Showing posts with label Robert Pattinson. Show all posts
Showing posts with label Robert Pattinson. Show all posts

Wednesday, February 13, 2019

Ini Lho Remember Me (2010)

Bagi Robert Pattinson & Nasrani Stewart saga Twilight pastinya kolam pisau bermata dua. Gimana enggak? Disatu sisi lewat film itu keduanya dapet popularitas puncak mereka. Tapi disatu sisi mereka dapet kritikan tajam alasannya aktingnya yang dianggap buruk. Padahal sebenernya mereka berdua cukup dapat berakting, khususnya Nasrani Stewart (saya gak masukin Taylor Lautner alasannya sejauh yang aku tangkap beliau emang cuma modal body). Nasrani sendiri mengambarkan kapasitas aktingnya lewat Adventureland & The Runaways. Dia mengambarkan bahwa beliau ialah aset masa depan Hollywood. Taylor Lautner sendiri bermain di Valentines Day pasca Twilight. Dan disana beliau emang tampil kurang baik kalo gak mau dibilnag buruk. Dan kini Robert Pattinson menuyusul tampil di Remember Me. Apa tanpa komplemen nama Edward Cullen beliau dapat bersinar?

Tyler Hawkins (Robert Pattinson) ialah berilmu balig cukup akal yang borken home & suka cari masalah. Hal itu dikarenakan kondisi keluarganya yang kurang baik. Sang kakak, Michael meninggal bunuh diri. Sedangkan kedua orangtuanya bercerai. Tapi, Tyler masih membina kekerabatan baik dengan ibunya yang udah menikah lagi dan juga adik perempuannya yang tinggal bareng sang ibu. Beda dengan hubungannya dengan sang ayah yang dianggapnya tidak peduli pada keluaganya lagi. Suatu hari sahabat Tyler, Aidan Hall menyuruhnya berkenalan dengan putri seorang polisi yang dulu pernah menangkap mereka. Awalnya sih cuma buat "balas dendam" tapi kelamaan Tyler malah jatuh cinta sama tuh cewe yang berjulukan Ally Craig. Lama kelamaany ayah Ally tahu hal itu dan melarang kekerabatan keduanya alasannya Tyler dianggap ngasih perngaruh jelek buat sang putri.
Daaaaaan....karena di benak aku yang terbayang kalo denger nama Pattinson ialah sosok perjaka kalem, pendiam, ato mungkin sok cool, begitu melihat aktingnya di film ini aku kaget. Saya beneran terhibur dengan penampilannya disini. Emosinya yang meletup letup, dan terkadang verbal wajahnya yang kadang lucu (bandingkan sama Twilight yang kayaknya mukanya rata kayak tembok) Sampe dialognya yang cerdas, bahkan pas lagi dalam adegan romantis, tidak ada lagi Robert Pattinson bergombal ria disini.Akting pemain lain yang aku ialah Emilie de Ravin sebagai Ally, dan Ruby Jerins sebagai Caroline, adik Tyler. Chemistry Emilie dan Pattinso terasa baik. Sedangkan Ruby dapat memerankan bocah cilik yang sedikit "terasing" dari teman-temannya.

Selain itu, ada twist di ending film ini. Ya, aku sendiri udah diaksih tahu sama temen, tapi gak tahu bagaimana twistnya, dan apa twistnya. Saya sempet berasumsi ada 2 petunjuk perihal Twist itu. Yang pertama adegan pembuka film ini, dan yang kedua ialah umur Tyler di film ini. Dan emang salah satu petunjuk yang aku duga tepat, tapi ya gak sepenuhnya ngasih kepastian twist apa sebenrnya yang terjadi di simpulan film. Yang berdasarkan aku sendiri sangat gak terduga.

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho The Lost City Of Z (2016)

Berisi eksplorasi mencari puing peninggalan sejarah di pedalaman hutan, The Lost City of Z bukanlah petualangan pemacu adrenalin macam Indiana Jones. Juga bukan horor kental sentuhan sadisme terdapat meski suku kanibal menebar ancaman bagi tokoh-tokohnya. Dalam karya teranyar sutradara James Gray (The Immigrant, Two Lovers, We Own the Night) selaku pembiasaan buku non-fiksi berjudul sama buatan David Grann ini, aktivitas menelusuri alam liar merupakan verbal ambisi, atau lebih tepatnya obsesi yang di ujung jalan menyadarkan betapa kecilnya pemahaman insan teruntuk misteri semesta. 

Memulai kisah di Irlandia tahun 1905, kita berkenalan dengan Percy Fawcett (Charlie Hunnam), anggota satuan militer Inggris yang walau cukup berprestasi, karirnya mandek lantaran beberapa alasan termasuk reputasi jelek kelurganya. Maka dari itu saat Royal Geographical Society (RGS) memberi misi yang sanggup mengangkat nama baik sekaligus membantu kenaikan pangkatnya, Percy tak menolak, walau misi tersebut mengharuskannya berpisah dengan sang istri (Sienna Miller) beserta buah hatinya selama bertahun-tahun. Bersama Henry Costin (Robert Pattinson), Percy diperintahkan memetakan pedalaman Bolivia yang belum terjamah dan dihuni suku setempat. Di situ ia menemukan kemungkinan adanya kota kawasan peradaban masa kemudian yang hilang.
Gray bersenjatakan ketelatenan merajut alur dalam tempo medium yang sudah diperlihatkan sepanjang karirnya, merangkai The Lost City of Z bak suatu catatan perjalanan yang mengedepankan sisi otentik. Ada dramatisasi di mana sesekali tensi meningkat kala ajal mengancam ibarat lemparan tombak suku pedalaman atau serbuan piranha, namun selebihnya Gray mengajak kita perlahan mengamati suasana hutan luas nan lebat yang seolah gelap di siang hari lantaran ketidaktahuan abjad (juga penonton) terhadapnya. Pilihan shot ditemani sinematografi Darius Khondji memperluas cakupan pandangan penonton, memungkinkan timbul perasaan bagai ikut berada di lokasi.

Walau penuh ancaman, Gray menolak memposisikan alam sepenuhnya sebagai musuh. Penekanan terletak pada fakta bahwa karakternya (baca: manusia) tidak dibekali pengetahuan memadahi sehingga kerap terseret ke arah bahaya. The Lost City of Z justru merayakan alam dengan segala misterinya, oleh lantaran itu pada 10-15 menit terakhir yang menghujam perasaan sekaligus memancing kengerian sekalipun, masih terpercik sedikit keindahan. 
Durasi cukup panjang (140 menit) memungkinkan filmnya secara lengkap menyoroti bagaimana obsesi tumbuh dalam hati Percy. Secara total melaksanakan tiga kali ekspedisi, masing-masing didorong oleh alasan jelas, mulai pencarian kejayaan hingga pembuktian diri. Diawali suatu misi yang diperlukan bisa memperbaiki kehidupannya, Percy justru berujung menemukan kehidupan itu. Lagi-lagi Gray enggan mengambil sudut pandang negatif. Obsesi tidak ia anggap suatu keburukan, tetapi verbal cinta yang membentuk tujuan. Karenanya, Kota Z bisa dipandang lebih dari sebuah artefak masa lalu, tepatnya persinggahan final hidup karakternya. Sebagian pihak mungkin bakal menyebutnya surga.

Charlie Hunnam menampilkan performa memadahi sebagai laki-laki yang teguh berprinsip, sementara Robert Pattinson bisa menimbulkan Costin sesosok rekan yang bisa diandalkan menyokong Percy. Memikat pula Sienna Miller khususnya dalam dua adegan terakhir kemunculannya kala bertutur penuh perasaan, entah selaku ibu yang berusaha menghargai cita-cita sang putera atau istri yang percaya, juga mengasihi suaminya. Tiga penampil tersebut saling mengimbangi, setara, serupa salah satu unsur penceritaan film yang mengetengahkan kesetaraan, baik antara "manusia modern" dengan suku primitif atau pada tataran tugas gender.

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Gerald's Game / Brawl In Cell Block 99 / Good Time

Karena serangkaian kesibukan, aneka macam film yang belum ditonton dan ditulis. Permintaan mengulas judul-judul di luar rilisan bioskop mendorong saya merasa perlu tetap menciptakan review, tapi lantaran penulisan review penuh menyerupai biasa butuh waktu 2-4 jam, tidak mungkin rasanya menerapkan itu di semua film. Akhirnya saya menentukan review pendek khusus bagi FILM NON-BIOSKOP, di mana tiap artikel memuat tiga judul, walau tak menutup peluang review panjang bakal sesekali dibuat, tergantung filmnya. 
GERALD'S GAME (2017)
Merupakan pembiasaan novel berjudul sama karya Stephen King, Gerald's Game mengisahkan sepasang suami istri, Gerald (Bruce Greenwood) dan Jessie (Carla Gugino) yang menghabiskan final pekan di daerah terpencil, dengan tujuan menyelamatkan ijab kabul mereka. Permainan seks pembangkang yang direncanakan Gerald berujung bahaya maut begitu kisahnya secara cendekia menghasilkan teror dari jalur tak terduga. Ini bukti ketajaman insting horor King yang oleh Mike Flanagan dan Jeff Howard bisa diterjemahkan dengan baik, termasuk bermacam-macam metafora, semisal soal kekangan laki-laki terhadap perempuan yang tertuang rapi. Horor psikologis, thriller satu lokasi, hingga sedikit bumbu supernatural tumpah ruah. Pada unsur supernatural, Flanagan mumpuni menyusun kesan atmosferik. Sementara jelang akhir, sang sutradara tidak ragu memberi gore eksplisit nan detail yang sanggup menciptakan penonton mengalihkan tatapan. Gugino memikat, nyaris seorang diri memanggul beban memberikan ketegangan hingga rasa sakit. Dia pun tak kalah solid melakoni fase dialogue-based filmnya, tatkala naskah Gerald's Game jeli mengolah psikis Jessie dalam presentasi perihal kematian, pernikahan, dan masa kemudian traumatik. (4/5)

BRAWL IN CELL BLOCK 99 (2017)
This is a weird movie for some reasons. Pertama lantaran Vince Vaughn melawan typecasttampil intimidatif, bahkan ketika kamera menyoroti sisi belakangnya, memberikan kepala botak berhiaskan tato salib. Kedua, terkait tone. Brawl in Cell Block 99 dibuka bagai drama realis kelam mengenai Bradley Thomas (Vince Vaughn) yang dihantam pemecatan kemudian perselingkuhnya sang istri (Jennifer Carpenter). Sutradara S. Craig Zahler (Bone Tomahawk) merangkai tempo lambat plus nuansa low-key. Namun begitu setting berganti, filmnya bertransformasi, menampilkan penjara maximum security tak masuk nalar dengan Tuggs (Don Johnson) sebagai kepala penjara keji nan komikal, hingga kekerasan over-the-top saat kepala insan dengan mudahnya remuk menyerupai kue. Uniknya, aura kontemplatif bertahan sepanjang film, yang akan seketika menguap sewaktu Bradley terlibat baku hantam. Brawl in Cell Block 99 tak ubahnya Riki-Oh versi gritty. Kisah Bradley terasa ironis, alasannya yaitu semenjak awal ia berniat memperbaiki hidupnya dan sang istri, hanya untuk dipaksa berjuang pindah dari sel "nyaman" menuju "lubang neraka". Sempat muncul inkonsistensi tone, tapi hawa menusuk penjara kumuh, kekerasan tinggi, pula terjaganya intensitas, berujung menghasilkan b-movie menyenangkan. (3.5/5)

GOOD TIME (2017)
Disutradarai Safdie Brothers, Good Time merupakan drama Istimewa lantaran bisa tampil kritis tanpa perlu menjadi ekstrimis. Karakternya melanggar aturan atas nama persaudaraan, namun kriminalitas tidak dijustifikasi. Si abjad yaitu Connie (Robert Pattinson), yang mengajak adiknya, Nick (Ben Safdie), selaku penderita gangguan mental untuk merampok bank. Connie mendukung Nick, membuatnya merasa berharga dan berguna, memanusiakannya. Tatkala terjadi kekacauan dan Nick tertangkap polisi, Connie bersedia menempuh segala cara demi membebaskannya. Kisah kasih persaudaraan ditekankan, tapi tanpa glorifikasi tindak kejahatan, memastikan ada harga yang wajib dibayar. Estetika "hipster" pada scoring synth ala 80-an serta pencahayaan warna-warni yang sekarang makin klise masih diandalkan, namun setidaknya, di departemen musik Oneohtrix Point Never memberi modifikasi berupa aransemen liar pula trippy. Serupa karakternya, Good Time bergerak kolam tengah berlari berkat pengarahan chaotic nan dinamis Safide Brothers. Tidak melulu sprint, tapi cukup menjaga kerapatan intensitas. Sementara Robert Pattinson dengan jenggot acak-acakan eksklusif menggebrak semenjak awal kemunculan, senantiasa menggoncang situasi lewat performa paling powerful sepanjang karirnya. (4/5)