Showing posts with label Dewi Irawan. Show all posts
Showing posts with label Dewi Irawan. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Surau Dan Silek (2017)

"Film daerah", begitu film yang kental unsur budaya suatu tempat sekaligus melibatkan banyak SDM setempat jamak disebut. Ketepatan istilah tersebut layak diperdebatkan, tapi satu hal pasti, geliatnya menarik disimak. Meski dari segi kualitas belum seberapa memukau, judul-judul macam Uang Panai' (2016) atau Silariang: Menggapai Keabadian Cinta (2017) terbukti laku di pasaran. Kini giliran Surau dan Silek selaku debut penyutradaraan sekaligus penulisan naskah dari Arief Malinmudo mengangkat tradisi silat Minangkabau, sayangnya masih dihiasi kelamahan fundamental di sana-sini.

Masalah utama "film daerah" selalu pada proporsi cerita, ingin bertutur sebanyak mungkin, membuatnya terlampau penuh. Surau dan Silek serupa. Awalnya kita berkenalan dengan trio protagonis cilik, Adil (Muhammad Razi), Dayat (Bima Jousant) dan Kurip (Bintang Khairafi) yang berguru silat dari Rustam (Gilang Dirga). Walau tekun berlatih, keterbatasan ilmu Rustam urung membawa ketiganya menjuarai turnamen. Menyadari itu dan aib akhir hidupnya tak kunjung berkembang, Rustam pun merantau, meninggalkan murid-muridnya. Kemudian Rustam sepenuhnya menghilang, gres muncul lagi sekilas menjelang akhir, meninggalkan tanya akan signifikansi perannya.
Karakter Rustam memang tak penting, sekedar digunakan menyinggung kebiasaan merantau bagi cowok Minang, yang mana bukan fokus utama cerita. Ada atau tidak, Rustam tak mempengaruhi proses Adil, Dayat, dan Kurip berguru soal keseimbangan rohani dan jasmani melalui silat (silek). Tugas itu diemban Johar (Yusril Katil), dosen ternama dari Yogyakarta sekaligus mantan jagoan yang gres mudik bersama sang istri, Erna (Dewi Irawan). Apa perlunya mengadakan tokoh Rustam jikalau kemudian kiprahnya diambil alih? Apa perlunya Johar dan Erna muncul sedari awal, sesekali tampak melaksanakan remeh temeh sehari-hari? Apa perlunya "menyembunyikan" dahulu identitas Johar sebagai andal silat? 

Banyak sisi kurang penting diselipkan oleh Arief Malinmudo, entah insiden singkat maupun tokoh, sebutlah Arini (Randu Arini) yang bukan sidekick atau love interest sampai Cibia (Praz Teguh) si comic relief serba tanggung. Kondisi tersebut mengakibatkan kisahnya menggelembung, di mana makin banyak tokoh hadir, makin banyak pula peristiwa. Arief Malinmudo sendiri belum piawai merangkai narasi seramai itu, terbukti kala menangani beberapa momen yang bertubrukan di satu waktu, perpindahannya bergairah daripada dinamis. Untung penuturan sang sutradara cukup rapi dalam narasi linier, didukung juga oleh pacing solid. 
Meniadakan yang seharusnya tidak ada, mengadakan yang seharusnya tiada. Kekurangan naskah itu turut melemahkan penghantaran pesan menarik soal bagaimana seharusnya silat (fisik) berjalan beriringan dengan ibadah (batin). Benar kita melihat pasca menjalani dua hal itu bersamaan, Adil berubah dari bocah pemarah jadi lebih sabar di keseharian, pula hening menghadapi kesulitan di gelanggang pertarungan, tetapi prosesnya berlalu sekejap, hanya lewat training montage singkat. Padahal seseorang, apalagi bocah, niscaya melewati perjalanan terjal sebelum menuntaskan tahap perkembangan itu. Tanpanya, Surau dan Silek terkesan preachy, memposisikan ibadah kolam sihir yang sanggup mengubah orang seketika, di dikala semestinya ada pergolakan dan kesulitan. 

Surau dan Silek juga terjebak di bermacam-macam kebetulan dalam presentasi alur, yang mana paling kentara sewaktu jadwal lomba IPS Kurip dijadwalkan berbarengan dengan turnamen silat. Tambah mengganggu tatkala alhasil problem itu urung menghasilkan signifikansi, usai begitu saja. Mencapai titik puncak turnamen pun, Arief Malinmudo gagal menghadirkan intensitas akhir seadanya menangkap tiap detail koreografi silat, ditambah ketiadaan rule turnamen jelas. Penonton sekedar diajak melompat dari satu pertarungan ke lainnya.

Masihkah film ini sanggup dinikmati? Rupanya masih berkat akting maksimal cast anak-anak. Muhammad Razi cukup cakap melakoni porsi drama bermodalkan ekspresi sempurna guna, sedangkan Bima Jousant mencuri perhatian berkat kepiawaian dalam bertingkah menggelitik. Chemistry natural ketiga protagonis mendorong interaksinya menyenangkan disimak, menciptakan saya tidak keberatan berkeliling kota mengikuti mereka mencari guru silat. Di jajaran penampil dewasa, sayang sekali porsi Erna tergolong minim, alasannya ialah Dewi Irawan dengan kelembutan tutur yang membungkus kepedihan terpendam berpotensi menguras emosi. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

Saturday, December 1, 2018

Ini Lho Silariang: Cinta Yang (Tak) Direstui (2018)

Dress code untuk gala premiere Silariang Cinta yang (Tak) Direstui adalah hijau. Tidak aneh. "Mungkin menyesuaikan poster yang didominasi hijau", begitu pikir saya. Lalu filmnya bergulir, terlihat minuman, kasur, pakaian, lebih banyak didominasi berwarna hijau. Dibantu tata cahaya, putih pun menjurus kehijauan. Kemudian aku tahu, baju bodo (pakaian budbahasa Bugis) hijau khusus diperuntukkan bagi kaum bangsawan. Dengan meminta penonton mengenakan baju hijau serta mengakibatkan hijau warna umum di filmnya, sutradara Wisnu Adi dan tim bagai tengah menghapus batas strata, yang merupakan pemicu konflik Silariang Cinta yang (TakDirestui. 

Strata menghalangi percintaan Yusuf (Bisma Karisma) dan Zulaika (Andania Suri). Yusuf putera pengusaha kaya, tetapi hanya rakyat biasa. Sedangkan Zulaika ialah keturunan bangsawan. Niat mereka melangsungkan ijab kabul pun tak direstui, khususnya oleh Rabiah (Dewi Irawan), ibu Zulaika. Satu pihak mementingkan gengsi sebagai konglomerat, pihak lain menjunjung harga diri tinggi golongan darah biru. Sungguh insan melupakan kemanusiaan atas nama martabat.
Gagal memperoleh restu, dua protagonis kita nekat untuk silariang alias kawin lari meski nyawa jadi taruhan. Sebab pihak keluarga Zulaika yang diwakili Puang Ridwan (Sese Lawing) mencari keduanya tanpa henti, pula bertekad menghunuskan badik ke badan Yusuf. Sungguh situasi genting, tetapi skenario buatan Oka Aurora (Dear Love, Hijabers in Love) enggan terlampau serius maupun bergelora atas nama dramatisasi, satu kelemahan terbesar Silariang: Menggapai Keabadian Cinta tahun lalu. Di tengah pelarian, Zulaika sempat mengeluh kelelahan akhir jauhnya perjalanan. Yusuf pun menjawab "namanya juga Silariang". 

Syukurlah film ini bersedia menyelipkan interaksi santai. Kisahnya jadi lebih membumi. Di tangan tim yang kurang kompeten, romansa bakal selalu dijejali kalimat puitis yang oleh para pemain dibawakan layaknya bocah SD tengah berguru baca puisi. Demikian juga paparan konflik yang tidak lupa menyentuh hal-hal fundamental menyerupai kesulitan ekonomi sekaligus ego yang secara alami akan sesekali menguasai Yusuf dan Zulaika. Yusuf mewaspadai kejujuran sang istri menciptakan Zulaika tersinggung, merasa harga diri sebagai keturunan aristokrat diinjak-injak. 
Keduanya hingga ke pertengkaran tersebut merupakan proses natural. Wajar kalau di satu titik Zulaika membawa-bawa ihwal strata. Artinya ia manusia. Andania Suri menunjukkan penampilan cukup umur yang sama manusiawinya, sedangkan Bisma, pasca tampil mengesankan di Juara, kini beberapa kali menunjukkan mulut yang kurang cocok pada momen serius meski pesona kala melakoni adegan kasual tak perlu diragukan. Tapi sebagaimana Ayat-Ayat Cinta 2, Dewi Irawan dalam kemunculan singkat mencuat sebagai penampil terbaik. Perasaan bergemuruh tanpa harus memasang raut wajah maupun gestur besar. 

Silariang Cinta yang (TakDirestui sayangnya urung menyentuh titik emosi tertinggi akhir lemahnya titik puncak permasalahan. Bahkan, secara keseluruhan, untuk dongeng soal keberanian melawan budbahasa yang sanggup berujung maut, filmnya bergulir terlampau damai, mengakibatkan minimnya dinamika serta problem menarik. Konklusi yang sejatinya menyimpan harapan, sebuah bentuk doa terkait solusi ideal guna mengakhiri goresan mengenai budbahasa yang sering terjadi di dunia nyata, terkesan kolam jalan pintas menuntaskan masalah. Silariang Cinta yang (TakDirestui tidak buruk. Hanya datar nan gampang dilupakan.

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Ayat-Ayat Cinta 2 (2017)

SPOILER ALERT: Fahri kembali menikah di sekuel ini. Melihat track record karakter yang diperankan Fedi Nuril dalam beberapa film religi, fakta tersebut bukan kejutan. Pertanyaannya, dengan siapa? Karena menyerupai film pertama dikala ia diperebutkan Aisha, Maria, Noura hingga Nurul, Fahri masih laki-laki mulia idola wanita. Sesungguhnya penokohan Fahri memang hanya tersusun atas dua kata: mulia dan idola. Pintar, kaya, dan tampan sanggup disertakan, tapi tetap tidak menambah kedalaman. Fahri begitu sempurna, sisi manusiawinya nyaris lenyap.

Kini beliau tinggal di Edinburgh, Skotlandia, hidup mapan sebagai dosen yang rutin mendapatkan setumpuk hadiah makanan dari penggemar. Tapi hatinya urung tergoda, setia menanti Aisha yang hilang, diduga meninggal di Palestina. Alih-alih dibenamkan kesedihan, Fahri menentukan membantu orang-orang tanpa pandang bulu, dari Nenek Catarina (Dewi Irawan dalam kepiawaian bermain rasa) yang seorang Yahudi hingga Keira (Chelsea Islan) yang menyalahkan umat Islam akhir maut sang ayah. Bisa diduga, kebaikan Fahri layaknya magnet penarik cinta wanita. Hulya (Tatjana Saphira), sepupu Aisha yang hendak menempuh S2, Brenda (Nur Fazura), pengacara yang kerap beliau tolong, Sabina (Dewi Sandra), imigran yang ia pekerjakan, semua jatuh hati. Pun menengok trailer-nya, kita tahu pada satu titik, kebencian Keira berubah jadi permohonan biar dinikahi. 
Ketiadaan cela dalam diri Fahri mengakibatkan Ayat-Ayat Cinta 2 sebatas kumpulan episode yang merekam kebaikan-kebaikannya, menutupi gejolak batin soal upaya mengikhlaskan kepergian Aisha. Ini satu-satunya menandakan Fahri masih manusia. Dia menangis menyadari kesedihan pembentuk kelemahannya. Tapi sebelum beranjak menuju eksplorasi lebih jauh, problem usai pasca obrolan singkat dengan sobat lamanya, Misbah (Arie Untung). Fahri memperoleh pencerahan biar merelakan sang istri, mengikuti kata hati untuk menikah lagi. Mencapai film kedua, rupanya dilema Fahri tetap berkutat seputar menikah atau tidak. 

Bahkan proses mencari keikhlasan itu berakhir sia-sia, lantaran melihat konklusi yang ditawarkan, Fahri justru makin terjebak di masa lalu. Belum lagi ditambah "keajaiban" medis serta keberadaan twist yang terkesan membohongi, paruh akhir Ayat-Ayat Cinta 2 cenderung memancing tawa daripada haru. Setidaknya bagi penonton umum menyerupai saya, alasannya sasaran pasar utama filmnya ialah para akhwat pemuja Fedi Nuril terdengar berteriak histeris sembari berurai air mata. Saya memutuskan menahan tawa demi menghormati mereka, sebagaimana Ayat-Ayat Cinta 2 menghormati kelompok penonton yang punya perbedaan cara pandang. 
Naskah buatan Alim Sudio dan Ifan Ismail mungkin dangkal mengkaji debat soal toleransi dalam Islam, termasuk mengenai perlakuan terhadap perempuan yang dijawab seadanya. Namun jalan pikir film ini tak sesempit asumsi Meski penempatannya kurang mulus, obrolan perihal Pancasila menunjukkan filmnya coba menghargai keragaman. Tidak ada ceramah menggurui, dan itu patut diapresiasi. Tentu terdapat perbedaan ideologi, yang apabila dikeluhkan, saya sama saja dengan para fanatik yang membabi buta membela kepercayaannya. 

Ayat-Ayat Cinta 2 bakal berhasil di pasaran, namun takkan mencapai tingkat fenomena setara film pertama yang dibekali setting perkampungan Kairo plus scoring bernuansa etnik garapan Tya Subiakto dan lagu-lagu ikonik yang dibawakan Rossa. Ditangani Guntur Soeharjanto, kemewahan dan kemegahan dipentingkan, menciptakan filmnya nampak terlalu menyerupai suguhan religi berlokasi luar negeri kebanyakan, sebutlah 99 Cahaya Di Langit Eropa yang juga karya Guntur. Suguhan religi berlokasi luar negeri dengan tokoh-tokoh Eropa atau Timur Tengah berwajah Indonesia dan fasih bicara Bahasa Indonesia. 

Ini Lho Silariang: Cinta Yang (Tak) Direstui (2018)

Dress code untuk gala premiere Silariang Cinta yang (Tak) Direstui adalah hijau. Tidak aneh. "Mungkin menyesuaikan poster yang didominasi hijau", begitu pikir saya. Lalu filmnya bergulir, terlihat minuman, kasur, pakaian, lebih banyak didominasi berwarna hijau. Dibantu tata cahaya, putih pun menjurus kehijauan. Kemudian aku tahu, baju bodo (pakaian budbahasa Bugis) hijau khusus diperuntukkan bagi kaum bangsawan. Dengan meminta penonton mengenakan baju hijau serta mengakibatkan hijau warna umum di filmnya, sutradara Wisnu Adi dan tim bagai tengah menghapus batas strata, yang merupakan pemicu konflik Silariang Cinta yang (TakDirestui. 

Strata menghalangi percintaan Yusuf (Bisma Karisma) dan Zulaika (Andania Suri). Yusuf putera pengusaha kaya, tetapi hanya rakyat biasa. Sedangkan Zulaika ialah keturunan bangsawan. Niat mereka melangsungkan ijab kabul pun tak direstui, khususnya oleh Rabiah (Dewi Irawan), ibu Zulaika. Satu pihak mementingkan gengsi sebagai konglomerat, pihak lain menjunjung harga diri tinggi golongan darah biru. Sungguh insan melupakan kemanusiaan atas nama martabat.
Gagal memperoleh restu, dua protagonis kita nekat untuk silariang alias kawin lari meski nyawa jadi taruhan. Sebab pihak keluarga Zulaika yang diwakili Puang Ridwan (Sese Lawing) mencari keduanya tanpa henti, pula bertekad menghunuskan badik ke badan Yusuf. Sungguh situasi genting, tetapi skenario buatan Oka Aurora (Dear Love, Hijabers in Love) enggan terlampau serius maupun bergelora atas nama dramatisasi, satu kelemahan terbesar Silariang: Menggapai Keabadian Cinta tahun lalu. Di tengah pelarian, Zulaika sempat mengeluh kelelahan akhir jauhnya perjalanan. Yusuf pun menjawab "namanya juga Silariang". 

Syukurlah film ini bersedia menyelipkan interaksi santai. Kisahnya jadi lebih membumi. Di tangan tim yang kurang kompeten, romansa bakal selalu dijejali kalimat puitis yang oleh para pemain dibawakan layaknya bocah SD tengah berguru baca puisi. Demikian juga paparan konflik yang tidak lupa menyentuh hal-hal fundamental menyerupai kesulitan ekonomi sekaligus ego yang secara alami akan sesekali menguasai Yusuf dan Zulaika. Yusuf mewaspadai kejujuran sang istri menciptakan Zulaika tersinggung, merasa harga diri sebagai keturunan aristokrat diinjak-injak. 
Keduanya hingga ke pertengkaran tersebut merupakan proses natural. Wajar kalau di satu titik Zulaika membawa-bawa ihwal strata. Artinya ia manusia. Andania Suri menunjukkan penampilan cukup umur yang sama manusiawinya, sedangkan Bisma, pasca tampil mengesankan di Juara, kini beberapa kali menunjukkan mulut yang kurang cocok pada momen serius meski pesona kala melakoni adegan kasual tak perlu diragukan. Tapi sebagaimana Ayat-Ayat Cinta 2, Dewi Irawan dalam kemunculan singkat mencuat sebagai penampil terbaik. Perasaan bergemuruh tanpa harus memasang raut wajah maupun gestur besar. 

Silariang Cinta yang (TakDirestui sayangnya urung menyentuh titik emosi tertinggi akhir lemahnya titik puncak permasalahan. Bahkan, secara keseluruhan, untuk dongeng soal keberanian melawan budbahasa yang sanggup berujung maut, filmnya bergulir terlampau damai, mengakibatkan minimnya dinamika serta problem menarik. Konklusi yang sejatinya menyimpan harapan, sebuah bentuk doa terkait solusi ideal guna mengakhiri goresan mengenai budbahasa yang sering terjadi di dunia nyata, terkesan kolam jalan pintas menuntaskan masalah. Silariang Cinta yang (TakDirestui tidak buruk. Hanya datar nan gampang dilupakan.