Showing posts with label Eli Roth. Show all posts
Showing posts with label Eli Roth. Show all posts

Saturday, December 1, 2018

Ini Lho Death Wish (2018)


Death Wish (1974) yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Brian Garfield, memang layak dibentuk ulang. Menonton agresi Paul Kersey (Charles Bronson) menghabisi para kriminal bersenjatakan pistol derma seorang rekan, yang menganggap kepemilikan senjata api oleh warga sipil bersinonim dengan penurunan angka kriminalitas, sekarang tentu terasa mengganggu. Alasannya jelas: gun control issue. Melalui remake-nya, sejatinya Eli Roth tidak memberi kontra-argumen. Keputusan merilis filmnya 16 hari pasca kejadian penembakan di Sekolah Menengan Atas Stoneman Douglas pun bakal menciptakan Death Wish sulit diterima publik Amerika.

Jika diperhatikan, naskah hasil goresan pena Joe Carnahan banyak melucuti subteks sosial politik film aslinya. Pembahasan soal perlu atau tidaknya vigilantisme di tengah kurang becusnya polisi masih tertuang, namun kiprahnya sebatas pembuka jalan bagi Bruce Willis menghujamkan peluru ke badan penjahat buruannya. Fokusnya condong pada kekeluargaan. Keluarga itu milik Dr. Paul Kersey (Bruce Willis), spesialis bedah. Kersey tinggal bersama sang istri, Lucy (Elisabeth Shue) dan puterinya, Jordan (Camila Morrone) yang tengah menyiapkan diri untuk berkuliah di New York. Sesekali, adik Paul, Frank (Vincent D’Onofrio) ikut berkumpul.
Hidup mereka bahagia, dan Roth mampu menggambarkan kebahagiaan itu secara nyata, sebagai modal penting menjelang bencana yang hendak menerjang. Kala Paul mesti bertugas di rumah sakit, tiga perampok membobol rumahnya. Perlawanan Lucy dan Jordan justru berujung fatal. Salah satu perampok melepaskan tembakan. Jordan terbaring koma, sedangkan Lucy meninggal dunia. Keputusan mengubah huruf Kersey dari arsitek menjadi dokter pun tepat, alasannya murung sekaligus penyesalannya pasti berlipat ganda. Menolong nyawa insan merupakan kegiatannya sehari-hari, dan ia tak kuasa menolong orang-orang tercinta. Bruce Willis mengingatkan aku betapa dirinya yaitu bintang film mumpuni berkat keberhasilan memancarkan kerapuhan laki-laki paruh baya.

Death Wish enggan berlama-lama menunggu guna mengubah Kersey jadi malaikat maut. Pergulatan psikis, depresi, hingga konseling sejenak mengisi, tapi sebatas obligasi, semoga ada transisi antara satu fase kehidupan protagonis dengan fase berikutnya. Kita paham betul, satu-satunya tujuan Roth yakni memberi Bruce Willis panggung kawasan beliau bebas menarik pelatuk pistol, membantai penjahat-penjahat jalanan. Tiada subplot ihwal polisi maupun jaksa yang rahasia mengamini kehadiran vigilante layaknya film orisinalnya, hanya ada selingan diskusi ringan dalam sebuah talk show mengenai pro-kontra agresi main hakim sendiri, yang tak pernah ditujukan untuk memprovokasi fatwa penonton.
Roth cuma ingin mencengkeram penonton lewat intensitas. Death Wish paling memukau sewaktu Roth bermain-main di area yang familiar baginya: thriller dan kekerasan. Sang sutradara piawai membangun ketegangan menggunakan kesunyian penyulut antisipasi “harap-harap cemas” penonton. Dia pun tak menahan diri pamer kebrutalan, entah berupa cipratan darah, kepala pecah, hingga luka-luka lain yang menciptakan penonton umum meringis sambil memalingkan wajah atau menutup mata, sementara pemuja gore bakal tersenyum puas. Semakin menyenangkan ketika bumbu komedi hitam sesekali ditaburkan. Sesuai hakikat, klimaksnya merupakan kulminasi, ketika Roth dengan mulus mencampur sadisme dengan dinamika keluarga seputar perjuangan ayah melindungi puteri tercinta. Roth memastikan penonton mau diajak mendukung Kersey.

Eli Roth tidak mau dan rasanya tidak bisa pula menyajikan thriller balas dendam kaya pesan socio-politica cerdas. Alhasil, dikesampingkan segala tetek bengek tersebut, kemudian menurut pondasi dari naskah milik Carnahan, diubahnya beberapa aspek dongeng dari versi 1974 semoga bermuara pada satu hasil, yaitu pengutamaan terhadap unsur kekeluargaan. Death Wish tidak sekompleks film aslinya, tetapi lebih menyenangkan. Sebagai salah satu orang yang menganggap Hostel overrated, kalau muncul pertanyaan, “apa film terbaik Eli Roth”,  saya akan senang hati menyodorkan film ini.

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho The House With A Clock In Its Walls (2018)

Dalam salah satu perubahan jalur karir paling ekstrim semenjak George Miller membuat Babe: Pig in the City (1998) dan Happy Feet (2006), Eli Roth (Cabin Fever, Hostel, Death Wish) beralih sejenak (?) dari kegemarannya mandi darah menuju penyesuaian novel The House with a Clock in Its Walls, buku pertama dari 12 seri Lewis Barnavelt buatan John Bellairs (diteruskan Brad Strickland semenjak buku ketujuh sesudah Bellairs meninggal). Seperti banyak produksi klasik Amblin Entertainment, film ini erat bagi penonton anak. Jika biasanya Roth menusuk dan merobek hati, kali ini ia coba menghangatkannya, meski balasannya sang sutradara total bergantung pada jajaran pemain untuk mencapai itu.

Kasus lain perihal perubahan karir ajaib yaitu ketika Sam Raimi membuat trilogi Spider-Man. Raimi berhasil lantaran sutradara horor yang baik selalu mempunyai sensitivitas dalam membuat intensitas, yang mana penting bagi “film popcorn”. Itu sebabnya saya menaruh kepercayaan terhadap Aquaman garapan James Wan.  Berbeda dengan para kompatriotnya, Roth lebih banyak mengandalkan parade kekerasan brutal nan vulgar ketimbang memainkan tensi, yang berujung membuat kelemahan terbesar The House with a Clock in Its Walls.

Filmnya menghabiskan secara umum dikuasai durasi untuk: 1) Memperkenalkan Lewis Barnavelt (Owen Vaccaro), si bocah tertutup yang dianggap ajaib oleh teman sebayanya, kepada dunia sihir ketika sang paman, Jonathan (Jack Black), menampung Lewis pasca kedua orang tuanya meninggal; dan 2) Menyoroti proses Lewis berguru menjadi warlock alias penyihir sebagaimana Jonathan. Tentu skenario buatan Eric Kripke (Boogeyman) kental aroma “underdog story”, lengkap dengan pesan soal “Kamu mempunyai kelebihan walau dipandang sebelah mata”.

Apabila anda perhatikan, dua poin di atas tak mengandung elemen pertempuran kebaikan melawan kejahatan menyerupai jamaknya film anak-anak. Elemen serupa tetap ada, namun tiba begitu kisahnya melewati separuh jalan. Sebelum hingga di sana, Roth sanggup membawa kita mengarungi perjalanan menghibur. Visualnya, yang melibatkan beling patri yang rutin berubah gambar, perabotan yang sanggup bergerak, serta singa dari rumput yang menolak buang air di kolam pasir, terlihat menarik  dalam balutan sinematografi Rogier Stoffers (School of Rock, The Vow, Death Wish). Deretan wangsit imajinatif tersebut memang didasari materi aslinya, tetapi visi kreatif Roth berjasa menghidupkannya.

Mengikuti formula “underdog story”, tentu montage berisi perjuangan Lewis melatih ilmu sihirnya bisa kita temui. Montage yang berjalan singkat namun memikat lewat humor yang tampil besar lengan berkuasa berkat keberadaan Jack Black selaku salah satu keputusan casting yang tepat. Black tepat menangani tugas di dunia fantasi ajaib menyerupai ini. Vaccaro si bintang film cilik pun tampil apik, khususnya ketika diminta menangis tanpa perlu terlihat menyebalkan. Tapi bintang terbesar film ini terang Cate Blanchett sebagai Florence Zimmerman, penyihir perempuan tetangga Jonathan dengan obsesi terhadap warna ungu. Pakaiannya berwarna ungu, bahkan ia berusaha mengubah ularnya menjadi ungu.

Blanchett mengajarkan bagaimana cara berakting di tontonan family-friendly. Dia bersenang-senang di adegan-adegan ringan, entah ketika bertukar ajukan dengan Black atau ketika secara elegan tetapi playful, terlibat di tengah-tengah aksi. Pun The House with a Clock in Its Wall tak ubahnya film keluarga lain yang mempunyai belahan dramatis, dan sewaktu momen itu tiba, cukup melalui satu monolog pendek, Blanchett berhasil mencengkeram perasaan. Anda akan tahu adegan yang mana ketika menontonnya. Dengarkan getaran suaranya, perhatikan tatapan matanya, pula keraguan kala melangkah, yang menyerupai halnya seseorang ketika dikuasai emosi, tak tahu mesti berbuat apa.

Tanpa kebolehan akting pemainnya, film ini akan menjadi perjalanan yang yummy dilihat namun nihil kepekaan akan intensitas. Narasinya terasa draggy, juga nyaris tanpa sentakan, alasannya yaitu sekali lagi, Roth bukan ahlinya membuat ketegangan bahkan ketika menggarap horor. Tanpa gore ia kehilangan banyak taring, walau untungnya tidak hingga jadi macan ompong. Roth memanfaatkan kesintingannya demi menghasilkan teror. Dia terbiasa mendobrak batas. Itulah mengapa imajinasinya bergerak liar tatkala menangani hiburan visual, dan rasanya nyaris tak ada sutradara yang bernyali memperlihatkan sosok iblis dalam tampilan se-disturbing Azazel versi Roth di sini.

Akibat sisi lemah penyutradaraan Roth, saya tak sabar guna beralih dari dua poin alur di atas untuk segera mencapai titik di mana ancaman besar, hasil dari jam yang disembunyikan dalam dinding rumah Jonathan oleh seorang penyihir, mulai merangsek masuk. Jam itu terus berdetak tiap malam. Jonathan dan Florence tak tahu ke mana jam itu bakal membawa mereka, walau pastinya bukan menuju hal menyenangkan. Bahaya itu balasannya menampakkan wujudnya sewaktu Lewis, didorong keputusasaannya untuk mencari teman melalui pembuktian bahwa ia bisa menguasai sihir, nekat melaksanakan hal terlarang. Timbul pertanyaan, “Kenapa Lewis tak memamerkan kemampuannya menggerakkan barang yang telah dikuasainya saja?”. Saya yakin itu sudah cukup memesona bagi kawan-kawannya.

The House with a Clock in Its Walls bermuara di pertempuran trio protagonis melawan monster labu plus banyak sekali makhluk ajaib lain, yang kembali, gagal menyentuh intensitas maksimum, salah satunya akhir titik puncak yang berakhir terlampau mudah. Setidaknya, satu momen konyol (dan agak creepy) yang melibatkan “badan Jack Black” menandakan bekerjsama Roth, biarpun bukan produsen ketegangan handal, mempunyai otak sinting yang sanggup memproduksi hiburan.