Showing posts with label Claire Foy. Show all posts
Showing posts with label Claire Foy. Show all posts

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho First Man (2018)

Tokoh utama First Man ambil bab dalam misi menuju bulan. Sebuah destinasi teramat jauh sekaligus misterius, apalagi 49 tahun kemudian ketika teknologi NASA bahkan kalah canggih dibanding smartphone di saku celana kita. Tapi dalam mengadaptasi biografi First Man: The Life of Neil A. Armstrong karya James R. Hansen, sutradara Damien Chazelle (Whiplash, La La Land) bersama penulis naskah Josh Singer (Spotlight, The Post) urung menuturkan kisah kepahlawanan maupun merayakan pencapaian sains. Bukan pula sebuah puja-puji kebangkitan Amerika Serikat dalam “perang angkasa” melawan Rusia. First Man yaitu dongeng personal yang mengatakan betapa hati insan sanggup berjarak lebih jauh dan kompleks ketimbang perjalanan ke bulan.

Adegan pembukanya menampilkan pendaratan darurat Neil Armstrong (Ryan Gosling) di suatu misi. Tapi alih-alih beralih menuju penilaian teknis terhadap kejadian tersebut, filmnya pribadi mengajak kita mengunjungi keluarga Neil yang sedang dirundung duka. Pasca pergulatan panjang, sang puteri, Karen, meninggal tanggapan tumor. Rasa kehilangan amat mempengaruhi Neil. Dia ingin memulai hidup baru, salah satunya dengan melamar sebagai astronot untuk proyek Gemini, yang mempunyai tujuan selesai menerbangkan insan ke bulan. Namun bukannya awal baru, Neil justru makin dihantui oleh satu hal: kematian.

“Kami terbiasa mendatangi pemakaman”, sebut istri Neil, Janet (Claire Foy). Pernyataan yang merujuk pada seringnya Neil melihat rekan-rekannya sesama pilot tewas dalam misi. Kepergian Karen menyulitkan Neil menghadapi konsep kematian. Sehingga begitu Gemini dilangsungkan, kemudian kecelakaan demi kecelakaan terjadi dan satu per satu nyawa melayang termasuk sahabat-sahabatnya, Neil mesti bertarung melawan ketakutan terbesarnya, yang saya percaya, juga ketakutan terbesar banyak orang. Takut ketika sang maut menjemput diri sendiri atau orang-orang terdekat.

Kemudian naskahnya menunjukkan kepiwaian menautkan misi luar angkasa dengan studi abjad seorang Neil Armstrong. Segala trial and error (especially the errors) bukan sekedar alat pembangun tensi dan permasalahan teknis yang harus dipecahkan, juga observasi mengenai terbentuknya sikap protagonis. Di salah satu adegan, seekor lalat terbang di kabin pesawat. Neil hanya bisa memperhatikan sebelum seorang temannya membunuh lalat itu. Sebagaimana astronot lain, tentu Neil terganggu akan keberadaan seekor lalat, tetapi ia tak bisa berbuat apapun. Dia terlalu takut untuk menatap kematian, meski cuma janjkematian seekor lalat.

Di rumah pun ia kelabakan menata perasaan. Sulit baginya membahas jikalau selepas 20 Juli 1969, hari di mana Apollo 11 diluncurkan, ada kemungkinan kedua puteranya menjadi yatim dan Janet menyandang status janda. Bahkan sebelum tubuhnya berangkat ke bulan, hatinya telah lebih dulu pergi entah ke mana. Gosling sanggup menghidupkan perasaan itu, sehingga tiap Chazelle menempatkan kamera demikian akrab dengan kedua matanya, seluruh ketakutan serta beban Neil terpancar nyata. Di sisi lain, Claire Foy memperkaya jalinan emosi filmnya. Matanya yang lembap menahan ledakan tangis pada malam sebelum keberangkatan Neil terang mengaduk-aduk perasaan.

Satu-satunya tembok penghalang usaha filmnya mengalirkan rasa kepada penonton yaitu obrolan yang mengalami permasalahan serupa Interstellar (2014) dalam pilihannya menggunakan pendekatan realistis. Baris-baris kalimat sarat istilah ilmiah terus bertebaran, nyaris tanpa alat bantu bagi kalangan awam memahami konteksnya, yang berpotensi besar membuat banyak penonton tersesat. Penggunaan gaya itu pun kontradiktif dengan tujuan menyertakan penonton dalam sebuah perjalanan intim. Semakin kontradiktif tatkala disandingkan bersama elemen-elemen lain yang semuanya mengarah ke tujuan serupa. Salah satunya sinematografi garapan Linus Sandgren (American Hustle, La La Land) yang menggunakan tekstur grainy, yang selain bertujuan membuat kesan lawas, juga biar filmnya tampak kolam home video, format yang identik dengan keintiman serta keluarga.

Pada setiap sekuen penerbangan, Chazelle gemar menggoyangkan kameranya (shaky cam). Begitu keras goncangannya, bukan tidak mungkin anda merasa mual (konon ada yang hingga muntah di studio). Biasanya, teknik demikian terasa mengganggu, namun dalam First Man, teknik itu justru selaras dengan tujuan menempatkan penonton di posisi karakternya. Sebelum misi puncak alias peluncuran Apollo 11, dalam seluruh sekuen penerbangan, Chazelle terus mengurung kita dalam interior pesawat. Di tiap goncangan mengerikan dan bahaya, ibarat Neil, penonton hanya bisa mengintip ke luar lewat jendela kecil, memunculkan ketidaknyamanan dan suasana klaustrofobia.

Bukan berarti First Man cuma berkutat di penderitaan kemudian mengesampingkan kekaguman. Selain departemen visual, kiprah membangkitkan rasa tersebut diemban pula oleh Justin Hurwitz (Whiplash, La La Land) selaku kompose. Di momen ketika Agena Target Vehicle (ATV) melayang-layang di kehampaan langit, musik gubahan Hurwitz seolah berasal dari katalog musik klasik yang digunakan Stanley Kubrick untuk mengiringi 2001: A Space Odyssey (1968). Sedangkan kala titik puncak pendaratan di bulan mulai bergulir, Hurwitz menghantarkan kemegahan tanpa banyak mengeksploitasi formula “boom bang braam” sebagaimana jadi andalan secara umum dikuasai sajian blockbuster.

Kita takkan melihat publik berkumpul, menonton peluncuran Apollo 11 di depan televisi dengan kekaguman dan kecemasan, alasannya yaitu First Man tak ingin menjadi dongeng kepahlawanan. Bahkan sesudah Neil mendarat dengan selamat di Bumi, tak ditemukan pula momen “wajib” ketika seorang protagonis disambut penuh suka cita, dielu-elukan ribuan manusia. First Man sempat menyulut kontroversi tanggapan keengganan menampilkan momen ikonik penancapan bendera Amerika Serikat. Chazelle menggantinya dengan pemandangan lain yang lebih personal, yang bermuara kepada usaha Neil melawan gejolak batinnya.

Wednesday, November 28, 2018

Ini Lho The Girl In The Spider's Web (2018)

Rencana sekuel bagi The Girl with the Dragon Tattoo (2011) milik David Fincher dihapuskan, lantaran meski mengumpulkan lebih dari $232 juta di seluruh dunia, membuat lanjutan untuk thriller kriminal atmosferik bertempo lambat dengan durasi 158 menit dan biaya $90 juta (belum termasuk promosi), dianggap berisiko oleh Sony, yang mana—walau disayangkan—dapat dipahami. Fede Alvarez (Evil Dead, Don’t Breathe) pun menggantikan Fincher menggarap sekuel/soft-reboot yang lebih gampang diakses penonton umum, lebih singkat (117 menit), dan memakan biaya tak hingga separuh film pertama ($43 juta).

Lisbeth Salander pun mengalami perubahan. Dia bukan sekedar peretas hebat yang kerap terlibat dalam pemeriksaan misteri. Kini Lisbeth bagai Ethan Hunt atau James Bond, yang harus menyelamatkan dunia dari perjuangan sekelompok teroris mencuri aba-aba peluncur nuklir, memaksanya terlibat berkelahi jotos, berkelahi tembak, dan kebut-kebutan. Pun Claire Foy (dalam satu lagi performa mumpuni sesudah Unsane dan First Man) yakni Lisbeth Salander yang tetap penyendiri namun lebih “bersahabat”, lebih sensitif, tidak sedingin dan seeksentrik versi Rooney Mara.

Pendekatan tersebut tak diragukan lebih gampang diterima penonton umum. Dikombinasikan dengan segelintir pemandangan menyakitkan yang cukup membuat kita meringis nyeri menyerupai ketika Lisbeth merekatkan luka tabrakan peluru di punggungnya memakai lem atau—sebagaimana jamak digunakan para pendekar aksi—stapler, pula penerapan tempo cepat oleh Alvarez, The Girl in the Spider’s Web merupakan thriller yang bisa terus mengikat perhatian dan antusiasme penonton.

Mengadaptasi novel berjudul sama karya David Lagercrantz selaku buku keempat di seri Millenium sekaligus judul pertama di luar karangan Stieg Larsson yang meninggal pada 2004, anda bakal mendapati familiaritas plotnya dengan setumpuk thriller-kriminal lain. Lisbeth diminta mencuri Firefall—program yang memungkinkan pengguna mengakses aba-aba nuklir di seluruh dunia—dari National Security Agency (NSA) oleh pencipta programnya sendiri, Frans Balder (Stephen Merchant). Frans merasa, membuat Firefall yakni kesalahan dan berniat menghancurkannya.

Lisbeth pun harus menghadapi aneka macam pihak lantaran aksinya: Edwin Needham (Lakeith Stanfield), anggota NSA yang berniat merebut Firefall kembali; Swedish Secret Service (SAPO) yang sudah usang ingin menangkap Lisbeth; dan sindikat kriminal misterius berjulukan The Spiders. Dengan pihak sebanyak itu, yang masing-masing menyimpan kepentingan berbeda, belum termasuk kembalinya Mikael Blomkvist (Sverrir Gudnason) guna membantu Lisbeth memakai kemampuan jurnalisme investigasinya (yang gagal film ini manfaatkan) hingga eksplorasi masa kemudian Lisbeth, The Girl in the Spider’s Web bisa saja terbelit dalam kerumitannya sendiri, menyerupai banyak thriller-kriminal lain yang berusaha tampak bakir nan rumit tanpa dibarengi kebolehan bercerita.

Beruntung, itu tidak terjadi. Trio penulis naskahnya: Fede Alvarez, Jay Basu (The Dinosaur Project, Monsters: Dark Continent), dan Steven Knight (Locke, Allied), bisa mempertahankan kejelasan mengenai “siapa yakni siapa” dan “siapa melaksanakan apa”. Sebagai sutradara, Alarez pun tahu kapan mesti berakselerasi, kapan mesti memperlambat laju untuk eksposisi dan eksplorasi plot. Sewaktu berakselerasi, filmnya sanggup memanfaatkan kecerdasan serta penguasaan teknologi aksara utamanya. Benar bahwa terlampau banyak momen “pelacakan lokasi”, namun sekalinya datang di lokasi, kita disuguhi sekuen menegangkan yang bakal memancing senyum penuh kepuasan, menyerupai ketika Lisbeth menembus sistem keamanan bandara.

Memang pemakaian teknologinya membuat The Girl in the Spider’s Web lebih over-the-top ketimbang pendahulunya, termasuk versi trilogi Swedia, yang mungkin membuat para puritan kebakaran jenggot. Sementara pengagum Fincher pun rasanya takkan “terangsang” kala mendapati atmosfer suramnya lenyap dan Stockholm tak lagi sedingin serta sesunyi sebelumnya. Tapi sebagai gantinya, film ini amat menghibur. Saya tidak keberatan duduk mengarungi beberapa agresi medioker berhiaskan quick cut memusingkan hanya untuk melihat Lisbeth Salander melempar trik demi trik untuk mengakali lawan-lawannya. Kalau bukan disebabkan sekuen agresi lemah dan pemakaian unsur kebetulan kolot sebagai resolusi, saya akan menyayangi film ini.