Showing posts with label Hannah Al Rashid. Show all posts
Showing posts with label Hannah Al Rashid. Show all posts

Friday, December 7, 2018

Ini Lho Comic 8: Casino Kings Part 2 (2016)

Saya bukan penggemar franchise buatan Anggy Umbara ini. Baik Comic 8 maupun Casino Kings Part 1 sama-sama gagal memaksimalkan potensi kehadiran banyak komika kelas wahid guna memberi menu komedi mengocok perut. Permasalahan terbesar ada pada keengganan franchise ini mengakui kebodohannya dan tetap berusaha keras tampil sekeren juga secerdas mungkin menghantarkan alur penuh intrik. Karena itulah menjelang perilisan Casino Kings Part 2, saya tidak lagi menyimpan impian terlampau besar. Memang begini gaya Anggy Umbara, memang menyerupai ini wajah franchise-nya. Hingga tanpa diduga filmnya justru cukup memuaskan, bahkan menjadi yang terbaik di antara ketiga film Comic 8.

Melanjutkan dongeng film sebelumnya, Casino Kings Part 2 tidak banyak berbasa-basi, eksklusif membawa penonton terjun ke tengah medan aksi. Bukan saja terjebak di tengah hutan, kedelapan komika masih harus menghadapi para pemburu yang diperankan oleh aktor-aktor senior tanah air (kecuali Sacha Stevenson dan Soleh Solihun). Sementara itu Indro dan Cynthia (Prisia Nasution) menerima serangan dari anak buah The King (Sophia Latjuba). The King sendiri mulai mengungkap identitas bekerjsama pada Dr. Pandji (Pandji Pragiwaksono). Sebagaimana kasus lain di mana chapter akhir sebuah franchise dipecah ke dalam dua bagian, Casino Kings Part 2 memang didominasi agresi titik puncak dan sedikit meminggirkan alur, yang justru merupakan nilai positif.
Menengok dua film sebelumnya, naskah karya Fajar Umbara dan Anggy Umbara memang terlalu berambisi menggabungkan segunung konflik berisi konspirasi penuh twist dengan hanya satu tujuan: mengejutkan penonton tanpa peduli masuk logika atau tidak. Sesungguhnya bukan persoalan andai filmnya memang sengaja dikemas kurang cendekia layaknya b-movie kebanyakan. Namun Comic 8 jelas ingin tampak keren dan dianggap serius. Pada Casino Kings Part 2 meski aspek tersebut masih muncul, fokus lebih condong ke arah aksi, yang mana merupakan keunggulan Anggy Umbara ('3' sudah jadi bukti). Sesungguhnya ini hal kecil alasannya ialah tidak terdapat perbedaan signifikan pada cara penghantaran film ini dengan pendahulunya. Masih penuh sesak oleh lens flare, efek CGI bernafsu (untuk buaya dan naga), serta slow motion. Walau harus diakui departemen artistik khususnya setting dan kostum masih memanjakan mata.
Hal kecil itu jadi kuat besar tatkala alurnya dinomorduakan. Minim intrik, Casino Kings Part 2 menjelma seutuhnya sebagai b-movie bodoh nan menyenangkan. Karena bagai film kelas b, saya sanggup memaafkan buruknya CGI atau kejutan konyol semisal pengungkapan identitas orisinil dari The King. Kekonyolan itu justru menjadi kekuatan. Termasuk ketika filmnya menciptakan Prisia Nasution, Hannah Al-Rashid dan Sophia Latjuba sebagai femme fatale sekaligus eye candy. Sentuhan komedi juga tidak dipaksakan hadir setiap saat. Sibuk dengan action, dagelan sekedar muncul sesekali, memberi waktu bagi penonton untuk bernafas sejenak. Kekuatan komedi masih belum mencapai puncak potensi (referensi The Raid sudah ketinggalan jaman) dan makin minimnya eksplorasi huruf tambah mengaburkan ciri khas tiap komika, tapi setidaknya lebih banyak tawa berhasil dihadirkan.

Is it a good movie? Sebenarnya tidak. Masih terdapat beberapa kekurangan yang lagi-lagi berada di seputaran terlalu banyaknya konflik serta huruf coba dilebur menjadi satu. Apabila anda menantikan agresi Barry Prima, Willy Dozan atau Yayan Ruhian mungkin bakal kecewa alasannya ialah begitu minimnya porsi mereka. Konklusi yang ditawarkan juga masih terasa dipaksakan biar cepat usai (sekaligus mengejutkan). Tapi sungguh hiburan memuaskan di tengah minimnya blockbuster dalam industri perfilman Indonesia. Saya masih tetap beranggapan gaya dari Anggy Umbara lebih efektif jikalau diterapkan dalam film pure action macam '3', namun melihat bagaimana ending film ini, tidak sanggup dipungkiri saya akan tetap dengan bahagia hati menantikan sekuel demi sekuel dari Comic 8. 


Ticket Powered by: ID Film Critics

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Jailangkung (2017)

Salah besar menganggap horor tak memerlukan naskah mumpuni. Meski bukan mengedepankan alur kompleks, obrolan cerdas, atau penokohan solid naskah horor mempunyai kegunaan menyediakan layout, khususnya apabila penulis dan sutradara tidak dipegang satu orang. Deskripsi bagaimana sebuah kengerian muncul amat membantu pengadeganan sutradara. Dan satu poin yang kerap tertinggal (baik sengaja maupun tidak) yaitu "rule" alias aturan. Poin ini penting apalagi bagi horor mistis dengan mitologi mengenai hantu, apa pemancing kehadirannya, kemampuan, hingga cara mengusir. Aturan ini merupakan logika tersendiri yang wajib dipegang dalam film horor kala ketiadaan common sense bersifat lumrah.

Jailangkung jelas berambisi mengulang fenomena Jelangkung 16 tahun lalu. Duet Rizal Mantovani dan Jose Purnomo kembali di dingklik sutradara, sedangkan naskah dipegang Baskoro Adi Wuryanto (Bulan Terbelah di Langit Amerika 2, Sawadikap, Ghost Diary) menggantikan Adi Nugroho (Kuldesak, Ruang, Strawberry Surprise). Kisahnya memakai template umum, ihwal perjalanan tiga abang beradik, Bella (Amanda Rawles), Angel (Hannah Al Rashid), dan Tasya (Gabriella Quinlyn) menuju pulau Alas Keramat, tempat di mana sang ayah, Ferdi (Lukman Sardi) berada terakhir kali sebelum koma. Dibantu Rama (Jefri Nichol) si perjaka andal ilmu kejawen, mereka menemukan diam-diam mengerikan yang bertahun-tahun disimpan Ferdi.
Walau adegan pembukanya tak lebih dari eksposisi buru-buru, awal Jailangkung cukup menjanjikan berkat penanaman misteri terkait mitos Jawa. Mitologi klenik kawasan kita memang berpotensi dieksplorasi alasannya yaitu memberi bekal misteri untuk ditelusuri. Walau teori seputar jiwa dan raga berdasarkan kepercayaan Jawa yang dipresentasikan Rama konkret didasari riset seadanya, rasa ingin tahu masih bisa disulut. Ritual apa yang Ferdi lakukan? Siapa sosok Mati Anak yang mengganggunya? Ada modal berpengaruh guna menggulirkan alur menarik. Ditambah lagi, Jailangkung enggan mengumbar penampakan sebanyak dan sedini mungkin. Sampai akhirnya, semakin jauh perjalanan, semakin jelek filmnya.

Penyebabnya naskah buatan Baskoro gemar menyalahi logika umum hingga rule khusus sebagaimana tersebut tadi. Kakak gila mana yang membawa adik kecilnya ke pulau terpencil kemudian meninggalkannya sendiri di kamar sebuah rumah kosong menyeramkan? Remaja gila mana pula yang bisa duduk santai tersenyum menonton rekaman ijab kabul orang renta mereka di sana pada tengah malam? Lalu apa tujuan Ferdi merekam aktivitasnya selain sebagai cara filmnya mengakali flashback? Banyak juga sudut peletakan kamera terlampau sinematik untuk footage amatir. Tapi dosa lebih besar yaitu dikala Baskoro mengesampingkan hukum buatannya sendiri mengenai hantu dan jailangkung, contohnya dikala dampak gangguan hantu untuk seorang tokoh berbeda dari tokoh lain (what's the deal with Angel's abstrak hallucination?). Hantu memang tak butuh hukum main, tapi untuk apa membangun mitologi kalau berujung seenaknya sendiri? Saat penulisnya menolak peduli, bagaimana penonton mau mempedulikan filmnya?
Buruknya naskah tidak membantu Rizal Mantovani dan Jose Purnomo yang sama-sama dikenal akan kemampuan menangkap gambar indah namun terbelakang bercerita. Didukung biaya 10 miliar rupiah, Jailangkung serupa produksi Screenplay Films lain, terlihat mahal, yummy dilihat, tapi nihil substansi, menyerupai ditunjukkan tata artistik setting rumah tempat ritual dengan bermacam-macam ornamen aneh. Sinematografi Jose Purnomo pun menyajikan kemegahan dramatis (shot pemakaman dari atas misalnya) yang urung mendukung tingkat kengerian. Setelah ekonomis di awal, begitu jump scare mulai menerjang, kita dihadapkan pada rutinits biasa berupa kejutan berisik asal masuk. Kombinasi lemahnya naskah dan penyutradaraan berpuncak di third act. Berniat membangun nuansa chaotic, kekacauan sesungguhnya justru tercipta. Saking kacaunya, bila anda olok-olokan pertanyaan menggunakan rumus 5W+1H ihwal klimaksnya, balasan bakal sulit didapat.

Eksekusi teror mencapai paruh final tak hanya meniadakan kengerian, bahkan memunculkan geli. Saya bersama secara umum dikuasai penonton lain tertawa menyaksikan Lukman Sardi menggendong hantu di depan cermin. Bukan seluruhnya salah sutradara, alasannya yaitu Lukman sendiri (bukan di adegan ini saja) bagai berakting di film horor-komedi lewat lisan dibuat-buat. Jarang melihat Lukman Sardi sebagai salah satu aspek terlemah film. It's unusual to see Lukman Sardi became one of a movie's weakest aspect, but there you go. Penampilan Lukman diikuti Jefri Nichol yang pasca penuh karisma di Dear Nathan, sekarang salah mengartikan "quirky, introvert guy" dengan wooden acting. Karakter Rama si andal ilmu mistis tidak berguna, malah beberapa kali jadi penyebab insiden buruk. Beruntung ada Hannah Al Rashid yang seorang diri membuat momen paling mencekam berkat lisan believable. Kita bisa merasa pun percaya atas rasa takut serta penderitaannya. She's that good, but the rest is just a big waste of money and many potentials.

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Do(S)A, Miniseri Agresi Kerja Sama Tiga Negeri

Kita tahu Hollywood tengah memasuki masa keemasan dalam industri televisi, di mana aneka macam serial berkualitas dengan bermacam-macam genre telah diproduksi. Saya dan mungkin banyak dari anda bertanya-tanya, kapan negeri kita menghasilkan karya serupa? Sebuah serial dengan production value mumpuni yang mengusung tema berbeda alih-alih sekedar romansa konyol menyerupai kerap dikesploitasi layar kaca.

Sambut Do(s)a, miniseri original produksi Tribe, yang merupakan bab dari KolaboraSEA, yaitu kerja sama negara-negara Asia Tenggara yang siap menjawab kehausan kita akan serial berkualitas negeri sendiri. Untuk Do(s)a sendiri, negara yangb berkolaborasi yakni Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Ifa Isfansyah (Sang Penari, Garuda di Dadaku) bertindak selaku sutradara,sementara naskahnya ditangani oleh Salman Aristo (Laskar Pelangi, Mencari Hilal, Ayat-Ayat Cinta). Jajaran pemainnya sendiri menggabungkan bakat dari ketiga negara di atas, yaitu Ashraf Sinclair, Remy Ishak, Datuk M. Nasir (Malaysia), Roy Marten, Reuben Elishama, Hannah Al Rashid, Maudy Koesnaedi (Indonesia), Danielle Sya, dan Shenty Feliziana (Singapura).

Menggabungkan elemen action dan kriminal seputar mafia, Do(s)a bercerita mengenai tiga bersaudara asal Malaysia, Fuad (Ashraf Sinclair), Farid (Remy Ishak), dan Fahad (Hisham Hamid) yang berusaha menyelamatkan saudara mereka, Fara (Shenty Feliziana), yang kabur ke Jakarta guna mengejar seorang anak jalanan asal Jakarta berjulukan Arian (Reuben Elishama). Arian sendiri yakni anak jalanan asal Jakarta yang sebelumnya tiba ke Kuala Lumpur untuk meminta pemberian ayah para bersaudara tersebut, Latif (Datuk M. Nasir), yang merupakan bos cecunguk dari Gerbang Utara. Di Jakarta, mereka justru terjebak di tengah pertikaian antara cecunguk setempat.

Gelaran agresi bakal mengiringi usaha tiga bersaudara itu, dan demi menghasilkan langgar jurus martial arts yang memukau, hadir Cecep Arif Rahman (The Raid 2: Berandal, Star Wars: The Force Awakens) sebagai koreografer laga. Bukan saja bertugas mengarahkan adegan laga, Cecep pun turut ambil bab memerankan salah satu anggota mafia. Kita tahu bagaimana Ifa Isfansyah piawai mengarahkan studi huruf menyerupai ini, begitu pula Salman Aristo yang populer lewat penulisan drama mendalam. Kita pun tahu betul Cecep Arif Rahman selalu piawai mengkreasi parade agresi seru berbalut jurus-jurus memukau.

Kolaborasi kelas wahid ini sanggup disaksikan secara streaming di aplikasi Tribe yang sanggup diunduh secara gratis lewat  Google Play dengan cara meng-klik link ini. Jangan khawatir bakal boros kuota, lantaran streaming di Tribe sanggup dilakukan tanpa kuota alias GRATIS bagi pengguna Telkomsel yang menggunakan paket VideoMAX. Serial dalam negeri dengan tema serupa ditambah penggarapan berkualitas masih jarang kita temui, jadi pastikan tidak melewatkan Do(s)a. Supaya lebih meyakinkan, simak dulu trailer dari Do(s)a the Series berikut ini.


Untuk informasi lebih lanjut, sanggup kunjungi akun-akun media umum Tribe di bawah ini:
Facebook   : facebook.com/tribe.id
Twitter      : twitter.com/TRIBE_ID

Ini Lho Jailangkung 2 (2018)

Jailangkung 2 diawali dengan meyakinkan, memberi penyegaran dengan membawa kisahnya mundur jauh ke belakang, tepatnya pada 1947 untuk mengaitkan Matianak dengan legenda SS Ourang Medan, kapal yang konon tenggelam akhir kecelakaan misterius berbau mistis. Sekuen—yang sayangnya terlampau singkat—itu bukan cuma menghadirkan suasana berbeda, pula berpotensi melebarkan mitologi cerita, di mana Matianak dikurung dalam kargo SS Ourang Medan. Untuk apa? Pertanyaan-pertanyaan kebijaksanaan serupa terulang berkali-kali, tapi tanya yang lebih besar ialah “kenapa sekuel ini dibentuk jikalau orang-orang yang terlibat tampak setengah hati?”. Demi uang tentu saja. Bodohnya aku bertanya.

Padahal menengok konsepnya, Jailangkung 2 terperinci sekuel ambisius. Lebih mahal, lebih besar, punya lingkup lebih luas. Dimulai di tengah samudera, kisahnya berlanjut menceritakan nasib tokoh-tokohnya pasca film pertama. Bella (Amanda Rawles) mendapati keluarganya masih diteror Matianak. Ayahnya, Ferdi (Lukman Sardi) tetap dihinggapi rasa tidak tenang, sementara sang kakak, Angel (Hannah Al Rashid) berada di bawah efek Matianak dalam wujud bayi yang ia lahirkan di film sebelumnya. Kedua mata bayi itu berwarna putih, menyeramkan, tapi entah bagaimana pihak rumah sakit seolah tak merasa ada kejanggalan.

Si puteri bungsu, Tasya (Gabriella Quinlyn), secara tak sengaja menyaksikan video ayahnya bermain jailangkung, kemudian terinspirasi menciptakan jailangkung sendiri guna berkomunikasi dengan mendiang sang ibu. Tindakan inilah awal segala teror yang memicu Bella, bersama Rama (Jefri Nichol), melaksanakan perjalanan mencari jimat Kurungsukmo yang dipercaya sanggup membendung kekuatan Matianak, sesudah memperoleh isu dari Bram (Naufal Samudra) si mahasiswa baru. Perjalanan ini diisi ragam tindakan abjad yang terjadi semata sebagai pembuka jalan menyelipkan jump scare alih-alih didasari motivasi logis. Bella misalnya, mendadak bergegas ke WC untuk basuh tangan. Bisa jadi ia menjunjung tinggi kebersihan, meski aku yakin ini sekedar cara malas Ve Handoyo dan Baskoro Adi Wuryanto (Gasing Tengkorak, Ruqyah: The Exorcism) dari departemen penulisan naskah biar Bella seorang diri di ruangan gelap. Begitu lampu WC padam, daripada kabur, ia justru nekat menyelidiki.

Di ketika bersamaan Ferdi tinggal di rumah, berusaha mencari Tasya yang hilang sesudah bermain jailangkung. Selaras dengan tema kekeluargaan yang diusung, Ferdi pun coba digambarkan sebagai seorang ayah dengan kepedulian tinggi pada ketiga puterinya, walau tatkala Bella pamit ingin mencari jimat,—yang terperinci sebuah perjalanan berbahaya—Ferdi tak merasa perlu menanyakan destinasinya. Benar saja, gangguan makhluk halus setia mengintai Bella dan kawan-kawan. Bram berkata, bahwa semakin tinggi niat mereka menyingkirkan Matianak, semakin banyak pula setan mengganggu demi menggagalkan perjuangan itu. Satu momen singkat sempat mengatakan para hantu merangkak di depan Matianak layaknya rakyat jelata memuja sang raja. Setidaknya poin itu cukup sebagai “rules”, pembagian terstruktur mengenai mengapa hantu-hantu selain Matianak ikut meneror.

Samudera ganas baik di permukaan maupun kedalaman sampai Keraton mistik Alas Ketonggo jadi pola lokasi yang disinggahi petualangan Jailangkung 2. Cenderung nampak menyerupai ajang unjuk gigi bujet besar ketimbang parade kengerian, untungnya variasi lokasi serta cukup baiknya kualitas CGI menyebabkan film ini tidak semelelahkan dominan horor lokal jelek yang hanya bertahan di lokasi tunggal nan monoton. Petualangan berskala besar ini sayangnya berakhir ala kadarnya, sewaktu jimat Kurungsukmo yang telah tersembunyi selama puluhan tahun dalam reruntuhan kapal di dasar maritim jauh lebih gampang ditemukan ketimbang remote televisi yang hilang.

Setelah berpetualang sedemikian jauh bersama karakternya, tentu aku mengharapkan puncak yang sepadan, bukannya konfrontasi canggung yang kolam dikemas tanpa perencanaan, tanpa koreografi matang, tanpa totalitas. Beberapa horor terakhir karya duo sutradaranya, Jose Purnomo (Alas Pati, Ruqyah: The Exorcism, Gasing Tengkorak) dan Rizal Mantovani (Kuntilanak, Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati) memang buruk, tapi setidaknya ada energi. Jump scare-nya mempunyai tenaga meski berhenti di taraf trik mengagetkan murahan. Jailangkung 2 bagai anak kurang gizi yang dipaksa berlari. Begitu pula jajaran pemainnya. Menyaksikan Amanda Rawles-Jefir Nichol bersama di layar lebar tak pernah sedatar dan semembosankan ini. 

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Aruna & Lidahnya (2018)

Saya teringat satu adegan Ada Apa Dengan Cinta 2 ketika Cinta rahasia tersipu di samping Rangga yang tengah menyetir. Momen itu mengatakan kepiawaian Dian Sastrowardoyo bertutur secara non-verbal dalam situasi menggelitik. Aruna & Lidahnya, yang merupakan pembiasaan novel berjudul sama karya Laksmi Pamuntjak simpel menampilkan bagaimana jadinya apabila adegan beberapa detik itu dijadikan suguhan 106 menit. Hasilnya sedap, bahkan lebih sedap dari piring demi piring masakan yang mempunyai screentime lebih banyak dibanding beberapa pemainnya sekalipun.

Kali ini Dian memerankan Aruna, epidemiologist (ahli wabah) yang oleh kantornya ditugaskan melaksanakan pemeriksaan terhadap wabah flu burung di banyak sekali kawasan Indonesia, sembari secara bersamaan melaksanakan wisata masakan bersama sahabatnya, Bono (Nicholas Saputra), yang berprofesi sebagai chef. Seiring perjalanan, turut hadir Nadezhda (Hannah Al Rashid), penulis masakan yang selama ini tinggal di luar negeri, juga Farish (Oka Antara) yang ditugaskan membantu investigasi. Sejak dulu Aruna menyimpan perasaan lebih kepada Farish, sebagaimana Bono juga menyukai Nadezhda.

Berbasis naskah garapan Titien Wattimena (Salawaku, Dilan 1990), Edwin yang tahun kemudian gres saja memenangkan “Sutradara Terbaik” pada Festival Film Indonesia, membawa keempat tokohnya dalam perjalanan separuh road movie separuh food porn guna berguru soal kehidupan pula cinta yang dijembatani oleh rasa. Serupa judulnya yang mengandung kata “lidah” selaku indera perasa, “rasa” memang memainkan peranan penting di sini.

Dibayangi patah hati akhir cintanya pada Farish yang tak kesampaian ditambah kepenatan kerja, Aruna bagai mati rasa. Di awal film, ia mendeklarasikan bahwa untuk menyantap masakan enak tidak perlu melibatkan romantisasi berupa keharusan menikmatinya bersama orang spesial. Menutup hatinya, pengecap Aruna pun turut kehilangan kemampuan mengecap rasa makanan, termasuk masakan kelas wahid buatan Bono. Melalui perjalanan ini, ia mulai coba pelan-pelan berguru mencicipi lagi, baik dengan pengecap maupun hatinya.

Naskahnya rapi merajut subteks yang sejatinya tak seberapa subtil di atas, yang seluruhnya, termasuk sempilan subplot perihal pencarian resep “nasi goreng bibi”, bermuara menuju kesimpulan bahwa rasa paling paripurna sejatinya bersumber dari orang-orang tercinta. Sementara pemeriksaan terhadap kasus flu burung memberi kesempatan filmnya menyentil beberapa info sosial sekaligus menarik benang merah perihal “rahasia”, suatu hal yang nampaknya begitu digemari para karakternya. Anda akan tahu rahasia apa saja yang dibawa pemeriksaan ini sehabis menonton filmnya.

Fokus utamanya tetap berkutat dalam 3 poin: pencarian rasa, romansa, dan makanan. Sayang, romansanya tidak semeyakinkan poin yang disebut pertama. Mengapa hati Aruna urung beranjak dari Farish—si laki-laki kaku sekaligus judes—bahkan ketika reuni mereka diawali dengan kurang menyenangkan? Selain berparas rupawan, apa yang Istimewa dari Farish? Sedangkan relasi Bono-Nadezhda belum bisa mencapai potensinya menjadi subplot yang mendukung tema “pencarian rasa” sewaktu presentasinya sendiri tidak pernah tampil emosional. Pertanyaannya sama. Mengapa (apabila hasilnya mendapatkan cinta Bono) Nadezhda bersedia menghentikan petualangan cintanya?

Tapi berkat jajaran cast kelas satunya, kelemahan tersebut tidak pernah terlalu mengganggu. Interaksi keempatnya menyenangkan disimak, entah dikala membicarakan makanan, mengaitkannya dengan bermacam-macam sendi kehidupan (yang dirangkai oleh dialog-dialog “kaya”), atau sekedar melontarkan canda. Apalagi Dian dan Nic, yang sehabis bertahun-tahun dipandang sebagai pasangan legendaris perfilman Indonesia, nampak demikian gampang menjalin chemistry natural. Saya takkan terkejut jika beberapa obrolan merupakan hasil improvisasi di mana Edwin membiarkan keduanya berinteraksi bebas.

Dian ialah energi terbesar Aruna & Lidahnya, dengan ekspresi non-verbal quirky sebagai senjata andalan, tatkala Aruna, secara rutin sekaligus diam-diam, merespon omongan atau tingkah huruf lain. Mungkin Aruna bukan pertunjukkan akting terbaik Dian, namun terang huruf paling berwarna, paling dinamis, paling kaya rasa, dan pastinya paling lucu sepanjang karirnya. Pun penampilan sang aktris mendukung pemakaian metode breaking the fourth wall yang filmnya terapkan supaya penonton merasa lebih akrab dengan Aruna. Tentu keberhasilan itu juga berkat pengetahuan Edwin mengenai cara memanfaatkan keunggulan aktisnya, walau dikala dihadapkan pada makanan, nyatanya sang sutradara belum seberapa mumpuni.

Ditangkap oleh kamera Amalia TS (Tabula Rasa, Galih & Ratna) selaku sinematografer, aroma, apalagi tekstur masakan belum sepenuhnya berhasil diterjemahkan dalam bahasa visual. Apabila anda merasa lapar (seperti saya) dikala menontonnya, itu bukan dikarenakan pencapaian artistik filmnya, melainkan “Siapa yang tidak berliur melihat masakan sedemikian banyak selama hampir 2 jam?”. Setidaknya Aruna & Lidahnya bisa mengenalkan ragam masakan khas daerah-daerah yang dikunjungi, sehingga besar kemungkinan pasca menyaksikannya, para penonton tertarik berburu makanan-makanan yang ada.
Menebus kelemahannya membungkus food porn, Edwin memamerkan cara uniknya bersenda gurau. Setelah menerapkan pendekatan “normal” melalui Posesif, inilah film di mana visi (for lack of a better word) abstrak yang ia bangkit semenjak bermain-main di ranah sureal dahulu, berpadu apik dengan hiburan arus utama guna menghasilkan perjalanan mengasyikkan. Dari “adegan burung mati” hingga dua sekuen mimpi, ialah bukti keberhasilan Edwin menemukan formula yang memfasilitasi signature-nya tanpa mengalienasi penonton umum. Wisata masakan (atau investigasi?) mungkin tak sedalam yang diniati, namun kelezatannya terang sukar ditolak.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Warkop Dki Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 (2017)

Jangkrik Boss! Part 2 terjangkit penyakit yang jamak menyerang sebuah proyek film besar yang dipecah jadi dua bagian. Ketika Part 1 merupakan kekacauan menyenangkan yang melompat cepat dari satu keserampangan menuju keserampangan berikutnya, deretan dagelan Part 2 terasa dipaksa bergulir selama mungkin demi memenuhi kuota dua film panjang dengan masing-masing berdurasi sekitar 90 menit. Ide Anggy bersama partner penulisan naskahnya, Bene Dion Rajagukguk dan Andi Awwe Wijaya sejatinya segar, namun kerap berlarut-larut, seringkali menurunkan efektivitas. Adegan perpustakaan ialah pola paling nyata. Untungnya masih terdapat setumpuk amunisi lain.

Langsung melanjutkan final film pertama, Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) bersama Sophie (Hannah Al Rashid) melanjutkan petualangan mencari harta karun di Malaysia. Setelah melalui kejadian yang melibatkan ketiganya dalam eksperimen aneh, akhirnya Nadia (Nur Fazura), si gadis berbaju merah yang kopernya tertukar dengan mereka di bandara berhasil ditemukan. Pencarian harta karun pun berlanjut di suatu pulau kosong yang tidak hanya memunculkan kejutan khas Anggy Umbara, juga kegilaan yang meneruskan kegemaran Warkop bermain-main menggabungkan komedi dan berbagai genre.
Sebelum masa 90-an dengan image "jalan-jalan ke pantai melihat cewek seksi" usungan film produksi Soraya (mengisi sebagian fase film ini), Warkop mencapai puncak kualitas lewat bermacam-macam bentuk. Manusia 6.000.000 dollar adalah sci-fi, Chips satir sosial bersampul dongeng kepolisian, Depan Bisa Belakang Bisa kental unsur detektif, sampai petualangan di IQ Jongkok dan horor dalam Setan Kredit. Dua judul terakhir jadi pondasi utama Jangkrik Boss! Part 2 yang sesampainya pada klimaks, "banting setir" ke ranah fantasi imajinatif (sebelum ditutup oleh ending yang begitu tiba-tiba). Serupa karya Anggy Umbara sebelumnya, transisinya kasar, seketika tumpah semata-mata demi twist tak terduga. Tapi ada faktor lain yang membuatnya bermakna: homage. 

Pada dasarnya Warkop DKI Reborn adalah proyek penghormatan ambisius yang coba meleburkan setumpuk film beserta gaya bercanda Warkop DKI, dan third act Jangkrik Boss! Part 2 mengeskalasi homage-nya ke level lebih tinggi pun lebih luas, kolam membawa penonton menyusuri dunia berisikan ikon perfilman tanah air masa 70 hingga 80-an (termasuk Rhoma Irama seperti nampak di trailer). Sebuah langkah kreatif dari Anggy dan tim menyatukan mereka dengan Warkop DKI  yang mana juga berasal dari masa itu  sebagai bungkus. Bukan berhenti selaku penghormatan saja, sekuen tersebut pun luar biasa lucu (clue: Soto), menjadi pencapaian terbaik dari keliaran pikir Anggy yang sebelumnya, termasuk di film ini, punya persentase keberhasilan dan kegagalan berimbang. 
Dua pertiga awal Jangkrik Boss! Part 2 cenderung hit-and-miss akibat cita-cita membuat humor seaneh mungkin. Beberapa berlangsung datar, termasuk repetisi dagelan meta, kala atas dasar tribute, filmnya (terlalu) sering breaking the fourth wall yang mana termasuk kebolehan Warkop DKI dahulu. Toh kali ini pilihan Anggy menekankan absurditas komedi, menolak melangkah di "jalur aman" layak dikagumi. Terlebih ada "adegan soto" yang membayar lunas sederet kekurangan lain, sekaligus mengingatkan betapa keunggulan Warkop terletak pada keluwesan improvisasi mengolah kata dalam komedi verbal. Kecerdasan berkelakar yang sayangnya tertutup gambaran "film cewek seksi berbikini di pantai" akhir banyak pihak lebih familiar dengan Warkop masa Soraya yang mendominasi televisi. 

Trio Abimana-Vino-Tora masih tampil bagus, walau daya kejut hasil perubahan ketiganya otomatis berkurang sebab telah memasuki film kedua. Abimana tetap dengan salah satu transformasi tugas terbaik di perfilman kita yang bisa memancing tawa walau hanya bangun membisu (sebelum film dimulai ada iklan Top White Coffee yang ia bintangi, silahkan bandingkan). Vino kian apik memasang ekspresi. Salah satu penyebab "adegan soto" bekerja begitu baik ialah respon konyol miliknya. Tora mengakali karakterisasi Indro yang belum sesolid dua rekannya lewat totalitas kejenakaan di tiap kesempatan, layaknya penyerang yang mampu memanfaatkan peluang mencetak gol sekecil apapun. Sewaktu humor tidak konsisten bekerja maksimal, ketiganya membuat Jangkrik Boss! Part 2 selalu menarik disimak.