Showing posts with label Owen Wilson. Show all posts
Showing posts with label Owen Wilson. Show all posts

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Cars 3 (2017)

Dari semua rilisan Pixar, Cars termasuk salah satu yang paling ditujukan bagi pangsa penonton anabawang (baca: menjual merchandise). Itu sebabnya dua film pertama kerap jadi kambing hitam. Padahal, andai bersedia menyelidiki lagi, Cars punya konsep pandai soal penerapan kultur serta tetek bengek kendaraan beroda empat pada kehidupan manusia, sementara Cars 2 cukup menghibur selaku homage terhadap spionase 70an. Bukan tontonan mengharukan merupakan "kesalahan", satu anggapan yang sejatinya kurang sempurna apalagi mengingat Cars adalah animasi anak. Sampai datang babak pamungkas trilogi, kala Pixar terjebak antara membuat tontonan bocah atau coba memberi sentuhan pendewasaan.

"Kami ingin tetap meraup laba hasil penjualan merchandise, tapi merasa wajib menjaga reputasi menghasilkan karya berbobot", mungkin begitu pikir para petinggi Pixar. Jadilah Cars 3 menyoroti Lightning McQueen (Owen Wilson) si legenda kejuaraan balap Piston yang sekarang mulai meredup, dikalahkan mobil-mobil muda yang jauh lebih prima. Tidak keliru, malah sesuai jalur natural perkembangan sang protagonis. Lalu hadir Cruz Ramirez (Cristela Alonzo), kendaraan beroda empat perempuan muda yang awalnya bertugas melatih McQueen, sebelum terungkap ia mempunyai mimpi masa kemudian yang gagal terwujud, membawa kisah trilogi ini full circle, kembali ke awal segalanya, melengkapi perjalanan tokoh utama.
Butuh waktu usang untuk filmnya mencapai poin utama penceritaan. Terlalu usang malah. Sebelum kesudahannya membawa McQueen pada kesadaran bahwa kelemahan fisik akhir usia sanggup diatasi oleh kecerdikan hasil tempaan pengalaman, naskah ciptaan trio Kiel Murray, Bob Peterson, dan Mike Rich mondar-mandir menyoroti hal-hal yang kurang mendukung proses berguru McQueen. Latihan di tepi pantai, keikutsertaan dalam demolition derby (salah satu sekuen paling menarik) jadi sekedar selingan. Benar beberapa mempunyai kegunaan membangun penokohan Cruz, tapi berujung mengorbankan kesolidan proses McQueen. Saat datang waktunya McQueen disorot, film telah melewati separuh durasi, menghasilkan paruh kedua yang dipenuhi bermacam-macam progres instan nan penuh sesak. 

Balik soal tujuan filmnya, apa yang sanggup dinikmati penonton anak? Terselip tuturan gender yang cukup bermakna, namun untuk kisah McQueen sendiri, bukan lagi coming-of-age, melainkan growing old. Lebih sempurna dilontarkan bagi kalangan cukup umur kecuali anda berniat memberi pelajaran "saat kau renta nanti, sadari kelemahanmu, berikan tongkat estafet pada yang lebih muda". Pula teknis visual yang cenderung fokus menghadirkan genangan air, pepohonan, atau gundukan tanah hyper realistic daripada gempuran keceriaan warna-warni yang bakal lebih selaras dengan dunia kendaraan beroda empat imajinatif filmnya. Bocah takkan peduli pemandangan demikian. Setidaknya beberapa humor cukup menggelitik.
Bolehkah membuat animasi berkonten cukup umur teruntuk penonton dewasa? Jelas boleh. Pixar khususnya, telah berulang kali sukses melakukannya (Up and Inside Out are among the best animated movies for adult). Namun Cars bukan sarana tepat. Cars adalah luapan tingkat tinggi meracik dunia imajiner alih-alih media paparan kontemplasi yang sepenuhnya mencuri kemeriahan daya imajinasi itu. Dan kalau mau menyentuh ranah cukup umur yang lebih cerdas, mengapa Jackson Storm (Armie Hammer) tetap dijadikan sosok klise antagonis "hitam"? Perseteruan kontras hitam melawan putih tidak sesuai perjuangan tampil cukup umur dan pintar. This is a sport competition. There's no need to makes it a battle between good and evil unless it's for children

Sebagaimana McQueen tak lagi mengakibatkan balapan acara menggembirakan, Cars 3 ikut mengesampingkan kemasan momen balapan menarik yang bagai dikerjakan setengah hati, asal menyuguhkan kendaraan beroda empat melaju hingga garis finish. Kecuali demolition derby, langgar kecepatan kendaraan beroda empat lainnya berlalu minim impresi Terkait fokus ke arah drama, tiada pula film ini menyimpan kekuatan rasa. Meski kejadian kecelakaan McQueen di awal cukup mencengkeram hati, sisanya hanya kekosongan drama kontemplasi yang disajikan setengah matang. Cars 3 jadi perjuangan Pixar memaksakan diri menjaga reputasi sebagai studio penghasil animasi dengan kisah pandai sekaligus penuh emosi penyentuh ragam sendi kehidupan. Terlalu cukup umur bagi anak, terlalu di permukaan bagi penonton cukup umur pencari makna mendalam, terlalu membosankan bagi pencari hiburan seru. Diperuntukkan bagi siapa Cars 3?

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Wonder (2017)

Jarang ada film ibarat ini, yang tiap adegan, kalimat di naskah, serta akting, disusun dengan hati. Diadaptasi dari novel berjudul sama karya R.J. Palacio, Wonder termasuk satu dari sedikit tontonan yang mengembalikan kepercayaan bahwa Hollywood masih menyimpan sensitivitas rasa. Nampak semenjak sekuen pembuka saat voice over Auggie Pullman (Jacob Tremblay) terdengar, bercerita mengenai proses kelahirannya bagai komedi. Tapi kejenakaan hasil kegugupan sang ayah, Nate (Owen Wilson), menjadi kegetiran tatkala lewat nadar sarkas Auggie mengungkap "punchline" komedi tersebut yang memancing kepanikan di ruang persalinan. Dirinya terlahir cacat.

Auggie mengidap sindrom langka Treacher Collins yang menyebabkan kelainan bentuk wajah. Beberapa kali operasi pun tak banyak menolong. Walau demikian impiannya melayang tinggi, kolam astronot  yang kerap ia kenakan helmnya  terbang di luar angkasa, sementara petualangan tanpa batas Star Wars jadi kegemarannya. Sampai sang ibu, Isable (Julia Roberts) tetapkan datang waktunya Auggie mengikuti sekolah publik guna mengenal dunia luar. Tatapan aneh, ejekan, pengasingan, hingga pengkhianatan mesti dihadapi, sedangkan di ketika bersamaan, sang kakak, Via (Izabela Vidovic) merasa dilupakan oleh kedua orang tuanya yang selalu memperhatikan Auggie. 
Sutradara Stephen Chbosky yang turut menulis naskah bersama Jack Thorne dan Steve Conrad cerdik menangani perumpamaan dalam novelnya terkait kondisi protagonis dan tata surya. Didasari gagasan bahwa Auggie layaknya matahari dengan benda-benda semesta lain mengorbit, mengelilinginya. Kelainan Auggie tidak dipandang selaku kelemahan, melainkan magnet yang menarik orang-orang di sekitarnya berguru mengenai hidup sembari perlahan ikut bermetamorfosis lebih kuat. Pemberian fokus terhadap beberapa tokoh pendukung (ditandai sub-judul nama mereka) sayangnya terasa lebih cocok diterapkan dalam bahasa buku ketimbang narasi film. 

Auggie terperinci menderita, tetapi Chobsky yang telah berpengalaman menggarap film berisi sosok-sosok terasing lewat The Perks of Being a Wallflower enggan mengeksploitasi penderitaan. Wonder tidak berusaha meratap demi menyedot belas kasihan, melainkan usungan pesan soal kesetaraan, bahwa Auggie harus diperlakukan serupa bocah lain. Tak hanya hal nyata saja. Dia pun berhak mengalami pengkhianatan dalam lingkup pertemanan, pula diberi pemahaman jikalau tidak semua hal menyangkut dirinya sebagaimana terlontar dari ekspresi Via. Banyak film seputar disabilitas justru berkontribusi makin membedakan subjek, namun Wonder tidak.
Bahasa tutur Stephen Chobsky meneriakkan keajaiban kental imaji. Dari cameo Chewbacca hingga visualisasi bayangan Auggie mengenakan seragam astronot lengkap yang berulang kali hadir mewakili isi hati sang tokoh. Dari momen-momen asing tersebut emosinya berasal. Di sisi lain, Chobsky turut mempunyai kepekaan menangani momen sederhana khususnya interaksi antara keluarga Pullman, di mana ketelatenan membangun tempo ditambah pemakaian medium shot plus close-up sebagai upaya mengutamakan obrolan beserta akting, merupakan senjata andalan sang sutradara memberikan rasa. 

Keseimbangan Owen Wilson memainkan porsi komedi dan drama menghasilkan kehangatan, sedangkan Izabela Vidovic piawai melakoni kompleksitas batin, karenanya duduk kasus Via gampang dipahami sekaligus mengundang simpati. Tapi Julia Roberts dan Jacop Tremblay merupakan inti pelopor emosi film ini. Tatkala balutan prosthetic tak menghalangi Tremblay unjuk kebolehan menghanyutkan hati penonton, Julia Roberts menghantarkan salah satu performa paling murni sepanjang karirnya, dengan sensibilitas tinggi. Jangkauannya luas, dari senyum bahagia, amarah, haru, hingga kesedihan. Seluruhnya berakhir mengalirkan air mata saya.