Showing posts with label Anggy Umbara. Show all posts
Showing posts with label Anggy Umbara. Show all posts

Friday, December 7, 2018

Ini Lho Comic 8: Casino Kings Part 2 (2016)

Saya bukan penggemar franchise buatan Anggy Umbara ini. Baik Comic 8 maupun Casino Kings Part 1 sama-sama gagal memaksimalkan potensi kehadiran banyak komika kelas wahid guna memberi menu komedi mengocok perut. Permasalahan terbesar ada pada keengganan franchise ini mengakui kebodohannya dan tetap berusaha keras tampil sekeren juga secerdas mungkin menghantarkan alur penuh intrik. Karena itulah menjelang perilisan Casino Kings Part 2, saya tidak lagi menyimpan impian terlampau besar. Memang begini gaya Anggy Umbara, memang menyerupai ini wajah franchise-nya. Hingga tanpa diduga filmnya justru cukup memuaskan, bahkan menjadi yang terbaik di antara ketiga film Comic 8.

Melanjutkan dongeng film sebelumnya, Casino Kings Part 2 tidak banyak berbasa-basi, eksklusif membawa penonton terjun ke tengah medan aksi. Bukan saja terjebak di tengah hutan, kedelapan komika masih harus menghadapi para pemburu yang diperankan oleh aktor-aktor senior tanah air (kecuali Sacha Stevenson dan Soleh Solihun). Sementara itu Indro dan Cynthia (Prisia Nasution) menerima serangan dari anak buah The King (Sophia Latjuba). The King sendiri mulai mengungkap identitas bekerjsama pada Dr. Pandji (Pandji Pragiwaksono). Sebagaimana kasus lain di mana chapter akhir sebuah franchise dipecah ke dalam dua bagian, Casino Kings Part 2 memang didominasi agresi titik puncak dan sedikit meminggirkan alur, yang justru merupakan nilai positif.
Menengok dua film sebelumnya, naskah karya Fajar Umbara dan Anggy Umbara memang terlalu berambisi menggabungkan segunung konflik berisi konspirasi penuh twist dengan hanya satu tujuan: mengejutkan penonton tanpa peduli masuk logika atau tidak. Sesungguhnya bukan persoalan andai filmnya memang sengaja dikemas kurang cendekia layaknya b-movie kebanyakan. Namun Comic 8 jelas ingin tampak keren dan dianggap serius. Pada Casino Kings Part 2 meski aspek tersebut masih muncul, fokus lebih condong ke arah aksi, yang mana merupakan keunggulan Anggy Umbara ('3' sudah jadi bukti). Sesungguhnya ini hal kecil alasannya ialah tidak terdapat perbedaan signifikan pada cara penghantaran film ini dengan pendahulunya. Masih penuh sesak oleh lens flare, efek CGI bernafsu (untuk buaya dan naga), serta slow motion. Walau harus diakui departemen artistik khususnya setting dan kostum masih memanjakan mata.
Hal kecil itu jadi kuat besar tatkala alurnya dinomorduakan. Minim intrik, Casino Kings Part 2 menjelma seutuhnya sebagai b-movie bodoh nan menyenangkan. Karena bagai film kelas b, saya sanggup memaafkan buruknya CGI atau kejutan konyol semisal pengungkapan identitas orisinil dari The King. Kekonyolan itu justru menjadi kekuatan. Termasuk ketika filmnya menciptakan Prisia Nasution, Hannah Al-Rashid dan Sophia Latjuba sebagai femme fatale sekaligus eye candy. Sentuhan komedi juga tidak dipaksakan hadir setiap saat. Sibuk dengan action, dagelan sekedar muncul sesekali, memberi waktu bagi penonton untuk bernafas sejenak. Kekuatan komedi masih belum mencapai puncak potensi (referensi The Raid sudah ketinggalan jaman) dan makin minimnya eksplorasi huruf tambah mengaburkan ciri khas tiap komika, tapi setidaknya lebih banyak tawa berhasil dihadirkan.

Is it a good movie? Sebenarnya tidak. Masih terdapat beberapa kekurangan yang lagi-lagi berada di seputaran terlalu banyaknya konflik serta huruf coba dilebur menjadi satu. Apabila anda menantikan agresi Barry Prima, Willy Dozan atau Yayan Ruhian mungkin bakal kecewa alasannya ialah begitu minimnya porsi mereka. Konklusi yang ditawarkan juga masih terasa dipaksakan biar cepat usai (sekaligus mengejutkan). Tapi sungguh hiburan memuaskan di tengah minimnya blockbuster dalam industri perfilman Indonesia. Saya masih tetap beranggapan gaya dari Anggy Umbara lebih efektif jikalau diterapkan dalam film pure action macam '3', namun melihat bagaimana ending film ini, tidak sanggup dipungkiri saya akan tetap dengan bahagia hati menantikan sekuel demi sekuel dari Comic 8. 


Ticket Powered by: ID Film Critics

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Insya Allah Sah 2 (2018)

Seorang perempuan yang hamil sebelum menikah dan seorang perampok yang kabur dari penjara demi menikahinya. Film pertama Insya Allah Sah (2017) takkan menempatkan Raka (Pandji Pragiwaksono) di antara kedua sosok tersebut, lantaran filmnya sendiri rasanya takkan mau menjustifikasi mereka. Saya tidak tahu bagaimana jalan kisah novel karya Achi TM selaku sumber adaptasinya, tapi Insya Allah Sah 2 terang tampil lebih baik ketimbang pendahulunya lantaran kesediaan memandang tokoh-tokohnya sebagai insan biasa yang jauh dari kesempurnaan. Raka lebih toleran pada dua protagonis yang punya pandangan hidup berbeda dengannya, untuk itu saya mesti bersikap sama terhadapnya dan film ini.

Mungkin anda ingat betapa saya membenci film pertamanya. Pembaca reguler blog ini pun rasanya tahu betapa saya membenci polisi moral menyerupai Raka. Sebagai karakter, ia tidak berproses, hanya muncul mendadak layaknya hantu, kemudian berceramah. Fakta bahwa Raka ialah sosok manchild tidak menjadikannya lebih baik. Karena berbeda dibanding para manchild dalam komedi berkualitas, sebutlah Will Ferrell dalam Elf (2003), meski berdandan dan bicara bagai bocah, Raka memahami konsep-konsep yang cuma dipahami orang dewasa. Sehingga dikala ia mencampuri urusan orang-orang di sekitarnya, itu bukan hasil kepolosan bocah yang memandang dunia secara hitam-putih.

Kali ini Raka masih gemar berpetuah, namun ia mampu, atau tepatnya mau melihat kebaikan dalam keputusan (yang menurutnya) jelek dari seseorang. Pun acap kali di tengah ceramahnya, Raka menerima todongan pistol di kepala, seolah Anggy Umbara (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, Tiga) dan Herry B. Arissa (Generasi Kocak: 90-an vs Komika, Selebgram) selaku penata skrip berkata, “diem lo!”. Tapi Raka memang sulit didiamkan, bahkan dikala terlibat baku tembak bersama Gani (Donny Alamsyah), yang gres saja nekat kabur dari penjara kemudian merampok uang Freddy Coughar (Ray Sahetapy) si mafia, semua demi menikahi Mutia (Luna Maya) yang sedang hamil tua. Untuk itu, uang sebesar 250 juta dibutuhkan.

Mungkin alasan mengapa ceramah Raka terasa tidak segencar sebelumnya lantaran sekuel ini cenderung berorientasi pada aksi. Sekali lagi, saya belum membaca sumber adaptasinya, sehingga tidak tahu apakah Achi TM memang menggeser pendekatan novelnya ke arah laga. Tapi pemilihan Anggy Umbara dan Bounty Umbara (Mama Cake, Rafathar) guna duduk di dingklik sutradara terang tepat. Gaya-gayaan di antara rentetan momen agresi seolah mendarah daging dalam diri Umbara Bersaudara, dan meski Insya Allah Sah 2 tak punya gelaran agresi luar biasa, elemen tersebut terang jauh lebih menghibur daripada menyaksikan ceramah agama selama 90 menit.

Raka (dan agama) sekedar jembatan dalam proses Gani berguru bahwa tidak semua problem sanggup terselesaikan lewat kekerasan dan amarah. Bukan studi permasalahan mendalam, tapi Insya Allah Sah 2 setidaknya menampilkan pergulatan personal. Saya bisa membayangkan kisah Gani-Mutia dihukum tanpa unsur agama dan tetap sanggup bekerja dengan baik (bahkan mungkin lebih), alasannya ini kisah insan yang berdamai dengan dirinya, bukan menemukan cahaya agama atau Tuhan. Gani ingin berubah bagi orang-orang tercintanya, juga demi nazar, demi janji, yang tanpa menggunakan perspektif agama pun, memang wajib ditepati.

Ada satu momen khusus yang seketika menciptakan Gani menjadi protagonis yang likeable serta layak didukung, yakni dikala Mutia menceritakan beberapa belakang layar pada Raka di suatu restoran. Sebelumnya, kita pun sempat diajak mengintip masa kemudian kelam nan berat miliknya, yang turut memberi Donny Alamsyah kesempatan memamerkan akting dramatis, melalui lontaran amarah menusuk yang bisa mendiamkan semua orang di ruangan. Kesukaran menggelayuti hidup tokoh-tokohnya, tapi tentu saja senjata utama Insya Allah Sah 2 tetap komedi. Beberapa humor bekerja efektif, sebutlah absurditas yang melibatkan telepon genggam dan bunyi tangis bayi, Jingga (Nirina Zubir) si polisi anggun yang gampang terbuai oleh pujian, atau jikalau anda tetap membenci penokohan Raka, anda akan senang melihatnya jadi korban serbuan bersin bertubi-tubi.

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Doa (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh (2018)

Sebuah adegan di trailer memperlihatkan Mang Ujang (Ence Bagus) si penjual kopi mengomel sementara kopi mengucur dari mulutnya. Di film, saat Mang Ujang hendak mengulangi perbuatan sama (membuat kopi dalam lisan alih-alih cangkir), Ali Oncom (Dwi Sasono) menyela dengan berkata “Jangan diulang Bang, yang tadi aja nggak lucu”. Ucapan Ali sebetulnya bisa ditujukan bagi keseluruhan DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh, selaku komedi yang keliru menyamakan definisi “lucu” dengan “aneh” dan “absurd”.

Saya ambil satu lagi adegan dari trailer saat Doyok (Fedi Nuril) ditelepon oleh mendiang sang ibu (Yati Surachman), yang muncul dalam wujud pocong. Doyok diminta supaya cepat mencari jodoh, kemudian bermuara pada adegan musikal di mana Doyok menyanyikan Cari Jodoh milik Wali, berlagak kolam rock star, sedangkan sang ibu bersama pocong-pocong lain jadi penari latar. Daripada seru dan lucu, saya malah dibentuk kebingungan. Saya mesti merespon bagaimana? Musikal berikutnya, walau tak sebegitu aneh, tampil datar dalam kemasan medioker. Entah apa alasan mengganti lirik lagu-lagunya, yang alih-alih lucu justru mengurangi hook lagu. Padahal lagu tema, yang telah lebih dulu mengiringi serial animasi televisinya, luar biasa catchy.

Mengadaptasi komik strip rubrik Lembergar (Lembar Bergambar) milik harian Pos Kota, film ini mengisahkan persahabatan tiga pengangguran: Doyok, Otoy (Pandji Pragiwksono), dan Ali Oncom. Otoy selalu jadi target kemarahan istrinya, Elly (Nirina Zubir) akhir hanya bermalas-malasan, Ali Oncom gemar menarik hati perempuan walau telah memacari Yuli (Jihane Almira), sedangkan Doyok, masih melajang. Otoy dan Ali Oncom pun tergerak mencarikan kawannya jodoh melalui banyak sekali cara. Salah satunya lewat situs “Minder”. Ya, satu lagi humor plesetan brand yang bagai kegemaran Anggy, yang kali ini tak hanya menyutradarai, pula menulis naskahnya bersama Fico Fachriza.

Tapi plesetan di atas masih lebih baik daripada 2 gaya komedi yang diandalkan film ini, yaitu 1) Komedi abstrak yang dibentuk seabsurd serta seaneh mungkin, dan 2) Komedi jorok yang dikemas, well, sejorok mungkin. Namun seolah tidak ada yang berusaha dijadikan selucu mungkin. Seberapa absurd? Bayangkan Anggy Umbara, tampil sebagai cameo, memerankan juri lomba debat berjulukan Manoj P., yang membuka perlombaan dengan teriakan “Action!”. Seberapa jorok? Pada satu titik, kita diserbu humor berlandaskan alat kelamin yang menampilkan penis salah satu tokoh terjebit dua kali. Anggy memang liar. Saat keliaran itu tersalurkan secara sempurna dan terkontrol, ia bisa melahirkan kreativitas tinggi. Sayangnya tidak di sini. Biar seorang sutradara agresi yang bagus, Anggy bukan sutradara komedi mumpuni. DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh adalah bukti nyata.

Karena bagaimana bisa sebuah film amat tidak lucu saat diisi nama-nama bertalenta? Selain bahan lemah, fakta bahwa pemeran pendukung tampil lebih solid ketimbang dominan pemain utama merupakan salah satu faktor. Ketika Dwi Sasono, dengan riasan yang membuatnya sulit dikenali, memikat berkat kemampuan membuat tawa unik, Pandji yaitu Pandji ibarat biasa, hanya gaya rambut asing plus perut (lebih) buncit yang membedakan. Kemudian Fedi Nuril, meski mengenakan gigi tonggos palsu sembari menyindir Fahri si pujaan perempuan yang ia perankan di Ayat-Ayat Cinta, terang belum sepenuhnya piawai berkomedi. Berbeda dengan formasi pemain pendukung, khususnya para wanita. Nirina yang masih hebat mengoceh kolam lesatan peluru, Titi Kamal dengan cara bicara dan gerak bibir aneh, hingga Laura Basuki yang menggila, menjaga filmnya dari kehancuran total.

Dan kita pun tahu niscaya gaya khas Anggy Umbara. Dia takkan membiarkan DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh berakhir sebagai film mengenai pencarian jodoh berlatar kehidupan masyarakat kampung kelas menengah ke bawah semata. Sehingga, third act-nya, melompat ke satu lagi twist berkonsep tinggi yang menggiring kita menuju titik puncak berupa baku hantam sarat kekacauan. Ketika saya berpikir Anggy mulai bisa mengontrol takaran keliaran eksplorasinya untuk digunakan seperlunya ibarat dalam Insya Allah Sah 2, sang sutradara justru menghasilkan absurditas berikutnya, yang juga karya terburuknya semenjak Comic 8: Casino Kings Part 1 (2015).

Wednesday, November 28, 2018

Ini Lho Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur (2018)

Judul film ini terdengar menyerupai adonan antara Bernafas dalam Lumpur (1970) dan Beranak dalam Kubur (1971), dua film yang dibintangi Suzzanna Martha Frederika van Osch. Judul yang disebut pertama bukan horor, namun drama, yang konon merupakan film Indonesia pertama yang berani menonjolkan seksualitas, pemerkosaan, juga kata-kata kasar, dengan “sundel” alias “sundal” alias “pelacur” sebagai salah satunya. Menariknya, elemen-elemen plot Suzzanna: Bernapas dalam Kubur banyak mengambil pandangan gres dari Sundel Bolong (1981).

Kebetulan? Sepertinya begitu. Tapi saya bakal percaya jikalau muncul pernyataan bahwa easter egg di atas ialah kesengajaan. Sebab orang-orang di balik Suzzanna: Bernapas dalam Kubur terbukti paham betul kriteria yang harus dipenuhi kala menciptakan “Film Suzzanna”. Ini bukan biopic, bukan pula remake, melainkan penghormatan yang dilakukan dengan benar, alih-alih sekedar perjuangan tak tahu aib guna mengeruk uang. Ini ialah ode yang mengatakan betapa (warisan) Suzzanna masih menghembuskan napas terornya dari dalam kubur.

Pendekatan tersebut tampak dari pemilihan nama tokoh utama. Bukan Alicia, Lila, atau (yang paling tenar) Suketi, tapi Suzzanna, yang diperankan oleh Luna Maya dalam penjelmaan tepat sebagai sang ratu horor. Dalam wujud insan (a.k.a. sebelum bertransformasi menjadi sundel bolong), kita melihat Luna dalam balutan prostetik yang membuatnya kolam kembaran Suzzanna, apalagi ditambah kefasihannya berlogat kolam noni Belanda. Walau sesekali terdengar inkonsisten, Luna sebagai Suzzanna ialah pemandangan adiktif yang menciptakan saya lupa, jikalau butuh beberapa usang sebelum horor merangsek masuk.

Suzzanna dan sang suami, Satria (Herjunot Ali), menjalani kehidupan penuh cinta yang bahagia, khususnnya ketika sesudah tujuh tahun, momongan yang dinanti risikonya tiba. Tapi jikalau mengenal film-film Suzzanna, tentu anda tahu ada bencana bersiap mengacaukan kebahagiaan mereka. Tragedi yang hadir dalam wujud rencana empat karyawan Satria: Umar (Teuku Rifnu Wikana), Dudun (Alex Abbad), Jonal (Verdi Solaiman), dan Gino (Kiki Narendra). Mereka menetapkan merampok rumah Satria sesudah usul naik honor ditolak. Aksi itu dilangsungkan di tengah penugasan Satria ke Jepang, sementara Suzzanna sedang  menghabiskan malam Minggu menonton layar tancap. Ketika di luar dugaan Suzzanna pulang lebih awal, mereka berempat terpaksa membunuh, kemudian menguburnya di pekarangan belakang rumah.

Keesokan paginya ia terbangun, seolah gres bermimpi jelek menyerupai biasa. Sebuah keputusan berani dari naskah karya Bene Dion Rajagukguk (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 & 2, Stip & Pensil) yang dibentuk menurut dongeng buatannya bersama Sunil Soraya (Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh, Single) dan Ferry Lesmana (Danur: I Can See Ghosts). Sekilas absurd, tapi—dalam kasus langka di film horor kita—Bene menyusun aturan-aturan soal apa yang bisa/tidak bisa sundel bolong lakukan, alasan ia melaksanakan “A” daripada “B”, dan sebagainya. Jumlahnya bisa dihitung jari, tak seberapa kompleks, tapi Bene terus konsisten membangun alur menurut aturan yang ia tetapkan.

Film-film Suzzanna dahulu ialah wujud totalitas hiburan, yang meski punya tujuan utama menakut-nakuti, menolak malu-malu menyentuh ranah kekonyolan, baik melalui komedi maupun cara metode membunuh over-the-top dari sundel bolong. Sebuah hiburan paket lengkap bagi semua kalangan yang seru disaksikan beramai-ramai, baik di studio bioskop atau layar tancap di tengah lapangan kampung. Suzzanna: Bernapas dalam Kubur mengusung tujuan serupa, sehingga diselipkanlah komedi, yang penghantarannnya dilimpahkan pada trio Asri Welas, Opie Kumis, Ence Bagus.

Ketiganya memerankan pembantu Suzzanna. Di satu kesempatan, mereka mecurigai jati diri si majikan, dan memulai penyelidikan yang berujung pada momen paling jenaka sepanjang film. Khususnya Opie Kumis dengan kepiawaian melontarkan celotehan-celotehan abstrak yang kelucuannya sukar ditampik. Opie memang pelawak berbakat yang butuh lebih banyak tampil di film apik macam ini ketimbang judul-judul menyerupai Humor Baper (2016) atau Selebgram (2017).

Suzzanna: Bernapas dalam Kubur memang hendak mengikuti formula horor Suzzanna masa lalu, namun juga berfungsi selaku modernisasi. Daripada b-movie, pendekatan lebih “besar” diterapkan, yang mana sanggup kita sadari hanya dengan sekilas mengamati tata artistik dan sinematografi garapan Ipung Rachmat Syaiful (Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, Rudy Habibie). Ketika Suzzanna menyidik seisi rumahnya sewaktu perampokan berlangsung, kameranya bergerak mulus, menyapu seisi ruangan lewat single take untuk menunjukkan keempat perampok di persembunyian masing-masing. Sedangkan musik gubahan Andhika Triyadi (Dilan 1990, Dear Nathan, Cek Toko Sebelah) terdengar megah sebagai cara glamor menyusun tensi dramatis, yang sayangnya kurang berdampak tanggapan lemahnya performa bintang film utama.

Bentuk modernisasi lainnya ialah ditiadakannya cara membunuh cartoonish, kemudian sebagai gantinya, menambah kadar gore. Seberapa pun saya rindu melihat sundel bolong mengendarai kendaraan beroda empat atau traktor, harus diakui, pemandangan tersebut akan sulit diterima penonton kekinian. Setidaknya Suzzanna: Bernapas dalam Kubur masih memberi kepuasan serupa kala menunjukkan setan yang punya tugas cenderung heroik ketimbang makhluk kejam, menegakkan keadilan dengan caranya. She’s a supranatural vigilante. Tatkala dunia faktual kerap membebaskan para pelaku kejahatan terhadap perempuan dari hukuman, menyaksikan mereka mendapatkan penghakiman di sini terang menyenangkan.

Aspek horornya memang tak seberapa mengerikan. Mungkin alasannya ialah sundel bolong tak pernah menampakkan diri di lingkungan yang familiar untuk menghantui “rakyat biasa” (pinggir jalan, perkampungan, dll.) sehingga terornya kurang terasa dekat, atau mungkin, alasannya ialah Suzzanna sendiri punya aura mistis tak tertandingi. Luna Maya sendiri mengeluarkan kemampuan terbaiknya sebagai sundel bolong dengan tawa menyayat pendengaran dan mata yang melotot begitu lebar, seolah menatapnya sanggup menjadikan kematian.

Awalnya film ini disutradarai Anggy Umbara (Comic 8, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, Insya Allah Sah 2) seorang, namun pasca suatu insiden (yang tak bisa saya ungkap), Rocky Soraya (The Doll, Sabrina) bergabung, menyebarkan kredit penyutradaraan. Sulit memilah mana hasil kerja Rocky mana Anggy, sehingga saya menetapkan menganggapnya sama rata. Pergerakan ceritanya mulus, menjadikan alurnya nyaman dinikmati mesti suguhan utamanya tak eksklusif muncul. Urusan membangun teror, kadang kita diajak berdiam terlalu usang di satu momen hingga intensitasnya turun drastis, tapi siapa pun yang menggarap klimaks, khususnya adegan “Kebangkitan sundel bolong”, layak dipuji atas kemampuan mencuatkan keindahan dari dramatisasi teror. Tonton film ini, nikmati perjalanannnya, kemudian mari menanti, apakah ular di atas pohon itu cuma ular biasa atau petunjuk mengenai reboot untuk.....

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Warkop Dki Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 (2017)

Jangkrik Boss! Part 2 terjangkit penyakit yang jamak menyerang sebuah proyek film besar yang dipecah jadi dua bagian. Ketika Part 1 merupakan kekacauan menyenangkan yang melompat cepat dari satu keserampangan menuju keserampangan berikutnya, deretan dagelan Part 2 terasa dipaksa bergulir selama mungkin demi memenuhi kuota dua film panjang dengan masing-masing berdurasi sekitar 90 menit. Ide Anggy bersama partner penulisan naskahnya, Bene Dion Rajagukguk dan Andi Awwe Wijaya sejatinya segar, namun kerap berlarut-larut, seringkali menurunkan efektivitas. Adegan perpustakaan ialah pola paling nyata. Untungnya masih terdapat setumpuk amunisi lain.

Langsung melanjutkan final film pertama, Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) bersama Sophie (Hannah Al Rashid) melanjutkan petualangan mencari harta karun di Malaysia. Setelah melalui kejadian yang melibatkan ketiganya dalam eksperimen aneh, akhirnya Nadia (Nur Fazura), si gadis berbaju merah yang kopernya tertukar dengan mereka di bandara berhasil ditemukan. Pencarian harta karun pun berlanjut di suatu pulau kosong yang tidak hanya memunculkan kejutan khas Anggy Umbara, juga kegilaan yang meneruskan kegemaran Warkop bermain-main menggabungkan komedi dan berbagai genre.
Sebelum masa 90-an dengan image "jalan-jalan ke pantai melihat cewek seksi" usungan film produksi Soraya (mengisi sebagian fase film ini), Warkop mencapai puncak kualitas lewat bermacam-macam bentuk. Manusia 6.000.000 dollar adalah sci-fi, Chips satir sosial bersampul dongeng kepolisian, Depan Bisa Belakang Bisa kental unsur detektif, sampai petualangan di IQ Jongkok dan horor dalam Setan Kredit. Dua judul terakhir jadi pondasi utama Jangkrik Boss! Part 2 yang sesampainya pada klimaks, "banting setir" ke ranah fantasi imajinatif (sebelum ditutup oleh ending yang begitu tiba-tiba). Serupa karya Anggy Umbara sebelumnya, transisinya kasar, seketika tumpah semata-mata demi twist tak terduga. Tapi ada faktor lain yang membuatnya bermakna: homage. 

Pada dasarnya Warkop DKI Reborn adalah proyek penghormatan ambisius yang coba meleburkan setumpuk film beserta gaya bercanda Warkop DKI, dan third act Jangkrik Boss! Part 2 mengeskalasi homage-nya ke level lebih tinggi pun lebih luas, kolam membawa penonton menyusuri dunia berisikan ikon perfilman tanah air masa 70 hingga 80-an (termasuk Rhoma Irama seperti nampak di trailer). Sebuah langkah kreatif dari Anggy dan tim menyatukan mereka dengan Warkop DKI  yang mana juga berasal dari masa itu  sebagai bungkus. Bukan berhenti selaku penghormatan saja, sekuen tersebut pun luar biasa lucu (clue: Soto), menjadi pencapaian terbaik dari keliaran pikir Anggy yang sebelumnya, termasuk di film ini, punya persentase keberhasilan dan kegagalan berimbang. 
Dua pertiga awal Jangkrik Boss! Part 2 cenderung hit-and-miss akibat cita-cita membuat humor seaneh mungkin. Beberapa berlangsung datar, termasuk repetisi dagelan meta, kala atas dasar tribute, filmnya (terlalu) sering breaking the fourth wall yang mana termasuk kebolehan Warkop DKI dahulu. Toh kali ini pilihan Anggy menekankan absurditas komedi, menolak melangkah di "jalur aman" layak dikagumi. Terlebih ada "adegan soto" yang membayar lunas sederet kekurangan lain, sekaligus mengingatkan betapa keunggulan Warkop terletak pada keluwesan improvisasi mengolah kata dalam komedi verbal. Kecerdasan berkelakar yang sayangnya tertutup gambaran "film cewek seksi berbikini di pantai" akhir banyak pihak lebih familiar dengan Warkop masa Soraya yang mendominasi televisi. 

Trio Abimana-Vino-Tora masih tampil bagus, walau daya kejut hasil perubahan ketiganya otomatis berkurang sebab telah memasuki film kedua. Abimana tetap dengan salah satu transformasi tugas terbaik di perfilman kita yang bisa memancing tawa walau hanya bangun membisu (sebelum film dimulai ada iklan Top White Coffee yang ia bintangi, silahkan bandingkan). Vino kian apik memasang ekspresi. Salah satu penyebab "adegan soto" bekerja begitu baik ialah respon konyol miliknya. Tora mengakali karakterisasi Indro yang belum sesolid dua rekannya lewat totalitas kejenakaan di tiap kesempatan, layaknya penyerang yang mampu memanfaatkan peluang mencetak gol sekecil apapun. Sewaktu humor tidak konsisten bekerja maksimal, ketiganya membuat Jangkrik Boss! Part 2 selalu menarik disimak.

Monday, November 5, 2018

Ini Lho 5 Pemuda Jagoan: Rise Of The Zombies (2017)

5 Deadly Angels. Begitu judul internasional untuk 5 Cewek Jagoan (1980) karya Danu Umbara. Tentu para protagonis 5 Cowok Jagoan buatan Anggy Umbara, putera Danu, kurang pas disebut "Deadly", lantaran daripada membantai lawan, mereka lebih banyak memamerkan kekonyolan. Bahkan Reva (Cornelio Sunny) yang andal mengayunkan katana bukan laki-laki berperilaku normal. Dia kolam sufi cinta hening yang tersenyum bijak menyikapi semua hal, tapi berkembang menjadi parodi tokoh anime tiap kepalanya terbentur, lengkap dengan rambut lancip dan logat Jepang dengan artikulasi kacau. 

Kelima pendekar kita asing luar dalam. Dedi (Dwi Sasono) yang berkepala botak tanggung, berperut gendut ialah pelupa akut yang melupakan ulang tahun istri dan anaknya. Danu (Arifin Putra) merupakan dukun palsu dengan alis menyatu. Lilo (Muhadkly Acho) si anak mama gemar ber-cosplay tidak pada tempatnya. Sementara Yanto (Ario Bayu), selain berambut kribo rupanya seorang pemimpi di siang bolong. Berkata punya pekerjaan mentereng padahal cuma cleaning service, kemudian mengaku berpacaran dengan Dewi (Tika Bravani), rekan sekantor yang bahkan jarang ia ajak berinteraksi. Tapi korelasi Yanto-Dewi lah aktivis alur film ini.
Dewi diculik oleh sindikat misterius. Demi menyelamatkan sang pujaan hati, Yanto menagih kesepakatan keempat sobat masa kecilnya. Janji yang bahkan tidak diingat jelas, di mana mereka menyimpan memori berbeda akan masa kemudian itu sesuai kepribadian masing-masing. Kepribadian yang sebatas disusun oleh ciri komedik: Dedi pemalas yang ingin mendapat televisi, Danu mata duitan, Lilo anak manja, Yanto pengkhayal dan penakut, Reva pecinta ketenangan dengan tutur kata bijak. Kepribadian yang semata berfungsi memicu tawa penonton.

Komedi wajib lucu, tapi 5 Cowok Jagoan  ditulis oleh Anggy Umbara, Isman HS, Arie Kriting  berusaha mati-matian menciptakan penonton tertawa. Memakai visual gags lewat tampilan abstrak tokohnya hingga komedi situasi hasil tingkah laris mereka, Anggy ingin penonton tergelak di semua kesempatan, hingga terkadang terasa berlebihan. Tidak berhenti di situ, kita juga diberi tahu kapan mesti tertawa melalui iringan pengaruh bunyi yang sudah lewat masa keemasannya selaku suplemen komedi. Anggy memerah habis-habisan potensi humornya, menghasilkan inkonsistensi. Kerap gagal, tapi sekalinya berhasil, sulit menahan ledakan tawa. 
Apalagi setiap Cornelio Sunny bicara layaknya tokoh-tokoh dalam Crows Zero. Beberapa waktu lalu, saya menyaksikannya tampil depresif kemudian bercinta dengan jeep di Mobil Bekas buatan Ismail Basbeth. Serupa Abimana di Warkop DKI Reborn atau Reza Rahadian di My Stupid Boss, melihat pemain film "dramatik" mencoba tugas konyol (dan sukses) selalu menyenangkan. Begitu pula Ario Bayu dengan cara menodongkan pistol yang tak ubahnya James Bond kehilangan kewarasan atau Ganindra Bimo dengan bebeknya. Itulah sebab, walau totalitas Dwi Sasono kembali menghibur, kedua nama tadi lebih mencuri perhatian. 

Penampilan berkesan lain berasal dari Nirina Zubir. Berbeda dengan para pria, Nirina sebagai Debby tampil serius, mengundang decak kagum ketika secara meyakinkan menangani porsi laga. Bersama Tika (dan tiga aktris lain yang diungkap di penghujung film), Nirina membangun jembatan menuju remake 5 Cewek Jagoan, yang tampaknya bakal fokus pada aksi, menekan kadar komedi. Menjanjikan, mengingat kapasitas Anggy merangkai sabung penuh gaya, ibarat tampak dalam 3 (Alif, Lam, Mim), lebih mumpuni ketimbang komedi. 5 Cowok Jagoan sendiri tidak jauh beda, asyik berkat dosis gaya plus pemakaian CGI secukupnya, termasuk dalam mengemas para zombie memasuki paruh kedua. 5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies mungkin tak mulus mengalir, tapi saya tak ingin hiburan ini cepat berakhir.