Showing posts with label Ben Mendelsohn. Show all posts
Showing posts with label Ben Mendelsohn. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Ready Player One (2018)

Pada 2045 ketika dunia menjadi kumuh akhir overpopulasi, polusi, korupsi, dan perubahan iklim, umat insan menentukan “kabur” ke OASIS (Ontologically Anthropocentric Sensory Immersive Simulation), dunia virtual ciptaan James Halliday (Mark Rylance) yang sanggup diakses menggunakan kacamata VR, di mana seseorang bebas menjadi siapa saja serta melaksanakan apa saja. Pada 2018 ketika dunia kerap lupa bersenang-senang, umat insan mestinya “kabur” ke Ready Player One, dunia imajinatif ciptaan Steven Spielberg, yang sebaiknya dinikmati menggunakan kacamata 3D. Kostum XI sanggup memaksimalkan sensasi OASIS yang karakternya alami,  sedangkan format 4DX menghasilkan dampak serupa bagi filmnya.

Berasal dari novel fenomenal berjudul sama buatan Ernest Cline (juga selaku penulis naskah bersama Zak Penn) yang dipenuhi rujukan kultur terkenal 80-an, terang tak ada yang lebih pantas menggarap pembiasaan layar lebarnya selain Spielberg. Pertama, ia termasuk sosok paling kuat yang membentuk kultur terkenal masa itu lewat trilogi Indiana Jones (1981-1989), hingga E.T. the Extra-Terrestrial (1982). Kedua, tidak ada sutradara sehebat dirinya ihwal merangkai hiburan visioner kental kreativitas bertabur dampak Istimewa berskala besar. Sekali lagi, TIDAK ADA.
Wade Watts (Tye Sheridan), bocah yatim piatu berusia 18 tahun yang tinggal di pemukiman kumuh di Columbus, Ohio, merupakan protagonis kita. Seperti orang-orang yang lebih betah memamerkan diri di dunia maya (baca: sosial media) alasannya merasa sosok aslinya payah, Wade pun menghabiskan dominan waktunya di OASIS. Menggunakan avatar berjulukan Parzival, Wade mengikuti kompetisi mencari easter eggs yang ditinggalkan Halliday sebelum meninggal. Si pemenang bakal mewarisi kepemilikan OASIS plus hadiah-hadiah lain. Masalahnya, rintangan yang mesti dihadapi teramat sulit, belum lagi ancaman dari Nolan Sorrento (Ben Mendelsohn) beserta perusahaan penyedia peralatan VR miliknya, IOI (Innovative Online Industries), yang berambisi menguasai OASIS.

Saya berharap Ready Player One meluangkan sedikit lagi waktu menyelami dunia maupun karakternya lebih jauh, namun kehebatan Spielberg merangkai spectacle menciptakan saya tidak keberatan pribadi terjun ke dalam agresi bombastis semenjak menit awal. Balapan melintasi versi OASIS untuk New York di mana bola-bola besi raksasa, T-Rex, hingga King Kong telah menanti guna menggagalkan usaha menemukan easter eggs. Ini gres tahap pertama, tapi itu urung memudahkan usaha Parzival dengan kendaraan beroda empat “Back to the Future” miliknya menembus garis akhir. Begitu pula Art3mis (Olivia Cooke), sosok pemain terkenal pengendara motor merah dari animasi Akira yang jadi pujaan Parzival.

Balapan tersebut pertanda betapa Spielberg paham cara membangun tensi. Reruntuhan gedung yang menciptakan kendaraan beroda empat saling bertabrakan, amukan King Kong yang menghancurkan kendaraan pemain layaknya mainan plastik murahan, bukan sekedar pawai CGI. Terdapat dimensi, bobot, alih-alih gambar rekayasa komputer yang beterbangan tanpa massa tubuh. Berkatnya, kesan bahwa para tokoh sungguh terancam ancaman pun terasa. Menegangkan, tetapi Spielberg tak pernah lalai menyuntikkan nuansa senang-senang.
Ready Player One mengajak kita merayakan hidup, baik di dunia faktual maupun maya. Keseimbangan itu dibutuhakan. Spielberg wants us to know what it feels like to live our lives at its fullest. Caranya ialah meniadakan set piece yang sifatnya filler. Total ada 3 kunci dibutuhkan demi mendapat hadiah dari Halliday, dan tiap fase pencarian kunci mengandung momen penyulut decak kagum dan sorak sorai berupa visualisasi kelas wahid Spielberg terhadap pandangan gres tertulis Cline. Di tangan Spielberg, hal terpenting bukan “ada berapa tokoh dan/atau rujukan budaya populer?”, melainkan bagaimana semua dirangkum menjadi adegan solid. Pun naskahnya meniadakan kesan “pamer”, sehingga tur mengelilingi Hotel Overlook, lantai dansa nol gravitasi dilengkapi lagu Stayin’ Alive, sampai pergumulan “tiga raksasa” di titik puncak kolam fase alamiah yang wajib alurnya lalui.

Tetap ada cela. Sebagai film mengenai seruan biar tak melupakan realita, adegan “dunia nyata” film ini kekurangan daya pikat. Saya merasa ibarat manusia-manusia di dalamnya yang menentukan kehidupan OASIS ketimbang kenyataan. Satu-satunya momen (mendekati) realita yang tampil menarik terletak menjelang akhir, Mark Rylance menunjukkan akting kaya sensitivitas sebagai Halliday, si laki-laki jenius yang introvert pula canggung soal sosialisasi. Namun di kemunculan pamungkasnya, dibalut kehangatan ala Spielberg, Rylance mengatakan bahwa Halliday telah berubah. Lebih dewasa, lebih matang, lebih bijak. Kita semua bisa mengalami perubahan serupa asal tidak terlampau usang menetap di dunia maya.

Wednesday, November 28, 2018

Ini Lho Robin Hood (2018)

Para purist akan menyebut Robin Hood—sebagaimana King Arthur: Legend of the Sword (2017)—produk hina penuh dosa akhir keengganannya setia pada gaya tradisional. Padahal filmnya sendiri sudah meminta, “Lupakan sejarah dan dongeng pengantar tidur yang kalian kenal”. Kaprikornus apa perlunya kita meminta sesuatu yang jelas-jelas tidak coba filmnya raih? Robin Hood merupakan modernisasi yang meski tidak luar biasa maupun cerdas, namun menyenangkan pula efektif. Terima saja kenyataan itu.

Sang ningrat muda, Robin of Loxley (Taron Egerton), mendapatkan perintah wajib militer dari Sheriff of Nottingham (Ben Mendelsohn), di mana ia mesti terjun ke Perang Salib, memaksanya meninggalkan kehidupan glamor serta cintanya, Marian (Eve Hewson). Otto Bathurst, dalam debut penyutradaraan layar lebarnya, mengemas Perang Salib layaknya Perang Irak dengan parade “boom bang”. Para prajurit mengangkat busur panah ibarat senapan, dan pihak lawan menghujani mereka dengan crossbow seolah benda itu ialah senapan mesin. Dan saya mengaguminya.

Robin, yang sejatinya cowok berhati mulia, terganggu menyaksikan rekan-rekannya membantai tawanan perang secara keji. Dia pun memberontak hingga dikirim kembali ke Nottingham. Salah satu tawanan, Yahya alias John (Jamie Foxx), sehabis melihat sang putera dipenggal di depan matanya, merencanakan kudeta. John memutuskan belakang layar mengikuti Robin kembali ke Nottingham. Bagaimana John bisa bersembunyi selama tiga bulan di bawah geladak? Bagaimana ia makan dan minum?

Tidak perlu mempertanyakan itu, lantaran ketika otak anda sibuk memikirkan setumpuk lubang alurnya, film ini, yang bergerak dalam tempo cepat, telah mencapai destinasi: Nottingham, yang kini telah jauh berubah. Di bawah perintah Sheriff, semua penduduk dipindahkan ke tambang untuk bekerja paksa, termasuk Marian yang kini menjalin kasih dengan Will (Jamie Dornan), lantaran nama Robin tertera dalam daftar buatan Sheriff of Nottingham tentang prajurit yang gugur dua tahun kemudian (Robin pergi selama empat tahun).

Bukan saja urusan kerja, pemaksaan Sheriff of Nottingham juga terjadi tentang pembayaran pajak yang terlampau tinggi. Konon pajak itu digunakan mendanai Perang Salib.  Didorong hasrat balas dendam dan patah hati, Robin, dengan derma John yang mengajarinya teknik memanah tingkat lanjut, berkembang menjadi “The Hood” yang populer lewat aksinya mencuri dari para ningrat guna dibagikan kepada rakyat miskin. Sedangkan sebagai ningrat Robin of Loxley, ia coba memenangkan hati Sheriff, untuk mengungkap siapa dalang di balik kediktatoran kejam ini.

Tentu alur dalam naskah buatan Ben Chandler dan David James Kelly tipis sekaligus penuh lubang. Salah satunya lagi-lagi melibatkan perjalanan jalur air menuju Nottingham. Bagaimana bisa para Crusaders (termasuk “kawan lama” Robin di medan perang) datang sedemikian cepat guna menjadi kaki tangan Sheriff meski jarak tempuhnya memakan waktu tiga bulan? Tapi lagi-lagi, sungguh buang-buang waktu menyibukkan pikiran dengan pertanyaan tersebut ketika Bathurst sibuk mempersembahkan banyak agresi menghibur.

Gerak lambat, musik bombastis buatan Joseph Trapanese (dwilogi The Raid, The Greatest Showman), ledakan-ledakan, set piece raksasa, hingga agresi tembak-menembak panah super cepat dengan koreografi yang mengingatkan saya akan gun fu milik John Woo, semua merupakan perjuangan modernisasi untuk tuturan medieval yang bagi penonton kini rasanya sudah ketinggalan zaman. Aksi-aksinya takkan menciptakan jantung berdegup keras, namun setidaknnya, bisa menyunggingkan senyum puas.

Robin Hood merupakan film di mana protagonisnya bertarung demi merebut cintanya lagi sembari meruntuhkan pemerintahan korup. Bagaimana saya tidak mendukungnya? Apalagi ketika Taron Egerton enggan berusaha terlalu keras tampak keren (yang acap kali menyulut penampilan kaku seorang aktor), membiarkan gaya asyiknya terhampar lepas. Ketika Ben Mendelsohn melakoni pekerjaan langganannya (baca: memerankan pejabat biadab), Eve Hewson yang juga puteri Bono U2, akan mencuri hati penonton sebagaimana yang ia perbuat pada Robin.

Film ini bukan pelajaran sejarah, bukan pembiasaan legenda yang setia terhadap sumbernya, bukan blockbuster yang berkesempatan unjuk gigi di ajang penghargaan, bukan pula interpretasi bergaya gritty realism layaknya versi Ridley Scott 8 tahun lalu, yang sejatinya jauh lebih ngawur (Robin Hodd tanpa tudung dan panah???). Film ini ialah hiburan sekali waktu. Cukup terima kenyataan tersebut.

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Darkest Hour (2017)

Orasi dalam film sering digunakan selaku alat penyulut emosi, dan Darkest Hour yakni film di mana orasi mendominasi, menjadi pondasi alur. Masuk akal, mengingat karya teranyar Joe Wright (Pride & Prejudice, Atonement, Anna Karenina) ini mengisahkan sosok Winston Churchill (Gary Oldman) yang dikenal sebagai orator handal. Tidak ada yang bisa merangkai kata sebaik dirinya. Setidaknya berdasarkan sang sekretaris, Elizabeth Layton (Lily James). Pernyataan itu sulit disangkal. Suatu dikala Lord Privy Seal menelepon kala Churchill sedang berada di toilet. Responnya menggelitik: “Please tell the Privy Seal that I’m sealed in the privy and I can only deal with one shit at a time”. 

Anthony McCarten menyelipkan humor dalam naskahnya, entah permainan kata menyerupai di atas atau comedy of manners sebagaimana nampak di pertemuan  canggung Churchill dan Raja George VI (Ben Mendelsohn) pasca ia ditunjuk selaku Perdana Menteri menggantikan Neville Chamberlain (Ronald Pickup) di masa Perang Dunia II . Neville mungkin Perdana Menteri yang baik kala damai, namun lain dongeng di tengah peperangan. Churchill dengan kegigihan untuk maju menghadang Nazi pun dipilih, meski banyak pihak mewaspadai kapasitasnya, terlebih pasca Gallipoli yang memakan korban ratusan ribu pasukan Inggris.
Darkest Hour bersedia menyibak kelemahan Churchill. Ketika Viscount Halifax (Stephen Dillane) terang-terangan menyebut bencana Gallipoli diakibatkan keputusan Churchill tepat di depan matanya, terbersit keraguan di respon sang Perdana Menteri, walau ia tetap berkelit menolak disalahkan. Mungkin jauh dalam hati kecilnya, Churchill menyadari telah berbuat salah. Dia bermental baja, pantang menyerah, keras kepala, tapi bukannya tidak mungkin dirobohkan. Mencapai satu titik, Churchill sempat terjerembab ke lubang gelap, ketakutan, meragu, bahkan kehilangan kata-kata yang mana yakni keahliannya.

Churchill terbentur dilema. Terus melawan dengan resiko makin banyak nyawa prajurit melayang, atau oke berdamai yang berarti membuka jalan Nazi makin berkuasa, dan kemungkinan besar melucuti kemerdekaan Inggris. Banyak film membawa kita ke tengah medan perang. Di sana, wajah politikus dan pemegang tampuk kekuasaan selalu sama: orang-orang tanpa hati yang mengirim prajurit untuk mati sedangkan mereka bersembunyi di balik benteng tebal di rumah sendiri. Darkest Hour menyuguhkan perspektif lain, menyoroti yang terjadi di ruang Parlemen, apa yang dilakukan pria-pria berjas selaku pemilik kekuasaan.
Persoalan di balik layar ini bisa mengaduk rasa lewat pidato Churchill yang seolah bisa menggerakkan api usaha rakyat. Wright, dalam salah satu penyutradaraan terbaiknya, menyulap orasi di rapat Parlemen yang remang-remang atau siaran radio di bawah siraman lampu merah jadi momen mencengkeram dada. Musik Dario Marianelli membantu mengangkat emosi sembari tetap menjadi keping estetika yang sanggup dinikmati sendiri, sementara sinematografi Bruno Delbonnel menghadirkan sekuen luar biasa berpengaruh yang kemunculannya tak terduga (petunjuk: melibatkan mata jenazah). Dramatisasi Wright efektif, keputusan menyelipkan adegan fiktif manipulatif sewaktu Churchill menemui rakyat di kereta bawah tanah pun bisa dimaklumi. Bahkan adegan itu yakni poros emosi yang memberi cukup latar belakang terkait keputusan Churchill.

Selain Wright, Gary Oldman turut melaksanakan dramatisasi. Bila anda mendengar rekamannya, orasi Churchill menggugah namun tak sedemikian berapi-api layaknya Oldman. Dampaknya sempurna. Tiap kali ia mulai bertutur, seketika itu pula hati ini menyerupai diremas-remas, terhanyut oleh kecerdikannya menyusun kata sekaligus tersulut berkat semangatnya. Bukan itu saja, Oldman hingga pada tingkat teratas seni peran, di mana ia merasuk begitu dalam, menyatu dengan tokoh yang dimainkan, hingga gestur-gestur kecil macam getaran bibir (beberapa kali ditonjolkan oleh Wright melalui close up) muncul secara alami selaku potongan dirinya. This is a performance so good it makes me cry. Wanita-wanita di sekitar Churchill pun memikat, dari Lily James si sekretaris sampai Kristin Scott Thomas sebagai istri Churchill, Clementine, yang meniupkan sepintas romantisme hangat.