Showing posts with label Charlize Theron. Show all posts
Showing posts with label Charlize Theron. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho The Fate Of The Furious (2017)

At this point, anything is possible in "The Fast and the Furious" franchise. Menghidupkan lagi yang telah mati, tokoh yang semula lawan menjadi kawan, gelaran agresi over-the-top. This is the "Dragon Ball" of Hollywood moviemaking. Tapi suka atau tidak, metode tersebut nyatanya ampuh menjaga laju hingga ke installment kedelapan, di mana mirip telah diungkap trailer-nya, tersusun atas pengkhianatan Dominic Toretto (Vin Diesel) terhadap keluarganya serta Deckard Shaw (Jason Statham) berpindah ke kubu protagonis. Walau belum bergerak ke luar angkasa sebagaimana guyonan (dan harapan) penggemar, The Fate of the Furious tetap mempunyai kegilaan agresi tak terbayangkan pula salah satu yang terbaik di serinya. 

Istilah "pensiun dan hidup tenang" terasa semu bagi abjad franchise ini, lantaran begitu kehidupan normal dijalani, rintangan gres selalu menghadang lagi. Dom dan Letty (Michelle Rodriguez) tengah berbulan madu di Kuba sebelum cyber-terrorist bernama Cipher (Charlize Theron) memaksa Dom bekerja sama dan mengkhianati keluarganya. Frank alias Mr. Nobody (Kurt Russell) pun mengumpulkan para kru kembali kali ini dengan embel-embel Deckard. Mereka harus menghadapi lawan terberat berupa kombinasi kecanggihan teknologi Cipher dan Dom, sang Alpha Male yang dahulu menyatukan mereka sebagai keluarga. 
Pasca banting setir dari film balapan ke arah heist di Fast Five, perkenalan God's Eye di Furious 7 ibarat membuka jalan The Fate of the Furious melangkah ke jalur lain yakni espionage penuh teknologi canggih. Dari modus operandi Cipher yang mengutamakan peretasan sistem dan kontrol jarak jauh hingga cara Dom mengakali si lawan di tamat (sedikit) menambah warna gres sesudah langgar otot film-film pendahulunya. Namun selaku obligasi, filmnya tetap menyelipkan balap kendaraan beroda empat di adegan pembuka yang turut berperan memberi tribute subtil bagi Brian O'Conner (Paul Walker). 

Alasan banyak pihak berpikir suatu ketika franchise ini bakal membawa latar ke luar angkasa didorong perkiraan sulitnya melebihi kegilaan film sebelumnya. Tapi fakta berkata lain. Pencurian brankas (Fast Five), pendaratan Dom di atas kendaraan beroda empat (Fast & Furious 6), penerjunan kendaraan beroda empat dari pesawat hingga menyeberangi Burj Khalifa (Furious 7) mengambarkan kreativitas pembuatnya tidak pernah luntur. Menengok materi promosinya, kemunculan kapal selam yaitu sajian terbesar. Walau momen itu daya cengkeramnya tak diragukan, gelaran di New York lebih luar biasa. Jika titik puncak saat kapal selam mengintai dari bawah es bagai versi bombastis Jaws (lengkap dengan quote "we're gonna need a bigger truck), set piece aksi di New York kolam diambil dari film berisi zombie yang berlari cepat.
Sutradara F. Gary Gray (The Italian Job, Law Abiding Citizen, Straight Outta Compton) sukses mengkreasi bukan hanya car chase terbaik dalam seri ini, pula salah satu yang paling memukau di antara adegan serupa sepanjang masa. Ratusan kendaraan beroda empat tumpah ruah di jalanan padat New York, menghasilkan kekacauan massal dengan sinkronisasi rumit. Di sini, aksinya naik tingkat dari stunt berlebihan melanggar hukum gravitasi menjadi pekan raya kreativitas yang juga berlebihan dan gila. 

Keunggulan lain terletak pada perkelahian tangan kosong, apalagi kala Luke Hobbs (Dwayne Johnson) dan Deckard terlibat. Keduanya mengandalkan gaya berbeda. Perawakan besar Johnson membuatnya meyakinkan sebagai monster brutal yang mampu menghempaskan tiga orang sekali pukul. Sementara Statham mengembalikan ingatan penonton pada kejayaan The Transpoter lewat koreografi agresi teknikal di mana ia bergerak lincah melancarkan pukulan mematikan atau memainkan pistol. Sayangnya camerawork Stephen F. Windon kurang cakap menangkap formasi perkelahian lantaran penempatannya terlalu bersahabat dari objek, menyulitkan penonton melihat secara jelas. 
Statham dan Johnson sendiri merupakan penampil paling menarik berkat love/hate bromance relationship renyah berbentuk saling ejek dan ancam pengundang tawa. Performa Statham menyegarkan, salah satu hasil terbaiknya, mengingatkan pada peran-peran komedik di awal karir (Lock, Stock and Two Smoking Barrels, Snatch) meski alasan perubahan perilaku dari sosok keji di Furious 7 sejatinya kurang masuk akal. Adegan di atas pesawat memperlihatkan kepiawaian sang bintang film menyeimbangkan kegarangan serta kelucuan. Roman (Tyrese Gibson) mirip biasa masih badut dalam kelompok, sedangkan Charlize Theron berbekal karisma miliknya gampang saja melakoni tugas antagonis yang sekedar mengharuskannya melafalkan kalimat kolam penjahat berdarah dingin.

Kelemahan terbesar The Fate of the Furious adalah naskah karya Chris Morgan yang urung meninggalkan daya tarik sewaktu ledakan atau kebut-kebutan mangkir menghiasi layar. Dialog cheesy, ketiadaan emosi juga intrik memikat jadi penyebab. Plot dibangun menurut kebetulan dan pengaitan paksa antar poin-poin demi memudahkan pergerakan cerita. The Fate of the Furious tak ubahnya b-movie berbiaya raksasa. Namun mengkritisi semua itu dari bagaikan tiba ke restoran cepat saji kemudian mengeluh bahwa makanan di sana tidak sehat. Bersantai dan nikmatilah rentetan presentasi over-the-top yang sesuai dengan fungsi serta tujuan. Bukan saja seputar aksi, pula kisah kebersamaan keluarga mirip ditampilkan demikian dramatis oleh momen di penghujung film kala Dom terjebak di antara ledakan dahsyat. Pastinya formula tersebut mampu menjaga bahkan menambah nafas franchise-nya untuk tahun-tahun mendatang.

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Tully (2018)

Film terbiasa membawa kita pada momen persalinan dramatis, entah digiring menuju haru, atau kekacauan menggelitik. Dalam Tully, si tokoh utama tenang-tenang saja dikala air ketubannya pecah. Malam menjelang persalinan ia pakai bermain ponsel, sedangkan pasca jabang bayi lahir, cuma sambil kemudian disentuhnya ranjang si buah hati, sementara sang suami tidur pulas di kamar rumah sakit. Mungkin ini wujud “kebiasaan” mengingat bayi yang diberi nama Mia itu yaitu anak ketiga. Mundur beberapa hari, seorang perempuan sempat mengingatkan supaya tidak mengonsumsi kafein, saran yang tak diacuhkan oleh protagonis kita.  Marlo (Charlize) bukannya bersikap masa kurang pintar pada calon buah hatinya. Mungkin menurut dua pengalaman mengandung sebelumnya, kafein tidak berdampak baginya.

Kelahiran anak yang banyak orang anggap anugerah terkesan biasa bagi Marlo dan Drew (Ron Livingston). Satu, proses ini bukan kali pertama mereka alami. Dua, kelahiran Mia yaitu awal segala kerepotan dan kesulitan tidur akhir tangisan tengah malam. Terdengar pesimis bahkan depresif, tapi dengan kerja sama sutradara Jason Reitman (Up in the Air, Juno, Young Adult) dan Diablo Cody selaku penulis naskah (Juno, Young Adult, Jennifer’s Body), film ini tak pelak memproduksi setumpuk tawa. Banyak film bicara soal parenthood, namun Tully bukan film kebanyakan. Karena dalam film kebanyakan, Marlo bakal dibawa menunjukan bahwa sebagai perempuan tangguh beliau bisa merawat Mia seorang diri, dan Jonah (Asher Miles), puteranya yang mengidap gangguan perkembangan, bisa berguru di sekolah umum layaknya anak “normal”.
Walau merupakan ode terhadap motherhood, sembari memamerkan kekuatan seorang ibu, Tully juga menyatakan jikalau menempuh proses merawat anak lewat jalan “gampang” berupa derma pihak lain bukan suatu masalah. Di sini, derma tersebut tiba dari Tully (Mackenzie Davis), seorang pengasuh malam hari, yang khusus bertugas menjaga bayi supaya orang tuanya mempunyai waktu beristirahat. Tully dan Marlo mirip kutub berlawanan. Melalui keceriaan, semangat, serta bekal pengetahuan luasnya, Tully menjadi dinamo yang menggerakkan (kembali) hidup Marlo, sedangkan performa berenergi Mackenzie sendiri yaitu dinamo yang menghidupkan sang titular character.

Percikan semangat Marlo boleh meredup nyaris di segala situasi, tetapi dalam filmnya, tidak ada penampil yang lebih bersinar dibanding Charlize Theron. Kebanyakan tokoh-tokoh hasil goresan pena Diablo Cody yaitu orang bermulut tajam yang bagai pantang kehabisan variasi kalimat guna melontarkan sarkasme. Dan Theron, sebagaimana pernah ia perlihatkan lewat Young Adult (2011) tepat melakoni itu. Tapi aspek terbaik aktingnya berasal dari momen non-verbal. Frustrasinya terpancar kuat, pun begitu kaya caranya merespon omongan orang-orang. Belum lagi terkait transformasi tubuhnya, di mana Theron menambah berat badannya hampir 25 kg, supaya titik kala Marlo tertekan hingga enggan mempedulikan diri  tampak meyakinkan. Ingin tahu seberapa ekstrim transformasi Theron? Film ini melaksanakan pengambilan gambar mulai 22 September 2016, alias cuma sekitar 4 bulan pasca The Fate of the Furious (2017).
Jason Reitman tidak hanya membawa insting komedi, pula pengadeganan dinamis, khususnya sewaktu filmnya menampilkan rutinitas Marlo. Rutinitas itu boleh monoton, namun tidak dengan estetika pengemasannya, yang turut ditemani permainan tata bunyi rancak. Mengenai departemen audio, menarik mengamati deretan lagu yang dipakai. Begitu banyak lagu, meski lebih banyak didominasi cuma terdengar sepersekian detik. Satu yang paling menonjol yakni versi Beulahbelle untuk You Only Live Twice milik Nancy Sinatra. Entah ini pandangan gres Cody atau Reitman, tapi menengok liriknya, lagu yang aslinya merupakan lagu tema film James Bond berjudul sama ini turut menjadi tease berakal akan kejutan yang menanti di penghujung durasi.

Ketika twist serupa kerap digunakan film lain sebagai daya kejut semata, dalam Tully—biarpun penuh lubang ditinjau dari tatanan logika—kejutan itu memunculkan suatu hal yang mungkin banyak dari kita pernah alami. Kita sulit lepas dari diri kita di masa lalu, apalagi bila masa kemudian tersebut kita anggap sebagai “era keemasan”. Bagi Tully, itu bukan perwujudan “gagal move on”, alasannya yaitu mari akui, bertambah bau tanah tidak menggembirakan. Seperti dongeng yang Tully tuturkan pada Marlo mengenai kapal yang mengganti satu persatu, sosok masa kemudian kita tetaplah kita, bukan insan berbeda. Dan jangan lupa, kita pernah jadi sosok yang kita anggap lebih baik itu, yang segala keunggulannya sanggup mempunyai kegunaan menghadapi kesulitan masa kini.

Twist di atas hanya bisa berhasil kalau huruf suami tidak memberi cukup perhatian, sampai-sampai melewatkan detail fakta penting yang mengisi kehidupan istrinya. Drew terperinci bukan suami kejam. ia mengasihi Marlo, dan bila diajukan pertanyaan mengenai kondisi keluarga termasuk sang istri, ia akan mantap menjawab, “semua baik-baik saja”. He’s just a clueless guy, (unfortunately) like so many other husbands out there. Sebagai laki-laki yang ingin berkeluarga, Tully memberi saya pelajaran atau tepatnya peringatan berharga seputar kepedulian terhadap istri. Bahwa kepedulian tidak cukup dengan melihat kondisi eksternal, melainkan secara konsisten menelusuri sisi internal, mencari tahu, kemudian memahami sang istri lebih dalam.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Atomic Blonde (2017)

Atomic Blonde digadang-gadang bakal menjadi John Wick versi wanita. Wajar, mengingat filmnya dibentuk oleh David Leitch selaku salah satu sutradara film tersebut. Pun trailer-nya yang menampilkan ketangguhan Charlize Theron menghajar habis sederet musuh sembari diiringi kombinasi lagu Blue Monday, Personal Jesus, dan Black Skinhead memancing kesan serupa. Sehingga mengejutkan tatkala produk karenanya berupa cold war espionage di mana nuansa dingin, percakapan penuh kecurigaan, kegiatan sadap menyadap, atau pemeriksaan bukti tersembunyi, lebih mendominasi ketimbang baku hantam. This isn't "the next John Wick", this is "John Wick meets Tinker Tailor Soldier Spy".

Berlatar detik-detik menuju keruntuhan Tembok Berlin pada 1989, Lorraine Broughton (Charlize Theron), seorang distributor MI6, diberi kiprah merebut daftar nama-nama distributor di Soviet. Daftar tersebut sejatinya dipegang oleh distributor MI6 lain, James Gasciogne (Sam Hargrave), namun James terbunuh, dan daftar itu jatuh ke tangan distributor KGB. Konon ada keterlibatan distributor ganda berjulukan Satchel yang berkhianat serta sudah bertahun-tahun menyuplai gosip ke Soviet. Seiring memanasnya konflik dua sisi Jerman, Lorraine, dibantu oleh kontaknya di Berlin, David Percival (James McAvoy), mesti secepat mungkin mengungkap jati diri Satchel.
Pemilihan setting menjelang reunifikasi Jerman menguatkan kesan bahwa di tengah kejadian bersejarah pencuri sorotan dunia nyatanya terjadi pula hal dengan urgensi tak kalah besar nan memilih tanpa diketahui banyak pihak. Bahkan mereka yang terlibat pun urung memahami kebenarannya. Tuturan spionase memang penuh rahasia. Tidak semua sanggup dipercaya, berpotensi saling tikam dari belakang. Terpancar terang ketika Lorraine dinterogasi (alurnya bergerak bolak-balik antara interogasi dan misi Berlin) oleh atasannya, Eric Gray (Toby Jones) dan distributor CIA, Emmett Kurzfeld (John Goodman). Siapa jujur, siapa sepenuhnya beraksi demi negara, siapa membawa kepentingan lain, semua misteri. 

Dan merangkai fakta bergotong-royong bukan kasus mudah, baik bagi para tokoh maupun penonton. Sebagaimana umumnya cold war espionage, Kurt Johnstad melalui naskah hasil pembiasaan novel grafis The Coldest City karya Sam Hart, enggan gamblang menjelaskan jawaban. Apa yang dicari kemudian didapat, arti sebuah temuan, hingga kejutan-kejutan, ditebar bagai keping puzzle yang harus penonton rangkai sendiri. Rumit. Perlu ketelitian. Sedikit terlewat, rasanya menyerupai diperlihatkan sesuatu yang kita tak merasa tengah mencarinya. Namun juga menantang. Atomic Blonde layaknya ujian sulit yang makin memuaskan begitu bisa memecahkan persoalannya. 
Masalah terletak di kemampuan David Leitch bercerita. Sang sutradara tersesat dalam benang kusut yang ciptaan sendiri. Beragam momen memunculkan kerumitan tak perlu, mengalir agresif jawaban lebih mementingkan gaya berupa gambar memikat berhias neon aneka warna. Lain halnya sanksi aksi. Walau tidak seberapa sering, sekalinya hadir, keindahan koreografi bela diri brutal ditemani hentakan soundtrack era (mostly) 80an tampil mengesankan. Not as atomic as its trailer but still a hard-hitting action. Puncaknya long take beberapa menit kala Lorraine berdarah-darah membabat lawan, entah dengan tangan kosong, pistol atau perkakas. Kemampuan Leitch dan sinematografer Jonathan Sela menata gerak dinamis kamera di antara koreografi perkelahian kompleks dalam ruang sempit (tangga, mobil) layak diganjar riuh tepuk tangan.

Charlize Theron mendefinisikan "badass action hero". Khusus untuk long take di atas, bukan saja pamer kehebatan melakoni bela diri sendiri, Theron menciptakan adegan itu meyakinkan berkat ketepatan lisan kelelahan dan rasa sakit. Secara sedikit demi sedikit kita sanggup melihat Lorraine yang awalnya tangkas semakin kepayahan seiring bertambahnya lawan juga luka tubuhnya. Di samping ketangkasan aksi, Theron bagaikan magnet super berpengaruh dengan penuturan kalimat dingin, tatapan tajam nihil keraguan, hingga hisapan rokok penuh kepercayaan diri. Ketika orang lain dibayangi ketidaktahuan, Lorraine menonjol, tampak mengerti segalanya, bisa melaksanakan apa saja, seolah dunia ada dalam genggamannya.


Review Atomic Blonde juga tersedia di tautan ini