Showing posts with label Jeremy Thomas. Show all posts
Showing posts with label Jeremy Thomas. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Sabrina (2018)

Ada tiga jenis template. Pertama, yang diulang lantaran digandrungi publik. Kedua, yang diulang lantaran disukai pembuatnya kemudian menjadi gaya. Ketiga, yang diawali jenis kedua, tapi begitu laku manis, pengulangannya dilakukan atas dasar poin pertama. Rocky Soraya rasanya masuk jenis ketiga. The Doll (2016) memberinya kawasan menumpahkan segala elemen favoritnya (trik ala James Wan bertemu banjir darah), tapi begitu lebih dari 550 ribu penonton sukses didapat, tiada alasan meninggalkan usungan formula itu. Apalagi setahun berselang, Mata Batin dan The Doll 2 masing-masing menembus angka 1,2 juta penonton.

Saat banyak pihak memuji Mata Batin, saya justru hingga pada titik jenuh, lantaran Rocky mulai repetitif. Karyanya selalu dibuka oleh first act lambat minim penampakan—yang mana langkah berani dan patut diapresiasi—berlanjut ke second act berupa formasi jump scare medioker, hingga ditutup titik puncak berdarah-darah. Sabrina, selaku spin-off seri The Doll yang makin memperlihatkan ambisi Rocky mengikuti jejak James Wan dengan seri The Conjuring, menggunakan referensi sama. Tapi kentara terdapat perbaikan di sana-sini. Belum menyeuruh, namun satu langkah kecil jauh lebih berarti daripada keengganan melangkah.

Maira (Luna Maya) pun melangkah maju saat menikahi Aiden (Christian Sugiono), meninggalkan bencana dalam The Doll 2 di masa lalu. Keduanya belum dikaruniai momongan, tapi ada Vanya (Richelle Georgette Skornicki), keponakan Aiden yang mereka rawat pasca kedua orang tuanya meninggal. Mencuri hati Vanya yang masih selalu merindukan mendiang ibunya tidaklah mudah. Karena itu, Maira memperlihatkan boneka Sabrina edisi kedua yang khusus dibentuk Aiden (dia pemilik pabrik mainan) untuk mengenang Kayla, puteri Maira yang sudah tiada. Harapannya, sebagaimana Sabrina edisi pertama dahulu bagi Kayla, boneka gres ini bisa menemani sekaligus menguatkan Vanya.

Memasuki kemunculan keduanya, desain Sabrina makin mengerikan, yang berarti, semakin tak logis kalau disukai bocah. Sepertinya kini ialah waktunya kita menyimpan rapat-rapat ekspektasi melihat boneka Sabrina yang lebih “masuk akal”. Bedanya, kali ini boneka itu tidak pribadi menjadi sumber masalah, melainkan permainan memanggil arwah berjulukan Pensil Charlie, yang Vanya pakai guna bertemu arwah sang ibu. Bisa ditebak, justru sosok mistik jahat yang hadir. Baghiah namanya. Salah satu anak iblis. Apakah ia memiliki hubungan darah dengan Ghawiah dari The Doll pertama? Entahlah.

Paruh awalnya dibungkus tempo cukup lambat pula minim teror, yang sayangnya urung ditunjang naskah solid di tatanan drama, sehingga pondasi kisah kekeuargaan serta gejolak batin si paranormal, Laras (Sara Wijayanto), yang kini telah menikahi sesama paranormal berjulukan Raynard (Jeremy Thomas), berakhir lemah. Gagal pula usahan menyentuh hati lewat porsi drama tersebut, walau untuk subplot mengenai Laras, akting kurang meyakinkan Sara Wijayanto turut jadi penyebab.

Singkat cerita, bermain Pensil Charlie menciptakan Vanya bisa berkomunikasi dengan sang ibu, atau tepatnya, sosok yang ia percaya merupakan sang ibu. Khawatir akan kondisi bocah itu, Maira dan Aiden setuju berlibur bertiga. Liburan itu juga titik balik filmnya, di mana tempo dipercepat, sementara teror mulai menyergap. Kali ini, Rocky dibantu tim pengaruh spesialnya berkenan memutar otak demi variasi. Beberapa trik memikat, dari adegan “Edward Mordrake-esque” hingga “kesurupan pertama” menyita atensi saya. Beberapa kali bulu kuduk berdiri, bukan lantaran seram, melainkan dipicu kekaguman atas aspek teknisnya. Those weren’t scary, yet fun and highly admirable. Dipadu kemampuan sutradara memancing intensitas melalui nuansa chaotic, jadilah Sabrina suatu perjalanan seru. Bila diibaratkan musik, Rocky kolam tengah menggeber musik rock beroktan tinggi.

Selain faktor teknis, repetisi turut diminalisir oleh naskah karya Fajar Umbara (Comic 8, The Doll 2) dan Riheam Junianti (The Doll 2, Mata Batin) lewat disertakannya bermacam-macam lokasi, yang berujung menyediakan bermacam-macam metode berbeda pula untuk meneror. Pantai, penginapan, pabrik, dan pastinya rumah. Setidaknya terjadi pergantian suasana sehingga mata kita takkan lelah, walau dari alur, naskahnya sendiri mirip carbon copy dari seri-seri sebelumnya, termasuk twist-nya.

Mencapai klimaks, Sabrina seolah kehabisan amunisi trik, ditambah kerap terlampau panjang di banyak titik. Kita diajak berdiam terlalu usang mendengar Laras dan Raynard merapal mantra berupa puja-puji terhadap Yang Maha Kuasa, sama mirip first act-nya yang terus-terusan menyeret kita melihat Vanya menjalankan aplikasi pendeteksi han...maaf, maksud saya entitas. Rocky dan tim bukannya mengalah begitu saja. Tampak perjuangan menambah varian kejadian melalui bumbu agresi yang sayangnya, tanpa koreografi mumpuni, plus lagi-lagi performa kurang meyakinkan Sara Wijayanto mengayunkan senjata. Sebaliknya, Luna Maya terlihat bersenang-senang melakoni akting kesurupan gila nan over-the-top sebagaimana dalam The Doll 2.

Beberapa kelemahan sudah teratasi, kini pekerjaan rumah Rocky Soraya tinggal terus mengeksplorasi variasi trik jump scare dan tusuk-menusuk supaya tidak stagnan, mencari naskah dengan pondasi solid, dan bersedia memadatkan momen-momennya supaya tak kehilangan momentum. Sebab konklusinya, yang berusaha menutup kisah di nada melodrama, pun tidak kalah berlarut-larut bagai akan berjalan selamanya. Namun mirip saya ungkapkan, Sabrina memang bukan lompatan, melainkan langkah, yang meski kecil, asalkan konsisten berjalan ke depan, bukanlah suatu persoalan. 

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Ten: The Secret Mission (2017)

Ten: The Secret Mission merupakan perjuangan sutradara sekaligus penulis naskah Helfi Kardit (Guardian, BrokenHearts, Arwah Goyang Karawang) meracik film agresi kelas B dengan bumbu sexploitation di mana 10 model majalah Popular jadi tokoh sentral. Tipikal film yang semakin frontal (sensualitas dan kekerasan) semakin menghibur, dan semakin banyak timbunan kebodohan semakin seru. Walau karenanya kondisi negeri ini tak memungkinkan unsur pertama tertuang sepenuhnya, menghasilkan "sexploitation malu-malu", menyisakan rentetan kebodohan disengaja guna memancing tawa. Sungguh saya berharap semua memang disengaja. 

Dikisahkan, Satuan Intelijen Rahasia Negara kesulitan melancarkan operasi pembebasan puteri duta besar Amerika yang diculik sekelompok teroris di sebuah pulau. Bukan itu saja, sebab warga setempat turut jadi sandera. Yakin Navy Seal hanya bersedia menyelamatkan puteri duta besar dan membiarkan warga terbunuh (I know it's stupid, let it go), Kolonel John (Jeremy Thomas) mencetuskan ilham merekrut 10 model Popular yang secara kebetulan menguasai bermacam-macam cabang bela diri. Mengapa harus model? Bukan atlet atau petarung sungguhan? Sederhana. John merasa sepuluh gadis tersebut yaitu model berbakat. Walau belakangan kita tahu John punya niat terselubung merayu salah satunya.
10 model terkumpul, John pun mulai memperkenalkan masing-masing dari mereka lewat eksposisi latar tokoh berupa keahlian bela diri serta belakang layar kelam yang memaksa mereka tak kuasa menolak usulan misi. Toh daripada usulan lebih sempurna disebut paksaan mengingat tiap ungkapan penolakan bakal memancing Mayor Cathy (Karenina Anderson) berteriak, memaki, menyebut para gadis tak punya jiwa kemanusiaan (I know it's stupid, let it go). Di sini penonton mulai diajak tertawa lewat deskripsi masa kemudian menggelikan tokohnya. Contohnya kutipan kalimat berbunyi, "Kamu yaitu atlet panah. Kamu memanah pacarmu sendiri". Dan apa pun gaya bela diri mereka berujung tak berkhasiat dikala nantinya lebih banyak didominasi agresi sekedar diisi asal pukul, tusuk, dan tembak.

Selanjutnya Ten: The Secret Mission selalu punya amunisi pemancing tawa khususnya melalui barisan kalimat abnormal bernuansa nasionalisme atau kontemplasi kehidupan. Cathy paling sering menerima kiprah menyampaikan. Dengan letupan membara ibarat senior sok galak di tengah ospek, Karenina rutin menampilkan dua sisi kontradiktif Cathy. Dia bisa berucap "kita bagai titik di alam raya yang seolah tak punya arti" kemudian sedetik kemudian menghardik "you fucking stupid ass bitches". Namun jangan khawatir, para model kita juga sesekali menerima jatah berpetuah. Misalkan Model A (coba hafalkan nama mereka jikalau bisa), yang seusai melempar bambu ke dada lawan sempat berkata, "negara ini merdeka bukan hanya sebab bambu runcing, tapi hebat bela diri yang bersenjatakan bambu runcing" (I know it's stupid, let it go).
Ten: The Secret Mission membuktikan betapa kekakuan "objektif" memandang film bermodal ukuran-ukuran teknis tak selalu berlaku. Nyaris segala sisi entah tutur kata maupun kejadian tersaji jelek pula bodoh, namun kebodohan yang sungguh menyenangkan. Pertanyaan apakah kebodohan itu disengaja atau tidak dijawab oleh Helfi Kardit dikala Model B menentukan kulit duren selaku brass knuckle darurat. Bagaikan pernyataan lantang, "kalau Azrax bisa menggunakan lampu taman, mengapa model seksi tak boleh mempersenjatai diri dengan kulit duren?". Bukan bentuk kamuflase canggih macam James Bond dengan pistol pena. Kulit duren orisinil (at least di konteks filmnya) yang tidak sengaja jatuh di depan sang model. Bagaimana cara memasang kulit duren di tangan? Go figure. Terpenting yaitu itu kulit duren. 

Di samping kedahsyatan kulit duren, sejatinya Helfi cukup baik membawakan tempo. Hanya berdurasi 73 menit, filmnya enggan berbasa-basi, bergerak cepat membawa penonton pada latihan keras nan abnormal yang sanggup menyulap model jadi mata-mata tangguh selama tiga hari. Sempat melambat kala Kolonel John dan Kapten Dalton (Gibran Marten) tergugah jiwa kelaki-lakiannya dan mulai merayu dua model di malam hari, tapi itu tak lama. Berikutnya alur telah melompat ke sanksi misi yang mengandalkan pemandangan gadis-gadis mengenakan bermacam-macam baju seksi (tank top, sport bra, apa pun), berpeluh, berdarah-darah, menghajar kawanan teroris hingga sederet jawara unggulan. 

Eksekusi aksinya tak buruk. Paling tidak gerak shaky kamera Nofi Kardit cukup menutupi kemampuan bela diri terbatas jajaran cast-nya. Pun soal melakoni baku hantam, kesepuluh model kita berjuang sekuat tenaga dalam gerak dan ekspresi. Sayang third act-nya berlangsung terlampau panjang, mengakibatkan banyak sekali momen highlight khususnya kebrutalan berhiaskan banjir darah menjelang simpulan tergerus dampaknya. It could be more fun with shorter yet more impactful finale. Demikian pula keseluruhan film yang berpotensi jauh lebih menghibur andai Helfi Kardit bersedia lebih sering lagi merayakan kebodohan mengasyikkan b-movie. Masih cukup ruang bagi kemunculan ikonik kulit duren. All hail brass-knuckle-made-of-durian-skin!