di tiap “segmen”—yang dipisahkan hitung mundur jam digital—alurnya kolam produk campur aduk asal terhadap sederet plot sampingan. Sulit menyebut secara pasti, aksara atau situasi mana yang di satu titik tengah dijadikan fokus (kalau fokus itu sendiri dipunyai filmnya). Dalam hyperlink, tentu fatal andai “link”-nya sendiri hilang, yang di film ini turut menimbulkan raibnya jembatan antara dongeng dengan perasaan penonton.

Hanya subplot Hasan-Anas yang cukup berkesan, itu pun bukan berkat skrip, tetapi lantaran menyerupai dalam Guru Ngaji, Ence Bagus menampilkan sensitivitas. Matanya menyuarakan keresahan. Sisanya hampa, terlebih Mitha dan Dessy. Kita tak tau siapa mereka, tidak pula mengembangkan momen personal dengan keduanya. Kesannya, para penulis naskah yang sudah terjebak di jeratan benang kusut buatan sendiri, alih-alih coba merapikan justru menambah jalinan benang lain.

Didukung penuh pihak kepolisian, film panjang kedua produksi Buttonijo Films sehabis Another Trip to the Moon (2015) ini mempunyai production value plus penanganan agresi yang tidak main-main. Prosedur anti-terorisme ditampilkan, beberapa helikopter diterjunkan, detail properti-properti lain pun solid. Apalagi 22 Menit diambil di lokasi asli, di mana pengambilan gambar dilakukan tiap selesai ahad selama sebulan. Namun itu berakhir sebatas kemewahan kulit luar ketika duo sutradara, Eugene Panji (Naura & Genk Juara the Movie) dan Myrna Paramita kurang cakap memaksimalkan modal di atas untuk menghasilkan gelaran agresi intens. Tidak buruk, tapi melihat sumber daya miliknya, masuk akal kalau saya berharap lebih, meski Ario Bayu tentu saja tidak mengecewakan, tampak meyakinkan memerankan polisi tangguh nan pemberani yang mengangkat senjata.

Pada departemen musik, Andi Rianto (Arisan!, Kartini, Critical Eleven) telah berusaha menyerbu indera pendengaran penonton melalui dentuman mendebarkan plus horn megah ala Hans Zimmer, tapi aksinya tidak pernah mencapai klimask. Pun tak berlebihan bila menyebut 22 Menit sebagai film nihil klimaks. Pertempuran polisi melawan teroris berakhir ketika secara umum dikuasai penonton rasanya menerka filmnya masih menyimpan amunisi lebih, dan memang seharusnya demikian. Tapi tidak. Baku tembaknya tampil pendek dalam durasi keseluruhan yang juga pendek (71 menit), kemudian memberi ruang bagi penutup yang melompat dari fokus utama (peristiwa terorisme 14 Januari), yang dibentuk hanya untuk menggambarkan gerak cepat dan kesigapan polisi memberantas antek terorisme hingga ke akarnya. Singkatnya, pembangunan citra. Terdengar voice over Vincent Rompies (tampil singkat selaku cameo) di siaran radio yang terasa melankolis, syahdu, bagus tapi pahit. Momen itu seharusnya dijadikan penutup.

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho 13: The Haunted (2018)

Ada masa di mana Rudi Soedjarwo termasuk salah satu sutradara kelas satu negeri ini. Menelurkan Ada Apa Dengan Cinta? (2001), Mengejar Matahari (2004), Pocong 2 (2006), hingga Mendadak Dangdut (2006), separuh awal 2000an yaitu bukti sahih. Setelahnya diisi inkonsistensi, meski judul-judul macam Garuda di Dadaku 2 (2011) dan Batas (2011) sesekali mengingatkan biar jangan memandangnya sebelah mata.  Rudi masih pencerita handal. Terbukti, walau diberi bekal medioker dalam 13: The Haunted, sang sutradara tetap bisa menghasilkan karya yang tak terbenam di lubang kehancuran menyerupai banyak horor lokal belakangan.

Saya sedikit was-was ketika gres menginjak detik pertama, sebelum tampak apa pun selain kredit, pendengaran ini sudah ditusuk-tusuk oleh volume musiknya. Padahal hanya denting piano, tapi gendang rasanya mau pecah. “Ah, satu lagi horor murahan yang asal melemparkan jump scare berisik.”, begitu pikir saya. Perkenalan dengan jajaran protagonisnya menguatkan prasangka itu. Mereka yaitu 7 dewasa yang karakteristiknya mentok di julukan masing-masing. Celsi (Valerie Thomas) misal, yang dipanggil “Si Logis” (or something like that). Hampir semua kalimatnya diawali “Logikanya....”.

Atau Farel (Atta Halilintar) si “Hip Hop Boy” yang gemar mengenakan kalung emas, jam tangan emas, cincin emas, walau aksesoris tersebut bekerjsama juga bisa diidentikkan dengan tante-tante girang. Sementara Rama (Al Ghazali) dipanggil “Mr. Perfect” meski bab mananya yang layak disebut sempurna, saya tidak tahu. Pastinya bukan akting Al Ghazali, yang 4 tahun pasca debut layar lebar di Runaway, masih sekaku batang kayu. Endy Arfian sebagai Garin si “Kentut Boy” lebih luwes dibanding rekan-rekannya, tapi sehabis Toni di Pengabdi Setan (2017), ini terang kemunduran.

Alkisah, mereka bertujuh, sebagai dewasa gaul masa sekarang yang terobsesi untuk jadi yang terdepan, merasa iri dengan kesuksesan kanal YouTube berkonten reality show horror milik The Jackal, yang sukses mengumpulkan jutaan penonton dalam waktu singkat. The Jackal sendiri terdiri dari sepasang kekasih, Joy (Achmad Megantara yang alhasil layak tonton pasca debut remuk redam di El) dan Klara (Mikha Tambayong), mantan kekasih Rama. Demi menyaingi The Jackal, mereka bertujuh pun nekat pergi menciptakan vlog ke Pulau Ayunan, daerah terjadinya pembantaian 13 bulan lalu.

Apabila terdengar menyerupai formula klasik “sekelompok dewasa pergi ke daerah terpencil kemudian diteror hantu yang ingin merenggut nyawa mereka”, itu lantaran 13: The Haunted memang mengedepankan kisah klise “sekelompok dewasa pergi ke daerah terpencil kemudian diteror hantu yang ingin merenggut nyawa mereka”. Satu hal yang saya sayangkan, walau tak mengejutkan, yaitu kegagalan naskah buatan pasangan suami istri Demas Garin dan Talitha Tan (The Secret: Suster Ngesot Urban Legend) membangun persahabatan berpengaruh antara tokoh-tokohnya. Mereka berpesta bersama, jalan-jalan bersama, selalu menghabiskan waktu bersama, namun tanpa gejala ikatan solid, lantaran interaksi yang terhampar pun tak cukup menarik untuk menciptakan kita peduli.

Untungnya, 13: The Haunted bukan horor nihil kisah yang menyamakan rentetan jump scare tanpa konteks dengan alur, kemudian mengumpulkannya sebanyak mungkin guna mengisi slot durasi. Bahkan, kuantitas jump scare film produksi ketiga RA Pictures ini ada di taraf normal alias secukupnya. Second act-nya digunakan menelusuri misteri yang tersimpan di Pulau Ayunan. Bukan misteri yang digarap apik, tapi keberadaannya berhasil dimanfaatkan Rudi Soedjarwo guna unjuk gigi kapasitas bertutur melalui tempo yang nyaman diikuti. Ketika ada huruf menyidik sebuah ketaknormalan dalam film horor, sudah jadi “kewajiban” sang sutradara melambatkan tempo untuk memunculkan ketegangan. Rudi melakukannya, tapi tahu kapan mesti mengakhiri itu supaya tidak berlarut-larut sehingga kehilangan momentum.

Soal menakut-nakuti, trik Rudi medioker. Hantu sekedar muncul tiba-tiba di layar, diam, berpose, sambil diiringi musik buatan Andi Rianto (Arisan!, Kartini, Critical Eleven), yang untungnya lebih variatif ketimbang asal berisik sebagaimana kerap dijumpai dalam horor kelas teri negeri ini. Musik Andi pun efektif memancing ketegangan pada third act yang kembali, menandakan kebolehan Rudi memainkan tempo. Bergerak cepat namun tidak terburu-buru, klimaksnya terbukti menyenangkan, apalagi ditambah riasan menarik garapan Cherry Wirawan dan Eba Sheba bagi hantu-hantunya. Anda bisa berargumen hantu-hantu itu terlihat kolam cosplay monster Kamen Rider, tapi terang jauh lebih niat dan imajinatif dibanding jajaran setan muka bubur bau yang kerap menjadi favorit sineas horor bangsa ini. Andai mitologi sarat misteri di balik angka 13 jadi poros utama, menyerupai ketika “13 Cara Melihat Hantu” menyokong klimaksnya. Bodoh, tapi menyenangkan. Setidaknya memancing keingintahuan terhadap hasilnya. Semoga 13: The Return bisa melakukannya.


Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Naura & Genk Juara The Movie (2017)

Adyla Rafa Naura Ayu. Baru berusia 12 tahun, puteri Nola Be3 ini telah merilis dua album sekaligus menjadi idola yang sempurna di kalangan anak. Dikatakan sempurna sebab lagu-lagu Naura bukan bicara cinta, melainkan dunia masa kecil dari mimpi, persahabatan, hingga pesan penting soal anti-bullying. Makara sempurna pula ketika debut layar lebarnya ini dibutuhkan bisa mengobati kerinduan akan film musikal anak yang belum tentu setahun sekali menghiasi bioskop tanah air. Ditangani oleh Eugene Panji (Cita-citaku Setinggi Tanah), Naura & Genk Juara The Movie mengikuti pakem Petualangan Sherina, menghadapkan karakternya pada konflik pertemanan, langgar kepintaran, juga bahaya para penjahat konyol.

Naura (Adyla Rafa Naura Ayu), Bimo (Vickram Abdul Faqih Priyono) dan Okky (Joshua Yorie Rundengan) terpilih mewakili sekolahnya mengikuti kompetisi sains pada program Kemah Kreatif di Situ Gunung. Perselisihan timbul sebab Bimo merasa modifikasi drone miliknya ialah yang terbaik sehingga lebih pantas memimpin tim daripada Naura. Tapi persoalan lebih besar hadir dalam bentuk Trio Licik (Panjul Williams, Alfian, Dedy Ilyas) yang berniat mencuri hewan-hewan di penangkaran Situ Gunung. Bersama Kipli (Andryan Sulaiman Bima) si ranger cilik, Naura, Bimo, dan Okky mesti mengesampingkan perpecahan guna menggagalkan agresi Trio Licik.
Naura & Genk Juara The Movie bergerak sederhana sesuai formula, tapi serupa dinamika dunia anak, kompleksitas bukan penggalan dari kebutuhan. Rasa riang besar hati dibumbui beberapa nilai kehidupan mendasar. Skenario buatan Bagus Bramanti, Dendie Archenius Hutauruk, dan Asaf Antariksa memang menyisakan lubang problematika, semisal ketika empat protagonis menentukan menyerang Trio Licik alih-alih melapor pada ranger, yang dipaksa ada, semata demi peningkatan konflik utama sembari menyelesaikan konflik interpersonal. Di luar itu, naskahnya cerdik merangkum pesan-pesan guna membantu orang bau tanah memberikan banyak sekali nilai bagi anak. 

Jika Naura-Bimo-Okky mewakili unsur persahabatan yang mengesampingkan ego hingga kecerdikan, maka Kipli, satu-satunya bocah di antara ranger mengajarkan perlunya kepedulian terhadap hewan. Rangkaian pembelajaran tersebut cukup terperinci untuk diserap penonton anak, namun lembut tanpa kesan menggurui. Naura & Genk Juara The Movie ialah ihwal proses berguru dari pengalaman faktual di dunia luar yang bersifat praktikal, menjadikannya penting mengingat kesempatan anak berinteraksi dengan alam menipis kala sistem pendidikan teoritis kurang aplikatif makin gencar dijejalkan. Klimaks berisi perlawanan bocah-bocah atas Trio Licik memakai karya mereka pun bisa digunakan memancing minat anak bekreasi dalam acara berguru sambil bermain.
Di departemen musik, kerja sama Andi Rianto bersama duo kakak-beradik, Mhala dan Tantra Numata berhasil mengkreasi deretan lagu yang takkan gampang hilang dari ingatan penonton seusai menonton. Dari keceriaan dalam Juara dan Mendengarkan Alam, Jangan Jangan yang bersemangat, hingga Bawakan Cerita Untukku yang hangat selaku ungkapan kasih seorang ibu berkat performa penuh rasa dari Nola Be3, semuanya catchy nan memorable. Walau sanksi momen musikal tidak sepenuhnya mulus akhir kurang luasnya eksplorasi pengadeganan Eugene Panji. Karena semua nomor tarian didominasi anak kecil, patut dimaklumi ketika tatanan koreografi tersaji belum begitu rapi, dan di sinilah kejelian sang sutradara mestinya lebih berperan, menyerupai ketika menyelipkan satu sekuen animasi.

Harus menyebarkan porsi dengan para "Genk Juara" urung menghambat sinar Naura. Khususnya ketika melakoni nomor musikal, dia mengerahkan semua daya upaya, total baik dalam gerak maupun ekspresi. Bahkan kelemahan mixing suara yang tidak melebur natural, yang mana merupakan kekurangan terbesar film kita dalam mengemas adegan musik, tak kuasa menahan hentakan berenergi Naura. Bukanlah kejutan apabila suatu hari nanti, bocah ini bertransformasi dari bintang cilik menuju mega bintang, entah di industri musik, perfilman, atau keduanya. Naura & Genk Juara The Movie mungkin tidak akan menjadi fenomena layaknya Petualangan Sherina dulu, namun terperinci salah satu musikal anak terbaik di masanya.