Showing posts with label Estelle Linden. Show all posts
Showing posts with label Estelle Linden. Show all posts

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Mereka Yang Tak Terlihat (2017)

Sayang sekali Mereka Yang Tak Terlihat akan lebih ramai dibicarakan lantaran rekor MURI untuk "Film drama horor dengan pemain film abjad makhluk astral terbanyak" alih-alih sebagai horor terbaik karya Billy Christian (Rumah Malaikat, Tuyul Part 1, Petak Umpet Minako) sejauh ini. Mengesampingkan trik jump scare klise andalannya, Billy merangkai drama coming-of-age berbumbu dunia supernatural di mana penampakan jadi bentuk komunikasi dan hantu bukan semata ancaman, melainkan makhluk yang hidup berdampingan dengan manusia. Tentu itu dilakukan tanpa melupakan sentuhan horor lewat tampilan mereka.

Saras (Estelle Linden) bisa melihat hantu sedari kecil, tepatnya semenjak sang nenek meninggal. Walau awalnya ketakutan, Saras coba terbiasa, apalagi kala beberapa arwah mulai berusaha menjalin komunikasi, entah sekedar curhat hingga meminta derma terkait perkara yang belum tuntas. Di sisi lain kehidupan langsung Saras jauh dari kemudahan. Bersama sang adik, Laras (Bianca Hello), Saras kerap terlibat perselisihan dengan ibunya (Sophia Latjuba) yang dituntut menghidupi kedua puterinya seorang diri hasil berjualan kue. 
Billy bersama Estelle Linden menyusun naskah Mereka Yang Tak Terlihat sebagai kisah coming-of-age. Bedanya, tumbuh kembang abjad dipengaruhi oleh hal-hal berbau mistis. Di balik itu ialah proses yang kita semua alami, menyerupai mendapati sisi kelam dunia yang ditunjukkan ketika Saras memergoki tuyul sebagai pelaris warung bakso, memanfaatkan kelebihan demi menolong orang lain (atau hantu untuk film ini), hingga yang paling relatable yakni berdamai dengan keluarga. Pun informasi seputar pergaulan berakal balig cukup akal termasuk pesan anti-bullying turut disuarakan meski presentasinya tergolong standar.

Secara garis besar, film ini terbagi dalam tiga fragmen yang mengetengahkan relasi Saras dan para arwah: persahabatannya dengan bocah pria di masa kecil, curahan hati Dinda (Frislly Herlind) si korban penindasan, dan perjuangan evakuasi yang dilakukan Saras. Ketiganya dijembatani konflik Saras dan ibunya. Masalahnya, dua tuturan awal kekurangan "magnet". Kisah pertama berlalu bagai tengah mendengarkan pembacaan kisah minim rasa akhir kurangnya penonton mengenal mereka yang terlibat, pun minim tensi ketika kejutan diungkap terlebih dahulu. Kisah kedua tertolong ketika Dayu Wijanto kembali tampil meyakinkan lewat gestur, ucapan, dan tatapan mata yang penuh pancaran kasih sayang seorang ibu. 
Fragmen terakhir ialah bagaimana semestinya keseluruhan Mereka Yang Tak Terlihat digarap. Ketegangan, kengerian, kejutan, dan terpenting emosi berhasil disatukan. Penyutradaraan Billy mencapai puncaknya di sini, memainkan tensi melalui nuansa kekacauan bertempo dinamis pula mempertahankan kesan realistis berkat derma akting Estelle Linden yang meremukkan perasaan. Momen ini berpotensi jadi pengantar tepat menuju penutup andai konklusinya dikemas rapi. Dengan sisa durasi terbatas, terlalu banyak hal dipaksa menyatu, menghasilkan pedoman narasi berantakan. Dan pilihan ending-nya sungguh suatu cara malas guna memancing haru.

Upaya membuat sajian atmosferik belum sepenuhnya sukses, tapi keputusan menekan jump scare seminimal mungkin patut diapresiasi, alasannya ialah itulah senjata sekaligus kelemahan utama Billy Christian di karya-karya sebelumnya. Juga tidak seutuhnya gagal, lantaran tata bunyi yang memperdengarkan tangisan, erangan, hingga tawa hantu nyatanya tidak mengecewakan mengerikan. Kalau eksploitasi penyiksaan dalam horor disebut "torture porn", maka parade 67 makhluk astral (entah jumlah ini tepat atau tidak) film ini, setidaknya pada setengah durasi awal ialah "ghost porn". Tak seberapa mengerikan, tapi cukup mengasyikkan. 

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Valentine (2017)

Alasan industri di luar Hollywood termasuk Indonesia enggan menggarap film superhero adalah keterbatasan teknologi juga biaya. Benar, apabila Avengers atau Justice League yang jadi acuan, kita masih tertinggal puluhan tahun. Garuda Superhero contohnya. Apakah berarti menciptakan film pahlawan super lebih baik dilupakan? Tentu tidak. Serial Marvel produksi Netflix mengajarkan bahwa vigilante jalanan merupakan solusi mengakali dana minim. Valentine selaku penyesuaian komik terbitan Skylar Comics mengambil jalur serupa, tanpa alien, dewa, atau monter, hanya gadis muda jago bela diri yang terpaksa membasmi kejahatan demi menyambung hidup di tengah kota korup marak kriminalitas, Batavia City.

Gadis itu berjulukan Srimaya (Estelle Linden), yang sehari-hari bekerja sebagai pelayan cafe sambil mencoba peruntungan sebagai aktris, mendatangi audisi demi audisi. Berbekal fatwa mendiang ayahnya, Sri punya kemampuan bela diri mumpuni yang menarik perhatian Bono (Matthew Settle), seorang sutradara yang kesulitan membujuk para produser supaya memproduksi film superhero miliknya. Dibantu oleh Wawan (Arie Dagienkz) sang penata rias, Bono meminta Sri memerankan Valentine dan sungguh-sungguh merekam aksinya menumpas kriminal. Tujuannya supaya masyarakat menyukai Valentine, sehingga menarik perhatian produser. Tapi bukan perkara praktis menjadi pahlawan di Batavia City, apalagi semenjak Shadow menebar teror dan kerap mempermainkan polisi. 
Menetap di level jalanan ditambah insan biasa sebagai lawan tak memaksa film karya sutradara Agus Pestol ini banyak menggunakan CGI yang sesekali masih dipakai (kebanyakan untuk merangkai setting) dan terbukti punya kualitas seadanya. Mayoritas agresi Valentine bertempat di lingkungan biasa, pada siang hari, serta melibatkan baku hantam tangan kosong. Agus Pestol dan tim bersedia menekan ambisi, memaksimalkan potensi pada tingkatan yang realistis untuk dicapai. Alhasil Valentine merupakan sajian laga nikmat berhiaskan ide-ide kreatif (borgol sebagai versi lain batarang, perkelahian dalam dua kendaraan beroda empat bergerak), walau cara generik berupa close-up juga pemotongan adegan kilat tetap diandalkan Agus. Pun beberapa koreografi keren sempat tampak canggung akhir lambatnya pergerakan pemain. Toh momen-momen eksplosif yang meyakinkan tanpa perlu terlalu mengeksploitasi CGI sanggup menebus kekurangan itu. 

Tataran teknis Valentine memang masih berlubang, termasuk tata bunyi yang diganggu kurang mulusnya transisi pula efek bunyi aksara Shadow yang mengaburkan artikulasi. Ketika pendengaran tidak terlalu dipuaskan, lain dongeng soal mata. Kombinasi busana dari Utami dengan tata rias Eni Tasya menghasilkan desain aksara unik. Adegan pesta kostum sebagai pembuka kolam menyiratkan ketaknormalan visualisasi dunia buku komik yang segera penonton masuki. Meski Shadow dengan kostum plus topeng hitamnya bagai Crossbone versi murah, tiga perempuan anak buahnya tampil mencolok, selalu berganti dandanan di tiap kemunculan berbeda. Enggan memaksakan pernak-pernik berlebih, Estelle Linden dalam balutan kostum sederhana Valentine pun lezat dilihat.
Sebagaimana departemen lain, naskah goresan pena Beby Hasibuan (The Witness, Tebus) juga mengutamakan kesederhanaan. Tanpa bumbu kerumitan tak perlu, meski belum tergolong alur yang menjerat atensi, Beby tidak ketinggalan menyelipkan subteks wacana inkapabilitas pegawapemerintah korup, hingga usungan pesan bahwa negeri ini butuh sosok pahlawan. Tidak harus pahlawan jago laga dengan topeng dan kostum, cukup insan biasa berbekal kepedulian juga kesedian berbuat baik bagi sesama. Poin itu menjaga relevansi filmnya di luar status selaku hiburan. Apalagi si tokoh utama sekedar insan biasa yang awalnya bertarung demi kebutuhan bahan alih-alih membela kebenaran, pula gentar kala mesti menatap maut.

Selipan humor secukupnya, khususnya yang melibatkan interaksi Wawan dan Sri turut menjaga dinamika. Arie Dagienkz sebagai Wawan merupakan tokoh spesial, seorang laki-laki feminin yang urung jatuh menjadi lelucon murahan. Sedangkan Estelle Linden meyakinkan melakoni porsi laga sembari memastikan Valentine/Sri ialah tokoh "berwarna", tak membosankan nan praktis disukai penonton. Terdapat setumpuk kekurangan, termasuk hambarnya klimaks, namun Valentine sudah memuaskan hasrat akan kebutuhan tontonan pahlawan super lokal, menyadarkan terdapat alternatif untuk mewujudkan film tersebut. Ada dua mid-credit scene di mana salah satunya memberi tease akan perluasan Skylar cinematic universe