Showing posts with label Dean Devlin. Show all posts
Showing posts with label Dean Devlin. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Bad Samaritan (2018)

Bad Samaritan menampilkan Robert Sheehan sebagai Sean Falco, sang protagonis yang bersama rekannya, Derek (Carlito Olivero), menjalankan agresi perampokan berkedok parkir valet di sebuah restoran. Modus operandinya, salah satu dari keduanya akan menyatroni rumah korban dengan memanfaatkan GPS dalam mobil, kemudian mengambil barang-barang kecil semoga korban tak menyadari agresi tersebut. Sean dan Falco pikir metode itu menjamin mereka lolos, tapi tidak, lantaran Bad Samaritan memastikan kejahatan itu, serta hal-hal jelek lain yang Sean perbuat (sengaja/tidak, besar/kecil) akan mendapatkan balasan. Ini bukan soal justifikasi kriminalitas atau kebodohan muda-mudi yang berbuat tanpa pikir panjang, sebagaimana bertebaran di banyak menu thriller, melainkan soal penebusan kesalahan, dan itu yang membuatnya menarik.

Melalui naskahnya, Brandon Boyce ingin menghukum Sean tanpa menciptakan filmnya menjadi nihilis. Prosesnya tidak mudah, konklusinya pun tak bisa sepenuhnya disebut “akhir bahagia”, namun ada secercah cahaya tatkala perlahan sang tokoh utama bisa berubah melalui cara yang bisa dipercaya. Sebab cuma orang dengan kebebalan luar biasa yang menolak berubah pasca menghadapi permasalahan serupa Sean. Fakta bahwa beliau pun berusaha menyelamatkan nyawa turut menciptakan prosesnya bukan Cuma believable, pula likeable.

Sekali lagi, ini bukan perjalanan mudah. Target perampokan terbaru Sean dan Derek ialah Cale Erendreich (David Tennant), laki-laki pengendara Maserati yang sombong, necis, dan tentu saja kaya raya. Merasa menerima durian runtuh, Sean bergegas menguras barang-barang di rumah Cale, hingga beliau menemukan seorang perempuan dirantai di sebuah kamar dalam kondisi mengenaskan. Sean menentukan kabur, keputusan yang memicu rasa bersalah, yang ujungnya, juga memicu “kucing-kucingan” ketika Cale menyadari perbuatan Sean. Cale bukan kucing sembarangan. Bermodalkan sumber daya (baca: kekayaan) melimpah, Cale menciptakan pertarungan ini berat sebelah. Betapa tidak? Cale bisa mengontrol seisi rumahnya dari telepon genggam, mempunyai senjata, pun alat pelacak.

Di bawah penyutradaraan Dean Devlin (Geostorm), “kucing-kucingan” itu mengalir dinamis, punya ketepatan tempo, bertabur kejutan dengan kadar memadahi. Mencapai pertengahan, alih-alih kehabisan bensin, Bad Samaritan justru melangkah ke arah tak terduga. Ketimbang meruncing, konfliknya justru melebar, selaku cara menawarkan sejauh apa Cale bisa menghancurkan kehidupan Sean, meski detail terkait “bagaimana” urung dijabarkan. Seperti perkataan Cale, “You don’t know how rich I am”, kesudahannya memang sebatas itu yang kita tahu. Hal serupa terjadi dikala filmnya berusaha memaparkan motivasi sang antagonis melalui klarifikasi latar belakangnya oleh FBI (yang muncul hanya untuk memberi eksposisi). Cale menderita duduk masalah psikologis yang dipicu insiden masa kecil. Itu saja.

Tapi melihat penampilan David Tennant, melihat tatapan bengisnya, mengamati senyum yang tersungging di bibirnya, mengikuti budi serta kecermatan taktiknya, gampang meyakini bahwa Cale ialah laki-laki dengan gangguan mental sewaktu naskahnya gagal tampil semeyakinkan itu. Terkait naskah, saya pun terganggu dengan beberapa lubang logika. Cale merupakan sosok cerdik, cermat, nan teliti, tetapi dikala beliau coba menjebak Sean menggunakan bom, Cale justru meninggalkan Maserati disertai kuncinya yang tergeletak di daerah biasa, memberi Sean jalan melarikan diri. Mengapa tidak menyingkirkannya dulu? Paling tidak, cukup dengan melenyapkan kuncinya. Dengan uang plus kekuatan melimpah miliknya, tak bisakah Cale menyewa orang untuk mengambil kendaraan beroda empat itu?

Bodoh memang, dan lantaran Bad Samaritan digarap menggunakan pendekatan serius, dilengkapi segala elemen moralitasnya. Lain dongeng jika keseluruhan filmnya menggunakan gaya menyerupai third act-nya, kala selama sekitar 10 menit, Bad Samaritan bertransformasi jadi lebih ringan, menyelipkan humor menggelitik, enggan menganggap dirinya terlampau serius. Pada momen singkat itu pula David Tennant melepaskan topeng ketenangan yang beliau kenakan, tampil meletup sebagai antagonis over-the-top yang tetap menyenangkan disaksikan. Tapi bukan masalah. Lubang-lubang logika yang ada hanya “kejahatan kecil” yang berhasil ditebus oleh kebaikan lebih besar lain berupa poin-poin nyata filmnya. Seperti tokoh utamanya, Bad Samaritan mampu menebus keburukan dirinya.

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Geostorm (2017)

Apa pemicu utama keberhasilan disaster film? Bukan semata bujet besar. Ingat, The Impossible berhasil secara meyakinkan mereka ulang tsunami tahun 2004 walau hanya punya anggaran 45 juta dollar. Menempatkan peristiwa di atas unsur lain dan membawa penonton berada di tengahnya yaitu poin terpenting. Sehingga saat Geostorm tak pernah merealisasikan situasi ajal ibarat yang dijanjikan, artinya debut penyutradaraan Dean Devlin ini gagal memenuhi hakikatnya. Tidak mengejutkan, alasannya yaitu filmnya sudah empat kali berganti tanggal rilis, salah satunya akhir hasil test screening buruk yang memaksa pengambilan gambar ulang dilakukan.

Adegan pembukanya menjanjikan, mengisahkan upaya kolaborasi 17 negara membuat satelit pengontrol cuaca berjulukan "Dutch Boy" demi menghentikan peristiwa global. Jake Lawson (Gerard Butler) merupakan pimpinan proyek tersebut. Tetapi begitu risikonya kondisi aman, Jake justru "ditendang" dari tim, digantikan oleh adiknya, Max (Jim Sturgess). Sifat insan yang bersedia bersatu kala dirundung kesusahan hanya untuk mementingkan ego sesudah kembali  merasa aman, sekilas disiratkan, walau sayangnya urung benar-benar dieksplorasi. 
Tiga tahun berselang, kejadian asing mulai menyerang banyak sekali negara, diawali tempat gurun Afganistan yang membeku. Malfungsi pada Dutch Boy diduga jadi penyebabnya. Jake pun diminta bertugas lagi di stasiun luar angkasa demi mendeteksi kerusakan satelit buatannya sebelum terjadi geostorm, yaitu topan raksasa berskala global yang akan mengakhiri dunia. Terdengar epik, dan filmnya pun menjanjikan itu tatkala sepanjang durasi penonton diperlihatkan tsunami, gempa, hujan es, dan lain-lain. Tapi geostorm sendiri tak pernah diwujudkan. Menyisakan kehancuran berskala non-global yang sekedar muncul sekilas bagi penonton.

Bukankah kalau geostorm berlangsung artinya kiamat? Benar, dan bukan masalah. 2012-nya Roland Emmerich jadi referensi sewaktu insan tak bisa membendung "kiamat", fokus diberikan pada usaha bertahan hidup. Sejatinya mengedepankan usaha preventif pun sanggup menarik asalkan berkutat di acara menantang ajal ibarat Michael Bay tunjukkan lewat Armageddon. Dalam Geostorm, protagonis lebih sibuk mengutak-atik komputer yang turut menyia-nyiakan bakat Gerard Butler. Kurang bijak membayar Butler untuk mengucapkan kalimat-kalimat ilmiah alih-alih beraksi menyelamatkan dunia sebagai action hero. Cuma sebuah sekuen agresi ia dapat, itu pun dilakoni dalam balutan spacesuit
Singkatnya, para protagonis jarang ditempatkan eksklusif di sentra kekacauan. Max dan Sarah (Abbie Cornish), kekasihnya sekaligus anggota secret service sempat terjebak topan halilintar, namun Devlin menentukan memusatkan kamera pada kendaraan beroda empat yang dipacu ketimbang kerusakan sekitar. Devlin boleh saja menulis naskah lima film Emmerich, tapi beliau tak "tertular" kapasitas pengadeganan sang maestro film bencana. Staging Devlin amat buruk. Daripada digiring ke dalamnya, kiprah penonton sebatas observer akan kejadian yang tidak terlihat meyakinkan lantaran CGI buruk. Bahkan CGI penyusun latar kota (khususnya Rusia) pun tampak menggelikan.

Kurangnya sanksi adegan peristiwa baik dari kuantitas maupun kualitas, Geostorm nyaris tak punya faktor pemberi kenikmatan. Drama keluarganya gagal menyentuh akhir penggalian dangkal naskah buatan Dean Devlin dan Paul Guyot. Pun performa cast-nya kurang mendukung di mana hanya Talitha Bateman (Annabelle: Creation) melalui kemunculan singkat sebagai puteri Jake yang sanggup menangani momen emosional. Demikian pula selipan humor yang bagai dibawakan setengah hati para pemain, kecuali Zazie Beetz dengan gaya deadpan menggelitik miliknya.