Showing posts with label Pamela Ribon. Show all posts
Showing posts with label Pamela Ribon. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Smurfs: The Lost Village (2017)

Makhluk mungil berwarna biru kreasi Peyo kembali ke layar lebar lewat reboot animasi pasca dua live action/computer-animated hybrid yang memaksa Neil Patrick Harris mempermalukan dirinya sendiri. Keputusan tepat, alasannya animasi lebih cocok merangkum petualangan konyol para Smurfs. Fokus pun sepenuhnya milik Smurfs ketimbang abjad insan yang selalu menampilkan kebodohan tidak lucu. Terpenting, dunia fantasi imajinatif sanggup ditampilkan seutuhnya. "Smurfs: The Lost Village" takkan bersaing dengan Pixar di ajang Oscar tahun depan, tidak pula sanggup menandingi perolehan Box Office Gru beserta Minions, namun sebagai hiburan segala usia sekaligus perjuangan mempertahankan eksistensi franchise, film ini cukup berhasil.

Film dibuka oleh perkenalan singkat kepada desa daerah Smurfs tinggal, menjelaskan pula bagaimana nama mereka menggambarkan kelebihan masing-masing. Ada Hefty si kuat, Clumsy si ceroboh, Brainy si pintar, dan sebagainya. Kondisi itu tidak berlaku bagi Smurfette, satu-satunya Smurf perempuan yang dulu diciptakan Gargamel dengan tujuan mencari eksistensi Desa Smurfs hingga sihir Papa Smurf menjadikannya baik hati. Smurfette merasa tak punya kelebihan, mendorongnya mempertanyakan tujuan hidup. Hingga suatu hari pertemuan dengan sosok misterius di erat hutan terlarang membawa Smurfette, Hefty, Clumsy, dan Brainy menuju petualangan mencari desa yang hilang sebelum Gargamel menemukannya.
Jalan ceritanya mengikuti contoh formulaik animasi dengan sasaran penonton cilik kebanyakan, sekedar mengatakan petualangan bergerak lurus berselipkan pesan moral. Tipe petualangan begini terang menciptakan slapstick dominan, kalau tidak untuk apa abjad Clumsy diciptakan? Sesuai namanya, ia selalu terjatuh, terlempar ke sana-sini. Di sini, "Smurfs: The Lost Village" takkan seberapa memukau penonton dewasa. Anak-anak bakal menikmati kecerobohan Clumsy atau kepintaran Brainy mengkreasi rakit canggih, sementara orang bau tanah mungkin mengeluhkan generiknya perjalanan cerita. Setidaknya naskah karya Stacey Harman dan Pamela Ribon memfasilitasi kita mengajarkan pentingnya kebaikan hati di atas segalanya pada anak. Terkesan naif, namun kompleksitas memang belum perlu bagi sasaran pasarnya.
Film ini menemukan pesona terbesar kala sentuhan komedinya menjauhi ranah slapstick, mengeksplorasi jalan lain terkait pemanfaatan ciri tiap-tiap Smurf. Hefty dan pujian atas otot besarnya menggelitik, tapi paling memancing tawa yaitu tingkah Clumsy di samping terpeleset dan sebagainya. Semisal ketika para Smurf terjebak dalam gua dan Clumsy ketakutan setengah mati. Polahnya memancing tawa meski terasa out-of-character karena Harman dan Ribon kolam keliru mengartikan kecerobohan dengan paranoid (ciri khas Scaredy Smurf). Jack McBrayer memberi performa voice acting memikat sehingga Clumsy gampang disukai. Sementara Demi Lovato walau tak jelek sebagai Smurfette, masih di bawah pencapaian Katy Perry di dua film pertama yang menciptakan penonton jatuh cinta mendengar tokohnya bertutur kata.

Tatkala dua film hybrid-nya terbatasi tampilan monoton dunia nyata, media animasi membuka jalan "Smurfs: The Lost Village" menumpahkan desain imajinatif warna-warni penyusun dunianya. Serangga-serangga di tengah hutan memancarkan cahaya, sedangkan anutan sungai berarus deras bagai melayang di udara. Belum mencapai taraf groundbreaking tapi cukup menyegarkan mata, termasuk para Smurf yang masih nampak menggemaskan. "Smurfs: The Lost Village" sanggup memenuhi tujuannya menjadi hiburan ringan semua umur. Sebuah animasi pop dilengkapi iringan lagu pop dan acuan budaya terkenal macam wefie. Cukup pasang ekspektasi yang sesuai.

Wednesday, November 28, 2018

Ini Lho Ralph Breaks The Internet (2018)

Ralph Breaks the Internet yakni Inside Out versi gim dan internet dalam hal kepintaran serta kreativitasnya membangun dunia. Seperti normalnya sekuel, cakupan diperluas. Kalau Wreck-It Ralph “hanya” menawarkan apa yang aksara permainan arkade lakukan ketika tak sedang dimainkan manusia, sekuel ini berpindah ke dunia yang lebih besar, yakni internet, kawasan yang mempunyai segalanya, dan Ralph Breaks the Internet memanfaatkan itu untuk membuat dunia kreatif nan kaya, disertai cara kerjanya.

Enam tahun berlalu semenjak insiden film pertama, dan sekarang Ralph (John C. Reilly) hidup bahagia, tak lagi dipandang sebagai perusak jahat, dan dekat dengan Vanellope (Sarah Silverman), di mana mereka setiap hari menghabiskan waktu bersama di kawasan dan waktu yang sama. Bagi Ralph, rutinitas tersebut merupakan kedamaian, namun Vanellope ingin lebih. Dunia bagus sarat warna di Sugar Rush tak lagi seberwarna itu baginya, dengan balapan yang terlampau praktis lantaran Vanellope sudah hafal semua trik dan track.

Pasca sebuah kecelakaan yang berpotensi membuat Sugar Rush ditutup selamanya, dan demi menyelamatkannya, dua protagonis kita memulai perjalanan menuju internet. Pertama kali menginjakkan kaki di sana, mereka terpukau melihat dunia tanpa ujung yang internet tawarkan. Begitu pun saya kala mendapati bagaimana di Ralph Breaks the Internet, aneka macam aspek dalam internet bertransformasi menghasilkan lingkungan imajinatif yang hidup lengkap dengan rutinitasnya sendiri.

Pop-up ads menjadi penjaja produk yang agresif, eBay merupakan kawasan lelang, mesin pencarian yakni laki-laki berjulukan KnowsMore (Alan Tudyk) yang mengetahui semuanya, dan lain-lain. Fakta bahwa hal-hal di atas cocok dengan cara kerja internet di realita, jadi bukti kecerdikan duo penulis naskahnya, Pamela Ribon (Smurfs: The Lost Village) dan Phil Johnston (juga selaku sutradara). Pun terdapat setumpuk detail kecil, yang dijamin bakal memberi inovasi gres untuk pengalaman menonton berulang.

Bila film pertamanya menyimpan setumpuk cameo aksara gim, Ralph Breaks the Internet punya bermacam-macam produk internet serta tumpuan kultur terkenal dalam beraneka bentuk (yang lagi-lagi) kreatif. Dan selaku produsen, masuk akal ketika tumpuan untuk Disney paling kaya.  Anda akan mendengar The Imperial March kala menyambangi area Star Wars; meet & greet dengan seorang tokoh MCU; dan sebagaimana trailer-nya tampilkan, Disney Princess. Beberapa karakteristik mereka dijadikan banyolan menggelitik termasuk sebuah elemen yang gres saya sadari di sini. Elemen yang melibatkan musikal.

Ya, film ini turut menghadirkan satu adegan musikal, yang oleh duo sutradara, Rich Moore (Wreck-It Ralph, Zootopia) dan Phil Johnston, dikemas dalam visual meriah ditambah musik megah gubahan Henry Jackman (Captain America: Civil War, Jumanji: Welcome to the Jungle). Hasilnya yakni gegap gempita indah yang sampaumur ini, mungkin hanya sanggup ditandingi La La Land, yang oleh Ralph Breaks the Internet turut dijadikan pola subtil.

Kembali ke wacana Disney Princess, saya terkecoh kala mengira pertemuan tersebut hanya bakal jadi sempilan ringan pengisi durasi. Rupanya momen itu berkhasiat memberikan salah satu pesan filmnya. Rapunzel bertanya pada Vanellope, “Do people assume all your problems got solved because a big strong man showed up?”. Vanellope mengiyakan. Ralph sendiri belakangan semakin posesif, ingin Vanellope selalu dan hanya bersamanya. Tatkala Ralph bersusah payah meyakinkan Vanellope kalau Slaughter Race terlalu berbahaya baginya, si gadis cilik menampik pernyataan itu. Poin tersebut selaras dengan upaya rebranding Disney terhadap aksara wanitanya yang makin independen di tiap sendi kehidupan, bukan saja soal percintaan.

Oh, saya lupa menjelaskan mengenai Slaughter Race, sebuh permainan balapan brutal, sarat kekerasa, berbanding terbalik dengan kesan warna-warni bagus bagi semua umur milik Sugar Rush. Vanellope menemukan hasratnya kembali begitu menyadari ketiadaan batasan di Slaughter Race. Tidak ada lintasan monoton, dan dia bebas bermanuver sesuka hati. Jangankan Vanellope, bukankah itu alasan permainan open world macam Grand Theft Auto maupun Red Dead Redemption amat digandrungi?

Slaughter Race dikuasai pembalap perempuan berjulukan Shank yang diisi suaranya oleh Gal Gadot dalam salah satu performa terbaiknya, berkat kemampuan menyuntikkan dinamika untuk mengakibatkan Shank sosok keren berkharisma. Wajar Vanellope mengaguminya. Ralph? Tentu Ralph membenci Shank. Baginya, perempuan itu tidak bisa dipercaya, walau kita tahu, itu sebatas ungkapan kecemburuan. Konflik itu berujung pada konklusi menyentuh sesudah kita disuguhi gelaran aksi raksasa ala King Kong. Dari dunia yang teramat kaya, banyolan pintar, sampai drama emosional, Ralph Breaks the Internet mungkin rilisan “paling Pixar” dari Walt Disney Animation Studios.