Showing posts with label Garin Nugroho. Show all posts
Showing posts with label Garin Nugroho. Show all posts

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017)

Satay western. Demikian karya teranyar Mouly Surya yang telah kemudian lalang di festival-festival internasional ini disebut. Istilah tersebut mengingatkan pada spaghetti western, salah satu sub-genre yang mencapai masa keemasan di periode 1960-an semenjak Sergio Leone merengkuh puncak kesuksesan. Sebagaimana spaghetti western dengan ambiguitas moral serta kekerasan, satay western punya elemen-elemen khas, selain tentunya buatan sineas Indonesia. Faktor kultural Sumba jadi partikel penyusun pondasi, tetapi lebih Istimewa tatkala Mouly bisa menerapkan unsur western ke realita modern berisi isu-isu relevan, khususnya feminisme. 

Berdasarkan ilham dongeng dari pengalaman kasatmata Garin Nugroho dikala menyaksikan pemenggalan di pasar Sumba, naskah garapan Mouly bersama Rama Adi menempatkan seorang janda bernama Marlina (Marsha Timothy) di tengah bahaya perampok. Sang pemimpin, Markus (Egi Fedly), mendatangi Marlina, mengutarakan maksud merampok harta benda sekaligus memperkosanya. Begitu perampok tiba, praktik patriarki turut mendera. Marlina dirampas haknya, diminta diam, patuh, memasak makan malam, melayani nafsu seksual para pria. Hilangkan setting perampokan, kita bakal melihat cerminan dunia kasatmata terkait anggapan "wanita yakni pelayan pria".
Ucapan Markus bahwa Marlina beruntung berkesempatan ditiduri delapan laki-laki walau berstatus janda terdengar menusuk, alasannya yakni kalimat bernada serupa, yaitu kesuksesan perempuan diukur lewat keberhasilan mendapat (atau didapatkan) pria, kerap berseliweran di sekitar kita. Sementara siksaan berlangsung, Mouly merangkai nuansa menghantui tatkala mayit suami Marlina terduduk di sudut ruangan. Dari kacamata patriarki, protagonis kita tak berdaya. Sendiri, tanpa pelindung berjulukan pria. Namun selaku respon bagi maskulinitas spaghetti western, Marlina enggan tinggal diam, mengeksekusi penindasnya, bahkan memenggal salah satu kepala perampok. Inilah selesai babak pertama, "The Robbery".

Sesuai judulnya, film ini mempunyai empat babak: The Robbery, The Journey, The Confession, The Birth. Marlina memutuskan membawa kepala itu ke polisi, menembus lanskap padang gersang Sumba yang dibungkus sinematografi Yunus Pasolang, diiringi gitar plus suara siul musik buatan Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani yang bagai berkiblat pada karya Ennio Morricone. Bermodalkan segala rasa western itu, Marlina tampil segar, mendobrak monotonitas gaya sinema Indonesia menyerupai ketika Joko Anwar menyuguhkan noir melalui Kala. Bahkan lebih unik, lantaran Marlina merupakan western berlatar masa kini, memungkinkan durjana versinya mengendarai motor trail dan truk alih-alih kuda dan keretanya (walau Marlina sendiri sempat menaiki kuda). 
Penuturan informasi sosial Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak berlanjut di babak-babak berikutnya, termasuk mengkritik kinerja pegawanegeri serta respon publik yang justru kerap mencibir korban pelecehan. Malah dalam sebuah kesempatan, sempat salah satu perampok, Frans (Yoga Pratama), dengan nada kebencian memanggil Marlina "Si Pembunuh", seolah lupa siapa penjahat sesungguhnya. Menariknya, di antara informasi pelik juga aura suram, tawa penonton masih sempat dipancing oleh beberapa selentingan menggelitik juga sederet komedi hitam yang melibatkan khayalan liar dan petikan alat musik sebagai cue jika komedi akan segera muncul.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak merupakan kendaraan bagi Marsha Timothy menyentuh dimensi lain aktingnya. Marsha piawai memerankan tokoh yang memendam campur aduk emosi tetapi jarang meluapkannya. Suatu bentuk olah rasa yang lantang walaupun subtil. Ekspresi wajahnya nampak terbebani tapi tindakannya tanpa keraguan. Langkahnya pasti, pelan tapi tak gontai. Seperti filmnya sendiri, yang berkat visi besar lengan berkuasa Mouly Surya, bergerak perlahan namun punya tujuan, kemudian bermuara pada konklusi tepat yang memaparkan filosofi "kelahiran kembali" sembari mengatakan kekuatan terbesar seorang wanita. 

Ini Lho Nyai (2016)

Teater, ketoprak, wayang orang, komedi stamboel. Jenis-jenis pertunjukan panggung tersebut merupakan asal sinema tanah air. Gaya bertutur, para pelakon, hingga aspek teknis menyerupai tata rias serta pencahayaan, yang pernah disinggung kritikus JB Kristanto mengusung semangat "asal terang dan jelas", bermula dari tradisi kesenian di atas. Melalui Nyai, Garin Nugroho mengunjungi babak historis itu, mengawinkan film dengan kesenian panggung yang telah konsisten ia lakukan semenjak awal karir. Bedanya, Nyai membawanya ke tingkat lebih tinggi, merangkum 90 menit narasi dalam satu take

Mengambil masa 1927 tatkala Loetoeng Kasaroeng, film produksi Indonesia pertama, dilahirkan. Alkisah, hiduplah Nyai (Annisa Hertami), istri laki-laki Belanda berjulukan Willem van Erk (Rudi Corens). Menjadi seorang "Nyai" berarti siap mendapatkan balasan jelek masyarakat. Sebutan "sundal" dan "kafir", bahkan lemparan kerikil hingga kotoran terpaksa dihadapi. Tapi Nyai menunjukan ia bukan sekedar "wanita pribumi miskin yang dipersunting tuan kaya". Beraneka tamu, dari musisi, akuntan, jurnalis, juga pemuka agama, ia ladeni secara tegas, berwibawa, intelek. 
Nyai bagai klimaks lisan kecintaan Garin Nugroho terhadap napak tilas kesenian nusantara. Mendasari dongeng dari lima novel mengenai "Nyai" dengan setting 1920-an termasuk  Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer yang fenomenal, Garin arif melukiskan kondisi dunia seni masa itu. Penonton diajak memahami bagaimana film (dahulu disebut "gambar sorot") hingga komedi stamboel mengisi kehidupan para tokoh melalui selipan tumpuan pada pembicaraan maupun kedatangan bermacam orang dalam rangka ulang tahun Willem. Kemunculannya natural berkat keberadaan konteks, tidak dipaksa masuk secara acak.

Metode one take-nya mungkin belum serumit Russian Ark atau Victoria, di mana kamera Nur Hidayat hanya bergerak di beberapa kesempatan saja. Tapi itulah mengapa pilihan estetika ini bukan sebatas gaya-gayaan. Kamera berfungsi menggantikan tata pencahayaan selaku alat penentu fokus pertunjukan. Bentuk default-nya ialah shot diam di tengah menyerupai lampu netral yang menyoroti panggung utama. Begitu titik fokus pindah, kamera pun bergerak. Sementara pergantian antara siang dan malam tersaji mulus berkat perubahan halus intensitas lampu dibarengi bunyi-bunyian suasana contohnya bunyi jangkrik.
Nyai jadi pola kala film menguatkan presentasi teater, memfasilitasi apa yang sulit dicapai di atas panggung. Close-up memungkinkan penonton mengamati detail lisan Annisa Hertami yang bermain dalam konsistensi luar biasa, memamerkan sosok Nyai yang tak gentar berkonfrontasi, menaklukkan tiap lawan bicara melalui ketegasan tutur serta laku. Eksplorasi ruang pun terbantu, contohnya dikala sekali waktu kamera masuk menelusuri interior rumah. Tidak lupa, Garin menambahkan kesejukan khas teater berupa secuil guyonan lewat interaksi dua pembantu yang diperankan Gunawan Maryanto dan Cahwati Sugiarto.

Berasal dari perspektif laki-laki menimbulkan tuturan soal ketangguhan perempuan film ini kurang nyaring bersuara, sebatas mengandalkan performa solid Annisa Hertami terkait pemaparannya. Selebihnya, Nyai berhasil mengembalikan dua poin: Akar film tanah air yang bersinggungan dekat dengan cabang kesenian tradisional lain, serta Garin Nugroho dalam karya juga ciri terbaiknya sehabis Mooncake Story gagal total. Bersama eksperimen lain berupa Setan Jawa, film bisu diiringu live orchestra, sang sutradara senior menemukan sentuhannya lagi. 


Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017