Showing posts with label Cut Meyriska. Show all posts
Showing posts with label Cut Meyriska. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Jaran Goyang (2018)

Jaran Goyang dibuka dikala seorang perempuan berlari ketakutan dari kejaran kuda berwarna hitam di tengah hutan pada malam hari. Rupanya itu sekedar mimpi. Mendadak filmnya melompat menawarkan penari wanita—juga di tengah hutan—yang didatangi kuda tersebut. Kalimat dari verbal si penari memberi informasi bahwa kuda itu yakni perwujudan ilmu pengasih “Jaran Goyang”, dan si penari pernah memakainya. Belum sempat saya berkenalan lebih jauh, lompatan kembali terjadi, kali ini menuju cameo Trio Macan yang menyanyikan lagu Jaran Goyang bersama satu personel tambahan. Apakah personel itu perempuan yang tadi bermimpi dikejar kuda? Entah. Sulit mencerna sekuen pembuka ini akhir gerakan liar menyerupai orang kesurupan. Samar-samar saya pun mendengar teriakan “KOPIIII!”.

Tapi mungkin semua itu disengaja. Mungkin film keempat sutradara Findo Purwono HW (EL, Menculik Miyabi) sepanjang 2018 ini memang didesain biar penonton mencicipi hal serupa korban ilmu jaran goyang. Mungkin, Jaran Goyang memang sengaja menciptakan otak penonton bergoyang, kemudian menjadi gila sebagaimana korbannya. Mungkin, sekali lagi MUNGKIN, tagline-nya yang terdengar bagai modifikasi dipaksakan dari Jelangkung, yakni “Datang sinting, pulang tergila-gila” mempunyai arti terselubung. Sama menyerupai kelebihan filmnya yang luar biasa terselubung, tersimpan rapat, hingga sulit ditemukan.

Korban dari ilmu jaran goyang di sini tak lain Elena (Cut Meyriska) yang sebelumnya kita saksikan bernyanyi bersama Trio Macan.  Elena merupakan pernyanyi ternama, meski sesudah sekuen pembuak tadi, tak sekalipun tampak ia bernyanyi. Sementara sang adik, Tania (Laura Theux) menjadi manajernya. Belum usang kita berkenalan dengan mereka, keganjilan terjadi. Di tengah perjalanan, keduanya berpapasan dengan seekor kuda hitam di siang bolong. Kuda itu menghilang seketika, tetapi tapalnya tertinggal. Tania menyimpan tapal tersebut. “Unik”, begitu katanya. Orang kaya memang sering bertingkah eksentrik termasuk mengoleksi benda tak biasa. Di Italia, ada laki-laki kolektor lebih dari 8.650 label botor air minum. Kaprikornus tapal kuda bisa diterima bukan?

Sedangkan si pemilik ilmu jaran goyang yakni Dirga (Ajun Perwira), tukang kebun di rumah Elena, yang lagi-lagi tak pernah tampak mengurus kebun. Dirga jatuh cinta (baca: terobsesi) pada Elena, namun tentu saja cintanya ditolak. Sakit hati, ia mendatangi tantenya di kampung, Srinthil (Nova Eliza), yang tak lain merupakan penari di adegan pembuak tadi. Dirga meminta ilmu jaran goyang, yang balasannya Srinthil berikan dengan syarat, Dirga tidak memakainya untuk pelampiasan nafsu. Srinthil ini menyerupai pengedar narkoba yang berpesan kepada pembeli biar tidak menyalahgunakan obat-obatan terlarang itu.

Di film yang lebih baik, kisah di atas berpotensi menghasilkan observasi mendalam perihal bagaimana hasrat menguasai karakternya, perlahan menariknya menuju kegelapan. Tapi Jaran Goyang bukan film demikian. Naskah Wahyu S. Nugroho bagai diangkat dari kisah majalah Hidayah berjudul “Memakai Ilmu Jaran Goyang, Tubuh Jenazah Hangus Seperti Arang”. Tapi bisa jadi, awalnya sang penulis naskah berniat menyusun studi aksara kuat, sebelum produser menyela, “Kenapa you bikin drama?! Crazy! Stupid! You tambahin horornya!”. Jadilah muncul hantu-hantu acak yang tidak terang alasannya yakni musabab maupun asal muasalanya, akhir sang penulis tak bisa membedakan mana “tersirat”, mana “tidak jelas”. Mana “subtil”, mana “nihil”. Untungnya, naskahnya masih bersedia menyediakan kisah ketimbang gempuran jump scare beberapa menit sekali. Ya, ini ia nilai nyata Jaran Goyang.

Saya bersyukur kuantitas jump scare-nya dibatasi, alasannya yakni dikala muncul, kualitasnya pun terbatas. Setiap hantu meneror, selalu ada hal-hal berwarna hitam. Bayangan hitam, asap hitam, bulatan hitam, yang bisa jadi yakni siluman tahi lalat raksasa. Selain visual, aspek audio pun tak kalah terbatas kala bunyi yang diproduksi kerap timbul-tenggelam. Tapi saya sadar bahwa Jaran Goyang bukan menyasar cinephile atau horror aficionado. Film ini memang menyasar penonton dari kalangan menengah ke bawah dan pemirsa televisi. Adegan ketika Dirga memukul kekasih Elena, Robert (Cris de Lima) yang diulang hingga tiga kali demi dampak dramatis hingga twist bertema “Keluarga yang terpisah” terang merujuk pada kitab suci sinetron tanah air. Itulah sebabnya saya menikmati beberapa momen tatkala adegan dramatik berubah jadi komedi pemicu tawa lantaran penulisan obrolan maupun akting jelek jajaran pemainnya.

Saya menikmatinya sebagai momen “so-bad-its-good”, yang sayangnya cuma mengisi di sebagian kecil durasi. Dan ketika secara sengaja film ini berusaha melucu lewat kehadiran dukun konyol nan udik berjulukan Mbah Rondi (Mudy Tailor), saya hanya mampu mengelus dada. Begitu film berakhir, terdengar seorang bocah berteriak, “BERUBAH! JADI KUDA!!!”. Apa saya bilang. Jaran Goyang berhasil menggoyang otak serta mengguncang jiwa penontonnya.

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Kesempatan Kedu(D)A (2018)

Saya bisa membayangkan bagaimana banyak orang memandang sebelah (bahkan menutup) mata Kesempatan Kedu(d)a begitu tahu filmnya diproduksi RA Pictures, bahkan menampilkan Raffi Ahmad sebagai salah satu pemeran utama. Bisa dipahami melihat rekam jejak rumah produksi satu ini. Tapi saya memberinya kesempatan, lantaran dingklik penytutradaraan ditempati Awi Suryadi (Danur Universe) yang kembali menggarap komedi sesudah sekian lama. Awi pun menulis naskahnya bersama duet Agasyah Karim-Khalid Kashogi (Madame X, Badoet, Reuni Z), yang mempunyai filmografi tidak mengecewakan baik. Dan terlihat, meski masih dibarengi setumpuk kelemahan, Kesempatan Kedu(d)a merupakan produk terbaik RA Pictures sejauh ini.

Dua mitra lama, Abi (Raffi Ahmad) dan Ken (Zizan Razak) bereuni di pengadilan agama, ketika keduanya bercerai di dikala bersamaan. Walau awalnya bersedih, mereka sadar, status duda memberi kesempatan kedua untuk menggapai mimpi yang tertunda akhir saingan para mantan istri. Abi ingin membuka cafe, sedangkan Ken coba merintis ulang karirnya sebagai aktor. Tapi kesuksesan tak semudah membalikkan telapak tangan. Cafe Abi sepi pengunjung, dan Ken selalu gagal menerima tugas kecuali di audisi obat pencahar, yang ia tolak mentah-mentah. 

Suatu hari, Syafa (Cut Meyriska), puteri produser ternama (Diky Chandra), tiba ke cafe bersama temannya, Dianti (Marsha Aruan), si penggemar drama Korea. Keduanya tiba dalam kondisi mempunyai masalah, dan duduk masalah itu memberi Ken ilham untuk menuntaskan masalahnya dan Abi.

Di sini masalahnya. Rencana licik Ken tidak simpatik, yang mana bukan duduk masalah besar, andai secara sedikit demi sedikit (bukan tiba-tiba di akhir), ia bisa menunjukan kelayakannya untuk menutupi kesalahan tersebut. Sayangnya tidak, ketika sepanjang waktu, ia hanya bertingkah bodoh, kebingungan menangani situasi yang diciptakan sendiri, sehingga romansa yang dipaksa hadir antara ia dan Syafa berlangsung kurang meyakinkan. Kelebihan Ken ialah keberhasilannya memancing tawa Syafa. Namun meski punya ayah yang memintanya terjun ke dunia hiburan alih-alih bersekolah serta mantan menyebalkan (Bastian Steel), hidup Syafa tak seberapa merana hingga menyebabkan tawa suatu hal langka yang hanya bisa diberikan Ken. Apalagi, dibanding tipu muslihat Ken, gelak tawa beberapa hari terang tidak sebanding.

Romansa mereka tidak bekerja, tetapi sebagai komedi, cukuplah memberi hiburan. Razak masih kurang mumpuni menyokong beban film selaku pemeran utama, walau sang pemeran asal Malaysia bisa diandalkan dalam memancing tawa, khususnya dibandingkan kecanggungan penghantaran humor Raffi. Khusus bagi Raffi, kalau kiprahnya diberikan pada pemeran dengan sensibilitas tinggi dalam melakoni momen dramatis, pasti Kesempatan Kedu(d)a bakal jauh lebih baik.

Mengapa khusus Raffi? Karena dongeng Abi, tanpa diganggu kebodohan-kebodohan Ken, sanggup menciptakan film ini lebih manis, lebih menyentuh, mengenai perjuangan seorang laki-laki mengumpulkan lagi keping-keping hatinya yang berserakan demi sang buah hati, hingga di kemudian hari, menemukan cinta yang gres (sewaktu Ken mengasihi Syafa, Abi pelan-pelan kepincut pada Dianti). Saya suka ketika naskahnya menciptakan relasi Abi dan puterinya terjadi 2 arah, di mana mereka ingin dan coba saling membahagiakan. Sementara keberhasilan Marsha Aruan memainkan tugas love interest yang manis dan kadang jenaka, menambah keasyikan menyaksikan sisi romansanya. 

Awi terang menawarkan sisi lainnya sebagai sutradara komedi-romantis bertalenta yang banyak pihak mungkin lupa sesudah ia banyak berkutat di horor beberapa tahun belakangan. Comedic timing-nya solid, pun Awi bisa memberi momen romantis menjelang final lewat reka ulang sebuah momen manis drama Korea, Oh My Venus (2015). Momen itu terasa manis lantaran Awi tak berusaha keras membuatnya romantis sekaligus dramatis, menentukan tetap menyuntikkan humor. Andai saja Kesempatan Kedu(d)a lebih mengutamakan dongeng kekeluargaan dengan bumbu percintaan ketimbang buddy comedy.....

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Yowis Ben (2018)


Saya—dan mungkin banyak dari kalian—pernah merasa jadi insan paling kreatif saat mencetuskan nama-nama nyeleneh seperti “Tambal Band”, “Elek Yo Band”, “KepriBand”, dan sebagainya untuk nama band, tanpa menyadari ribuan orang lain di seluruh penjuru Indonesia menyimpan wangsit serupa. Dalam prosesnya, dengan tujuan utama: a) Mengejar mimpi bermusik, dan b) Memikat hati wanita, studio-studio pun dijajah, panggung demi panggung dijamah. Sampai tujuan kedua terpenuhi dan salah seorang anggota membawa pacar barunya ke latihan selaku ajang pamer, di situ awal perpecahan bermula.

Yowis Ben, yang merupakan debut penyutradaraan Bayu Skak di mana ia berduet dengan Fajar Nugros (Cinta Selamanya, Moammar Emka’s Jakarta Undercover), berpotensi jadi citra akurat nan menggelitik soal lika-liku perjalanan grup band anak Sekolah Menengan Atas jikalau bukan alasannya yaitu fokus dongeng yang melucuti spesifikasi tersebut. Naskah buatan Bagus Bramanti dan Gea Rexy menentukan jalur formulaik from zero to hero. Yowis Ben lebih menyoroti banyak sekali implikasi dari terciptanya grup band ketimbang seluk-beluk internal grup band tersebut, yang mana lebih menarik, unik, dan menggelitik.
Bayu (Bayu Skak) yang dijuluki “Pecel Boy” alasannya yaitu tiap hari membantu ibunya berjualan pecel di sekolah jengah dianggap remeh serta ingin memikat hati Susan (Cut Meyriska). Doni (Joshua Suherman) tidak jauh berbeda, coba pertanda pada orang tuanya bahwa ia bisa meraih kesuksesan. Akhirnya tercetus wangsit menciptakan grup band guna memenuhi mimpi keduanya. Yayan (Tutus Thomson) si penabuh beduk dan Nando (Brandon Salim) sang keyboardist yang berharap dikenal lewat karya daripada wajah ganteng belaka pun direkrut. Terciptalah Yowis Ben.

Panggung pertama Yowis Ben berujung kegagalan tatkala banyak film menentukan eksklusif menonjolkan para tokoh utama sebagai rising star yang talentanya eksklusif mencuri perhatian publik di percobaan perdana. Pilihan realistis yang sayangnya ditinggalkan pada fase-fase berikutnya. Yowis Ben tiba-tiba sukses lewat YouTube berkat video klip ratusan ribu penonton yang menampilkan Yowis Ben bernyanyi di hadapan puluhan orang. Bagaimana grup band Sekolah Menengan Atas gulung tikar bisa merekrut bakat sebanyak itu? Bagaimana lagu-lagunya tercipta? Bagaimana latihan di studio yang tentunya penuh intrik sekaligus kejenakaan berlangsung? Film ini tak mempedulikan proses-proses itu, sehingga sulit pula mempedulikan usaha serta merayakan kesuskesan karakternya.
Hambar pula romantika Bayu dan Susan, meski pembawaan membumi, seringai naif, ditambah bakat alam Bayu Skak melucu, memudahkan kita tersenyum. Berstatus penulis cerita, entah seberapa banyak masukan yang Bayu berikan terkait penulisan naskah khususnya bumbu komedi, tapi memang humornya paling efektif tatkala Bahasa Jawa memainkan peranan besar khususnya sewaktu umpatan-umpatan dan selorohan menyeruak masuk. Ganti dengan Bahasa Indonesia, kelucuannya dipastikan menurun drastis. Unsur Jawa jadinya lebih berperan menguatkan komedi ketimbang alur yang minim kekhasan dan bisa dipindah ke balahan dunia manapun tanpa menimbulkan perbedaan signifikan.

Yowis Ben menyasar banyak hal, mulai pembuktian orang-orang yang dipandang sebelah mata—termasuk Bahasa Jawa yang disebut kampungan oleh netizen—percintaan, persahabatan, relasi anak dan orang tua, sampai grup band SMA, tanpa ada yang benar-benar tampil solid. Setidaknya keempat tokoh utamanya amat menghibur berkat ciri masing-masing, terlebih Yayan dengan kebiasaannya meminum kuah pop mie menggunakan sedotan. Ya, menghibur. Jangan berharap lebih dari itu bagi sebuah film perihal grup band beraliran musik pop-punk “towat-towet” yang gemar melafalkan “t” sebagai “c”.