Showing posts with label Miles Teller. Show all posts
Showing posts with label Miles Teller. Show all posts

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Only The Brave (2017)

Pada masa di mana banyak penjahat kemanusiaan menggenggam kekuasaan menyerupai sekarang, segala bentuk heroisme, tanpa peduli oleh siapa atau sekecil apa, patut diceritakan dan dirayakan. Only the Brave, yang menandai peralihan sutradara Joseph Kosinski dari gelaran fiksi ilmiah (Tron: Legacy, Oblivion) menuju paparan kepahlawanan lebih membumi termasuk salah satunya. Mengangkat kisah positif perihal pemadam kebakaran hutan Granite Mountain Hotshots kala berjuang menaklukkan api di Yarnell pada 2013, film ini yaitu penghormatan menggugah yang tak lupa memanusiakan objeknya.

Dipimpin oleh Eric Marsh (Josh Brolin), Granite Mountain Hotshots mengawali karir mereka dari trainee yang diremehkan, hingga kesudahannya berkesempatan menunjukan kapasitas dan menerima status elit (Hotshots). Turut bergabung belakangan yaitu Brendan "Donut" McDonough (Miles Teller), mantan pecandu yang berniat memperbaiki diri pasca sang kekasih mengandung anaknya. Para laki-laki pemberani ini memang tak sendiri. Keluarga, dari kekasih, istri, anak, orang tua, setia berdiri di samping memberi dukungan. Ini bukan saja soal memadamkan api, juga perihal orang-orang terkasih.
Itu sebabnya 133 menit durasi tidak cuma diisi agresi memadamkan api   yang terlihat meyakinkan berkat tata lokasi apik plus CGI sempurna guna meski hanya punya bujet $38 juta   juga drama intim terkait keluarga, dengan penempatan fokus untuk Donut dan Eric, yang hidup berdua bersama istrinya, Amanda (Jennifer Connelly). Khususnya hubungan Eric-Amanda, naskah karya Ken Nolan (Black Hawk Down, Transformers: The Last Knight) dan Eric Warren Singer (American Hustle) cermat membangun konflik secara natural. Progres bergerak dari harmoni sepasang suami istri menuju perbedaan pandangan pemicu perdebatan yang disusun sedikit demi sedikit melalui rangkaian pembicaraan.

Akting memegang kunci keberhasilan interaksi. Melihat Brolin si pemimpin tangguh di lapangan bertukar obrolan dengan Connelly yang mengatakan kekuatan seorang perempuan berdikari layaknya memasuki ruang personal yang mengikat. Demikian pula ketika dua bintang film penuh kematangan, Brolin dan Jeff Bridges menghadirkan anutan perbincangan nikmat. Miles Teller dengan kelembutan non-verbal menyerupai dikala memeluk sang buah hati ditambah luapan emosi yang menyesakkan dada di penghujung film berhasil mengimbangi seniornya. Begitu pula Taylor Kitsch sebagai MacKenzie beberapa kali memancing tawa, menunjukan ia punya jangkauan akting lebih luas.
Solidnya departemen akting dan naskah menutupi fakta bahwa Kosinski belum cukup andal menangani kehangatan situasi dalam drama, apalagi ketika terdapat selipan humor. Beberapa pengadeganan canggung hingga transisi bernafsu yang menjadikan kurang lembutnya perpindahan tone. Untungnya, mencapai pertengahan lubang-lubang di atas tak lagi muncul. Narasi bergerak lancar menyatukan sensitivitas kisah kasih keluarga dan kepahlawanan sambil sesekali diselingi gelak tawa penyegar suasana. Kita dibentuk mengenal betul para tokoh utama, yang mana jadi bekal menjelang klimaks.

Baik untuk penonton yang telah mengetahui konklusi insiden nyatanya maupun yang belum, third act film ini sungguh mengobrak-abrik emosi. Selain kepedulian pada karakter, kesudahannya penyutradaraan Kosinski menemukan taji, perlahan membangun ketegangan ketika misi pemadaman api di Yarnell yang awalnya dipandang gampang mulai mencuatkan satu demi satu rintangan bagi Granite Mountain Hotshots. Puncaknya yakni satu shot pasca kebakaran berlalu, yang berkat sinematografi Claudio Miranda (Life of Pi, Oblivion), bisa mencabik-cabik perasaan. Sebagaimana jasa Granite Mountain Hotshots yang selalu dikenang, shot tersebut takkan gampang hilang dari ingatan. Heartbreaking.

Ini Lho Thank You For Your Service (2017)

Hingga kini, PTSD (Posttraumatic Stress Disorder) masih merupakan kasus yang menghantui para veteran perang. Setelah berbulan-bulan bahkan tahun bertaruh nyawa, peluru berdesing di sekitar mereka, ranjau sanggup meledak kapan saja, mendapati rekan seperjuangan tewas di depan mata, pulang bukan kasus sederhana. Kasus yang jumlahnya tidak kunjung berkurang, serta   khususnya di Amerika   perhatian minim dari pemerintah jadi alasan banyaknya film mengangkat tema tersebut. Termasuk Thank You For Your Service selaku pembiasaan buku non-fiksi berjudul sama karya David Finke, yang walau mengikuti contoh familiar, tetap punya urgensi untuk disimak.

Naskah goresan pena Jason Hall (merangkap sutradara) mengikuti pakem, membuka kisah dengan sekilas insiden yang mencederai salah satu tentara Amerika Serikat di Irak. Merasa bertanggung jawab atas insiden itu, Sersan Adam Schumann (Miles Teller) dirundung kegundahan meski telah berkumpul bersama keluarga di rumah. Masalah turut dialami dua sahabat Adam, Tausolo Aieti (Beulah Koale) dan Billy Waller (Joe Cole). Tausolo yang merasa militer menyelamatkan hidupnya, terpukul kala permintaannya kembali bertugas ke Irak ditolak akhir cedera otak. Sedangkan Billy harus mendapatkan fakta sang tunangan pergi meninggalkannya. 
Dari segala sisi, Thank You For Your Service urung mengatakan presentasi baru. Bahasan kemanusiaannya berkutat di konflik familiar seputar batin karakter, pun tanpa penelusuran lebih dalam dibanding film lain bertema serupa. Sementara kritik terhadap sistem, juga lepas tangan pihak militer dalam mengurusi veteran tersaji tumpul. Kita melihat petugas yang judgemental dan lebih tertarik belanja steak online ketimbang membantu, juga pertanyaan kuisioner yang rentan mengembalikan memori traumatis. Tapi semua digantung begitu saja, nihil resolusi, tamparan keras atau setidaknya pertanyaan lebih lanjut.

Di lain pihak, ketiadaan kritik bernuansa politis membantu filmnya fokus bercerita perihal tindakan menangani veteran perang pengidap PTSD. Butuh penanganan ahli, namun Thank You For Your Service menekankan kiprah orang terdekat (istri, kekasih, sahabat) serta komunitas terkait (sesama kerabat veteran). Kuncinya di komunikasi. Kalimat "you need to talk about it" kerap diulang guna menegaskan makna. Klise memang, namun kesan formulaik satu ini sanggup diterima mengingat itulah bentuk solusi fundamental sekaligus terpenting. 
Tak seberapa berpengaruh di naskah, Hall unjuk gigi melakoni debut penyutradaraan. Selaras dengan tujuan menghargai objeknya, ia  menolak gaya melodrama. Air mata tumpah, kerapuhan membuncah, namun Hall tak menggambarkan prajurit sebagai sosok lemah. Tidak perlu momen dramatis untuk memancing emosi, cukup kesederhanaan menusuk ibarat kala Saskia (Haley Bennett) menemukan kuisioner yang diisi Adam, dan di dikala bersamaan melihat sang suami riang bangga bermain bersama puteri mereka. Adegan ini relevan, citra sempurna target mengenai seseorang dengan tendensi bunuh diri yang dari luar tampak bahagia. Harapannya, timbul kesadaran penonton akan kondisi tersebut.

Melanjutkan performa menawan di Only the Brave, Miles Teller seutuhnya menghayati konflik mental Adam, memusatkan akting pada detail gestur-gestur kecil (misal gerakan tangan berulang) penyusun kondisi psikis tokohnya yang penuh kecemasan. Ikut mendampingi ialah Haley Bennett dengan puncak penampilan berupa tawa kecil di tengah tangis dalam adegan konseling. Respon natural Haley mengokohkan korelasi Adam-Saskia sebagai pasangan suami istri yang saling mencintai, sekaligus menghantarkan dinamika emosi. Ada pula Beulah Koale lewat konsistensi pancaran getir dari ekspresi yang menjaga biar penonton selalu bersimpati kepada para veteran perang.