Showing posts with label Natasha Gott. Show all posts
Showing posts with label Natasha Gott. Show all posts

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Petak Umpet Minako (2017)

Hitori Kakurenbo. Mendengar namanya saja bulu kuduk pribadi berdiri. Banyak permainan mistis lain, termasuk Jailangkung di Indonesia, tapi permainan terkutuk asal Jepang ini paling tepat mendefinisikan kata "horor". Sejak kecil saya menganggap petak umpet punya ketegangan di tingkat berbeda sebab perasaan tidak berdaya sebagai sasaran yang hanya sanggup bersembunyi. Tambahkan kegelapan lokasi, kesendirian, makhluk halus, dan kematian sebagai harga kekalahan, lengkap sudah ketakutan fundamental manusia. Menarik garis kultural, dalam konteks film, ciri serupa pun jadi khas J-Horror yang mengandalkan atmosfer. 

Petak Umpet Minako karya sutradara/penulis naskah Billy Christian (Rumah Malaikat, Tuyul Part 1) mengetengahkan reuni Sekolah Menengan Atas yang berujung mencekam tatkala Vindha (Regina Rengganis), mengajak teman-temannya kembali ke sekolah usang untuk bermain hitori kakurenbo. Tujuannya tak lain membalas bullying yang ia terima dahulu, modal kisah sekaligus penokohan berpengaruh yang gagal Billy perdalam, berakhir di permukaan. Memakai boneka Minako milik Vindha selaku perantara, olok-olokan ketidakpercayaan berubah jadi teriakan dikala Minako sungguh-sungguh "hidup", membantai mereka satu per satu. 
Keengganan Billy mengumbar jump scare (kelemahan terbesar Rumah Malaikat) patut diapresiasi. Dibiarkannya alur mengalir tanpa diganggu penampakan murahan lima menit sekali. Berkatnya, Minako terjaga sebagai sosok gaib misterius yang kemunculannya berarti. Sayangnya amunisi alternatif urung disiapkan, sebutlah atmosfer mencekam yang menciptakan video hitori kakurenbo   meski keasliannya diragukan  viral beberapa tahun lalu. Video itu berhasil sebab pementingan rasa klaustrofobik hasil ketakutan seseorang yang terjebak sendirian di tengah kesunyian. Sedangkan Petak Umpet Minako, meski karakternya terkurung di sekolah, sanggup berlari ke area lain yang cukup luas, banyak alternatif persembunyian, serta beberapa teman. Di semua unsur, filmnya lebih besar pula ramai dibanding permainan yang jadi sumber inspirasi, dan itu menurunkan kengerian secara drastis.

Petak Umpet Minako mengandung potensi terkait gaya horor Jepang, juga detail permainannya. Ketiadaan atmosfer pekat terperinci menanggalkan nuansa J-Horror, dan Billy tampaknya memang enggan bereksplorasi ke sana, sehingga walau meminimalisir jump scare, sisi generik masih menyelimuti. Ditambah "gore malu-malu" yang sekedar disiratkan melalui percikan darah, filmnya semakin kekurangan taji. Turut sirna impian digiring menelusuri hitori kakurenbo. Ketimbang menebar misteri di penjuru durasi guna memancing pertanyaan pemicu ketertarikan, kita justru diberi paparan ringkas berbentuk eksposisi malas, bagai sekedar memindahkan bahan riset dari internet ke buku harian Vindha, yang kemudian dibacakan oleh Baron (Miller Khan) selaku isu ala kadarnya bagi penonton.
Tanpa sentuhan-sentuhan di atas, Petak Umpet Minako hanya menyisakan perjuangan tokoh-tokohnya melarikan diri, itu pun nihil ketegangan akhir tidak adanya alasan peduli pada mereka. Vindha si korban bully, Randy (Nicky Tirta) yang menyimpan rahasia, Gaby (Wendy Wilson) yang dikuasai trauma, Mami (Natasha Gott) si penindas, Destra (Gandhi Fernando) si pengikut Mami yang tak kalah "kejam", semua pion dua dimensi belaka. Miller Khan sebagai Baron, kekasih Gaby, sanggup menjadi protagonis mumpuni andai perawakan "menjual" miliknya diimbangi akting dan penokohan kuat. Usaha mendekatkan penonton dengan abjad lewat obrolan (terlalu) panjang, alih-alih membangun momen personal justru membosankan, dipicu dangkalnya karakterisasi dan penulisan dialog. Apalagi banyak konten pembicaraan sejatinya tak perlu. Petak Umpet Minako terlampau mengandalkan eksposisi verbal.

Kental aspek kultural Jepang, film ini mestinya sanggup menjadi pembeda, angin segar di tengah semarak horor yang kembali menancapkan kuku di industri perfilman tanah air namun hanya segelintir punya kualitas baik (sejauh ini gres The Doll 2). Apa daya, unsur kultural tersebut berujung sampul luar semata. Unlike most of our horror movies this year, 'Petak Umpet Minako' doesn't rely on excessive, annoying jump scare, yet lacks of the scare itself, also short on thrills. Sangat disayangkan mengingat setumpuk modalnya, termasuk Minako yang sebetulnya amat potensial jadi sosok ikonik.

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Kendaraan Beroda Empat Bekas Dan Kisah-Kisah Dalam Putaran (2017)

Serupa ragam isu-isu di dalamnya, Mobil Bekas akan mengejutkan penonton kemudian memancing perbincangan, tukar opini sengit yang mungkin takkan mencapai titik temu sekalipun sang sutradara/penulis naskah Ismail Basbeth telah melangkah ke karya berikutnya di masa depan. Diproduksi melalui crowdfunding dari puluhan nama yang memperoleh kredit co-producers, film ini merupakan kumpulan fragmen berbentuk kisah-kisah simbolik yang merangkum permasalahan Indonesia semenjak dulu sampai kini, tepatnya keresahan Basbeth terhadapnya. Jika kendaraan beroda empat jeep bekas merupakan negara, maka para penumpang menjadi rakyatnya. 

Akuntan (Cornelio Sunny) yang bercinta dengan mobilnya, trio grup band perempuan (Dea Ananda, Shalfia Fala Pratika, Leilani Hermiasih) yang membicarakan konsep ketuhanan dan alien sepanjang perjalanan, sepasang suami istri beda usia (Karina Salim, Yan Widjaya) yang berbulan madu di kebun binatang, pelacur yang ingin lari dari kehidupannya (Natasha Gott), pertemuan perempuan (Sekar Sari) dengan sesosok hantu gentayangan (Verdi Solaiman), sampai protes dua petani (Giras Basuwondo, Ibnu 'Gundul' Widodo) pada pemerintah selaku mediator tiap kisah yang terus berputar sementara si kendaraan beroda empat bekas menjadi saksi. 
Mengingatkan kepada film pendeknya, Shelter (2011), Basbeth membiarkan gambar olahan D.o.P. Satria Kurnianto bicara. Dilakukannya pengamatan situasi di tengah kesunyian plus take panjang satu sudut kamera yang menangkap tindak-tanduk insan dalam gerak mekanis kendaraan. Semakin usang diamati, kehampaan adegan menjadi penuh. Penuh kesedihan, amarah, kebimbangan, sesekali keceriaan. Tidak lupa, Basbeth menyelipkan "hook" alias momen menghentak penggaet atensi penonton di masing-masing keping cerita, entah beraroma sensual, brutal, atau kejutan menyerupai penampakan dadakan nan mengerikan Verdi Solaiman. 

Kamera boleh minim gerak, namun tiada monotonitas. Di antara dominasi gambar statis ada pilihan sudut-sudut menarik hasil kreasi Satria Kurnianto, khususnya kala merekam bentangan alam dan malam kelam minim cahaya buatan, yang makin menghipnotis dikala pilihan aspek rasio lebar 2.35 : 1 seolah enggan melewatkan satupun pemandangan. Basbeth memang sutradara penuh gaya. Beberapa mendukung maksud (tata bunyi segmen suami istri beda usia menguatkan kesan alienasi), beberapa sebatas pelengkap kurang substansial, tapi setidaknya mempercantik estetika. 
Mobil Bekas jelas dimaksudkan sebagai tontonan multitafsir selaku bentuk kesediaan Basbeth menghargai heterogenitas duduk kasus yang penonton alami selaku warga negara Indonesia. Ini tepat, mengingat satu isu, contohnya sosial-politik saja bisa dimaknai berbeda, melahirkan perspektif tak sama. Dari sini terjadi transfer, di mana curahan personal pembuat film menjadi personal pula bagi penonton. Ikatan seksual sang akuntan dengan kendaraan beroda empat bisa nampak sebagai ungkapan kerinduan bagi satu pihak, bisa juga sindiran atas materialisme di mata pihak lain. Dendam kesumat si perempuan yang bertemu hantu gentayangan pun sanggup berkembang ke arah paparan peristiwa bernada rasialisme. 

Pada pemutarannya di Busan International Film Festival Oktober lalu, sosok legendaris Pierre Rissient menyebut Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran sebagai "pure cinema". Saya sependapat, setidaknya dalam lingkup di mana sinema menjadi cerminan suatu negeri yang mewakili ragam ruang personal baik milik pembuat juga penontonnya. Walau keberagaman itu turut berarti gaya bertutur filmnya yang jauh dari kata "ringan" sulit menjangkau publik luas. 


Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Pai Kamu (2018)


Sidi Saleh (sutradara sekaligus penata kamera) membuka Pai Kau dengan close-up pantat abjad perempuan berjulukan Dian. Dia tengah bersiap mandi. Kamera menjauh, memperlihatkan punggung dan sekilas dadanya yang tak tertutup sehelai benang pun sebelum pintu kamar mandi tertutup. Dian kembali muncul tidak usang kemudian, hanya berbalut handuk, membicarakan seks bersama teman-temannya. Setelahnya ia tak lagi terlihat. Praktis berasumsi, Dian hanya berperan memfasilitasi shot badung di atas. Pun lekuk badan yang terpampang itu tak menyimpan signifikansi bagi keseluruhan kisah.

Saya suka thriller erotis. Sensualitas bisa jauh lebih mencengkeram dan menyesakkan ketimbang banjir darah maupun kejaran pembunuh bersenjata tajam. Tapi Pai Kau bukan thriller erotis. Sekedar thriller yang secara badung menyelipkan erotisme tanpa arti ibarat halnya ketika Sidi memperlihatkan terperinci isi rok Sinta (Natasha Gott). Untuk apa? Di Basic Instinct, Paul Verhoeven memperlihatkan Sharon Stone melipat kaki dari akrab guna menggambarkan apa yang dilihat karakternya. Di sini Sidi lah yang mengintip. Sidi yang tergoda, bukan Edy (Anthony Xie), si laki-laki pangkal permasalahan utama Pai Kau.
Edy ialah playboy. Menjelang hari pernikahannya dan Lucia Liem (Irina Chiu), ia masih sempat berafiliasi seks dengan Sinta, rekan kerjanya, di daerah parkir pula. Di daerah lain, Siska (Ineke Valentina) terpukul mendengar kabar ijab kabul Edy. Ada diam-diam di antara mereka, permasalahan yang belum tuntas. Thriller membutuhkan simpati penonton terhadap karakternya, alasannya tanpa simpati atau keterikatan, ketegangan bakal sulit dimunculkan. Pada Siska lah simpati penonton harusnya tercurah. Pada kemalangannya, pada rencana gilanya mengacaukan ijab kabul Edy.

Tapi sebelum rencana tersebut berlangsung, jarang sekali porsi diberikan untuk Siska. Justru Edy dan Lucia beserta sang ayah, Koh Liem (Tjie Jan Tan) lebih dominan. Sidi Mohammad Ariansah selaku penulis naskah ingin menyebabkan keluarga Liem sebagai sarana menyelipkan warna sinema Hong Kong, dari masalah keluarga, unsur mafia, atau sekedar bermain-main di tata artistik setting-nya. Pai Kau memberi pemandangan berbeda nan cukup menyegarkan berkat sentuhan kultur Tionghoa miliknya, walau kekuatan banyak adegan bernuansa thriller/kriminal “terjun bebas” kala akting kaku beberapa pemain pria. Hanya Verdi Solaiman sebagai Koh Jun, si laki-laki berdarah masbodoh penyuka lagu Hau Siang Hau Siang yang tampil baik.
Sidi piawai merangkai selipan-selipan komedi. Ada tiga adegan luar biasa lucu (dua melibatkan confetti, satu lagi toilet), tapi tak ada satu pun momen menegangkan, yang mana seharusnya jadi fokus Pai Kau. Sidi justru kurang berhasil melambungkan tensi dramatik dan ketegangan mencengkeram. Selain terkait ritme, kegagalan itu pun disebabkan ketiadaan kepedulian akan agresi yang dijalankan Siska. Belum lagi klimaksnya karam dalam pertengkaran ala opera sabun yang membahas permasalahan klasik (takkan saya ungkap, tapi bukan masalah sulit menebaknya).

Di sela-sela konflik utama, permainan Pai Kau sesekali mengisi. Saya pun berasumsi setiap poin dongeng mewakili masing-masing fase dalam permainan tersebut. Entahlah. Saya tidak memahami aturan, strategi, juga cara bermain Pai Kau. Filmnya sendiri tak menyulut harapan mencari tahu. Menyaksikan Ineke Valentina di paruh akhir, melihat tatapannya, caranya menggoda, saya yakin ia bisa menangani tugas dalam sajian erotic thriller sungguhan. Thriller dengan sensualitas sebagai pondasi substansial pembangun intensitas.