Showing posts with label Aubrey Plaza. Show all posts
Showing posts with label Aubrey Plaza. Show all posts

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho The Little Hours / The Transfiguration / The Villainess

The Little Hours, selaku film pertama ialah adaptasi The Decameron, novella dari kurun 14 karya penulis asal Italia, Giovanni Boccaccio. Terdiri dari 100 kisah pendek yang dituturkan tokoh-tokohnya selama 10 hari, sutradara sekaligus penulis naskah Jeff Baena mengangkat dua kisah pertama di hari ketiga. Selanjutnya ada The Transfiguration, drama gelap yang mengaitkan kesulitan karakternya menjalani kehidupan sosial dengan kisah vampir ala Nosferatu, sembari memindahkan konteks dongeng vampir dari lingkup kultural kulit putih menuju kulit hitam. Terakhir ialah The Villainess yang pada Festival Film Cannes 2017 mendapat empat menit standing ovation.
The Little Hours (2017)
Film dengan Aubrey Plaza memerankan suster di biara terpencil tentu takkan berlangsung normal. Nyatanya, suster di sana memang unik, kalau bukan nakal. Fernanda (Aubrey Plaza) yang galak kerap berbohong semoga bisa kabur di pagi hari, Ginevra (Kate Micucci) gemar bergosip, dan Alessandra (Alison Brie) berharap sanggup pergi demi memperbaiki hidup. Mengolok-olok tukang kebun, meludahi, bahkan memukulinya jadi rutinitas mereka. Baena menggambarkan para "pelayan Tuhan" sebagai insan dengan hasrat terpendam, termasuk si pendeta, Tommasso (John C. Reilly) yang doyan mabuk. Meski provokatif pula erotis, Baena mengedepankan komedi yang seluruhnya didasari improvisasi mumpuni jajaran cast, khususnya Plaza lewat deadpan khasnya yang di sini condong pada sikap garang ketimbang canggung. Bangunan dunianya menarik, dengan akurasi setting abad pertengahan namun obrolan plus sikap tokohnya modern. Kegilaan berlipat begitu Massetto (Dave Franco), pelayan yang kabur sehabis berselingkuh dengan istri majikannya, memasuki sentral cerita. Seiring konflik meninggi dan kejutan merangsek, Baena keteteran menyusun tone, meninggalkan kebingungan, apakah harus tertawa, tercengang, atau terjerat oleh drama ihwal represi nafsu duniawi manusia. Namun tak menghalangi The Little Hours memberi 90 menit keliaran padat nan menyenangkan. (3.5/5)

The Transfiguration (2016)
Milo (Eric Ruffin) menganggap Nosferatu yang jelek rupa, hidup terasing di kegelapan lebih realistis daripada ketampanan serta badan berkilau Edward Cullen. Bagi Milo, istilah "realistis" bisa diterapkan lantaran vampir konvensional mencerminkan dirinya yang terasing, punya iman diri rendah, korban bully, dan ingin menjadi karnivora puncak rantai makanan, di mana Milo berburu di malam hari, menghisap darah sekaligus merampas uang korban. Demikian film ini cerdik membangun metafora lewat naskah Michael O'Shea (juga sutradara). O'Shea memaparkan efek kesulitan sosialisasi sampaumur yang memancing krisis identitas, sehingga coping terhadap sosok idola pun digunakan mencari jati diri. Tapi bukan selebritis atau figur pahlawan yang Milo puja, melainkan vampir. Pertemuan Milo dengan Sophie (Chloe Levine) yang juga teralienasi tanpa disadari menariknya dari lubang persembunyian. Ibarat vampir menemukan penawar atau insan yang mendapat arti. Sebagai horor, The Transfiguration menyajikan beberapa pemandangan menjijikkan, walau dalam kuantitas terbatas. Tempo lambat ditambah alur tipis dikala sedang tak bermain analogi bisa menjauhkan penonton umum, tapi sungguh observasi mendalam untuk problematika sosial kelam, termasuk tendensi bunuh diri. (3.5/5)

The Villainess (2017)
Penonton tak lagi menghendaki film sabung generik berisi pamer otot si pahlawan dan peluru yang asal dimuntahkan sebanyak mungkin. Diawali dwilogi The Raid, Hollywood menjawab lewat John Wick, dan kini Korea Selatan punya pendekar sendiri. Langsung menggebrak lewat sekuen panjang yang bagai tanpa cut selama enam menit (empat menit sudut pandang orang pertama, dua menit orang ketiga), The Villainess merupakan ambisi Jung Byung-gil menjauhi keklisean. Long take dan gerak kamera yang sekilas semrawut tapi berkala membungkus hampir semua adegan aksi. Alurnya mengetengahkan kehidupan Sok-hee (Kim Ok-bin) yang semenjak kecil dilatih sebagai mesin pembunuh dan kini menjalankan misi untuk intelijen Korea Selatan. Guna menceritakan masa kemudian kelam Sok-hee, flashback kerap dipakai, yang mana menyimpan banyak rahasia, acap kali muncul mendadak, bahkan sempat hadir flashback dalam flashback, membuktikan ambisi Byung-gil tampil beda dan bergaya. Kurang substansif sekaligus berisiko membingungkan, sang sutradara bisa meminimalkan kekacauan sehingga tatanan alur tetap setia dalam jalur. Sempat pula diselipkan sekilas momen manis di bawah guyuran hujan yang mempunyai kegunaan mengikat hati penonton, memudahkan kita berpihak pada protagonis. Ok-bin berada di jajaran atas tokoh perempuan perkasa, membantai puluhan lawan seorang diri, termasuk di kegilaan titik puncak kala laju kencang bus tidak kuasa menahan aksinya. (4/5) 

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Ingrid Goes West / Mother! / Beach Rats

Kumpulan review pendek kali ini dibuka oleh Ingrid Goes West, satir mengenai kultur media umum khususnya Instagram yang mestinya memantapkan posisi Aubrey Plaza di jajaran aktris kelas satu Hollywood. Pada Festival Film Sundance 2017, David Branson Smith dan Matt Spicer meraih Waldo Salt Screenwriting Award untuk naskah terbaik. Berikutnya Mother!, horor psikologis karya Darren Aronofsky yang membelah penonton menjadi dua kubu sekaligus menyulut kontroversi terkait alegori mengenai Alkitab. Terakhir ada Beach Rats, film bertema LGBT yang juga berjaya di Sundance, membawa Eliza Hittman meraih sutradara terbaik.

Ingrid Goes West (2017)
Budaya media umum bukan saja telah menjamur, juga beracun. Nampak pada tingkah Ingrid (Aubrey Plaza) yang menguntit selebgram asal L.A., Taylor (Elizabeth Olsen), meniru caranya berpakaian, masakan favorit, hingga alat mandi. Ingrid serupa dewasa kini yang rela menjiplak jati diri (baik literal maupun metaforikal) demi status dunia maya walau tanpa kehidupan dunia nyata. Arah alur gampang ditebak, tapi kekuatan utama film ini ialah observasi soal ragam sikap destruktif pengguna media sosial, dari perjuangan mendaki kasta, stalking, hingga obsesi pendorong kesediaan meniru sang idola. Topik ini spesifik tapi relevan bagi tiap situasi juga era, bahkan sebelum Instagram merajalela. Selain setia bergaya canggung, Plaza menunjukan kapasitas memainkan nada serius, mahir dalam memaparkan fluktuasi emosi. Berkatnya, pengamatan kita menghasilkan efek beragam, sesekali menaruh kasihan, kadang menertawakan, menikmati kala Ingrid kena batunya. Olsen sebaliknya, benderang, layaknya sosok ideal yang menciptakan orang ingin berteman bahkan menjadi dirinya. Titik rendah filmnya terletak di konklusi kurang tegas, ingin melanjutkan satir ke tataran lebih jauh atau mengusung pesan positif yang justru berujung justifikasi pada pihak yang disindir. (3.5/5)

Mother! (2017)
Melalui Mother!, Aronofosky tidak tertarik menyadarkan apalagi menginspirasi. Sepertinya fase itu sudah usang berlalu, menyisakan amarah yang menanti tercurah. Aronofosky murka pada banyak pihak, dari sikap semau sendiri dan ketidakpedulian insan yang melukai Mother Nature (Jennifer Lawrence), pula representasi Tuhan dalam sosok Him (Javier Bardem) yang menurutnya tergila-gila akan puja-puji. Guna menuturkan interpretasi lepas dari Kitab Kejadian ini, pemakaian narasi konvensional memang sulit dilakukan, sehingga gaya metaforikal bersifat perlu, bukan pretensius. Meski bertebaran simbol, alur yang tetap mengikuti kaidah tiga babak (awal-tengah-akhir) memudahkan penonton menyusun keping teka-teki. Jangan khawatir daya tariknya hilang begitu tema besar terpecahkan, alasannya ialah Mother! masih menyimpan setumpuk absurditas selaku komplemen detail cerita, dengan titik puncak gila sebagai penegas bahwa kemampuan Aronofsky mengganggu batin penonton, yang tampak semenjak awal karirnya, belum luntur. Aronofsky sukses menjahit rapi hikayat Bibel versinya ke dalam konflik suami-istri yang masing-masing sanggup bangun sendiri. (4.5/5)

Beach Rats (2017)
Pencarian jati diri, konformitas, korelasi keluarga yang berjarak. Eliza Hittman menerapkan lika-liku dunia dewasa itu dalam lingkup LGBT. Frankie (Harris Dickinson) rutin menghabiskan malam di depan komputer menelusuri gay chat room untuk mencari laki-laki lebih tua. Meski demikian, beliau enggan mengaku gay, punya pacar perempuan walau sulit terangsang kala berafiliasi seks, bersahabat, menghisap ganja bersama tiga mitra yang menganggap korelasi sesama jenis menggelikan pula menjijikkan. Bahwa dewasa bersedia menyangkal identitas, menyesuaikan dengan "norma" biar diakui, jadi sorotan utama Hittman. Dickinson memberi ketenangan namun dinamis dalam bertukar kalimat. Performa ini selaras dengan "topeng" Frankie yang menyimpan kasus sembari ingin tampak "normal" di lingkungan sosial. Hélène Louvart menggunakan kamera 16mm, merangkai kelembutan malam minim cahaya, menghasilkan gambar-gambar yang menyokong perasaan karakternya. Sementara Hittman membungkus adegan seks melalui kelembutan serupa, meniadakan kesan vulgar murahan. Solid, tapi Beach Rats takkan bertahan usang di ingatan tanggapan ketiadaan pembeda dibanding drama indie low budget kebanyakan (visual stylish, slow burning). Terlebih penokohannya kurang mendalam, sebatas melayani tugas masing-masing ("the distant mother", "the girlfriend", "the asshole homophobic friends") tanpa kepribadian menarik. (3.5/5)