Showing posts with label Dea Ananda. Show all posts
Showing posts with label Dea Ananda. Show all posts

Wednesday, November 28, 2018

Ini Lho Di Balik Layar - Kisah Mistis (2018)

Bukan, ini bukan review ibarat biasa, sebab sebagaimana beberapa dari kalian tahu, saya yaitu salah satu produser Dongeng Mistis. Seperti judul artikelnya, kali ini saya hendak menceritakan sekelumit proses di balik layar film ini.

Awal Keterlibatan
Semua bermula di awal 2017, ketika Gandhi Fernando tiba ke Yogyakarta untuk proses pra-produksi Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran (2017) karya Ismail Basbeth, di mana ia termasuk salah satu produser administrator sekaligus aktor. Sebelumnya kami sempat bertemu sejenak dua kali, yakni seusai pemutaran Istimewa Midnight Show (2016) di Yogyakarta dan pada Jogja Asian Film Festival (JAFF) 2016.

Karena tiba terlalu pagi, saya (disusul Taufiqur Rizal dari Cinetariz) berbaik hati menemani. Di situlah ia memperlihatkan beberapa proyek yang sedang dikerjakan, dari trailer Mantan (2017), klip Zodiac: Apa Bintangmu? (rencana rilis awal 2019), dan konsep film horor omnibus yang merupakan cikal bakal Dongeng Mistis.
Sejujurnya saya bukan penggemar Renee Pictures. Tapi satu yang saya suka, selalu ada perjuangan tampil segar. The Right One (2014) memang lemah di naskah dan chemistry, namun berani menghadirkan romansa bergaya Before Sunrise. Tuyul: Part 1 (2015) tampak menonjol bila disandingkan dengan horor-horor lokal belakangan. Lalu ada Midnight Show buatan Ginanti Rona, slasher solid yang bahkan menyerempet gaya giallo yang jarang disentuh sineas kita.

Selang beberapa bulan, sewaktu saya disibukkan penyelesaian skripsi, Gandhi kembali menghubungi, mengatakan posisi produser untuk Dongeng Mistis, yang ketika itu berada di tengah fase produksi. Saya tentu tertarik, tapi pertanyaan ini terus berkecamuk.....
Reviewer Kok Kaprikornus Produser?
Apakah etis jikalau saya terjun ke industri film sebagai pembuat tapi meneruskan kegiatan review film? Selama beberapa bulan saya gamang. Sebenarnya beberapa reviewer kita sudah melaksanakan itu. Daniel Irawan sebagai konsultan di Magma Entertainment bahkan menulis naskah bersama Charles Gozali untuk Malam Jahanam yang hendak  diproduksi, Elbert Reyner menjadi astrada Buffalo Boys, Vincent Jose sebagai produser di Renee Pictures, dan tentunya Witra Asliga yang beberapa waktu kemudian merilis film panjang perdananya, The Returning.

Tapi itu mereka. Bagaimana dengan saya sendiri? Bagaimana respon pihak luar? Akhirnya saya sadar. Tujuan utama saya terlibat di Dongeng Mistis bukan mencari uang, melainkan berguru mengenai seluk-beluk produksi film. Saya percaya, reviewer harus tahu banyak, setidaknya lebih dari masyarakat umum wacana proses di balik layar film. Tentu kita sanggup berguru dengan membaca artikel atau bertanya pada praktisi, namun bukankah mengalami eksklusif bakal memberi pembelajaran lebih besar?

Intinya, saya merasa kolot dan ingin menjadi pintar.
Peran di ‘DONGENG MISTIS’
Begitu saya bergabung, Dongeng Mistis hendak memulai pasca-produksi. Peran saya yaitu mengisi posisi Gandhi yang sudah mulai disibukkan oleh acara Mister Indonesia kemudian Mistet Supranationl. Salah satunya soal pengisian musik, di mana kami bekerja sama dengan Spinach Records milik DJ Riri. Saat itu kami kebingungan. “Mau dibawa ke mana musiknya kalau diisi para DJ yang minim pengalaman di film?”. Akhirnya, kami nekat berkata, “Just use your roots. If it’s an electronic music, we’re gonna make an electro-horror then”. Hasilnya tidak mengecewakan. Terselip keunikan yang pastinya bukan bunyi-bunyian asal berisik.

Proses berikutnya sekaligus yang paling menantang (Baca: ruwet) yaitu urusan birokrasi, baik ke bioskop maupun LSF. Di sinilah tujuan awal saya terpenuhi. Saya yang biasanya mengacuhkan birokrasi (saat kuliah selalu berkata “Fuck them!” ketika kampus menyulitkan pementasan yang saya buat) sekarang tahu tahap-tahap mengurus sensor, di mana saya kesannya mengalami eksklusif betapa ajaibnya LSF. Begitu pula soal distribusi—poster, trailer, maupun DCP film—, penentuan tanggal tayang, pembagian jatah layar, juga acara pasca-produksi lain. 
Filmnya Sendiri Bagaimana?
Dongeng Mistis yaitu omnibus berisi enam kisah buatan enam sutradara yang menampilkan enam hantu khas Indonesia (666, get it?). Enam sutradara ini hampir semuanya debutan, keputusan yang kerap dilakukan Renee Pictures, berpijak pada tujuan membukakan pintu bagi talenta-talenta muda untuk terjun ke industri (Mempunyai kredit layar lebar termasul salah satu syarat penting jikalau sutradara ingin dilirik).

Sementara keenam hantunya yaitu Pocong, Sundel Bolong, Genderuwo, Begu Ganjang, Bajang, dan Lehak. Khusus nama yang disebut terakhir, itu yaitu makhluk gres ciptaan sutradara/penulis naskah Andra Fembriarto (Sinema Purnama) yang dibentuk menurut adonan budaya-budaya milik bermacam-macam tempat Indonesia.

Saya tidak sanggup memberi evaluasi pada film ini, tapi saya sanggup memberi sedikit citra mengenai tiap segmen. Sundel Bolong karya Ihsan Fadli (sempat menjadi astrada 2 di Cek Toko Sebelah) jadi segmen paling atmosferik berkat visualnya. Di rumah yang tengah mati lampu di malam hari, seorang ibu hamil (Maryam Supraba) harus menghadapi teror Sundel Bolong yang penuh nalar bulus guna menjebak korbannya. Pocong garapan Achmad Romie mengisahkan ustaz (Kiky Armando) yang keimanannya diuji, kala di tengah perjalanan pulang seusai mengajar ngaji, diganggu sesosok pocong. Saya suka bagaimana hebat agama tidak digambarkan sebagai pahlawan tepat di sini.
Bajang garapan Kristian Panca Nugroho yang menceritakan teror Bajang (hantu berwujud anak kecil) kepada perempuan (Putri Ayudya) yang gres melaksanakan keputusan besar dalam hidupnya, merupakan segmen dengan performa akting terbaik. Tidak mengejutkan, mengingat Putri Ayudya (Kafir, Kenapa Harus Bule?), Ade Firman Hakim (22 Menit, Bidah Cinta), dan Khiva Iskak (Gerbang Neraka, Love for Sale) mengisi jajaran cast-nya. Genderuwo dibentuk oleh Orizon Astonia yang dikenal lewat film-film pendek langganan pameran ibarat Lewat Sepertiga Malam (2013) dan Gadis Berkerudung Hitam dan Manusia Serigala (2014). Bertutur mengenai perempuan (Dea Ananda) yang mendapati bahwa penyakit ayahnya diakibatkan gangguan Genderuwo, sebagaimana karya-karya Orizon sebelumnya, ada poin terselubung di balik alur yang sekilas nampak sederhana.
Daya tarik terbesar Begu Ganjang  karya Vicky Ray yaitu hantu yang belum pernah diangkat ke layar lebar. Anda akan diajak memahami legenda Begu Ganjang melalui pemeriksaan wartawan berjulukan Daniel (Gandhi Fernando). Terakhir yaitu Lehak yang rasanya cukup tepat disebut sebagai segmen paling artistik. Efek visual warna-warni serta tarian tradisional akan membawa anda mengunjungi dunia fantasi rekaan Andra Fembriarto yang mengetengahkan keputusan seorang gadis (Btari Chinta) melaksanakan tarian terkutuk pemanggil Lehak.

Silahkan sambangi bioskop mulai 22 NOVEMBER 2018, dan jangan ragu-ragu mengutarakan pendapat kalian mengenai filmnya di kolom komentar, entah baik atau buruk. Saya tidak tahu apakah saya akan terlibat pada produksi film lain, sehingga bukan tidak mungkin ini merupakan yang pertama sekaligus terakhir. Jadi, ini kesempatan langka melihat nama saya di layar lebar, hehehe....

Sebelum menonton, simak dulu trailer-nya berikut ini

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Kendaraan Beroda Empat Bekas Dan Kisah-Kisah Dalam Putaran (2017)

Serupa ragam isu-isu di dalamnya, Mobil Bekas akan mengejutkan penonton kemudian memancing perbincangan, tukar opini sengit yang mungkin takkan mencapai titik temu sekalipun sang sutradara/penulis naskah Ismail Basbeth telah melangkah ke karya berikutnya di masa depan. Diproduksi melalui crowdfunding dari puluhan nama yang memperoleh kredit co-producers, film ini merupakan kumpulan fragmen berbentuk kisah-kisah simbolik yang merangkum permasalahan Indonesia semenjak dulu sampai kini, tepatnya keresahan Basbeth terhadapnya. Jika kendaraan beroda empat jeep bekas merupakan negara, maka para penumpang menjadi rakyatnya. 

Akuntan (Cornelio Sunny) yang bercinta dengan mobilnya, trio grup band perempuan (Dea Ananda, Shalfia Fala Pratika, Leilani Hermiasih) yang membicarakan konsep ketuhanan dan alien sepanjang perjalanan, sepasang suami istri beda usia (Karina Salim, Yan Widjaya) yang berbulan madu di kebun binatang, pelacur yang ingin lari dari kehidupannya (Natasha Gott), pertemuan perempuan (Sekar Sari) dengan sesosok hantu gentayangan (Verdi Solaiman), sampai protes dua petani (Giras Basuwondo, Ibnu 'Gundul' Widodo) pada pemerintah selaku mediator tiap kisah yang terus berputar sementara si kendaraan beroda empat bekas menjadi saksi. 
Mengingatkan kepada film pendeknya, Shelter (2011), Basbeth membiarkan gambar olahan D.o.P. Satria Kurnianto bicara. Dilakukannya pengamatan situasi di tengah kesunyian plus take panjang satu sudut kamera yang menangkap tindak-tanduk insan dalam gerak mekanis kendaraan. Semakin usang diamati, kehampaan adegan menjadi penuh. Penuh kesedihan, amarah, kebimbangan, sesekali keceriaan. Tidak lupa, Basbeth menyelipkan "hook" alias momen menghentak penggaet atensi penonton di masing-masing keping cerita, entah beraroma sensual, brutal, atau kejutan menyerupai penampakan dadakan nan mengerikan Verdi Solaiman. 

Kamera boleh minim gerak, namun tiada monotonitas. Di antara dominasi gambar statis ada pilihan sudut-sudut menarik hasil kreasi Satria Kurnianto, khususnya kala merekam bentangan alam dan malam kelam minim cahaya buatan, yang makin menghipnotis dikala pilihan aspek rasio lebar 2.35 : 1 seolah enggan melewatkan satupun pemandangan. Basbeth memang sutradara penuh gaya. Beberapa mendukung maksud (tata bunyi segmen suami istri beda usia menguatkan kesan alienasi), beberapa sebatas pelengkap kurang substansial, tapi setidaknya mempercantik estetika. 
Mobil Bekas jelas dimaksudkan sebagai tontonan multitafsir selaku bentuk kesediaan Basbeth menghargai heterogenitas duduk kasus yang penonton alami selaku warga negara Indonesia. Ini tepat, mengingat satu isu, contohnya sosial-politik saja bisa dimaknai berbeda, melahirkan perspektif tak sama. Dari sini terjadi transfer, di mana curahan personal pembuat film menjadi personal pula bagi penonton. Ikatan seksual sang akuntan dengan kendaraan beroda empat bisa nampak sebagai ungkapan kerinduan bagi satu pihak, bisa juga sindiran atas materialisme di mata pihak lain. Dendam kesumat si perempuan yang bertemu hantu gentayangan pun sanggup berkembang ke arah paparan peristiwa bernada rasialisme. 

Pada pemutarannya di Busan International Film Festival Oktober lalu, sosok legendaris Pierre Rissient menyebut Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran sebagai "pure cinema". Saya sependapat, setidaknya dalam lingkup di mana sinema menjadi cerminan suatu negeri yang mewakili ragam ruang personal baik milik pembuat juga penontonnya. Walau keberagaman itu turut berarti gaya bertutur filmnya yang jauh dari kata "ringan" sulit menjangkau publik luas. 


Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017