Showing posts with label John Lithgow. Show all posts
Showing posts with label John Lithgow. Show all posts

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Beatriz At Dinner (2017)

Pada sekuen pembuka yang berfungsi memaparkan identitas Beatriz (Salma Hayek) selaku protagonis, pekerjaannya sebagai terapis pijat, serta minggunya yang berat pasca kambing peliharaannya dibunuh oleh seorang tetangga, kita juga diperlihatkan patung Budha dan gambar Maria berdampingan menghiasi mobilnya. Suatu cara gamblang guna menjelaskan bahwa tokoh Beatriz ialah liberal. Filmnya sendiri merupakan perjuangan sutradara Miguel Arteta bersama penulis naskah Mike White, di kerja sama kedua mereka sehabis Chuck & Buck dan The Good Girl, menciptakan dramedy yang sayangnya terlampau on-the-nose pula dangkal untuk dapat menggelitik maupun memancing pemikiran.

Seusai melayani kliennya, Kathy (Connie Britton), Beatriz terpaksa menunda kepulangan lantaran mobilnya rusak. Kathy pun menawarkannya tinggal, mengikuti jamuan makan malam bersama beberapa rekannya, para pebisnis sukses. Berasal dari "dunia berbeda" dan menggunakan pakaian seadanya, tak mengejutkan kala Beatriz kesulitan berbaur walau Kathy berulang kali memberi puja-puji atas jasa Beatriz membantu kesembuhan sang puteri dari kanker. Kita pernah ada di situasi serupa. Merasa sendiri di antara keramaian dikala terjebak di tengah riuh rendah perbincangan sekelompok orang gila yang begitu berbeda dengan kita. 
Kawan-kawan Kathy nampak ramah (setidaknya di awal), namun semakin banyak Beatriz bicara soal pekerjaan dan reinkarnasi, bertambah tebal tembok pemisah, semakin terasing pula Beatriz. Tapi Beatriz at Dinner tidak berhenti hingga presentasi situasi canggung yang familiar itu. Konflik tereskalasi begitu tokoh utama bersinggungan dengan Doug (John Lithgow), pengusaha yang bergerak di bidang pembangunan hotel dan kerap terlibat kontroversi terkait penggusuran juga keengganan memperhatikan kesejahteraan karyawan. Fase ini pun menarik, lantaran (lagi-lagi) besar kemungkinan penonton pun pernah (terpaksa) menghadapi sosok yang berlawanan dengan prinsip mereka.

Masalahnya, obrolan yang disusun gagal menjadi observasi memikat yang mampu mengikat jawaban obrolan dangkal dari para tokoh, yang seiring durasi makin menjadi dua dimensi. Mana hitam dan putih terpampang terlalu jelas. Alhasil bukan pertukaran opini dinamis yang tersaji, melainkan kemalasan eksplorasi berbentuk eksploitasi akan ketidakberdayaan. Filmnya mengambil cara murahan kala melukiskan Beatriz sebagai "sosok putih" nan polos yang selalu bicara kebaikan dan disudutkan oleh kedigdayaan lawan bicaranya, para kapitalis. Namun Beatriz sendiri, dengan segala omongan yang terkesan tak tentu arah plus timing bicara semaunya, juga bukan tokoh simpatik terlepas dari maksud baiknya.
Melalui naskahnya, White bagai tak merasa perlu memberi Beatriz bobot argumentasi, berharap penonton otomatis mendukung lantaran tujuan mulianya. Tapi Beatriz at Dinner adalah drama berbasis obrolan yang mestinya menggiring persepsi penonton lewat kalimat, bukan semata-mata berharap belas kasih. Isu "kapitalisme versus humanisme" atau secara lebih umum "ego versus hati" merupakan hal kompleks yang penting dibahas demi mencari jalan keluar. Alih-alih memperlihatkan jalan tersebut, film ini menentukan menghadapi kompleksitas dengan contoh pikir dangkal, sebatas berhenti pada "bunuh atau dibunuh".

Padahal Salma Hayek memperlihatkan salah satu performa terbaik sepanjang karirnya. Berpenampilan lusuh, mata yang seolah hanya mengenal kebaikan dan keburukan tanpa keabu-abuan, hingga gerak minimalis semisal tangan yang nyaris tak berubah posisi kala berjalan, sang aktris karam dalam tugas yang sungguh berkebalikan dengan glamoritasnya sebagai mega bintang. Tidak menyerupai filmnya yang menyederhanakan gagasan ceritanya, Hayek total menangani huruf Beatriz.

Ini Lho Daddy's Home 2 (2017)

Komedi sanggup dikatakan baik bila bisa memenuhi tujuan memancing tawa, sebagaimana horor menyulut ketakutan, atau sabung memacu adrenalin. Menjadi Istimewa jikalau terdapat adegan (dengan fungsi mendukung tujuan itu) yang terus tertanam di ingatan. Pada Daddy's Home, momen tersebut hadir ketika Brad (Will Ferrell) terjungkal ke tembok tanggapan gagal mengontrol motor milik Dusty (Mark Wahlberg). Sekuelnya berusaha mengulangi sihir serupa tatkala Brad kelabakan mengendalikan mesin penyedot salju. Konsep ibarat dengan hasil berbeda lantaran sang sutradara, Sean Anders, sekedar berusaha meniru. Itulah mengapa Daddy's Home 2 bukan suguhan spesial. 

Tapi bukan pula komedi buruk, dan saya pun tergelak menyaksikan situasi abstrak dikala jumlah ayah berlipat ganda. Selaku versi ekstrim dari anak masing-masing, datanglah para kakek; Don (John Lithgow) yang lebih cerewet, konyol, dan norak dibanding Brad, juga Kurt (Mel Gibson) si tua-tua keladi lewat tingkat kekejaman serta sarkasme yang menciptakan Dusty terlihat lembut. Demi nuansa kekeluargaan Natal, mereka bersama istri dan bocah-bocah menentukan berlibur di sebuah resort. Kondisi ini memfasilitasi pemandangan menarik semisal keempat ayah dengan kegilaan berlainan berkumpul di tengah malam, berdebat soal termostat. 
Banyak perdebatan, banyak pertengkaran, yang disebabkan kekonyolan Don dan Brad maupun sinisme Kurt, takkan berujung pembicaraan waras. Anders mengemas segala perbincangan itu bagai peperangan. Perang verbal di mana kalimat yang karakternya lontarkan tak ubahnya berondongan peluru senapan mesin. Bising, cepat, kacau nan tanpa aturan. Enggan memperhatikan timing, gugusan punch line di naskah goresan pena Anders dan John Morris gagal mendarat keras pada urat tawa penonton. Walau berkat jajaran pemainnya, rasa kantuk belum hingga menguasai. 

Ferrell tetap pesakitan, seorang anak kecil bertubuh berilmu balig cukup akal dengan kesialan beruntun, yang semakin ia menderita, semakin penonton terhibur. Sewaktu Wahlberg sebagai Dusty sekarang merupakan tokoh berakal paling sehat sementara bakat komikal John Cena dibatasi minimnya bahan pendukung, dua kakek sanggup mencuri atensi. Gibson memainkan tugas penuh wibawa sekaligus bermulut pedas ibarat kerap ia lakoni, hanya saja, sekarang maskulinitas tersebut digunakan untuk pondasi humor yang nyatanya sukses besar. Begitu gampang ia tebang setiap kesempatan. Sedangkan Lithgow, melalui senyum lebar dan mata berbinar yakni yang terbaik. Menggelitik semenjak awal, ia remukkan perasaan hanya dalam satu momentum emosional.  
Secara mengejutkan Daddy's Home 2 mempunyai setumpuk porsi drama, atau setidaknya tuturan serius yang bersembunyi di belakang kedok banyolan-banyolan. Wajar, mengingat bertambahnya jumlah ayah berarti bertambah banyak pula masalah. Terlampau banyak malah, hingga filmnya kesulitan menyediakan penanganan total. Beberapa problematika memperoleh resolusi natural, macam relasi Dusty-Kurt yang anggun namun sederhana. Tapi ada pula yang tertinggal, misalnya dikala perjuangan Kurt menarik perhatian cucu-cucu terlupakan. Terdapat 9 orang anggota keluarga (10 ditambah Roger-nya Cena), dan mereka semua diberi subplot. Berlebihan, meski disertakannya sekelumit pesan mengenai hak perempuan semenjak kecil terasa melegakan. 

Penutup berupa nomor musikal diiringi lagu Do They Know It's Christmas? bak pertunjukan darurat yang tampil lebih mendadak daripada suguhan Bollywood. Konklusi pun terasa ajaib, tapi bukankah Natal memang perihal keajaiaban? Mengusung semangat tersebut, walau dihukum menggunakan jalan yang terkesan malas, Daddy's Home 2 masih suatu komedi yang baik, biarpun takkan hinggap usang di benak para penontonnya. 

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Pitch Perfect 3 (2017)

Pitch Perfect 3 ibarat kembalinya sebuah band yang pernah berjaya, namun secara setengah hati, diisi album gres tanpa bahan memadahi, pula tur ala kadarnya yang semata bersifat obligasi. It's all about money with no energy and creaticity. Ironisnya, hal yang seolah-olah dialami The Barden Bellas. Selepas gagal beradaptasi dalam realita selepas universitas, mereka bereuni, mencoba lagi peruntungan di panggung hanya untuk mendapati kejayaan masa kemudian sulit diulangi. Inilah ketika realita (secara kebetulan) mengimitasi karya, sayangnya dalam konteks negatif.

Jajaran cast sama, skenario pun masih dikerjakan oleh Kay Cannon dan Mike White, tapi dingklik sutradara sekarang ditempati Trish Sie. Harapannya, pengalaman menggarap Step Up: All In (2014) menghasilkan sekuen musikal sedap. Namun pesona Bellas lenyap ketika Sie membungkus performa mereka bagai siaran ajang pencarian talenta menyanyi di televisi. Pun kelompok pesaing, Evermoist, grup musik yang terdiri atas empat wanita, ikut melempem. Bergaya serupa rockstar, mereka membawakan pop-rock generik dengan agresi panggung medioker. 
Sepertinya daya kreasi Pitch Perfect yang lima tahun kemudian menimbulkan gelas plastik alat musik keren menguap bersama kesuksesan The Bellas. Beca (Anna Kendrick) yaitu produser bagi lagu basi milik rapper keras kepala, Fat Amy (Rebel Wilson) menganggur sambil sesekali memparodikan Amy Winehouse di tengah kota, sementara anggota lain tidak lebih beruntung. Berniat meraih kejayaan lagi, The Bellas nekat ambil bab pada tur dunia guna mengibur militer Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh United Service Organization (USO). 

Realisasi terhadap realita merupakan tema utama, yang mana lebih cukup umur dibanding kedua pendahulunya. Bagaimana proses The Bellas mencapai titik tersebut? Itu yang semestinya dijawab alih-alih sibuk mengotak-atik unsur sampingan tak perlu. Momen pembukanya mencuatkan pertanyaan: Apa esensi ledakan ala suguhan berkelahi dalam film seputar grup akapela? Pasca konteksnya dipaparkan pun, fungsinya  selain menghabiskan bujet nyaris tiga kali lipat film pertama  tetap jadi pertanyaan. Dan pertemuan Fat Amy dengan ayahnya (John Lithgow) hanya ada untuk membuka jalan menyelipkan adegan bombastis di atas. 
Sebagai film musik dengan konflik kompetisi musik, mestinya intensitas muncul alasannya kompetisi tersebut, perseteruan antar peserta, usaha tokoh utama mencapai tujuan (entah soal mengejar kemenangan atau penerimaan diri), tidak perlu tetek bengek penculikan berbumbu ledakan. That's cheap. Anna Kendrick dan Hailee Steinfeld sebagai Emily masih mempesona di atas panggung, tapi story arc Beca dangkal dan membosankan, sedangkan Emily lebih parah, sebatas penggembira. Fat Amy selaku "sumber derita" bisa memancing tawa, demikian juga absurditas Lilly (Hana Mae Lee), namun Pitch Perfect 3, dengan sekelompok protagonis perempuan berbeda kepribadian dan latar seharusnya lebih berwarna. Sayang, naskahnya kelabakan membagi fokus. 

Pertanyaan terpenting: Apakah Pitch Perfect 3 menyenangkan? Komedinya cukup efektif mengocok perut. Mayoritas nomor musikalnya kurang berkesan, walau tatkala The Bellas membawakan Toxic, sulit rasanya menahan badan ikut bergoyang biarpun sedikit. Ya, dalam film di mana para protagonis disindir sebagai grup karaoke alasannya cuma menyanyikan karya orang lain, cover bagi lagu rilisan awal 2000-an justru jadi yang paling memorable. Pitch Perfect 3 memang reuni setengah hati. The Bellas need another new cups if they want to comeback (again).