Showing posts with label Bounty Umbara. Show all posts
Showing posts with label Bounty Umbara. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Insya Allah Sah 2 (2018)

Seorang perempuan yang hamil sebelum menikah dan seorang perampok yang kabur dari penjara demi menikahinya. Film pertama Insya Allah Sah (2017) takkan menempatkan Raka (Pandji Pragiwaksono) di antara kedua sosok tersebut, lantaran filmnya sendiri rasanya takkan mau menjustifikasi mereka. Saya tidak tahu bagaimana jalan kisah novel karya Achi TM selaku sumber adaptasinya, tapi Insya Allah Sah 2 terang tampil lebih baik ketimbang pendahulunya lantaran kesediaan memandang tokoh-tokohnya sebagai insan biasa yang jauh dari kesempurnaan. Raka lebih toleran pada dua protagonis yang punya pandangan hidup berbeda dengannya, untuk itu saya mesti bersikap sama terhadapnya dan film ini.

Mungkin anda ingat betapa saya membenci film pertamanya. Pembaca reguler blog ini pun rasanya tahu betapa saya membenci polisi moral menyerupai Raka. Sebagai karakter, ia tidak berproses, hanya muncul mendadak layaknya hantu, kemudian berceramah. Fakta bahwa Raka ialah sosok manchild tidak menjadikannya lebih baik. Karena berbeda dibanding para manchild dalam komedi berkualitas, sebutlah Will Ferrell dalam Elf (2003), meski berdandan dan bicara bagai bocah, Raka memahami konsep-konsep yang cuma dipahami orang dewasa. Sehingga dikala ia mencampuri urusan orang-orang di sekitarnya, itu bukan hasil kepolosan bocah yang memandang dunia secara hitam-putih.

Kali ini Raka masih gemar berpetuah, namun ia mampu, atau tepatnya mau melihat kebaikan dalam keputusan (yang menurutnya) jelek dari seseorang. Pun acap kali di tengah ceramahnya, Raka menerima todongan pistol di kepala, seolah Anggy Umbara (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, Tiga) dan Herry B. Arissa (Generasi Kocak: 90-an vs Komika, Selebgram) selaku penata skrip berkata, “diem lo!”. Tapi Raka memang sulit didiamkan, bahkan dikala terlibat baku tembak bersama Gani (Donny Alamsyah), yang gres saja nekat kabur dari penjara kemudian merampok uang Freddy Coughar (Ray Sahetapy) si mafia, semua demi menikahi Mutia (Luna Maya) yang sedang hamil tua. Untuk itu, uang sebesar 250 juta dibutuhkan.

Mungkin alasan mengapa ceramah Raka terasa tidak segencar sebelumnya lantaran sekuel ini cenderung berorientasi pada aksi. Sekali lagi, saya belum membaca sumber adaptasinya, sehingga tidak tahu apakah Achi TM memang menggeser pendekatan novelnya ke arah laga. Tapi pemilihan Anggy Umbara dan Bounty Umbara (Mama Cake, Rafathar) guna duduk di dingklik sutradara terang tepat. Gaya-gayaan di antara rentetan momen agresi seolah mendarah daging dalam diri Umbara Bersaudara, dan meski Insya Allah Sah 2 tak punya gelaran agresi luar biasa, elemen tersebut terang jauh lebih menghibur daripada menyaksikan ceramah agama selama 90 menit.

Raka (dan agama) sekedar jembatan dalam proses Gani berguru bahwa tidak semua problem sanggup terselesaikan lewat kekerasan dan amarah. Bukan studi permasalahan mendalam, tapi Insya Allah Sah 2 setidaknya menampilkan pergulatan personal. Saya bisa membayangkan kisah Gani-Mutia dihukum tanpa unsur agama dan tetap sanggup bekerja dengan baik (bahkan mungkin lebih), alasannya ini kisah insan yang berdamai dengan dirinya, bukan menemukan cahaya agama atau Tuhan. Gani ingin berubah bagi orang-orang tercintanya, juga demi nazar, demi janji, yang tanpa menggunakan perspektif agama pun, memang wajib ditepati.

Ada satu momen khusus yang seketika menciptakan Gani menjadi protagonis yang likeable serta layak didukung, yakni dikala Mutia menceritakan beberapa belakang layar pada Raka di suatu restoran. Sebelumnya, kita pun sempat diajak mengintip masa kemudian kelam nan berat miliknya, yang turut memberi Donny Alamsyah kesempatan memamerkan akting dramatis, melalui lontaran amarah menusuk yang bisa mendiamkan semua orang di ruangan. Kesukaran menggelayuti hidup tokoh-tokohnya, tapi tentu saja senjata utama Insya Allah Sah 2 tetap komedi. Beberapa humor bekerja efektif, sebutlah absurditas yang melibatkan telepon genggam dan bunyi tangis bayi, Jingga (Nirina Zubir) si polisi anggun yang gampang terbuai oleh pujian, atau jikalau anda tetap membenci penokohan Raka, anda akan senang melihatnya jadi korban serbuan bersin bertubi-tubi.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Rafathar (2017)

Karya Umbara Bersaudara senantiasa kaya ambisi. Berkiblat pada blockbuster Hollywood, tercipta formasi alur fantastik walau kerap memaksakan pun kurang masuk akal, visual bergaya keren walau sering melupakan substansi, hingga kuantitas pemakaian CGI tinggi meski kadang urung dibarengi kualitas. Selalu muncul kata "tapi" dan tidak jarang hasil jadinya memecah penonton menjadi dua kubu, agar demikian, keberanian memasuki area yang jarang disentuh sineas tanah air terperinci layak diapresiasi. Sekilas Rafathar bagai sekedar perjuangan Raffi Ahmad memanfaatkan rasa gemas publik akan puteranya yang gres dua tahun, namun sanggup juga dipandang selaku angin segar, sebab sejauh ini belum ada film Indonesia bertema petualangan dengan tokoh utama bayi.

Cerita high concept khas Umbara Bersaudara pribadi nampak sejak adegan pembuka kala Profesor Bagyo (Henky Solaiman) kabur dari suatu laboratorium canggih. Di waktu bersamaan, Jonny Gold (Raffi Ahmad) dan Popo Palupi (Babe Cabita) tengah melancarkan agresi perampokan. Akibat kebetulan bercampur kekonyolan, dua bencana ini saling bersinggungan, memberi kesempatan Profesor Bagyo meninggalkan Rafathar (Rafathar Malik Ahmad) di depan pintu aktris sinetron asal Malaysia, Mila (Nur Fazura). Bagi Mila beserta sang suami, Bondan (Arie Untung), kemunculan Rafathar yaitu anugerah sesudah bertahun-tahun ijab kabul tanpa dikaruniai anak, tanpa tahu bahwa Rafathar bukanlah bayi biasa.
Kemudian kisah menyoroti Jonny dan Popo menjalankan misi dari Bos Viktor (Agus Kuncoro) untuk menculik Rafathar. Pada paruh ini filmnya mengusung rujukan serupa Baby's Day Out, di mana dua penculik minim kompetensi dibentuk kerepotan oleh seorang bayi. Bedanya, si bayi bukan dinaungi keberuntungan melainkan punya kekuatan besi berani. Jadilah dagelan berupa Jonny dan Popo dihujani segala macam perabot mendominasi. Walau sentuhan slapstick-nya tak hingga memancing tawa menggelegar, keputusan sutradara Bounty Umbara memanfaatkan CGI demi menambah kadar "siksaan" terhadap duo penculik ndeso itu agak menolong. Setidaknya timbul kegilaan pemancing senyum.

Di luar unsur slapstickRafathar sebagai komedi masih cukup menghibur. Materi dari naskah buatan Bounty Umbara bersama Bene Dion Rajagukguk bersama-sama tergolong hit-and-miss, tapi tiap kali kena sasaran, tawa sejenak sanggup hadir termasuk berkat sokongan para pemain. Sewaktu Raffi Ahmad lebih banyak berteriak-teriak atau menggerutu tak lucu meski secara mengejutkan tidak mengecewakan baik di satu momen dramatik, Babe Cabita sebagai aksara yang setipe dengan seluruh tugas di karir keaktorannya sesekali menyegarkan suasana. Demikian pula gaya hiperbolis Agus Kuncoro sebagai penjahat multi logat.
Masalahnya, persentase hit-and-miss komedinya setara, sehingga tatkala humor gagal mengena, mudah Rafathar kehabisan daya. Bagi film komedi keberadaan plot berpengaruh bukan kebutuhan utama, namun lain kisah ketika dua per tiga durasi nyaris kosong melompong, semata-mata mengandalkan lelucon yang tidak selalu berhasil. Sebaliknya, menjelang simpulan mendadak setumpuk poin alur ditumpahkan, termasuk konspirasi bertaraf internasional ditambah sederet kejutan yang seluruhnya menggelikan sebab sulit diterima nalar. Film ini bertutur soal bayi mutan, membuatnya sah kalau diisi aspek yang melawan logika andai diiringi kesadaran atas kebodohan miliknya daripada semata-mata bentuk pemaksaan hasrat supaya terlihat keren. 

Kualitas CGI-nya terhitung tidak mengecewakan hingga datang titik puncak pertarungan Rafathar melawan robot kulkas dan ATM, dikala acap kali susah mencerna apa yang tengah berlangsung jawaban CGI kasar. Belum lagi penonton hanya disuguhi tiga robot (yang katanya) senjata perang kelas satu bergerak secara canggung, saling tabrak, saling lempar, bagai minim perjuangan memberi sentuhan estetika dalam koreografi pertempuran. Sekali lagi film ini patut diapresiasi sebab mengusung konsep yang belum dijamah film tanah air, meski soal kualitas, Rafathar adalah ambisi tinggi yang amat lemah dieksekusi. Paling tidak Rafathar Malik Ahmad masih bocah dua tahun super menggemaskan.


Review Rafathar juga tersedia di: http://tz.ucweb.com/8_PXdL