Showing posts with label Kristen Wiig. Show all posts
Showing posts with label Kristen Wiig. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Despicable Me 3 (2017)

Pada film ini, Gru (Steve Carell) terjebak dilema, bertahan sebagai diri barunya atau kembali menyandang status penjahat super. Kita pun melihat verbal licik serta mendengar tawa jahatnya lagi. Dan dalam suatu kesempatan, ia menipu saudara kembarnya, Dru (juga disuarakan Steve Carell) guna mencapai tujuan pribadi  walau tujuan ini sejatinya mempunyai kegunaan bagi dunia. Inilah Gru yang penonton kenal pula sukai. Lebih dari itu, juga penokohan yang semenjak dulu berusaha dibuat franchise-nya, yaitu sosok dengan ambiguitas moral, setidaknya untuk ukuran animasi semua umur. Filmnya sendiri yaitu yang terbaik semenjak installment perdana (termasuk Minions). 

Kali ini Gru bersama sang istri, Lucy (Kristen Wiig) selaku agen Anti-Villain League (AVL) berurusan dengan Balthazar Bratt (Trey Parker) yang hendak mencuri berlian terbesar di dunia. Bratt yaitu mantan bintang cilik ternama. Namun pasca serial televisinya dibatalkan akhir kehilangan penonton sehabis menginjak masa puber (bayangkan Macaulay Culkin kini bermain di Home Alone), Bratt mulai percaya bahwa ia yaitu tokoh peranannya di serial tersebut, memutuskan menjadi penjahat super sungguhan. Karakterisasi di atas kolam parodi ihwal pemain film yang karam terlampau jauh dalam abjad yang dimainkan dan/atau pemain film cilik yang kehabisan masa jaya begitu beranjak dewasa. 
Besar di 80-an, masuk akal tatkala Bratt dihiasi adonan pernak-pernik era tersebut dan benda khas anak. Kostum dengan shoulder pad, gaya rambut mullet, senjata berbentuk yoyo dan permen karet, markas berwujud rubik, hingga yang paling kuat untuk filmnya, kegemaran menyetel musik 80-an. Deretan nomor menyerupai Bad-nya Michael Jackson hingga Take on Me milik a-ha sesekali menambah keasyikan petualangan yang sayangnya, walau oleh duet sutradara Pierre Coffin dan Kyle Balda konsisten digerakkan secepat kilat, gagal menyamai kreativitas memikat first act-nya. Gru dan Lucy dengan kendaraan canggih kolam versi futuristik James Bond melawan bermacam senjata unik berbentuk mainan kepunyaan Bratt jadi keseruan yang gagal terulang, bahkan oleh titik puncak yang menampilkan robot raksasa.

Dasar ceritanya masih mempertahankan usungan tema keluarga, meski kini persaudaraan Gru dan Dru mengurangi porsi ayah-anak. Ada perjuangan Lucy berguru menjadi sosok ibu bagi trio Margo-Edith-Agnes, namun sekedar selipan dangkal ketimbang proses utuh sebagaimana Gru berguru menjadi ayah di film pertama. Tapi Coffin dan Balda selalu menggarap tiap momen kekeluargaan dengan sensitivitas tinggi, menyertakan cukup kasih sayang demi menghasilkan kehangatan. Adegan kala Mel  Minions yang memprovokasi rekan-rekannya semoga mendorong Gru kembali berbuat jahat  mengingat masa-masa bersama Gru tersaji anggun layaknya memori indah ayah dan anak. 
Lain halnya dengan porsi komedi. Despicable Me 3 berusaha keras melucu di tiap kesempatan. Hampir lima menit sekali humor digelontorkan. Ada adegan dikala Gru dan Dru terpingkal-pingkal menertawakan lawakan mereka sendiri sementara Lucy serta tiga puterinya terdiam, entah resah harus merespon bagaimana atau sepenuhnya tak peduli. Situasi yang cocok menggambarkan perjuangan komedi filmnya. Turut digandakan yaitu sisi cuteness. Seolah keberadaan Minions dan Agnes belum cukup, hewan-hewan menyerupai kambing pula babi jadi target, didesain semenggemaskan mungkin. Setidaknya poin ini lebih mencuri hati daripada humornya. 

Despicable Me 3 mengembalikan tugas Minions sebagai pendukung yang bahkan tak berbuat satu pun hal signifikan. Keputusan tepat, alasannya semenjak dulu, tiap kemunculan makhluk kuning ini memakan beberapa menit durasi demi kehadiran situasi komikal random yang sejatinya sanggup diluangkan guna menguatkan alur. Begitu juga di sini, walau harus diakui Minions menguasai penjara yaitu salah satu momen paling menarik pun terlucu dalam film ini. Ditutup oleh ending yang membuka peluang sekuel, Despicable Me 3 paling tidak membawa lagi sang tokoh utama ke posisi semestinya. This movie makes Gru cool and interesting again. 

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Downsizing (2017)


Beberapa respon negatif kritikus atau penonton umum untuk film ketujuh Alexander Payne (The Descendants, Sideways) ini lebih banyak didominasi bermuara pada kesimpulan bahwa terlampau banyak gagasan coba dirangkum sehingga gagal mengenai sasaran. Mereka ingin filmnya meninggalkan pengaruh signifikan, menggerakkan hati, atau mungkin berpartisipasi terhadap dunia yang lebih baik. Seperti harapan besar Paul Safranek (Matt Damon) memberi donasi menyelamatkan lingkungan beserta umat insan di dalamnya. Sayangnya, ia tidak kunjung mencicipi kebahagiaan.

Terhimpit kasus keuangan, Paul mengajak sang istri, Audrey (Kristen Wiig) mengikuti aktivitas Downsizing alias mengecilkan badan demi memperbaiki kehidupan (1 dollar dunia normal sanggup bernilai 1000 kali di dunia mini) sekaligus turut serta menuntaskan dilema overpopulasi. Setidaknya demikian isi pikiran Paul dan para ilmuwan di balik terciptanya teknologi tersebut. Segera, mereka menemukan betapa yang perlu diperbaiki bukan cuma infrastruktur, pula insan itu sendiri.
Orang yang hanya memikirkan diri sendiri dan saling melukai hati mendominasi Downsizing. Paul terpukul dikala tahu Audrey membatalkan niat mengecilkan badan di detik terakhir. Payne telah menyiratkan itu kepada penonton semenjak adegan wawancara. Paul tampak yakin, sementara dari tatapan matanya pun, Audrey terlihat diselimuti rasa ragu (Wiig menjual keraguan itu dengan baik). Kita menyadari itu, tetapi Paul tidak. Audrey bersalah mendadak membatalkan rencana hanya alasannya yaitu alis dan rambutnya dipangkas habis, namun Paul yang gagal memahami kegundahan istrinya pun sama saja.

Paul layaknya aktivits yang berkoar-koar soal bermacam-macam informasi tapi tak lebih dari sosok egois yang memaksakan kemauannya. Tapi Paul sulit bahagia. Kemudian ia bertemu Dušan Mirković (Christoph Waltz), penggila pesta yang terang-terangan menyatakan mengikuti aktivitas Downsizing demi kepentingan bisnis. Dušan senantiasa senang di tengah kejujuran soal ketidakpeduliannya. Sampai Ngoc Lan Tran (Hong Chau), penggagas asal Vietnam yang dipaksa mengecilkan tubuhnya hadir. Di mata Payne, Ngoc Lan yaitu sosok ideal. Bekerja sebagai petugas kebersihan, Ngoc Lan dibayar dengan masakan sisa atau obat-obatan yang ia berikan pada mereka yang membutuhkan. Dia melaksanakan hal dengan pengaruh nyata.
Hong Chau luar biasa memerankan Ngoc Lan. Ketika lisan eksentrik Waltz dan wajah kebingungan Damon “sekedar” jadi pondasi komedi, Hong Chau juga mengemban beban mengangkat porsi dramatik. Dia lucu dan berenergi. Memakai Bahasa Inggris beraksen, Hong Chau bicara semaunya, mengatrol daya tarik film tiap kali ia terlibat di layar. Memasuki paruh akhir, sempat ditampilkannya sensitivitas dalam sebuah monolog yang oleh Payne ditangkap memakai close up tanpa putus sehingga kekuatan emosi sang aktris terpampang jelas. Monolog yang semestinya menyegel posisinya selaku peraih nominasi Oscar.

Payne melemparkan banyak informasi yang sekilas disederhanakan konklusinya alasannya yaitu menekankan pada “kita harus berbuat baik”. Tapi bukankah itu akar dari segala kemajuan? Kebaikan dan kebahagiaan. Itulah mengapa ketimbang menggali lebih jauh kerumitan-kerumitan konsep tingginya, Payne mengajak penonton untuk tertawa lewat komedi visual yang diisi keanehan-keanehan, dari kepala dan alis botak Matt Damon sampai tubuh-tubuh kecil telanjang yang diambil kolam makanan. Sang sutradara sekaligus penulis naskah hanya sering terlalu santai, berujung menghasilkan sederet momen yang mestinya sanggup diakhiri beberapa menit lebih cepat.