Showing posts with label Muhadkly Acho. Show all posts
Showing posts with label Muhadkly Acho. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Dimsum Martabak (2018)

Meniliki judulnya, masuk akal menerka Dimsum Martabak ialah suguhan foodporn penuh pertunjukan masak-memasak dan menyajikan makanan, yang berkat estetikanya, tak cuma menyegarkan mata, juga memancing kucuran air liur. Tapi tidak. Sutradara Andreas Sullivan (Revan & Reina, Sawadikap) enggan mengedepankan itu, atau mungkin telah berusaha, namun alasannya ialah ia dan Fachmi J. Saad (Hongkong Kasarung, Winter in Tokyo) selaku penata kamera kurang mumpuni, sasaran yang dicanangkan urung tercapai. Dimsum dibuat, martabak disajikan, tapi seluk beluk pengolahan hanya terjadi di belakang layar, menciptakan produksi kedua RA Pictures ini belum layak disebut foodporn.

Dimsum Martabak cenderung menyusuri jalur yang dibentangkan formula klasik “Kisah Cinderella”, di mana gadis (atau puteri) miskin bertemu lelaki (atau pangeran) kaya, meski ketimbang kuda putih, sang pangeran sekarang menunggangi truk martabak kuning kemudian Ferrari merah. Walau untuk menyebut Mona yang diperankan Ayu Ting Ting, dengan riasan lengkap apik, bukan norak, yang senantiasa menghiasi wajahnya sebagai “gadis miskin” terasa sulit dipercaya. Tidak peduli ia sekedar pelayan terpercaya di restoran milik Koh Ah Yong (Chew Kin Wah) yang menyajikan dimsum sebagai sajian andalan.

Jika Mona ialah “si dimsum”, maka siapakah “si martabak”? Perkenalkan Soga (Boy William) yang menjual martabak menggunakan truknya bersama Dudi (Muhadkly Acho). Dodi, sebagaimana teladan sidekick yang baik, bisa mencuri perhatian melalui celotehan-celotehan serta tingkah menggelitik, yang jadi motor paruh pertama filmnya, menghadirkan hiburan ringan menyenangkan sebelum dimsum dan martabak bersatu. Pada romansa berbasis “kisah Cinderella” begini, tiga fase patut diperhatikan: 1) Bagaimana kedua protagonis mulai saling terpikat walau ada jurang perbedaan, 2) Bagaimana cinta keduanya menguat, 3) Bagaimana perbedaan tadi menciptakan keduanya ragu bisa terus bersama sebelum dipersatukan kekuatan cinta. Penonton harus dibentuk yakin oleh ketiga fase di atas.

Fase pertama terjadi kala Mona, yang kebetulan di suatu malam mengenakan baju yang lebih bagus dari biasanya, menyeberang jalan dan nyaris tertabrak truk milik Soga yang hanya bisa membisu terpukau, sementara Mona, meski terkejut alasannya ialah nyaris celaka, merespon setenang mungkin, sembari tersenyum memasang lirikan cantik. Tidak mengherankan. Dia ialah gadis yang terbangun pukul 1 dinihari menggunakan riasan lengkap termasuk bulu mata lentik. Dibalut gerak lambat, pertemuan pertama dua sejoli tak bisa “lebih sinetron” dari ini.

Singkat cerita, kecemburuan istri kedua Koh Ah Yong mengakibatkan Mona dipecat, dan alasannya ialah Soga telah terpikat, gampang baginya mendapatkan Mona bekerja di warung martabaknya sebagai perancang sistem. Dalam sebuah adegan yang terang terinspirasi (kalau enggan disebut mengambil) dari The Founder (2016), Mona mengajarkan sistem buatannya di tengah lapangan yang digambari menggunakan kapur. Bedanya dengan film biografi Ray Kroc itu, adegan versi Dimsum Martabak takkan membuatmu terpukau, alasannya ialah ide Mona sekedar common sense ketimbang terobosan jenius, pun pengemasan Andreas gagal menjadikannya momen intens yang melibatkan penonton dalam proses perencanaan.

Rasanya tidak mengejutkan ketika saya menyebut duet Ayu-Boy kekurangan chemistry. Keduanya sebatas pasangan berparas rupawan tanpa jangkauan emosi luas yang diperparah penokohan dangkal dari naskah buatan Alim Sudio (Kuntilanak, Ayat-Ayat Cinta 2). Mona ialah gadis sederhana yang memahami sistem warung makanan, Soga ialah bocah kaya yang menolak meneruskan bisnis ayahnya (Ferry Salim) demi harapan pribadi. Itu saja. Nihil karakterisasi spesifik pemberi daya tarik kala berinteraksi. Memang sulit berharap pada naskah yang dalam dialognya menulis “pesan order” dan “paling terberat”. Walau bukan tak mungkin dua istilah asing itu dikarang sendiri oleh Ayu, sebagai teladan betapa ia masih kerepotan menangani kalimat-kalimat pada debut layar lebarnya.

Konflik puncaknya sederhana, bahkan berjalan datar hasil penyutradaraan Andreas yang kurang piawai membangun dinamika dramatis juga ketidakmampuan naskah menyelipkan permasalahan kompleks yang ditutup oleh resolusi kental penggambangan. Babak balasannya berpindah ke setting berbeda, tapi ketika itu saya sudah kesulitan membuka mata. Ya, ini lebih pantas ditayangkan di televisi, tapi kalau anda tak mengharapkan tontonan bergizi, filmnya masih menjadi hiburan yang layak dengan segala keklisean dan elemen cheesy miliknya. Masalah terbesar bukan terletak di kedangkalan maupun kebodohan cerita, melainkan ketiadaan dinamika. Dimsum Martabak bukan bencana. Cuma santapan membosankan.

Ini Lho Bodyguard Ugal-Ugalan (2018)

Membuat film komedi itu berat, di mana penulis dituntut mengawikan humor dan jalan kisah agar saling mengisi, saling melengkapi, bukan bangkit sendiri-sendiri. Beberapa film mencoba dan gagal, beberapa lainnya cukup apik walau kurang maksimal, namun hanya sedikit yang mencoba kemudian sepenuhnya berhasil. Tapi Bodyguard Ugal-Ugalan—yang tak berkaitan dengan Security Ugal-Ugalan (2017) kecuali pada kemiripan judul juga tim produksi serupa—justru menentukan tak mencoba sama sekali. Oleh Ferdy K selaku penulis skneario, pondasi berjulukan “narasi” hampir semuanya dibuang. Bahkan sulit menyebut ini “film”, khususnya pada second act yang cuma diisi sketsa-sketsa pendek yang dijahit paksa.

Terinspirasi gaya Warkop DKI, sekuen pembuka berupa gugusan kejadian komikal digunakan guna memperkenalkan kita pada kelima bodyguard ugal-ugalan: Boris (Boris Bokir), Acho (Muhadkly Acho), Lolox (Lolox), Anyun (Anyun Cadel), dan Jessica (Melayu Nicole). Mereka bekerja di perusahaan penyedia jasa keamanan milik Erin (Tamara Bleszynski). Berbekal kebodohan masing-masing, kenapa mereka justru ditugasi menjaga Syahrini (Syahrini mudah tidak berakting) yang tengah sering mendapatkan terori? Sederhana. Sang “diva manjah” enggan dijaga bodyguard bertampang seram.

Beberapa gaya humornya boleh terinspirasi Warkop DKI, namun meski kerap acak, lawakan trio legendaris tersebut selalu berada dalam satu lingkup. Sebutlah kekonyolan (atau parodi) kegiatan detektif, polisi, pegawai hotel, mahasiswa, bahkan memasuki abad Soraya yang identik akan cewek seksi, humornya pun tetap terpusat, yaitu soal pantai. Dalam Bodyguard Ugal-Ugalan, kelucuan bukan hanya di sekitaran kehidupan bodyguard. Simak adegan Boris-Acho-Lolox-Anyun bercengkerama di kamar membicarakan masa lalu. Kita dilempar menuju satu demi satu flashback, yang lagi-lagi sekedar kumpulan sketsa, dengan tema dagelan luar biasa acak, membentang dari olahraga sampai matematika. Judulnya sanggup diganti menjadi Paspampres Ugal-Ugalan, dan itu takkan memberi efek signifikan.

Kesimpulannya, Bodyguard Ugal-Ugalan bahkan gagal memenuhi standar filmis. Tapi kemudian saya bertanya pada diri sendiri. “Apa tujuan komedi?”. Memancing tawa tentu saja. Apa film ini menciptakan saya tertawa? Ya, dan bukan di satu-dua momen saja. Saya tertawa dikala Boris melontarkan celetukan seenaknya (“tsunami cendol” jadi favorit saya), pula sewaktu Lolox tertipu oleh pintu toilet palsu sebagaimana telah nampak di trailer. Sebuah humor lama, nihil terobosan, receh, tetapi efektif. Walau saya tidak sekalipun dibentuk tertawa melihat Melayu Nicole, yang keberadaannya kolam sebatas eye candy, urung diberi kesempatan meucu. Kasihan dia. Tampak terasing dan tersesat di antara keempat pelawak yang mulus menjalankan tugas.

Terpenting, saya tertawa tiap kali Syahrini memamerkan personanya yang fenomenal itu. Menonton Princess Syahrini beraksi, penonton diingatkan bahwa image konyol, norak, dan serba berlebihan itu sejatinya taktik marketing cendekia kalau enggan disebut jenius. Penuh totalitas pula kreativitas, apalagi bila dipandang menggunakan perspektif komedi. Tidak setuju? Coba jawab pertanyaan ini: Berapa banyak selebritis sekaya Syahrini soal koleksi catchphrase ikonik? Tidak banyak kalau bukan tidak ada. Mungkin ia bukan seniman hebat, namun terang penghibur (entertainer) kelas wahid, dan skenario beserta penyutradaraan Irham Acho Bahtiar (Epen Cupen the Movie, Security Ugal-Ugalan) mengeksploitasi itu secara sempurna guna. Saya tantang anda menahan tawa kala menyaksikan adegan “masker”.

Belum lagi lagu-lagunya. Oh Tuhan, lagu-lagu itu. Hanya ada dua lagu. Satu lagu usang (Seperti Itu?), satu lagi gres (Gubrak Gubrak Gubrak Jeng Jeng Jeng). Keduanya diputar berulang-ulang, dan bukan hiperbola kalau saya katakan salah satunya niscaya terdengar 10 menit sekali. Otak saya menyadari repetisinya berlebihan, namun hati ini berkata lain. Saya terus tersenyum, lip syncing, pun menggoyangkan sedikit bab badan setiap “mantra” absurd berbunyi “Boom, shake shake shake, boom!” atau “Gubrak gubrak gubrak, jeng jeng jeng” menerjang telinga.

Komposisi third act-nya lebih terstruktur, dengan alur berfokus pada perjuangan para bodyguard menyelamatkan Syahrini dari penculik. Humornya pun setia dalam lingkup perjuangan tersebut. Sampai filmnya bagai enggan berusaha menghadirkan konklusi layak pasca sebuah twist (yang secara tidak mengejutkan) bodoh. Bicara unsur sinematik, Bodyguard Ugal-Ugalan terang layak menjadi salah satu yang terburuk tahun ini. Tapi kembali, film ini mencapai hakikatnya selaku komedi. Saya (dan sebaiknya anda juga) tiba sebatas ingin tertawa serta dihibur. Apakah itu yang saya sanggup dan rasakan? Oh yeah! Bodyguard Ugal-Ugalan bakal mengHEMPASKAN kepenatan penonton melalui cara luar biasa MANJAAH. Seperti itu.

Monday, November 5, 2018

Ini Lho 5 Pemuda Jagoan: Rise Of The Zombies (2017)

5 Deadly Angels. Begitu judul internasional untuk 5 Cewek Jagoan (1980) karya Danu Umbara. Tentu para protagonis 5 Cowok Jagoan buatan Anggy Umbara, putera Danu, kurang pas disebut "Deadly", lantaran daripada membantai lawan, mereka lebih banyak memamerkan kekonyolan. Bahkan Reva (Cornelio Sunny) yang andal mengayunkan katana bukan laki-laki berperilaku normal. Dia kolam sufi cinta hening yang tersenyum bijak menyikapi semua hal, tapi berkembang menjadi parodi tokoh anime tiap kepalanya terbentur, lengkap dengan rambut lancip dan logat Jepang dengan artikulasi kacau. 

Kelima pendekar kita asing luar dalam. Dedi (Dwi Sasono) yang berkepala botak tanggung, berperut gendut ialah pelupa akut yang melupakan ulang tahun istri dan anaknya. Danu (Arifin Putra) merupakan dukun palsu dengan alis menyatu. Lilo (Muhadkly Acho) si anak mama gemar ber-cosplay tidak pada tempatnya. Sementara Yanto (Ario Bayu), selain berambut kribo rupanya seorang pemimpi di siang bolong. Berkata punya pekerjaan mentereng padahal cuma cleaning service, kemudian mengaku berpacaran dengan Dewi (Tika Bravani), rekan sekantor yang bahkan jarang ia ajak berinteraksi. Tapi korelasi Yanto-Dewi lah aktivis alur film ini.
Dewi diculik oleh sindikat misterius. Demi menyelamatkan sang pujaan hati, Yanto menagih kesepakatan keempat sobat masa kecilnya. Janji yang bahkan tidak diingat jelas, di mana mereka menyimpan memori berbeda akan masa kemudian itu sesuai kepribadian masing-masing. Kepribadian yang sebatas disusun oleh ciri komedik: Dedi pemalas yang ingin mendapat televisi, Danu mata duitan, Lilo anak manja, Yanto pengkhayal dan penakut, Reva pecinta ketenangan dengan tutur kata bijak. Kepribadian yang semata berfungsi memicu tawa penonton.

Komedi wajib lucu, tapi 5 Cowok Jagoan  ditulis oleh Anggy Umbara, Isman HS, Arie Kriting  berusaha mati-matian menciptakan penonton tertawa. Memakai visual gags lewat tampilan abstrak tokohnya hingga komedi situasi hasil tingkah laris mereka, Anggy ingin penonton tergelak di semua kesempatan, hingga terkadang terasa berlebihan. Tidak berhenti di situ, kita juga diberi tahu kapan mesti tertawa melalui iringan pengaruh bunyi yang sudah lewat masa keemasannya selaku suplemen komedi. Anggy memerah habis-habisan potensi humornya, menghasilkan inkonsistensi. Kerap gagal, tapi sekalinya berhasil, sulit menahan ledakan tawa. 
Apalagi setiap Cornelio Sunny bicara layaknya tokoh-tokoh dalam Crows Zero. Beberapa waktu lalu, saya menyaksikannya tampil depresif kemudian bercinta dengan jeep di Mobil Bekas buatan Ismail Basbeth. Serupa Abimana di Warkop DKI Reborn atau Reza Rahadian di My Stupid Boss, melihat pemain film "dramatik" mencoba tugas konyol (dan sukses) selalu menyenangkan. Begitu pula Ario Bayu dengan cara menodongkan pistol yang tak ubahnya James Bond kehilangan kewarasan atau Ganindra Bimo dengan bebeknya. Itulah sebab, walau totalitas Dwi Sasono kembali menghibur, kedua nama tadi lebih mencuri perhatian. 

Penampilan berkesan lain berasal dari Nirina Zubir. Berbeda dengan para pria, Nirina sebagai Debby tampil serius, mengundang decak kagum ketika secara meyakinkan menangani porsi laga. Bersama Tika (dan tiga aktris lain yang diungkap di penghujung film), Nirina membangun jembatan menuju remake 5 Cewek Jagoan, yang tampaknya bakal fokus pada aksi, menekan kadar komedi. Menjanjikan, mengingat kapasitas Anggy merangkai sabung penuh gaya, ibarat tampak dalam 3 (Alif, Lam, Mim), lebih mumpuni ketimbang komedi. 5 Cowok Jagoan sendiri tidak jauh beda, asyik berkat dosis gaya plus pemakaian CGI secukupnya, termasuk dalam mengemas para zombie memasuki paruh kedua. 5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies mungkin tak mulus mengalir, tapi saya tak ingin hiburan ini cepat berakhir.