Showing posts with label Boris Bokir. Show all posts
Showing posts with label Boris Bokir. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Bodyguard Ugal-Ugalan (2018)

Membuat film komedi itu berat, di mana penulis dituntut mengawikan humor dan jalan kisah agar saling mengisi, saling melengkapi, bukan bangkit sendiri-sendiri. Beberapa film mencoba dan gagal, beberapa lainnya cukup apik walau kurang maksimal, namun hanya sedikit yang mencoba kemudian sepenuhnya berhasil. Tapi Bodyguard Ugal-Ugalan—yang tak berkaitan dengan Security Ugal-Ugalan (2017) kecuali pada kemiripan judul juga tim produksi serupa—justru menentukan tak mencoba sama sekali. Oleh Ferdy K selaku penulis skneario, pondasi berjulukan “narasi” hampir semuanya dibuang. Bahkan sulit menyebut ini “film”, khususnya pada second act yang cuma diisi sketsa-sketsa pendek yang dijahit paksa.

Terinspirasi gaya Warkop DKI, sekuen pembuka berupa gugusan kejadian komikal digunakan guna memperkenalkan kita pada kelima bodyguard ugal-ugalan: Boris (Boris Bokir), Acho (Muhadkly Acho), Lolox (Lolox), Anyun (Anyun Cadel), dan Jessica (Melayu Nicole). Mereka bekerja di perusahaan penyedia jasa keamanan milik Erin (Tamara Bleszynski). Berbekal kebodohan masing-masing, kenapa mereka justru ditugasi menjaga Syahrini (Syahrini mudah tidak berakting) yang tengah sering mendapatkan terori? Sederhana. Sang “diva manjah” enggan dijaga bodyguard bertampang seram.

Beberapa gaya humornya boleh terinspirasi Warkop DKI, namun meski kerap acak, lawakan trio legendaris tersebut selalu berada dalam satu lingkup. Sebutlah kekonyolan (atau parodi) kegiatan detektif, polisi, pegawai hotel, mahasiswa, bahkan memasuki abad Soraya yang identik akan cewek seksi, humornya pun tetap terpusat, yaitu soal pantai. Dalam Bodyguard Ugal-Ugalan, kelucuan bukan hanya di sekitaran kehidupan bodyguard. Simak adegan Boris-Acho-Lolox-Anyun bercengkerama di kamar membicarakan masa lalu. Kita dilempar menuju satu demi satu flashback, yang lagi-lagi sekedar kumpulan sketsa, dengan tema dagelan luar biasa acak, membentang dari olahraga sampai matematika. Judulnya sanggup diganti menjadi Paspampres Ugal-Ugalan, dan itu takkan memberi efek signifikan.

Kesimpulannya, Bodyguard Ugal-Ugalan bahkan gagal memenuhi standar filmis. Tapi kemudian saya bertanya pada diri sendiri. “Apa tujuan komedi?”. Memancing tawa tentu saja. Apa film ini menciptakan saya tertawa? Ya, dan bukan di satu-dua momen saja. Saya tertawa dikala Boris melontarkan celetukan seenaknya (“tsunami cendol” jadi favorit saya), pula sewaktu Lolox tertipu oleh pintu toilet palsu sebagaimana telah nampak di trailer. Sebuah humor lama, nihil terobosan, receh, tetapi efektif. Walau saya tidak sekalipun dibentuk tertawa melihat Melayu Nicole, yang keberadaannya kolam sebatas eye candy, urung diberi kesempatan meucu. Kasihan dia. Tampak terasing dan tersesat di antara keempat pelawak yang mulus menjalankan tugas.

Terpenting, saya tertawa tiap kali Syahrini memamerkan personanya yang fenomenal itu. Menonton Princess Syahrini beraksi, penonton diingatkan bahwa image konyol, norak, dan serba berlebihan itu sejatinya taktik marketing cendekia kalau enggan disebut jenius. Penuh totalitas pula kreativitas, apalagi bila dipandang menggunakan perspektif komedi. Tidak setuju? Coba jawab pertanyaan ini: Berapa banyak selebritis sekaya Syahrini soal koleksi catchphrase ikonik? Tidak banyak kalau bukan tidak ada. Mungkin ia bukan seniman hebat, namun terang penghibur (entertainer) kelas wahid, dan skenario beserta penyutradaraan Irham Acho Bahtiar (Epen Cupen the Movie, Security Ugal-Ugalan) mengeksploitasi itu secara sempurna guna. Saya tantang anda menahan tawa kala menyaksikan adegan “masker”.

Belum lagi lagu-lagunya. Oh Tuhan, lagu-lagu itu. Hanya ada dua lagu. Satu lagu usang (Seperti Itu?), satu lagi gres (Gubrak Gubrak Gubrak Jeng Jeng Jeng). Keduanya diputar berulang-ulang, dan bukan hiperbola kalau saya katakan salah satunya niscaya terdengar 10 menit sekali. Otak saya menyadari repetisinya berlebihan, namun hati ini berkata lain. Saya terus tersenyum, lip syncing, pun menggoyangkan sedikit bab badan setiap “mantra” absurd berbunyi “Boom, shake shake shake, boom!” atau “Gubrak gubrak gubrak, jeng jeng jeng” menerjang telinga.

Komposisi third act-nya lebih terstruktur, dengan alur berfokus pada perjuangan para bodyguard menyelamatkan Syahrini dari penculik. Humornya pun setia dalam lingkup perjuangan tersebut. Sampai filmnya bagai enggan berusaha menghadirkan konklusi layak pasca sebuah twist (yang secara tidak mengejutkan) bodoh. Bicara unsur sinematik, Bodyguard Ugal-Ugalan terang layak menjadi salah satu yang terburuk tahun ini. Tapi kembali, film ini mencapai hakikatnya selaku komedi. Saya (dan sebaiknya anda juga) tiba sebatas ingin tertawa serta dihibur. Apakah itu yang saya sanggup dan rasakan? Oh yeah! Bodyguard Ugal-Ugalan bakal mengHEMPASKAN kepenatan penonton melalui cara luar biasa MANJAAH. Seperti itu.

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Mau Jadi Apa? (2017)

(Review ini mengandung spoiler)
Menulis tentang Mau Makara Apa? begitu rumit. Selaku komedi, film yang diangkat dari buku berjudul sama mengenai kehidupan Soleh Solihun semasa kuliah ini tergolong solid. Walau kerap meleset, humornya tampil segar, mencerminkan "kenakalan" Soleh berceloteh. Sekali lagi, selaku komedi, Mau Makara Apa? patut direkomendasikan. Namun ada satu poin terkait konflik besarnya yang hadir dalam perspektif mengganggu. Poin yang mempunyai paralel dengan kontroversi fenomenal yang belakangan tengah mengguncang industri perfilman: sexual abuse allegation

Memang, di samping media melucu juga curahan memori Soleh ihwal masa mudanya, film ini menyelipkan sederet isu penting nan relevan, tentunya secara penuh senda gurau. Contohnya ketika Soleh bergabung sebagai wartawan majalah kampus Fikom Unpad, Fakjat (Fakta Jatinangor) demi mendekati pujaan hatinya, Ros (Aurelie Moeremans). Persoalan sumbangsih masyarakat terhadap negara disinggung dalam setting kala iklim politik nasional sedang memanas pasca reformasi. Haruskah perwujudan kepedulian melulu soal politik hingga menolak bahasan "remeh" seputar olahraga dan seni? Apakah jurnalistik "berbobot" wajib identik dengan keseriusan dan dibawakan kaku? 
Kejengahan itu menggiring Soleh bersama kelima rekannya   Lukman (Boris Bokir), Fey (Anggika Bolsterli), Marsyel (Adjis Doaibu), Eko (Awwe), Syarif (Ricky Wattimena)   mendirikan majalah alternatif berjulukan Karung Goni (Kabar, Ungkapan, Gosip, dan Opini), membahas musik, film, percintaan, hingga gosip terhangat di lingkungan kampus. Seiring kesuksesan Karung Goni, timbul hasrat memaparkan kasus yang lebih berat, membawa filmnya mengkritik represi media serta penutupan fakta dari publik guna melindungi nama baik perseorangan, instansi, atau lebih luasnya, negara. 

Mau Makara Apa? tak ketinggalan membahas asam manis perkuliahan dengan enam protagonis sebagai jembatan. Mulai patah hati hingga problem personal mahasiswa. Soleh bersama Khalid Kashogi dan Agasyah Karim jeli memperlihatkan observasi lewat skenario, menyinggung betapa problematika sejatinya bersifat relatif. Bagi Eko, sang ayah patut dibenci, lantaran kegagalan bisnisnya mengancam impiannya lanjut kuliah ke Australia batal. Namun bagi Lukman, Eko seharusnya bersyukur lantaran ayahnya masih berusaha, sementara ayah Lukman sibuk berjudi. Di antara barisan kekonyolan, sudut pandang ini terasa spesial, dilengkapi tatanan momen dramatik yang tersaji apik. Mungkin ini kiprah Monty Tiwa di bangku sutradara, menjaga agar Mau Makara Apa? tetap seimbang dikala Soleh liar melucu. 
Usaha menciptakan penonton merasa dekat diusung pula oleh selipan kultur terkenal kurun 90-an hingga awal 2000 (lagu, pengucapan nama-nama tenar) dan gaya komedi. Soleh ingin "mengakrabi" penonton menggunakan teknik breaking the fourth wall, juga meta jokes untuk melontarkan referensi-referensi kekinian yang dipahami penonton, dari Cek Toko Sebelah atau Ariel "Noah". Segar, tapi jadi berlebihan dikala berbaik hati menjelaskan lawakan ihwal budaya terkenal masa lampau, seolah takut generasi kini tersesat. Padahal sewaktu makna humor dijelaskan, daya bunuhnya rawan lenyap. Untungnya Anggika Bolsterli senantiasa mencuat sebagai penyelamat tiap komedinya gagal mengenai sasaran, menjadi figur idola bersenjatakan performa ajaib layaknya "anak teater jarang manggung". 

Sampai gangguan itu tiba. (SPOILER ALERT) Alkisah, Karung Goni hendak membongkar pemerkosaan dosen terhadap mahasiswa yang Soleh dengar eksklusif dari korban, yang melarangnya memuat dongeng itu. Enggan menurut, balasannya isu tersebut naik cetak. Melawan represi atas fakta dan berkedok "for the greater good", aspek ini mengesampingkan etika, menolak peka kepada korban. Walau filmnya berujung bahagia, di realita, perilaku demikian sanggup menambah luka batin. Mari memandang dari sisi mereka. Meski untuk kebaikan, apa anda bersedia menguak malu ke khalayak luas tanpa persetujuan? Karena selain berpikir kritis sekaligus lantang melawan, kita perlu sensitivitas didasari rasa kemanusiaan.