Showing posts with label Doug Liman. Show all posts
Showing posts with label Doug Liman. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho The Wall (2017)

Umumnya pada film berlokasi tunggal, protagonis berada di suatu ruangan tertutup sebab bermacam-macam alasan. Kesan klaustrofobik kerap jadi senjata utama memancing ketegangan. The Wall karya sutradara Doug Liman (The Bourne Identity, Mr. & Mrs. Smith, Edge of Tomorrow) yang berasal dari salah satu naskah dalam Black List (daftar naskah belum diproduksi paling menarik) tahun 2014 goresan pena Dwain Worrell mengangkat situasi bertolak belakang. Ketimbang kungkungan ruang tertutup, gurun lapang nan gersang di Irak jadi kawasan dengan sebuah tembok ringkih bekas sekolah sebagai pemisah hidup-mati karakternya. 

Di tengah Perang Irak, Sersan Allen Isaac (Aaron Taylor-Johnson) dan Sersan Kepala Shane Matthews (John Cena) sedang menginvestigasi lokasi konstruksi pipa kawasan terjadi pembantaian kepada para pekerja dan petugas keamanan. Setelah 22 jam nihil peristiwa, mereka menyatakan situasi kondusif dan pelaku telah pergi. Namun tatkala Matthews hendak mengambil radio milik salah satu korban, peluru penembak misterius mengenainya. Usaha Isaac menyelamatkan sang rekan justru turut tertembak, bahkan radio dan botol minuman miliknya ikut hancur. Bersembunyi di balik tembok, Isaac menyadari lawannya yakni Juba (disuarakan Laith Nakli), penembak jitu yang telah membawa ajal bagi 35 prajurit Amerika.
Menjaga intensitas merupakan tantangan terbesar bagi film satu lokasi. Kesan monoton rawan timbul, apalagi kala amunisi lain berupa tokoh tak seberapa jumlahnya. Dengan Matthews menghabiskan lebih banyak didominasi waktu terbaring sekarat dan Juba hanya kita dengar suaranya, mudah beban ada di bahu Isaac. Sang aktor, Aaron Taylor-Johnson tampil kuat mengekspresikan keputusasaan, mati-matian berjuang menahan sakit sambil memutar otak mencari cara lepas dari "kurungan". Pasca first act ala kadarnya yang sekedar berfungsi menggiring tokoh utama menuju jebakan, babak kedua The Wall diisi dialog Isaac dengan Juba sembari sesekali menampilkan Isaac yang berusaha mengatur strategi.

Worrell mendeskripsikan naskahnya sebagai "perbincangan sederhana yang mungkin terjadi di dingklik taman New York antara dua orang yang sedang bermain catur". Worrell menggunakan pembicaraan dua tokohnya guna membangun sisi psikologis, juga menyindir pihak Amerika Serikat selaku penjajah di Irak. Poin kedua cukup berhasil. Kita dibawa melihat apapun rencana Isaac, Juba selalu selangkah di depan, bahkan menyiapkan beberapa kejutan yang selain menciptakan penonton tersentak, pula menguatkan aura frustasi di usaha Isaac. Pun sang penembak jitu yang selalu dipanggil "haji" (sebutan tentara Amerika untuk orang Irak atau Afganistan) ini paham nilai estetika (menyebut istilah militer puitis), gemar membaca bait puisi Edgar Allan Poe kala Isaac hanya tahu nama Shakespeare (yang kemungkinan besar tak ia kenal karyanya). Inilah pemandangan ketika penjajah dibodohi yang dijajah, dan pihak superior terlihat kerdil kecerdasannya di hadapan "teroris" yang dianggap barbar.
Lain halnya soal aspek psikis. Kalimat goresan pena Worrell terlampau dangkal guna merangkai permainan pikiran memikat. Belum lagi dialog bernada kasualnya urung menambah lapisan selain citra betapa Juba yakni sosok berdarah cuek yang sanggup santai bertutur di medan perang. Namun kelemahan paling besar terletak pada kegagalan melibatkan penonton dalam tiap kalkulasi yang Isaac lakukan, misal sewaktu melaksanakan perhitungan demi mencari tahu letak persembunyian Juba. Worrell lalai menjabarkan alasan, maksud, pula target bermacam aktivitas tersebut. Padahal penting bagi penonton memahami seluk beluknya biar alih-alih muncul sambil lalu, menyulut ketegangan, bahkan jikalau sanggup simpati bagi karakter. 

Pamor Doug Liman sebagai sutradara kelas wahid urusan spectacle besar nan seru tidak usah diragukan lagi, tapi menyerupai Isaac, ia belum sepenuhnya piawai memaksimalkan kesederhanaan. Ketegangan berhasil timbul sesekali sewaktu menerima pemberian berbentuk kejutan dari naskah atau dalam momen "masif" ketika peluru ramai berdesing. Itulah mengapa ending-nya sukses mencekat selain didorong hadirnya kejutan "kejam" yang bahwasanya gampang ditebak. Namun Liman bagai minim logika menyiasati keterbatasan. Selain meniadakan iringan musik demi membangun kesan raw dan realistis yang mana tak seberapa berpengaruh, pilihan shot-nya standar, tak sanggup memberi intensitas di lokasi tunggal. Setidaknya penceritaan Liman mengalir dengan rapi sehingga nyaman diikuti.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho American Made (2017)

Tom Cruise bermain dalam film berisi sindikat pengedar kokain yang tidak ia tumpas, setumpuk senapan AK-47 yang tidak pernah beliau tembakkan, serta FBI, CIA, DEA, hingga ATF yang satupun bukan tempatnya bekerja. Masih sekeren biasanya, tetapi kali ini Cruise bukan kepetangan atau pahlawan handal. Didasari cerita nyata, Barry Seal ialah sosok yang diperankannya, pilot maskapai penerbangan TWA yang terlibat skandal internasional pada masa pemerintahan Ronald Reagan. American Made, ibarat judulnya memang cuma sanggup terjadi di Negeri Paman Sam, daerah insan mengejar American dream, meraihnya, untuk kemudian kembali kehilangan segalanya.

Setelah cukup usang menyelundupkan narkoba, Seal direkrut oleh Monty Schafer (Domhnall Gleeson) untuk bekerja bagi CIA mengambil foto udara kelompok militan di Amerika Tengah. Menjalankan misi dengan baik, lama-kelamaan tugasnya bertambah, dari mengumpulkan data biro komunis, hingga mengirim suplai senjata bagi Contras, kelompok pemberontak sayap kanan di Nikaragua. Aksi Seal turut diketahui kartel kokain Medellin yang dipimpin nama-nama ibarat Pablo Escobar dan Jorge Ochoa. Mereka memintanya menyelundupkan kokain dari Kolombia ke Amerika. Seal pun mengerjakan misi dari banyak pihak, memberinya laba finansial luar biasa. 
Di tangan Doug Liman (The Bourne Identity, Edge of Tomorrow), American Made menekankan gelaran fiksi daripada akurasi realita, mengetengahkan suguhan kriminalitas berbumbu komedi dipenuhi swagness ketimbang reka ulang presisi soal salah satu sejarah memalukan Amerika Serikat. Dengan kehebatannya sebagai pilot (sanggup menerbangkan pesawat di landasan pendek pula mengecoh DEA), kesediaan menantang ancaman yang menghasilkan banjir uang hingga tiada lagi ruang penyimpanan tersisa, pun istri manis nan seksi (Sarah Wright) yang diajaknya bekerjasama intim di atas pesawat yang tengah mengudara, film ini menyulap Barry Seal jadi sosok super keren dengan agresi keren pula. Punya semua yang diimpikan banyak orang, Barry Seal kolam perwujudan faktual American Dream

Ditemani belokan-belokan dalam naskah buatan Gary Spinelli berupa misi yang tak hanya bertambah namun semakin besar skala dan resikonya, Liman memastikan American Made tampil dinamis, menghibur, sembari menyimpan citra sisi kelam dunia politik dan aturan Amerika. "It's not a felony if you're doing it for the good guys". Kalimat tersebut tepat merangkum inti problematika. Walau mengambil setting kala Reagan, cerita kebobrokan pemerintah dan bagaimana mereka memanfaatkan rakyat sipil demi tujuan politis semaunya kemudian enggan bertanggungjawab nyatanya tetap relevan. Seal dimanfaatkan, namun berbalik memanfaatkan pemerintah, turut mengeruk keuntungan. Itulah mengapa tokohnya gampang disukai. Seal mewakili ambisi manusiawi kita.
Pengadeganan Liman penuh energi dan suasana keglamoran, menjauhkan film dari kesan drama political history membosankan tanpa pernah kehilangan konteks. Walau beberapa pilihan teknis layak dipertanyakan   inkonsistensi tone gambar yang kadang mempunyai unsur vintage kadang modern, shaky cam yang sesekali mengisi tanpa efek signifikan  sang sutradara senantiasa punya jalan menghadirkan hiburan. Semisal rasa bersenang-senang melalui balutan komedi dikala Seal berbaik hati mengulang klarifikasi atas rangkaian kejadian yang tiba silih berganti. Dengan begitu filmnya sanggup menawarkan eksposisi gamblang, menyuapi penonton secara tidak murahan.

Energi tinggi American Made turut bersumber dari performa Tom Cruise yang setia menebar pesona lewat ketenangan dihiasi senyum, seolah yakin segalanya bakal berjalan lancar dan telah terkontrol. He is one of the coolest guy in the world, and this movie perfectly shows us why. Diiringi lagu-lagu bernuansa rock, Cruise beraksi layaknya rockstar dengan penyelundupan demi penyelundupan sebagai panggungnya. Dan sebagaimana album-album rock terbaik yang kita kenal, American Made bergerak penuh semangat mengajak penikmatnya bergembira, tersenyum lebar, merasa diri keren, sembari turut menyelipkan subteks soal permasalahan dunia nyata.