Showing posts with label Findo Purwono HW. Show all posts
Showing posts with label Findo Purwono HW. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Ini Lho El (2018)

Dafychi (Aurelie Moeremans) yaitu gadis berkepribadian ganda, kondisi yang membuatnya dianggap gila dan ditakuti teman-teman sekolahnya. Mario (Achmad Megantara) yaitu pengusaha muda sukses yang galak, perilaku yang membuatnya dianggap gila dan ditakuti para bawahan. Keduanya bertemu, jatuh cinta, kemudian saling menyembuhkan kondisi masing-masing. Gangguan psikis Dafychi si gadis bandel—yang tiap mendengar suara ledakan bakal bermetamorfosis Dafyna si gadis manis—bisa dipahami. Sebuah stress berat menekannya. Tapi Mario? Dia kaya, sukses dalam bisnis, pun tak kekurangan kasih, lantaran meski eksentrik, sang ibu (Meriam Bellina) menyayanginya. Mengapa ia begitu sinis, bahkan kadang bagai tanpa perasaan?

Haruskah ada alasan di balik karakteristik Mario itu? Tidak juga. Masalahnya terletak pada konsistensi. Apa Mario seorang anti-sosial? Melihat antusiasmenya kala kembali bertemu si mitra lama, Ando (Dimaz Andrean), rasanya tidak. Walau gangguan psikologis dimiliki Dafychi, Mario justru lebih sulit dipahami. Di suatu malam, Mario dan Dafychi bertemu Alena (Dara Warganegara), mantan pacar Mario yang masih kukuh mengejarnya. Alena memamerkan pacar barunya (jelas guna memanas-manasi sang mantan), yang Mario balas dengan mengenalkan Dafychi sebagai “adiknya Ando”. Itu kebodohan yang sulit dipercaya sanggup dilakukan laki-laki dengan pengalaman pacaran tidak nihil.
Tapi Djaumil Aurora (Mata Dewa, Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi), yang bertugas menulis naskah penyesuaian novel berjudul sama karya Luluk HF, bisa berdalih bahwa hal di atas tidak mustahil. Ya, saya akui probabilitasnya belum mencapai 0%. Saya menentukan ikut serta, pasrah mau dibawa ke mana oleh EL. Saya cuma berharap disuguhi komedi-romansa manis, menggelitik, nan bernyawa. Potensi komedinya besar. Bayangkan tokoh sekaku Mario disandingkan dengan gadis “seliar” Dafychi. Belum lagi ketika dihadapkan pada perubahan drastis pada kepribadian Dafychi-Dafyna. Beberapa comic timing agak kacau akhir penyuntingan awut-awutan yang didasari niatan menyusun tempo cepat, namun justru berakhir tak memberi kesempatan penonton meresapi kelucuannya.

Untung tidak seluruhnya demikian. Beberapa bisa memancing tawa, meski lebih disebabkan energi seorang Aurelie. Energi yang begitu tinggi hingga naskah, penyutradaraan Findo Purwono HW (Suster Keramas 2, Eyang Kubur), maupun akting Achmad Megantara tak bisa mengimbangi demi membuat dinamika yang saling mengisi. Sang aktris bangkit seorang diri menopang filmnya dari keruntuhan total. Bicara soal pasangannya, Achmad Megantara berusaha amat keras, acap kali terlampau keras malah, untuk terlihat, terdengar, dan terasa sebagai laki-laki serius, ketus, kaku, juga keren. Segala tujuan itu tak ada yang tercapai lantaran penampilannya nampak dibuat-buat. Atau sosok aslinya memang demikian? Itu lebih celaka.
EL mengangkat perkara kepribadian ganda, yang sangat jarang dijamah perfilman negeri ini. Walau agak menyayangkan, saya tidak terkejut dikala mendapati filmnya urung memberi pemahaman gres terkait kondisi tersebut. Menjadi patut disayangkan tatkala keadaan unik itu gagal dimaksimalkan untuk menambah dinamika interaksi kedua tokoh utama. Paruh awalnya cukup menarik. Mario yang kerepotan menghadapi kebandelan Dafychi, kemudian disusul kemunculan Dafyna yang membuatnya semakin bingung. Memasuki paruh kedua, keliaran Dafychi justru ditekan, konflik pun bergeser ke ranah lebih generik. Apalagi jikalau bukan perihal kecemburuan dan cinta segitiga.

Ada satu sub-plot mengenai Sivia (Brigitta Cynthia), sahabat Dafychi di kelas sekaligus korban tindak kekerasan oleh sang ayah. Cerita sampingan ini hanya punya dua substansi: membuat titik puncak dan membuka jalan bagi terselesaikannya seluruh konflik. Setidaknya dari situ kita berkesempatan melihat Verdi Solaiman dalam salah satu kiprah antagonisnya yang paling simpel menyulut kebencian meski cuma muncul sejenak. Verdi dann Aurelie terang layak berada di film yang jauh lebih baik. Bahkan sesungguhnya, melihat bermacam-macam potensi yang ada, EL berhak memperoleh sanksi yang lebih mumpuni.

Ini Lho Jaran Goyang (2018)

Jaran Goyang dibuka dikala seorang perempuan berlari ketakutan dari kejaran kuda berwarna hitam di tengah hutan pada malam hari. Rupanya itu sekedar mimpi. Mendadak filmnya melompat menawarkan penari wanita—juga di tengah hutan—yang didatangi kuda tersebut. Kalimat dari verbal si penari memberi informasi bahwa kuda itu yakni perwujudan ilmu pengasih “Jaran Goyang”, dan si penari pernah memakainya. Belum sempat saya berkenalan lebih jauh, lompatan kembali terjadi, kali ini menuju cameo Trio Macan yang menyanyikan lagu Jaran Goyang bersama satu personel tambahan. Apakah personel itu perempuan yang tadi bermimpi dikejar kuda? Entah. Sulit mencerna sekuen pembuka ini akhir gerakan liar menyerupai orang kesurupan. Samar-samar saya pun mendengar teriakan “KOPIIII!”.

Tapi mungkin semua itu disengaja. Mungkin film keempat sutradara Findo Purwono HW (EL, Menculik Miyabi) sepanjang 2018 ini memang didesain biar penonton mencicipi hal serupa korban ilmu jaran goyang. Mungkin, Jaran Goyang memang sengaja menciptakan otak penonton bergoyang, kemudian menjadi gila sebagaimana korbannya. Mungkin, sekali lagi MUNGKIN, tagline-nya yang terdengar bagai modifikasi dipaksakan dari Jelangkung, yakni “Datang sinting, pulang tergila-gila” mempunyai arti terselubung. Sama menyerupai kelebihan filmnya yang luar biasa terselubung, tersimpan rapat, hingga sulit ditemukan.

Korban dari ilmu jaran goyang di sini tak lain Elena (Cut Meyriska) yang sebelumnya kita saksikan bernyanyi bersama Trio Macan.  Elena merupakan pernyanyi ternama, meski sesudah sekuen pembuak tadi, tak sekalipun tampak ia bernyanyi. Sementara sang adik, Tania (Laura Theux) menjadi manajernya. Belum usang kita berkenalan dengan mereka, keganjilan terjadi. Di tengah perjalanan, keduanya berpapasan dengan seekor kuda hitam di siang bolong. Kuda itu menghilang seketika, tetapi tapalnya tertinggal. Tania menyimpan tapal tersebut. “Unik”, begitu katanya. Orang kaya memang sering bertingkah eksentrik termasuk mengoleksi benda tak biasa. Di Italia, ada laki-laki kolektor lebih dari 8.650 label botor air minum. Kaprikornus tapal kuda bisa diterima bukan?

Sedangkan si pemilik ilmu jaran goyang yakni Dirga (Ajun Perwira), tukang kebun di rumah Elena, yang lagi-lagi tak pernah tampak mengurus kebun. Dirga jatuh cinta (baca: terobsesi) pada Elena, namun tentu saja cintanya ditolak. Sakit hati, ia mendatangi tantenya di kampung, Srinthil (Nova Eliza), yang tak lain merupakan penari di adegan pembuak tadi. Dirga meminta ilmu jaran goyang, yang balasannya Srinthil berikan dengan syarat, Dirga tidak memakainya untuk pelampiasan nafsu. Srinthil ini menyerupai pengedar narkoba yang berpesan kepada pembeli biar tidak menyalahgunakan obat-obatan terlarang itu.

Di film yang lebih baik, kisah di atas berpotensi menghasilkan observasi mendalam perihal bagaimana hasrat menguasai karakternya, perlahan menariknya menuju kegelapan. Tapi Jaran Goyang bukan film demikian. Naskah Wahyu S. Nugroho bagai diangkat dari kisah majalah Hidayah berjudul “Memakai Ilmu Jaran Goyang, Tubuh Jenazah Hangus Seperti Arang”. Tapi bisa jadi, awalnya sang penulis naskah berniat menyusun studi aksara kuat, sebelum produser menyela, “Kenapa you bikin drama?! Crazy! Stupid! You tambahin horornya!”. Jadilah muncul hantu-hantu acak yang tidak terang alasannya yakni musabab maupun asal muasalanya, akhir sang penulis tak bisa membedakan mana “tersirat”, mana “tidak jelas”. Mana “subtil”, mana “nihil”. Untungnya, naskahnya masih bersedia menyediakan kisah ketimbang gempuran jump scare beberapa menit sekali. Ya, ini ia nilai nyata Jaran Goyang.

Saya bersyukur kuantitas jump scare-nya dibatasi, alasannya yakni dikala muncul, kualitasnya pun terbatas. Setiap hantu meneror, selalu ada hal-hal berwarna hitam. Bayangan hitam, asap hitam, bulatan hitam, yang bisa jadi yakni siluman tahi lalat raksasa. Selain visual, aspek audio pun tak kalah terbatas kala bunyi yang diproduksi kerap timbul-tenggelam. Tapi saya sadar bahwa Jaran Goyang bukan menyasar cinephile atau horror aficionado. Film ini memang menyasar penonton dari kalangan menengah ke bawah dan pemirsa televisi. Adegan ketika Dirga memukul kekasih Elena, Robert (Cris de Lima) yang diulang hingga tiga kali demi dampak dramatis hingga twist bertema “Keluarga yang terpisah” terang merujuk pada kitab suci sinetron tanah air. Itulah sebabnya saya menikmati beberapa momen tatkala adegan dramatik berubah jadi komedi pemicu tawa lantaran penulisan obrolan maupun akting jelek jajaran pemainnya.

Saya menikmatinya sebagai momen “so-bad-its-good”, yang sayangnya cuma mengisi di sebagian kecil durasi. Dan ketika secara sengaja film ini berusaha melucu lewat kehadiran dukun konyol nan udik berjulukan Mbah Rondi (Mudy Tailor), saya hanya mampu mengelus dada. Begitu film berakhir, terdengar seorang bocah berteriak, “BERUBAH! JADI KUDA!!!”. Apa saya bilang. Jaran Goyang berhasil menggoyang otak serta mengguncang jiwa penontonnya.