Showing posts with label Caitlin Halderman. Show all posts
Showing posts with label Caitlin Halderman. Show all posts

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Surat Cinta Untuk Starla The Movie (2017)

Memerankan empat tokoh serupa dalam empat romansa sepanjang 2017, Jefri Nichol mesti berpindah haluan sejenak tahun depan. Sebelumnya, bolehlah kita sekali lagi menikmati Nichol sebagai bad boy yang (diam-diam) berhati emas. Dia memang terlahir untuk abjad demikian. Dan penyesuaian layar lebar lagu buatan Virgoun yang sempat pula diangkat menjadi web series berjudul sama ini terang memfasilitasi talenta sang aktor. 

Jefri menjadi Herma Chandra, remaja yang sulit diatur, seniman graffiti jalanan yang kerap diburu polisi, enggan berkuliah, ke mana-mana mengendarai kendaraan beroda empat bau tanah sambil menenteng mesin tik peninggalan mendiang kakeknya. Singkatnya, Herma yaitu hipster. Gemar menghabiskan waktu di cafe hipster pula. Tapi beliau juga pecinta alam, mengutuk mereka yang membuang sampah sembarangan. Karena tokoh dalam film remaja arus utama kita wajib mempunyai kompas budbahasa agar penonton ABG bisa mengambil contoh, bukan?
Pasangannya tak lain Starla (Caitlin Halderman), gadis kaya pemilik coffee shop yang pertunangannya gres saja kandas. Jika Jefri masih sering lemah soal pengucapan dialog, Caitlin lebih dinamis. Meski berparas anggun dan berasal dari kalangan atas, ia bukan puteri glamor macam aktris Screenplay lain, sebutlah Michelle Ziudith. Caitlin sebagai Starla merupakan gadis idola manis yang sanggup kita jumpai di kehidupan nyata. Itulah mengapa sosoknya gampang disukai. Diawali kesalahpahaman, Starla justru jatuh cinta pada Herma, pun sebaliknya.

Dipandang lewat segi filmis, Surat Cinta Untuk Starla jelas penuh cacat. Dialog berupa kalimat puitis yang dipaksa bersatu ketimbang pembicaraan natural manusia, flashback yang tak terjahit rapi dengan setting masa kini, hingga twist tak substansial selaku pemenuhan obligasi terhadap ciri Screenplay. Tapi beda ceritanya jikalau memandang film ini drama romantika "kental sakarin" dengan tujuan tunggal memancing jeritan penonton muda, tepatnya golongan Sekolah Menengan Atas ke bawah. Di sela-sela romansa, Ramzy dan Ricky Cuaca memberi bumbu komedi tak lucu, sedangkan Teuku Ryzki alias Kiki menegaskan bahwa personil CJR yang bisa berakting hanya Iqbaal.
Walau dangkal, saya urung menentang hiburan ibarat itu. Surat Cinta Untuk Starla sanggup menciptakan para gadis berteriak tiap Jefri Nichol bicara atau membelai wajah Caitlin Halderman (sebelum kesannya bicara juga). Suatu hari mereka bakal beranjak dewasa, tak lagi menggemari gaya percintaan demikian, kemudian geleng-geleng kepala melihat generasi lebih muda yang tergila-gila. Bukan masalah. Ini yang disebut proses perkembangan. 

Sama halnya proses berkarya Screenplay yang perlahan berkembang. Biarpun duet penulis naskah, Tisa TS dan Sukhdev Singh jalan di tempat, kehadiran Rudi Aryanto (dulu menciptakan judul "legendaris", Psikopat) menggantikan Asep Kusdinar sebagai sutradara sedikit menghasilkan rasa baru. Mementingkan fokus pada kedua tokoh alih-alih pemandangan (yang tak lagi menggunakan setting luar negeri mewah) kala terjadi interaksi, relasi Herma-Starla terjalin melalui obrolan yang memaksimalkan pesona dua pemain utama. It's more about relationship than luxury. Andai naskahnya tak coba tampil rumit secara berlebihan dalam merangkai twist yang berakhir kolam benang kusut.

Ini Lho Forever Holiday In Bali (2018)

Si laki-laki ialah bintang K-Pop ternama. Si perempuan gadis Bali biasa, terhimpit dilema ekonomi pula. Mereka bertemu di Pulau Dewata. Diawali pertengkaran, lama-lama cinta keduanya tak tertahan. Terdengar bagai kisah idaman orang-orang yang berharap terlibat dalam pertemuan puteri anggun dengan pangeran tampan berkuda putih. Namun Forever Holiday in Bali memang sengaja bermain di ranah itu, setidaknya ingin ibarat formasi drama Korea yang juga mengusung formula serupa. Apakah salah? Sebaliknya, orang-orang di balik film ini paham betul kiblat yang jadi acuan: kisah dan drama Korea.

Dibanding film Indonesia bergaya Korea lain, Forever Holiday in Bali menang soal autentisitas. Penyusunan adegan mirip drama Korea, karakter Korea pun bicara Bahasa Korea, juga diperankan orang Korea. Tidak main-main, Thunder eks-MBLAQ pun digaet sebagai bintang utama berjulukan Kay. Berkat kehadiran sosok idola sungguhan, unsur fairy tale-nya terpancar nyata. Apalagi Thunder berakting jauh dari kesan kaku. Mungkin alasannya ialah tuntutan akting film ini tak begitu berat, setara drama televisi yang kerap ia lakoni. Atau mungkin, Caitlin Halderman selaku lawan mainnya menebar cukup pesona guna menambal segala kekurangan yang ada.
Caitlin ialah Putri (Princess, like in a fairy tale), gadis Bali yang mengalami kesulitan keuangan sehingga mendapatkan proposal sahabatnya, Indra (Reza Aditya) untuk membantu meliput kedatangan Kay yang menciptakan video klip secara belakang layar di Bali. Tapi serahasia apapun, tidak mungkin bandara sepi fans. Hanya ada dua wartawan termasuk Indra. Kemustahilan yang sebaiknya kita terima, mengingat dalam kisah nalar perlu sedikit dikesampingkan. Walau akibatnya, Forever Holiday in Bali tampil kurang relatable, menghalangi dampak emosi. 

Skenario goresan pena Kennt Kim bersama Titien Wattimena bukannya lupa menyulut rasa. Kay diberi kisah personal mengenai sedih pasca sang ibu meninggal. Kay pun teringat ucapan ibunya perihal Bali yang mempunyai banyak bidadari. Andai filmnya memberi penitikberatan bahwa Kay menemukan bidadari yang disebut mendiang ibunya dalam diri Putri pernyataan itu sanggup menjadi pondasi emosi luar biasa kuat. Terlebih, mengulangi pencapaian di Sweet 20, Ody C. Harahap hebat mempresentasikan interaksi menyentuh ibu-anak. 
Sayangnya tidak. Forever Holiday in Bali memilih berpijak pada rangkaian alur yang memfasilitasi kejutan kurang esensial di penghujung durasi ketimbang memaparkan drama sederhana tetapi mencengkeram hati. Filmnya urung mencapai tingkat perasaan yang tinggi, tetapi efektif sebagai pemancing senyum. Bukan terbatas senyum geli mendapati humor yang sesekali mengisi perjalanan berkeliling Bali mencari pantai kenangan masa kecil Kay, pula senyum yang berasal dari manisnya interaksi dua tokoh utama.

Khususnya untuk Caitlin Halderman, saya kehabisan kata-kata pujian. Cantik, lucu, berenergi, pintar mengatur ekspresi semoga tiap momen menyenangkan disaksikan. Penampilan yang sanggup mewajarkan seorang idola jatuh cinta pada gadis biasa. Asal arif menentukan film serta berani sesekali mengambil tugas berbeda, suatu hari namanya akan bertengger di jajaran puncak aktris negeri ini. Gaun merah Caitlin, vespa jingga, bentangan alam hijau, Forever Holiday in Bali terlihat cerah nan berwarna, sanggup mengundang keceriaan selama anda tidak anti terhadap romantika kental khayalan di luar nalar ala dunia dongeng.