Showing posts with label Mikha Tambayong. Show all posts
Showing posts with label Mikha Tambayong. Show all posts

Wednesday, December 5, 2018

Ini Lho Promise (2017)

Film-film produksi Screenplay Films itu penting bagi industri perfilman tanah air. Walau sering dicap berkualitas sinetron, judul-judul macam "London Love Story" dan "ILY from 38.000 Ft" sanggup meraih jutaan penonton bahkan bukan tidak mungkin memperkenalkan kultur menonton bioskop kepada sasaran pasarnya (pemirsa televisi). Lambat laun mereka bakal melirik film lain, menjalani proses "belajar film". Tapi "Promise" ialah perkara Istimewa di mana para pembuatnya berambisi mengusung kisah remaja dan bangunan alur rumit, menerapkannya di formula FTV dangkal yang mana tidak selaras hingga gagal bekerja.

Kisahnya dibuka melalui pengenalan sepasang sahabat, Rahman (Dimas Anggara) dan Aji (Boy William). Rahman merupakan remaja polos anak pemuka agama (Surya Saputra). Didikan kolot sang ayah membuatnya aib berinteraksi pula enggan menatap mata perempuan dengan alasan menghormati. Tapi kenapa tato Dimas Anggara beberapa kali terlihat? Sebegitu malaskah departemen make-up film ini? Tidakkah sutradara Asep Kusdinar menyadari itu? Come on, menonton porno saja Rahman tidak berani, apalagi menciptakan tato. Sebaliknya, Aji ialah playboy, anak gaul yang bicara sok asyik, menggulung lengan dan membuka kancing seragamnya. Come on, anak gaul tak lagi berpenampilan begitu termasuk di Jogja yang menjadi setting.

Kenapa Jogja dipilih tak pernah terperinci kecuali penegasan protagonisnya ialah laki-laki kampung nan polos pula lurus. Really? Para penulisnya niscaya tidak memahami Jogja. Rahman pun hanya sesekali menggunakan logat Jawa (bukan bahasa Jawa) dan pelafalan Dimas Anggara terdengar menggelikan. Singkat cerita, akhir tertangkap berair menyimpan film porno derma Aji, Rahman diharuskan menikah oleh ayahnya. Ada potensi menggugat konsep perjodohan dan anutan kolot bersenjatakan agama, tapi Sukhdev Singh dan Tisa TS selaku penulis naskah urung bereksplorasi, membiarkannya tertinggal sebagai hiasan nihil substansi. Lalu dengan siapa Rahman dijodohkan? Di sini alur "Promise" bererak makin ambisius, menggunakan gaya non-linier. 
Kisahnya eksklusif melompat beberapa waktu ke depan, ketika Rahman berkuliah di Milan, bertemu Moza (Mikha Tambayong) yang rahasia jatuh cinta padanya. Hadir pula Ricky Cuaca sebagai comic relief tak lucu yang tampil hanya untuk bertingkah norak dan menyebalkan. Total screentime-nya tak hingga 10 menit termasuk adegan Ricky marah-marah di daerah umum lantaran menabrak tiang. Come on, this is Milan for fuck sake! Rahman sendiri rupanya tengah mencari sang istri yang identitas serta alasan kepergiannya belum terungkap. Sampai ia bertemu Aji yang sekarang menjadi fotografer sukses dan berpacaran dengan model berjulukan Sunbulat (Amanda Rawles).

Lupakan fakta bila sebelumnya Rahman dan Aji tak pernah diperlihatkan tertarik akan bidang yang mereka geluti di Milan, lantaran toh jalan hidup insan siapa yang tahu. Anda bisa mendadak ingin menjadi politikus ketika kuliah walau di Sekolah Menengan Atas bercita-cita sebagai aktivis. God only knows. Mari fokus pada pilihan alur non-linier saja. Apakah pemakaian gaya tersebut penting? Tentu tidak. Sama tidak pentingnya dengan pertanyaan "Kucing jatuh dari pohon apanya dulu?" yang balasan serta konteksnya teramat menggelikan. Pemakaian alur non-linier tak lebih dari bentuk kemalasan menghadirkan kejutan yang bahkan sama sekali tak mengejutkan.
"Promise" justru tersesat di kerumitan kisah yang dibangun. Alurnya asal melompat, begitu awut-awutan tanpa disertai alasan terperinci mengapa dari titik A ceritanya perlu melompat ke titik D, kemudian kembali ke B, dan seterusnya. Film ini tidak memerlukan kejutan, cukup nuansa romantis. Masalahnya, lompatan alur memaksa paparan hubungan Rahman dan cinta sejatinya ditempatkan di tengah menjelang akhir. Penonton dipaksa tersentuh oleh percintaan yang belum sempat disaksikan. Andai perjuangan memunculkan kejutan yang tidak perlu ini ditiadakan, bukan tidak mungkin filmnya bisa sedikit mempermainkan emosi. 

Bila ada faktor penyelamat, itu terletak pada beberapa shot memikat mata lengkap disertai warna-warna cerah. Jangan lupakan pula Mikha Tambayong yang sama memikatnya bagi mata. Mengenakan busana yang ditata apik oleh Aldie Harra, walau akting Mikha masih belum layak disebut realistis (sinetron-ish), penonton laki-laki pastinya bakal terhibur oleh gerak-gerik termasuk tariannya sewaktu clubbing. Am I being sexist right now? Entahlah, tapi ketika filmnya menempatkan sang aktris selaku eye candy semata yang karakternya tak menyimpan signifikansi, saya bisa apa? 

Setiap tingkah dan keputusan aksara sulit diterima nalar sehat. Di produksi Screenplay lain saya sanggup mendapatkan sikap tak logis yang sengaja dibentuk demi memuaskan hasrat penonton atas konsep cinta sejati. Kali ini kebodohan mereka sudah keterlaluan, terlampau dipaksakan demi menggerakkan alur atau menambah konflik. Dosis kalimat puitis pun bertambah dan makin menggelikan semisal "Kamu seterang lampu di luar sana" (lampu mana mbak? Berarti kalau mati listrik Rahman tidak lagi terang?). Selipan unsur pernikahan, perjodohan, dan religiusitas tak menciptakan "Promise"  lebih remaja alasannya ialah semuanya sekedar tempelan yang bila dihilangkan pun tak jadi masalah. Untuk apa pula memaksakan tampil (sok) pintar dengan alur acak dalam suguhan semacam ini? Seolah belum cukup, menjelang simpulan filmnya masih menyelipkan unsur penyakit secara mendadak, menambah satu lagi hal tak perlu di tengah ambisi besar yang berujung kehancuran. Ungkapan "less is more" nampaknya patut diresapi Screenplay Films.

Saturday, December 1, 2018

Ini Lho Flight 555 (2018)

Membuat komedi itu susah. Apalagi bila spesifik, khusus menyasar problem atau setting tertentu. Seperti namanya, Flight 555 (seharusnya) merupakan komedi penerbangan dengan humor yang terfokus pada benda, peristiwa, dan orang-orang di pesawat. Adegan pembukanya melaksanakan itu, menggelitik lewat parodi terhadap ragam ciri penumpang: wakil rakyat sombong, orang yang gres pertama terbang dan bertingkah norak, pramugari yang bergerak hiperbolis kala menawarkan arah bangku. Melihat Meriza Febriani yang bagus dalam balutan seragam pramugari bertingkah demikian jadi anomali menyenangkan.

Memang perlu perjuangan ekstra bagi duo penulis naskah, Isman HS dan Raymond Handaya (juga sutradara) mengkreasi opening-nya. Dituntut berpikir keras tampaknya membuat pikiran mereka terforsir kemudian kering ide. Humor yang menyusul, khususnya sesudah pembajakan dimulai, tak lebih dari kebodohan seragam nan reptitif. Pembajakannya absurd. Putu (Tarra Budiman) yang pulang ke Bali demi menemui sang ayah yang sakit keras menemukan pistol di toilet pesawat, sempurna sebelum seorang Sunda dengan koteka (Anyun Cadel) dan seorang Papua (Abdur Arsyad) membajak pesawat menggunakan panah. Tidak usang kemudian muncul satu lagi pembajak yang mengenakan bom. 
Merasa perlu bertindak, Putu menggunakan pistol yang ia temukan untuk berpura-pura ikut membajak pesawat guna mengkonfrontasi ketiga pelaku. Absurd dan penuh perjuangan melucu, namun skenarionya bukan menitikberatkan pada situasi, melainkan karakter. Ketimbang membuat absurditas menurut rutinitas penerbangan menyerupai dilakukan Airplane! yang tampaknya memberi imbas besar (romansa dengan pramugari, konflik terkait mantan kekasih, keracunan makanan, pembersih beling pesawat, kemiripan pilot dengan sosok ternama), Flight 555 mengutamakan biar beberapa tokohnya bertindak sebodoh mungkin.
Anyun Cadel misalnya, diminta melontarkan pernyataan ngawur terus menerus sampai ke titik membosankan, bahkan menyebalkan. Sebaliknya, begitu banyak huruf malah sama sekali tidak berstatus tokoh komedik. Rusmedie Agus yaitu antagonis super serius, Tarra Budiman selaku protagonis hanya konyol di awal sewaktu status jomblonya jadi materi olok-olok, pula Mikha Tambayong yang tersia-siakan talentanya. Raymond urung memahami potensi Mikha melakoni komedi deadpan serupa yang ditunjukkan dikala merespon kecerobohan supir yang membuat lipstiknya awut-awutan di awal kemunculan.

Terlalu banyaknya huruf plus situasi serius menyiratkan hilang arahnya film ini. Pembajakan diposisikan kolam kenyataan selaku situasi hidup-mati alih-alih sekedar parodi pengundang tawa di tengah premis absurd. Tapi di dikala bersamaan, Flight 555 juga menggelontorkan lawakan di luar nalar. Inkonsistensi tone pun hadir. Absurditas komikal yang tak mempedulikan logika bertabrakan, gagal membaur dengan komponen suspens dan dramatik. Anda pun dapat memindahkan setting Flight 555 ke mana saja. Bus, perahu, kapal selam. tinggal pilih. Pertanda filmnya gagal memanfaatkan kekhasan setting. 

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Buffalo Boys (2018)

Pada sebuah adegan, protagonis kita, Jamar (Ario Bayu) dan Suwo (Yoshi Sudarso) bersama sang paman, Arana (Tio Pakusadewo) berkesempatan menuntaskan misi balas dendam mereka. Senapan telah diarahkan sempurna ke badan Van Trach (Reinout Bussemaker). Awalnya senapan dipegang Jamar. Kita menunggu, tapi titik tembak yang terang tak kunjung didapat. Giliran Arana mengangkat senjata. Kita menunggu lagi, peluru tak juga meletus. Setelah beberapa menit, agresi yang dinanti hasilnya urung terlaksana. Perasaan serupa selalu terulang sepanjang 102 menit Buffalo Boys, yang terasa menyerupai perjalanan melelahkan sepanjang tiga jam.

Ketika Sam Peckinpah meletakkan senjata, beliau memberikan keintiman dan kerapuhan di balik machismo para koboi. Sewaktu Sergio Leone meletakkan senjata, ia mengeksplorasi ambiguitas moral, dunia brutal, atau pembangunan yang sama—kalau tidak lebih—menegangkan dari showdown-nya. Sedangkan ketika Buffalo Boys meletakkan senjata, filmnya tidak memberi apa pun, kecuali penantian yang tak pernah ditebus. Dunia barat yang gersang nan keras dipidahkan ke Indonesia di periode kolonialisme, yang meski hijau, tetaplah keras. Para koboi pun bukan pengembara tanpa tujuan atau segerombolan laki-laki tangguh amoral yang hasilnya tergerak angkat senjata demi menegakkan keadilan. Mungkin, lantaran semoga bagaimana, ini negeri Timur.

Jamar dan Suwo terang tak berada di garis abu-abu. Keduanya cowok baik. Hal personal, tepatnya balas dendam atas maut ayah mereka di tangan Van Trach si penjajah jadi tujuan. Ditempa semenjak kecil di Amerika, bersama Arana, mereka kembali ke Indonesia, berjumpa dengan sekelompok warga desa yang dikepalai Sakar (Donny Damara), yang juga korban penindasan Van Trach beserta kaki-tangannya. Sakar mempunyai dua puteri, Sri (Mikha Tambayong) yang tak punya peranan selain untuk diselamatkan (damsel in distress) dan Kiona (Pevita Pearce) yang digambarkan mahir memanah sambil menunggangi kerbau, namun substansi karakternya pun layak dipertanyakan.

Ditulis oleh sutradara Mike Wiluan bersama Raymond Lee, naskahnya luput memberikan sedih dan amarah dalam hati protagonis. Ketika para pahlawan western beristirahat di malam hari di depan api unggun, sesekali sambil bernyanyi atau bermain harmonika, itulah waktu bagi penonton mengenal mereka. Karena di keheningan malam yang damai, pahlawan tertangguh sekalipun bisa berubah melankolis. Buffalo Boys tak menghadirkan keintiman serupa, pula alpa memaparkan isi kepala juga hati Jamar dan Suwo. Hanya Arana dengan kisah mengenai masa kemudian dan alasan kenapa dua keponakannya itu harus balas dendam yang rutin terdengar. Kita berulang kali dicekoki alasan “mengapa”, namun urung dilibatkan, lantaran akhirnya, koboi-koboi tanah air ini cuma dua cowok nihil kepribadian. Sulit merasa terikat, apalagi mengantisipasi hadirnya “momen besar” ketika sasaran mereka berhasil dicapai. Seolah, kita dibawa melaksanakan perjalanan panjang menaiki kuda (atau kerbau) di hamparan tanah kosong tanpa sesuatu untuk ditunggu.

Tentu Ario Bayu, dengan jenggot lebat, kulit sawo matang, dan riasan “kotor” di sekujur badan cocok sebagai huruf yang menghabiskan waktu usang tinggal di wild west, sementara Yoshi Sudarso, berbekal pengalamannya memainkan Koda/Ranger biru di Power Rangers Dino Charge, tampa meakinkan melakoni porsi laga. Jauh lebih meyakinkan dari kemampuannya melafalkan Bahasa Indonesia. Bisa dimaklumi mengingat bagi Suwo, Bahasa Indonesia bukan “bahasa ibu”, andai di ketika bersamaan, Jamar punya kapasitas tak jauh beda. Masalahnya, jarak di antara mereka terlalu lebar.

Pun kedua tokoh utama kita ini kalah menarik ketimbang jajaran pemain pendukung, termasuk para villain yang punya dandanan sekaligus sikap unik cenderung gila macam Alex Abbad dan Hannah Al-Rashid, yang walau muncul singkat, paling mencuri perhatian berkat performa over-the-top yang terang lebih menarik bila disejajarkan dengan para protagonis yang datar. Sunny Pang turut ambil bagian. Sayang, kemampuan bela dirinya disia-siakan, sebagaimana beberapa Van Trach beserta anak buahnya (kecuali Alex dan Hannah) gagal dimanfaatkan potensinya, tak diberi kesempatan memberi bahaya pada Jamar dan Suwo. Sekalinya antagonis di atas angin, kesan bila kedua protagonis bakal membalikkan keadaan dengan cepat nan gampang pribadi terasa. Di luar tokoh-tokoh yang terlibat baku hantam dan tembak, terselip Seruni, budak perempuan Van Trach, yang diperankan Happy Salma, yang menunjukkan akting dengan kepekaan rasa jauh mengungguli penampil lainnya.

Gelaran aksinya bukan rendah di kualitas, melainkan kuantitas. Terdapat elemen kekerasan dan hentakan di tiap-tiap aksi, yang meski dampaknya menurun akhir dibarengi perjuangan menghindari gunting sensor lewat penyampaian tak terlalu eksplisit, masih cukup efektif “menampar” guna menghilangkan kantuk yang disebabkan lemahnya narasi. Masalahnya yaitu pemilihan sudut yang digunakan Mike Wiluan. Beberapa “hook”, yang telah berkurang efektivitasnya lantaran keengganan direpotkan urusan sensor tadi, makin lemah ketika urung disokong sudut kamera yang mendukung. Kadang, apa yang harusnya terlihat justru di luar frame, apa yang mestinya diambil dari bersahabat justru dibungkus wide shot, vice versa. Ditambah minimnya kuantitas laga, bertambah melelahkan film ini.

Anda bisa berargumen bahwa banyak sekali judul western terbaik tak mempunyai banyak aksi. Betul, namun di antaranya, terdapat sesuatu untuk disampaikan, sebutlah informasi sosial, kemanusiaan, hingga problema personal. Buffalo Boys telah mempunyai pondasi guna melangkah ke sana. Selain kisah balas dendam, ini juga paparan soal kolonialisme, yang berujung tumpul ketika filmnya sebatas memberikan dari jauh, dari luar, tanpa menggiring kita masuk dan ikut merasakannya sendiri. Buffalo Boys bisa menjadi citra alternatif terhadap pertempuran skala kecil bersifat kedaerahan yang banyak meletus di tengah perang meraih kemerdekaan dahulu. Namun potensi itu karam bersama poin-poin dongeng yang berakhir sebatas latar bagi sebuah film melelahkan tanpa hal menarik di sela-sela hujan pelurunya.

Saya begitu menantikan Buffalo Boys lantaran variasi tema dipadu sumber daya kelas internasional miliknya. Memang film ini terlihat (cukup) mahal. Production value-nya layak dinikmati, tetapi tata suara, terlebih sewaktu karakternya mengucap dialog, kerap terbenam. Makara ya, entah dari perspektif aksi, nuansa western, maupun produksi berskala besarnya, film ini mengecewakan. Buffalo Boys merupakan kekecewaan terbesar tahun 2018.....sejauh ini.

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho 13: The Haunted (2018)

Ada masa di mana Rudi Soedjarwo termasuk salah satu sutradara kelas satu negeri ini. Menelurkan Ada Apa Dengan Cinta? (2001), Mengejar Matahari (2004), Pocong 2 (2006), hingga Mendadak Dangdut (2006), separuh awal 2000an yaitu bukti sahih. Setelahnya diisi inkonsistensi, meski judul-judul macam Garuda di Dadaku 2 (2011) dan Batas (2011) sesekali mengingatkan biar jangan memandangnya sebelah mata.  Rudi masih pencerita handal. Terbukti, walau diberi bekal medioker dalam 13: The Haunted, sang sutradara tetap bisa menghasilkan karya yang tak terbenam di lubang kehancuran menyerupai banyak horor lokal belakangan.

Saya sedikit was-was ketika gres menginjak detik pertama, sebelum tampak apa pun selain kredit, pendengaran ini sudah ditusuk-tusuk oleh volume musiknya. Padahal hanya denting piano, tapi gendang rasanya mau pecah. “Ah, satu lagi horor murahan yang asal melemparkan jump scare berisik.”, begitu pikir saya. Perkenalan dengan jajaran protagonisnya menguatkan prasangka itu. Mereka yaitu 7 dewasa yang karakteristiknya mentok di julukan masing-masing. Celsi (Valerie Thomas) misal, yang dipanggil “Si Logis” (or something like that). Hampir semua kalimatnya diawali “Logikanya....”.

Atau Farel (Atta Halilintar) si “Hip Hop Boy” yang gemar mengenakan kalung emas, jam tangan emas, cincin emas, walau aksesoris tersebut bekerjsama juga bisa diidentikkan dengan tante-tante girang. Sementara Rama (Al Ghazali) dipanggil “Mr. Perfect” meski bab mananya yang layak disebut sempurna, saya tidak tahu. Pastinya bukan akting Al Ghazali, yang 4 tahun pasca debut layar lebar di Runaway, masih sekaku batang kayu. Endy Arfian sebagai Garin si “Kentut Boy” lebih luwes dibanding rekan-rekannya, tapi sehabis Toni di Pengabdi Setan (2017), ini terang kemunduran.

Alkisah, mereka bertujuh, sebagai dewasa gaul masa sekarang yang terobsesi untuk jadi yang terdepan, merasa iri dengan kesuksesan kanal YouTube berkonten reality show horror milik The Jackal, yang sukses mengumpulkan jutaan penonton dalam waktu singkat. The Jackal sendiri terdiri dari sepasang kekasih, Joy (Achmad Megantara yang alhasil layak tonton pasca debut remuk redam di El) dan Klara (Mikha Tambayong), mantan kekasih Rama. Demi menyaingi The Jackal, mereka bertujuh pun nekat pergi menciptakan vlog ke Pulau Ayunan, daerah terjadinya pembantaian 13 bulan lalu.

Apabila terdengar menyerupai formula klasik “sekelompok dewasa pergi ke daerah terpencil kemudian diteror hantu yang ingin merenggut nyawa mereka”, itu lantaran 13: The Haunted memang mengedepankan kisah klise “sekelompok dewasa pergi ke daerah terpencil kemudian diteror hantu yang ingin merenggut nyawa mereka”. Satu hal yang saya sayangkan, walau tak mengejutkan, yaitu kegagalan naskah buatan pasangan suami istri Demas Garin dan Talitha Tan (The Secret: Suster Ngesot Urban Legend) membangun persahabatan berpengaruh antara tokoh-tokohnya. Mereka berpesta bersama, jalan-jalan bersama, selalu menghabiskan waktu bersama, namun tanpa gejala ikatan solid, lantaran interaksi yang terhampar pun tak cukup menarik untuk menciptakan kita peduli.

Untungnya, 13: The Haunted bukan horor nihil kisah yang menyamakan rentetan jump scare tanpa konteks dengan alur, kemudian mengumpulkannya sebanyak mungkin guna mengisi slot durasi. Bahkan, kuantitas jump scare film produksi ketiga RA Pictures ini ada di taraf normal alias secukupnya. Second act-nya digunakan menelusuri misteri yang tersimpan di Pulau Ayunan. Bukan misteri yang digarap apik, tapi keberadaannya berhasil dimanfaatkan Rudi Soedjarwo guna unjuk gigi kapasitas bertutur melalui tempo yang nyaman diikuti. Ketika ada huruf menyidik sebuah ketaknormalan dalam film horor, sudah jadi “kewajiban” sang sutradara melambatkan tempo untuk memunculkan ketegangan. Rudi melakukannya, tapi tahu kapan mesti mengakhiri itu supaya tidak berlarut-larut sehingga kehilangan momentum.

Soal menakut-nakuti, trik Rudi medioker. Hantu sekedar muncul tiba-tiba di layar, diam, berpose, sambil diiringi musik buatan Andi Rianto (Arisan!, Kartini, Critical Eleven), yang untungnya lebih variatif ketimbang asal berisik sebagaimana kerap dijumpai dalam horor kelas teri negeri ini. Musik Andi pun efektif memancing ketegangan pada third act yang kembali, menandakan kebolehan Rudi memainkan tempo. Bergerak cepat namun tidak terburu-buru, klimaksnya terbukti menyenangkan, apalagi ditambah riasan menarik garapan Cherry Wirawan dan Eba Sheba bagi hantu-hantunya. Anda bisa berargumen hantu-hantu itu terlihat kolam cosplay monster Kamen Rider, tapi terang jauh lebih niat dan imajinatif dibanding jajaran setan muka bubur bau yang kerap menjadi favorit sineas horor bangsa ini. Andai mitologi sarat misteri di balik angka 13 jadi poros utama, menyerupai ketika “13 Cara Melihat Hantu” menyokong klimaksnya. Bodoh, tapi menyenangkan. Setidaknya memancing keingintahuan terhadap hasilnya. Semoga 13: The Return bisa melakukannya.


Ini Lho Belok Kanan Barcelona (2018)

(Review ini mengandung SPOILER)
Belum ada film yang bisa membawa saya dalam hubungan cinta/benci menyerupai Belok Kanan Barcelona. Saya mengasihi caranya menuturkan betapa cinta sanggup mendorong seseorang berkorban meski harus menembus batas jarak dan waktu. Saya mengasihi caranya mendefinisikan “cinta sejati” sebagai seseorang yang selalu ada di samping pujaan hatinya tanpa memaksa balik dicintai. Saya pun mengasihi masing-masing huruf utamanya. Namun saya membenci ketika narasinya mulai terjun ke kepingan agama bahkan terkesan offensive di beberapa titik.

Mengadaptasi novel Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona karya Adhitya Mulya, Ninit Yunita, Alaya Setya, dan Iman Hidayat, filmnya mengisahkan persahabatan Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Yusuf (Deva Mahenra), dan Farah (Anggika Bolsterli) yang sekarang tinggal terpisah di empat negara berbeda. Francis yaitu pianis pemenang Grammy pertama asal Indonesia yang sekarang menetap di Los Angeles, Retno mengejar impiannya menjadi chef di Copenhagen, Yusuf mulai mendulang sukses di perusahaan di Cape Town, sedangkan Farah bekerja sebagai arsitek di Vietnam. Undangan janji nikah Francis dengan Inez (Millane Fernandez) di Barcelona memberi mereka alasan untuk bertemu lagi, walau satu sama lain tak mengetahui intensi tersebut.

Semua bermula dari masa SMA, tatkala persahabatan keempatnya mulai bersemi, demikian pula cinta. Francis menyukai Retno pun sebaliknya, Farah yang jadi kawasan curhat Retno juga tertarik pada Francis, sementara Yusuf, si “penyedia bahu” bagi kesedihan Farah, turut rahasia memendam rasa kepadanya. Apabila banyak film kita memposisikan kelulusan Sekolah Menengan Atas selaku pembuka, Belok Kanan Barcelona menempatkannya di tengah, sehabis terlebih dulu membawa penonton mengarungi flashback yang menyoroti dinamika empat tokoh utama semasa SMA, memantapkan pondasi huruf beserta persahabatan mereka. Naskah yang disusun Adhitya Mulya (Jomblo, Shy Shy Cat) apik dalam mempresentasikan manis sekaligus pahitnya mengasihi mitra sendiri, ketika pengungkapan perasaan kolam haram hukumnya demi menjaga kelanggengan pertemanan.

Departemen akting merupakan elemen terkuat filmnya. Morgan kharismatik menyerupai biasa sehingga gampang mendapatkan dikala Francis disukai dua gadis anggun walau detail penokohannya tak seberapa digali (baca: ia terkenal lantaran ganteng dan keren). Mikha mencurahkan emosi yang cukup meyakinkan untuk menjadkan ini performa terbaik sepanjang karirnya, tatkala Deva hasilnya memperoleh bahan yang pas guna memfasilitasi bakat komediknya. Tapi magnet terbesar berasal dari Anggika melalui formasi lisan gila dan ketiadaan urat aib dalam berlagak konyol termasuk merangkak di aspal, Farah merupakan tugas yang bakal membuka lapang jalannya meraih status bintang kelas satu.

Sampai sini, Belok Kanan Barcelona bisa jadi salah satu film Indonesia terbaik 2018. Tontonan yang konsisten memberi tawa dalam pengalaman menonton menyenangkan. Penyutradaraan Guntur Soeharjanto (99 Cahaya di Langit Eropa, Ayat-Ayat Cinta 2) pun cukup efektif membuat adegan emosional dikala melukiskan momen “crack-and-heal” suatu persahabatan.  Berbeda dibanding caranya menangani 2 film 99 Cahaya di Langit Eropa, latar luar negeri urung dieksploitasi sebagai lokasi basuh mata belaka, melainkan panggung pembuktian bahwa kekuatan cinta bisa mendorong seseorang melintasi dunia.

Mengesankan, sampai elemen religi menggedor masuk, yang awalnya dipicu perbedaan iman Francis dan Retno. Saya suka sebaris kalimat ucapan ayah Retno (Cok Simbara) yang kurang lebih berbunyi, “Apa kau tega membuat Francis harus menentukan antara kau (Retno) atau Tuhannya?”. Itu cara lembut untuk berkata “Jangan memacari orang berbeda agama”. Saya tak menyalahkan perspektif tersebut, alasannya kenyataannya, hal itu sulit dijalani di Indonesia. (Spoiler starts here) Saya pun tak mempermasalahkan konklusi sewaktu Francis hasilnya memeluk Islam. Apa pun alasannya (sebatas untuk menikah atau memang iman personal), itu cara paling kondusif semoga bisa menghabiskan hidup bersama.

Masalah mencuat dikala Belok Kanan Barcelona melukiskan orang Islam sebagai pemeluk agama luar biasa taat yang enggan berpindah iman demi janji nikah dan bersedia solat di tengah padang pasir, tetapi sebaliknya, Pastor dan Suster di tengah situasi mengancam kala mesin pesawat yang ditumpang meledak, malah bertingkah konyol, saling menyatakan cinta, merengek alih-alih memanjatkan doa, sehabis sepanjang perjalanan diperlihatkan sebagai orang-orang menyebalkan yang tak mempedulikan sekitarnya. Apabila cuma memunculkan salah satu (Muslim luar biasa taat atau mengolok-olok Pastor sebagai bahan komedi), tidak jadi masalah. Namun ketika dihadirkan bersamaan, secara otomatis tercipta komparasi jomplang yang begitu mengganggu. Sengaja atau tidak, hal itu menandakan ketidakpekaan para pembuatnya.

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Flight 555 (2018)

Membuat komedi itu susah. Apalagi bila spesifik, khusus menyasar problem atau setting tertentu. Seperti namanya, Flight 555 (seharusnya) merupakan komedi penerbangan dengan humor yang terfokus pada benda, peristiwa, dan orang-orang di pesawat. Adegan pembukanya melaksanakan itu, menggelitik lewat parodi terhadap ragam ciri penumpang: wakil rakyat sombong, orang yang gres pertama terbang dan bertingkah norak, pramugari yang bergerak hiperbolis kala menawarkan arah bangku. Melihat Meriza Febriani yang bagus dalam balutan seragam pramugari bertingkah demikian jadi anomali menyenangkan.

Memang perlu perjuangan ekstra bagi duo penulis naskah, Isman HS dan Raymond Handaya (juga sutradara) mengkreasi opening-nya. Dituntut berpikir keras tampaknya membuat pikiran mereka terforsir kemudian kering ide. Humor yang menyusul, khususnya sesudah pembajakan dimulai, tak lebih dari kebodohan seragam nan reptitif. Pembajakannya absurd. Putu (Tarra Budiman) yang pulang ke Bali demi menemui sang ayah yang sakit keras menemukan pistol di toilet pesawat, sempurna sebelum seorang Sunda dengan koteka (Anyun Cadel) dan seorang Papua (Abdur Arsyad) membajak pesawat menggunakan panah. Tidak usang kemudian muncul satu lagi pembajak yang mengenakan bom. 
Merasa perlu bertindak, Putu menggunakan pistol yang ia temukan untuk berpura-pura ikut membajak pesawat guna mengkonfrontasi ketiga pelaku. Absurd dan penuh perjuangan melucu, namun skenarionya bukan menitikberatkan pada situasi, melainkan karakter. Ketimbang membuat absurditas menurut rutinitas penerbangan menyerupai dilakukan Airplane! yang tampaknya memberi imbas besar (romansa dengan pramugari, konflik terkait mantan kekasih, keracunan makanan, pembersih beling pesawat, kemiripan pilot dengan sosok ternama), Flight 555 mengutamakan biar beberapa tokohnya bertindak sebodoh mungkin.
Anyun Cadel misalnya, diminta melontarkan pernyataan ngawur terus menerus sampai ke titik membosankan, bahkan menyebalkan. Sebaliknya, begitu banyak huruf malah sama sekali tidak berstatus tokoh komedik. Rusmedie Agus yaitu antagonis super serius, Tarra Budiman selaku protagonis hanya konyol di awal sewaktu status jomblonya jadi materi olok-olok, pula Mikha Tambayong yang tersia-siakan talentanya. Raymond urung memahami potensi Mikha melakoni komedi deadpan serupa yang ditunjukkan dikala merespon kecerobohan supir yang membuat lipstiknya awut-awutan di awal kemunculan.

Terlalu banyaknya huruf plus situasi serius menyiratkan hilang arahnya film ini. Pembajakan diposisikan kolam kenyataan selaku situasi hidup-mati alih-alih sekedar parodi pengundang tawa di tengah premis absurd. Tapi di dikala bersamaan, Flight 555 juga menggelontorkan lawakan di luar nalar. Inkonsistensi tone pun hadir. Absurditas komikal yang tak mempedulikan logika bertabrakan, gagal membaur dengan komponen suspens dan dramatik. Anda pun dapat memindahkan setting Flight 555 ke mana saja. Bus, perahu, kapal selam. tinggal pilih. Pertanda filmnya gagal memanfaatkan kekhasan setting.